Sorotan

Syiah, Revolusi Islam Iran, dan Pemikiran Politik Ali Syariati (7)

Ainur Rohim

Kekuatan politik di negara Iran menjelang revolusi Islam pada 1979 yang dipimpin Imam Khomeini terfragmentasi dalam beberapa kelompok. Kelompok mullah Islam Syiah (ulama) yang kontra terhadap rezim Shah Reza Pahlevi di bawah pimpinan Imam Khomeini.

Rezim politik Shah yang otoriter dan despotik juga didukung barisan mullah Islam Syiah Iran moderat dan merapat kepada kekuasaan.

Ada pula kelompok sekuler-nasional yang menghendaki Iran diperintah rezim politik yang menganut nilai-nilai politik modern hasil pemikiran para ahli dari Barat. Kelompok komunis juga bercokol dan terus memperjuangkan rontoknya rezim politik Shah Iran.

Jalan kekerasan lebih sering ditempuh kelompok komunis dan Maoisme dalam merealisasikan cita politiknya. Selain itu, terdapat pula kelompok rausanfikr atau kaum intelektual yang tercerahkan. Mereka bukan sekadar sebagai intelektual yang bekerja di kampus-kampus dan lembaga pendidikan tinggi. Mereka tak berada di menara gading.

Para intelektual yang tercerahkan terlibat langsung, terjun di masyarakat secara faktual dan obyektif, dalam perjuangan mengikis habis penindasan dan mengakhiri ketidakadilan yang dipraktekkan rezim Shah Iran bersama infrastruktur politik yang dimilikinya. Dr Ali Syariati termasuk dalam barisan rausanfikr, yang memiliki fighting spirit sangat kuat mengakhiri rezim politik Shah Iran yang, otoriter, tiran dan despotik.

Bagaimana relasi antara kelompok nasionalis dan Islam Syiah di lanskap politik Iran menjelang revolusi tahun 1979? Menurut Dr Anjar Nugroho (2019), saat itu tak pernah dirasakan adanya konflik antara nasionalisme dan Islam Syiah Iran. Namun demikian, sebagian besar mullah Syiah Iran menolak kolaborasi politik antara raja (politik) dan ulama (agama). Agama tak berada di posisi inferior dan politik tak juga berarti superior vis a vis agama (ulama).

Dalam konteks ini, Imam Khomeini menentang keras bentuk pemerintahan monarki. “Baginya (Imam Khomeini) hanya ada satu sistem pemerintahan dan kenegaraan sesuai dengan Islam, yakni pemerintahan Islam yang dipimpin seorang faqih atau dewan fuqaha,” kata Imam Khomeini sebagaimana dikutip dalam buku Dr Anjar Nugroho (2019).

Dalam konteks operasionalisasi sistem ketatanegaraan dan pemerintahan, Ali Syariati tak sepakat dengan Imam Khomeini, terutama menyangkut kepemimpinan di pemerintahan. Bagi Ali Syariati para mujtahid (ulama/mullah) tak selayaknya diberikan peranan terlalu besar dalam mengelola pemerintahan. Bahkan,

Ali Syariati menyalahkan para mullah Islam Syiah Iran. Kenapa? Keberhasilan imperialis Barat dalam mempengaruhi nilai-nilai politik, sosial, dan budaya Iran karena kekeraskepalaan para mullah yang menggiring para pemuda Iran mencari perlindungan dalam kebudayaan Barat.

Sikap kritis Ali Syariati tak sekadar ditujukan kepada penguasa politik, tapi juga para mullah Islam Syiah Iran yang merapat kepada kekuasaan maupun yang menjaga jarak secara politik.

Banyak mullah Islam Syiah Iran lantas mengkritik balik Ali Syariati dengan label sebagai agen Sunni, Wahabiyah, dan bahkan Komunisme. “Jika imamah diartikan sebagai pemberian kekuasaan yang besar kepada kaum ulama/mullah, baginya kaum ulama tidak berhak memonopoli kebenaran di bidang agama. Karena para ulama sama sekali tidak bisa lepas tangan dari terciptanya kemunduran di dunia Islam.

Di sisi lain, kaum intelektual yang tercerahkan merupakan para eksponen riil dari Islam yang dinamis dan rasional, dengan tugas utama melakukan pencerahan dan reformasi Islam. Oleh sebab itu, betapa pentingnya kaum intelektual muslim menghubungkan dirinya dengan massa, menentang kaum reaksioner dan membangkitkan Islam sebagai agama jihad yang menentang penindasan dan menegakkan keadilan.

Pemerintahan kaum intelektual yang tercerahkan merupakan satu-satunya pilihan yang bisa diterima dan diperlukan setelah revolusi. Dengan kata lain, Ali Syariati mendukung satu pemerintahan kaum intelektual,” demikian pendapat Dr Anjar Nugriho (2019).

