Sorotan

Surabaya Zonder PSBB: Apa Maunya Risma?

Ribut Wijoto.

PERIHAL PENCEGAHAN PERSEBARAN dan penanganan Covid-19, Pemerintah Provinsi Jawa Timur akhirnya meluluskan permintaan Pemerintah Kota Madya Surabaya, yaitu menghentikan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Surabaya diberi waktu masa transisi 14 hari untuk persiapan masuk New Normal.

Normal baru. Surabaya kini seperti kembali ke awal. Zonder PSBB. Namun waktu tidak mungkin berputar mundur.

Surabaya kembali ke awal dalam situasi yang berbeda. Jumlah pasien positif Covid-19 semakin banyak dibanding bulan April 2020, yaitu sebelum diberlakukan PSBB. Begitu pula jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP). Surabaya juga telah 3 kali memberlakukan aturan PSBB.

Pemerintah daerah di wilayah Surabaya Raya semula menjalankan PSBB mulai 28 April 2020 hingga 11 Mei 2020. Pelaksanaan kebijakan itu kemudian perpanjang sampai 25 Mei 2020, dan diperpanjang lagi hingga 8 Juni 2020.

Data hari Selasa, 9 Juni 2020, kemarin, pasien positif Covid-19 di Surabaya mencapai 3.360 orang. Sebanyak 867 orang sembuh dan 296 orang meninggal. Bandingkan data hari Senin, 27 April 2020, atau sehari menjelang pemberlakukan PSBB tahap 1. Ketika itu, jumlah pasien positif sebanyak 372 orang. Pasien sembuh 73 orang dan meninggal sebanyak 51 orang.

Lantas, publik pun dibikin penasaran. Apa maunya Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini?

Tahun ini adalah tahun terakhir Risma menjabat Wali Kota Surabaya. Selama hampir 10 tahun memimpin Surabaya, bejibun prestasi yang diraih Risma. Jika dikumpulkan, tidak cukup 1 lemari besar untuk menampung piala yang dimiliki Risma. Prestasi lokal, nasional, internasional; semua telah pernah diraihnya. Risma juga berulang kali didaulat untuk berbicara di forum internasional. Guna menularkan keberhasilan program kerjanya selama memimpin Kota Surabaya.

Risma juga dikenal pekerja keras. Masyarakat Surabaya tidak kaget jika menyaksikan Risma turut mengatur lalu lintas, menyapu trotoar, atau berbasah-basahan menanggulangi genangan banjir.

Selebihnya, Risma dikenal bersih. Jauh dari dugaan-dugaan korupsi.

Dari latar belakang Risma yang mentereng itu, publik patut berbaik sangka. Risma mungkin telah menyiapkan strategi khusus untuk mencegah penyebaran dan menanggulangi pandemi Covid-19 di Surabaya. Sekaligus, Risma mungkin memiliki rencana guna mengurangi dampak pandemi terhadap masyarakat Surabaya, utamanya terkait kelancaran bidang ekonomi.

Sesuai dengan namanya, PSBB memang berwatak membatasi. Pembatasan berskala besar. Baik itu pembatasan soal transportasi, kegiatan ibadah, pendidikan, usaha masyarakat, perputaran roda bisnis, maupun pembatasan pelayanan publik.

Kini, tidak ada lagi PSBB di Surabaya. Risma lebih bebas mengambil kebijakan yang disesuaikan dengan latar kultur Surabaya. Sebuah kota yang berlokasi di dekat laut. Kota memiliki jalan lebar diterangi lampu pertokoan, perkantoran, swalayan, dan rumah mewah. Metropolitan. Yang di belakang jalan lebar itu, ada berliku-liku gang-gang sempit dengan rumah-rumah penduduk yang berhimpitan. Kampung.

Surabaya. Sebuah kota yang didominasi orang-orang Jawa, China, Madura, dan Arab. Dijejali oleh karyawan yang entah dari daerah mana, juga mahasiswa dari berbagai kampung halaman.

Maka, kita tunggu saja strategi jitu dari Risma. Yang jelas, Risma didukung oleh infrastruktur yang cukup kuat. Kota Surabaya memiliki banyak rumah sakit besar. Memiliki banyak kampus kedokteran, kampus teknik pencetak calon insinyur, juga kampus sosial-politik. Didukung pula APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) sebesar lebih dari Rp 10 triliuan. Belum lagi pengusaha-pengusaha turut pula menggelontorkan bantuan dana, sembako, dan perlengkapan medis.

Yang jelas, Risma saat ini gencar melakukan rapid test. Deteksi cepat untuk melihat kemungkinan terjangkitnya Covid-19. Begitu hasilnya reaktif, warga langsung diarahkan untuk menjalani swab.

Rapid test massal ini sepintas mengandung risiko pencitraan negatif. Jumlah kasus Covid-19 yang terungkap semakin besar. Namun sebenarnya ini merupakan langkah tepat. Sebab warga yang terjangkit Covid-19 menjadi tertangani secara medis. Juga bisa ditelusuri penularannya melalui tracing. Ke depan, berkat rapid test massal, persebaran Covid-19 bisa lebih dikendalikan.

Risma juga kembali membuka terminal Purabaya. Sarana transportasi dihidupkan kembali. Perusahaan diberi peluang memanggil kembali karyawan. Hotel, restoran, obyek wisata dipersilakan beroperasi. Roda ekonomi masyarakat bisa lebih lancar berputar. Tentu saja, Risma menekankan sekaligus mengawasi protokol kesehatannya.

Pada akhirnya, waktu yang bakal menjawab. Bisa saja strategi New Normal Risma berujung pada kegagalan, yaitu ekonomi lancar namun kasus Covid-19 kian melonjak. Sebaliknya, bisa pula strategi Risma menuai keberhasilan, yaitu ekonomi lancar sekaligus kasus Covid-19 terkendalikan.

Dan jika strategi New Normal Risma berhasil, itu adalah sebuah keindahan yang nyata. Seindah sejuk taman-taman yang tumbuh subur di kota Surabaya. [but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar