Sorotan

Syiah, Revolusi Islam Iran, dan Pemikiran Politik Ali Syariati (3)

Sebagai seorang pemikir dan intelektual muslim Iran yang dilahirkan dengan latar lingkungan sosial keagamaan dan kultural yang kental dengan Islam Syiah, Dr Ali Syariati sangat risau dengan peran dan fungsi mullah (ulama) Iran di era rezim politik Shah Reza Pahlevi.

Mullah hanya diposisikan sebagai sumber legitimasi politik moral atas berbagai kebijakan penguasa yang alpa
dengan kepentingan populis massa. Posisi dan peran mullah Syiah Iran seperti itu disebut oleh Syariati sebagai Khordeh-I burzhuazi (borjuasi kecil). Syariati lantas menawarkan jalan ketiga di antara dua gerakan politik global melawan penindasan dan ketidakadilan politik, ekonomi, dan sosial. Jalan ketiga yang ditawarkan Syariati disebut Islam Revolusioner.

Apa itu Islam Revolusioner? Yakni Islam yang mengambil jalan dan posisi revolusi menuju pembebasan umat atas
segala bentuk ketidakadilan dan penindasan. Dia merekonstruksi ortodoksi doktri Islam Syiah yang selama ini konservatif, apolitik, dan menekankan harmoni, menjadi kekuatan Islam yang revolusioner dan progressif.

Simbol-simbol Islam Syiah, seperti Karbala, Asy-syura, dan syahid dikembalikan dalam wacana sebagai bentuk perlawanan terhadap penindasan dan ketidakadilan kepada kaum Islam Syiah. Syariati tak sepakat dengan pandangan sebagian besar mullah dan cendikiawan muslim Iran yang memposisikan Islam sekadar agama yang
mengatur relasi bersifat vertikal semata dan bersifat asosial dan apolitik. Islam yang lepas dari realitas obyektif sosio kultural dan politik masyarakat di dalamnya.

Sekalipun lama menempuh pendidikan doktoral di Sorbonne University Prancis dan banyak bersinggungan dengan pemikiran cendikiawan Barat, namun Syariati tak sepenuhnya sepakat dengan pemikiran sekulerisme Barat yang memberbahalakan materialisme dan melupakan tradisi dan ortodoksi agama yang bersifat mutlak. Karena itu, Syariati menawarkan third way atau jalan ketiga pemikirannya yang disebut Islam Revolusioner.

Banyak pemikir dan cendikiawan Barat yang substansi pemikirannya dikagumi Syariati. Satu di antaranya adalah
Frantz Fanon. Dari pemikiran Fanon tentang internasionalisme, solidaritas Dunia Ketiga, dan perlunya Dunia Ketiga mewujudkan manusia baru yang didasarkan pada gagasan dan sejarah baru, menjelang revolusi Islam Iran pada pertengahan tahun 1970-an, Syariati, seperti ditulis Dr Anjar Nugroho (2019), mengumandangkan syiar revolusi bagi Iran, dengan mengatakan:

Kawan-kawan, mari kita tinggalkan Eropa, mari kita hentikan sikap meniru-niru Eropa. Mari kita tinggalkan Eropa yang sok berbicara tentang kemanusiaan, tapi di mana-mana pekerjaannya membinasakan manusia. Substansi pemikiran Syariati banyak dipengaruhi teori Neo Marxisme, terutama dalam membedah tentang sejarah, masyarakat, kelas, aparatur negara, ekonomi, kebudayaan, dan program aksi politik serta propagandanya tentang revolusioner.

Pemikiran Neo Marxisme juga dipakai sebagai pisau pendekatan oleh Syariati untuk menjelaskan perkembangan
masyarakat, perlawanan, dan kritisme atas kemapanan politik dan agama. Pisau pendekatan Neo Marxisme terutama dipakai untuk menjelaskan tentang massa tertindas dalam relasinya dengan kemapanan politik dan agama (Anjar Nugroho, 2019).