Bagaimana potret intelektual yang tercerahkan itu? Yakni orang-orang, para intelektual muslim Iran yang memiliki kesadaran akan keadaan kemanusiaan pada lingkungan sosial dan politiknya serta mereka memiliki tangung jawab sosial untuk memperjuangkannya.

Plus minis tanggung jawab sosial kaum intelektual tercerahkan seperti tanggung jawab para nabi dan kaum agamawan yang konsisten menegakkan ajaran agamanya tanpa menafikan dimensi sosial kemasyarakatan yang melingkupinya. Kaum intelektual yang tercerahkan itu mendorong ke arah perubahan sosial dan politik yang mengarah ditegakkannya keadilan dan diakhirinya penindasan manusia satu atas lainnya.

Mereka juga memiliki tanggung jawab sosial untuk mendidik rakyatnya yang masih bodoh agar memiliki kesadaran sosiohistoris negaranya. Tujuannya, mendobrak rezim politik yang otoriter, despotik, dan kelompok status quo yang menghamba serta mendukung total kekuasaan tiran.

“Peran rausanfikr dalam perubahan masyarakat sebangun dengan apa yang dibayangkan Gramsci tentang intelektual organik. Gramsci memetakan potensi intelektual organik dengan intelektual tradisional. Intelektual tradisional berkutat pada persoalan yang bersifat otonom dan digerakkan proses produksi. Di sisi lain, intelektual organik adalah mereka yang memiliki kemampuan sebagai organisator politik yang menyadari identitas dari yang diwakili dan mewakili. Intelektual organik adalah mereka yang aktif berpartisipasi dalam kehidupan praktis dan riil. Dengan sentuhan para rausanfikr, maka masyarakat dapat mencapai lompatan kreatifitas yang tinggi menuju perubahan fundamental struktur sosial politik akibat peran katalis yang diperankan,” kata Dr Anjar Nugroho (2019).

Sekalipun antara Ali Syariati dan Karl Marx sama-sama berpandangan perlunya kekuatan strata sosial tertentu sebagai driver dan lokomotif perubahan, tapi siapa kekuatan strata sosial itu, antara Syariati dan Marx memiliki perbedaan pandangan yang tajam. Marx berpendapat kaum buruh sebagai pelaku dan driver paling penting perubahan fundamental dan komprehensif (baca: revolusi).

Bagi Ali Syariati, kaum rausanfikr adalah motor penggerak utama perubahan sosial dan politik. Kaum buruh tak mungkin bisa diharapkan menjadi motor perubahan, karena belenggu kemiskinan tak mungkin membuat mereka sadar dan tercerahkan.

Sumbangsih terbesar Ali Syariati dalam konteks perubahan sosial dan politik di banyak Dunia Ketiga bahwa dia menyadarkan bahwa kesadaran agama itu penting dan mampu menggerakkan revolusi damai, bukan sekadar kesadaran kelas. Dibandingkan dengan revolusi Perancis dan Bolshevik (Rusia), revolusi Islam Iran jauh lebih kecil korbannya. Revolusi yang inheren dengan perubahan secara fundamental dan menyangkut seluruh aspek kehidupan sebuah negara, seringkali menelan ongkos politik, ekonomi, sosial, dan kemanusiaan yang begitu mahal.

Hal demikian tak terjadi pada revolusi Islam Iran, di mana revolusi yang digerakkan dengan pandangan dunia berupa nilai-nilai religiusitas-spiritualitas itu berjalan lebih smooth dan tenang dibanding dengan revolusi yang dilandasi pemikiran sekulerisme-materialisme, seperti pada revolusi Perancis dan Rusia. Tentu saja kesadaran agama dalam konteks ini bukan agama dalam pemahaman umum, yang sekadar menekankan pada aktifitas ritual dan rigid menyangkut hubungan antara yang dicipta dengan Yang Mencipta.

Tapi, agama dalam perspektif ini adalah nilai-nilai spiritualitas dan religiusitas yang telah mengalami ideologisasi, sehingga mampu memberikan kekuatan revolusioner dan progressif. Karena itu, dalam melihat revolusi Islam Iran bisa dikatakan sebagai double movement atau gerakan ganda revolusi.

Pertama, revolusi nasional yang bertujuan mengakhiri imperialisme Barat di negara itu. Kedua, revolusi sosial dengan target normatif untuk menghapus segala bentuk penindasan, kesenjangan kelas, dan kemiskinan di lingkungan warga Iran. Kedua, revolusi itu mampu berjalan baik di Iran, karena kaum rausanfikr mampu jadi agen dan artikulator tangguh. Jiwanya sadar menjalankan misi suci ini, karena jiwanya telah tertanam teologi Islam pembebasan. Dalam konteks ini Islam Syiah Merah, bukan Syiah Hitam. [air/habis]

Apa Reaksi Anda?

Komentar