Sorotan

Syiah, Revolusi Islam Iran, dan Pemikiran Politik Ali Syariati (5)

Pola dan format relasi antara penguasa politik dengan ulama atau mullah Islam Syiah di Iran menjadi bahan sorotan Dr Ali Syariati. Dia melihat mullah Syiah yang terlalu menekankan pada aspek fiqih, relasi antara Allah SWT dengan hambanya, dengan menafikan problem sosial kemasyarakatan dan politik kenegaraan bersifat onyektif, melahirkan rezim politik yang abai dan alpa terhadap kepentingan rakyat.

Rezim politik yang otoriter dan despotik. Realitas politik itulah yang terjadi di Iran pasca Perang Dunia II ketika rezim Shah mulai kembali memegang kendali politik ketatanegaraan di negara di kawasan Teluk Persia tersebut.

Islam Syiah revolusioner di Iran, menurut Syariati, selama 7 abad sampai Dinasti Safavi, Syi’isme (Alavi) merupakan gerakan revolusioner dalam sejarah, yang gigih dan keras berjuang menentang otoritarianisme dinasti Umayyah, Abbasiyah, Mongol, Saljuk,
Ghaznawiyah, dan lainnya. Islam Syiah Merah sebagai satu kelompok revolusioner gigih berjuang membebaskan kelompok yang tertindas dan pencari keadilan.

Dalam konteks global sejak di masa lalu dan sekarang, relasi antara rezim
politik dengan mullah/ulama melahirkan dua pola hubungan yang tak jarang bersifat kontradiktif. Pertama, relasi penguasa politik dan mullah agama yang bersifat kolaboratif dan sinergis.

Terjadi hubungan bersifat timbal balik yang saling memberi manfaat antara penguasa politik dengan tokoh agama.

Kedua, bersifat kritis. Yakni mullah agama sebagai penjaga nilai-nilai
religius, spiritualitas, dan moral yang sangat penting di masyarakat, sehingga kekuatan mullah agama menjadi kekuatan kontrol sosial dan moral atas
penguasa politik. Mullah agama tak jarang menyemprit penguasa politik ketika kebijakannya dipandang melenceng dari nilai-nilai religiusitas, spiritualitas, dan moral keagamaan.

Negara Iran di era rezim Shah Iran, menurut Syariati, tidak membangkitkan agama, tapi mempertahankan kerajaan yang mandek. Sementara para mullah Syiah Iran mempertahankan kemandekan Islam.

Menurut Syariati,  apa yang terjadi di Iran adalah  bahwa di satu sisi ulama yang menjadi pemimpin agama selama 2 abad terakhir telah mentransformasikannya menjadi bentuk agama yang kian mandek. Di sisi lain, orang-orang yang tercerahkan yang
memahami pemikiran kekinian dan kebutuhan generasi baru serta zaman, tidak memahami agama. Akhirnya, kata Syariati, Islam yang sejati tak diketahui, tersembunyi, dan tak
dipahami dalam relung-relung sejarah bangsa Iran. Yang berkembang pesat kemudian pemikiran sekulerisme, pemikiran yang memisahkan urusan negara dari nilai-nilai keagamaan.

“Bagi Syariati, Islam sejati bersifat revolusioner dan Syiah sejati adalah
jenis khusus Islam revolusioner,” kata Dr Anjar Nugroho (2019) dalam bukunya
berjudul: Ali Syariati, Revolusi Iran, dan Transformasi Politik Indonesia.

Bagaimana gagasan Syariati tentang Islam revolusioner itu dikaitkan dengan teologi pembebasan yang banyak diusung tokoh-tokoh revolusioner di Afrika dan Asia pasca Perang Dunia II?

Secara prinsip banyak persamaan. Satu di antara indikator persamaan yang
kuat adalah ekspektasi politik dan sosial Islam revolusioner dan teologi
pembebasan yang kuat untuk mendobrak kemapanan lembaga resmi keagamaan
(ulama, gereja, dan lainnya) yang secara politik selalu berposisi memihak kekuasaan dan alpa dengan kepentingan umatnya yang ditindas dan diperlakukan tak adil penguasa politik yang didukungnya.

Baik Islam revolusioner maupun teologi pembebasan sama-sama tak puas dan memberontak
terhadap eksistensi terhadap seperangkat doktrin yang telah dibuat oleh para mullah dan atau gereja untuk melindungi kepentingan kelas atas, khususnya kelas penguasa politik.

Pemikiran teologi pembebasan dan Islam revolusioner adalah produk
kerohanian. Pemikiran dan doktrin kedua ideologi baru ini pasca kelahiran liberalisme dan komunisme membentuk suatu pergeseran radikal dari ajaran tradisional keagamaan yang telah mapan selama berabad-abad.

Beberapa di antara doktrin ajaran teologi  pembebasan adalah: Gugatan
moral dan sosial yang amat keras terhadap kapitalisme sebagai sistem
ekonomi dan sosial yang menindas. Poin lainnya adalah penggunaan alat analisa
Marxisme dalam memahami dan memotret kemiskinan di banyak negara.

Poin penting lain adalah pembacaan baru terhadap teks keagamaan, di mana pemahaman teks keagamaan tak sekadar bersifat relasi antara Tuhan dengan hambanya, tapi agama tak melupakan realitas politik, sosial, budaya, dan keagamaan yang obyektif di latar
sosial masyarakat. Dan perlawanan menentang pemberhalaan sebagai musuh
utama agama. (Dr Anjar Nugroho, 2019).

Jika teologi pembebasan berbasis pada kesadaran rohani, sedang Islam revolusioner yang digagas Ali Syariati berbasis pada kesadaran Islam sejati yang otentik. Dalam konteks ini agama mesti ditempatkan sebagai sarana untuk memperjuangkan keadilan, mengakhiri penindasan terhadap manusia, dan meruntuhkan rezim politik yang
otoriter dan despotik.

“Ajaran Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa kemiskinan itu dekat dengan kekufuran dan menyuruh umatnya untuk berdoa kepada Allah SWT agar dapat terhindar dari keduanya. Penghapusan kemiskinan merupakan syarat bagi terciptanya masyarakat Islam. Dalam hadits lain Nabi SAW menyatakan bahwa sebuah negara dapat bertahan hidup walau di dalamnya ada kekufuran, namun tidak bisa bertahan jika di dalamnya terdapat dhulm (penindasan),” tegas Dr Ali Syariati. (Dr Anjar Nugroho,2019). [air/bersambung]





Apa Reaksi Anda?

Komentar