Tapi, di sisi lain, Syariati menentang mati-matian Marxisme, yang secara praktis di lapangan politik membuahkan Partai Sosialis dan Partai Komunis di banyak negara Eropa Timur dan Asia, yang baru merdeka di pertengahan abad XX, seperti China, Vietnam, Laos, Mongolia, dan lainnya. Karena itu, sejumlah ahli menilai Syariati sebagai pengikut rahasia Marxisme yang berlindung di balik Islam.

Sekali pun mengagumi banyak pemikiran Neo Marxisme, terutama dalam memahami dan membedah relasinya dengan usaha membongkar kemapanan politik dan agama yang berujung pada penindasan dan ketidakadilan rakyat, pemikiran Syariati tak mungkin dilepaskan dari konteks latar sosial, budaya, dan politik negaranya: Iran, yang menempatkan Islam Syiah sebagai mazhab resmi negara.

Yang hendak dibongkar Syariati adalah kejumudan dalam berpikir dan sikap status quo mullah Islam Syiah di satu sisi, sedang di sisi lain terjadi penindasan dan ketidakadilan yang dijalankan penguasa secara kasat mata dan vulgar.

Mengatasi masalah ini membutuhkan Islam revolusioner dari kaum Syiah Iran yang menjadi kekuatan mayoritas
di negara tersebut. Bukan Islam Syiah yang terbuai dengan kemapanan dan terus berangkulan dengan penguasa
politik di tengah realitas sosial politik dan ekonomi rakyat Iran yang diwarnai penindasan politik, ketidakadilan ekonomi, dan gap sosial yang makin tajam.

Tanah airnya, Iran, menjadi penjara bagi sepanjang hidup Syariati setelah menyelesaikan tugas belajarnya di
Prancis. Iran identik dengan keterasingan, penderitaan, dan tekanan politik dan hukum yang sangat keras dan berat kepada Syariati. Intelektual Islam Syiah ini pernah dipenjara lebih dari 500 hari tanpa proses peradilan di negeri para mullah tersebut. Langkah dan gerakannya selalu dikuntit SAVAK, polisi rahasia rezim Shah Reza Pahlevi yang dikenal kejam, bengis, dan tak mengenal ampun dalam menjalankan tugasnya.

Anjar Nugroho (2019), menulis, pada 13 Nopember 1971 dalam pidatonya yang sangat terkenal berjudul: Tanggung
jawab seorang Islam Syiah, Syariati mengungkapkan tanggung jawab seorang Syiah sejati atau revolusioner yang
lantas disebutnya sebagai Syiah Ali (pengikut Imam Ali). Syiah Ali wajib menentang ketidakadilan sekalipun
dengan taruhan nyawa, berupaya agar penguasa jujur dan adil, berjuang melawan penindasan, ketidakadilan,
eksploitasi, despotisme, pemerintahan kelas, pragmatisme, kebodohan dan ketakutan.

Syariati mengingatkan tentang prinsip jalan lurus, yakni jalan yang ditempuh Imam Husein Bin Ali Bin Abi Thalib melawan pemerintahan Yazid yang melambangkan pemerintahan yang kejam dan keji. “Slogan Syariati yang sangat terkenal adalah setiap bulan adalah bulan Muharram, setiap hari adalah Arafah, dan setiap tanah adalah Karbala. Dia menyerukan agar Iran menjadi arena perjuangan bersenjata antara keadilan dan kezaliman, antara yang suci dan yang profan, dan antara kebaikan dan kejahatan. Sudah tiba saatnya bagi rakyat Iran untuk berjihad melawan Shah Iran beserta sistem politik, ekonomi, dan sosialnya yang eksploitatif dan menindas,” tegas Syariati sebagaimana ditulis dalam buku Dr Anjar Nugroho (2019). [air/bersambung]

Apa Reaksi Anda?

Komentar