Sorotan

Sisi Lain Branding Batik Ala Pemkab Pamekasan

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan, terus menunjukkan komitmen memberdayakan masyarakat di daerah berslogan Bumi Gerbang Salam. Salah satu di antaranya para perajin maupun pengusaha batik tulis melalui promosi besar-besaran yang dilakukan dalam beberapa bulan terakhir.

Terbaru, Pemkab Pamekasan melalui Bupati Badrut Tamam juga mengeluarkan surat edaran bagi seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan pemkab setempat, agar mengenakan batik saat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriyah.

Apalagi momentum lebaran tersebut, merupakan waktu yang ditunggu-tunggu umat Islam di berbagai belahan dunia pasca menjalani puasa Ramadan. Selama sebulan penuh, umat Islam dunia berjuang mengendalikan hawa nafsu dan melatih kesabaran melalui kegiatan imsak di siang hari.

Namun bagi pemkab Pamekasan, lebaran tidak hanya sebatas perataan keagamaan semata, tetapi juga terdapat banyak kandungan peluang yang bisa dimanfaatkan untuk membantu masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan, termasuk dalam sektor ekonomi.

Bupati dan Wakil Bupati Pamekasan, Badrut Tamam dan Raja’e, mengenakan batik saat Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriyah.

Terlebih agama dan ekonomi merupakan dua hal yang saling bersinergi, bahkan kesempurnaan dalam menjalankan perintah agama juga tergantung pada tingkat atau kemampuan di sektor ekonomi. Dalam istilah lain juga dapat diartikan sektor ekonomi menjadi pemacu menyempurnakan ibadah, disamping pentingnya si kaya peduli terhadap si miskin atau keluarga kurang mampu.

Dalam hal ini, Bupati Badrut Tamam menilai Hari Raya Idul Fitri sebagai momentum tepat untuk membantu masyarakat mempromosikan hasil kerajinan batik tulis. Apalagi agama menganjurkan agar saat Idul Fitri juga dianjurkan memakai pakaian yang baik sebagai implementasi dari upaya kembali kepada kesucian.

“Jadi tidak salah, jika pakaian baru yang digunakan warga Pamekasan ini adalah pakaian yang merupakan hasil produk lokal warga Pamekasan itu sendiri. Dalam hal ini adalah batik tulis Pamekasan,” kata Badrut Tamam kepada beritajatim.com, Senin (17/6/2019).

Seruan untuk membantu para perajin batik tersebut, juga sudah dilakukan Bupati Badrut Tamam bersama jajarannya ketika menggelar Safari Ramadan 1440 Hijriyah. Bahkan semua pejabat di lingkungan pemkab Pamekasan, mulai dari kepala dinas, kepala badan, camat, lurah dan kepala desa diharuskan memakai sarung batik tulis hasil kerajinan warga Pamekasan.

“Kenapa ini kami lakukan, karena satu-satunya pakaian yang merupakan produk┬álokal warga Pamekasan adalah batik tulis ini. Jadi, memakai sarung batik adalah sama dengan membantu saudara-saudara kita di Kabupaten ini,” ungkap bupati ketika mengisi Safari Ramadan di Kecamatan Pagantenan.

Tidak hanya itu, anjuran melalui Surat Edaran (SE) Nomor 003/169/432012/2019, tertanggal 27 Mei 2019 tentang Pemakaian Busana Batik saat lebaran. Sebagai upaya memberi contoh secara langsung saat melaksanakan silaturahim bersama kerabat selama lebaran.

Kebijakan tersebut dikeluarkan semata-mata demi menguatkan aspek ekonomi masyarakat melalui sektor hasil kerajinan batik. “Hal ini bisa terjadi apabila kita cinta pada produk lokal yang merupakan hasil kerajinan warga setempat,” jelasnya.

“Jadi, ini juga dimaksudkan untuk menanamkan kecintaan pada produk lokal. Sebab jika masyarakat sudah cinta para produk lokal, maka dampak ekonominya tentu akan lebih baik, karena uang berputar di Pamekasan ini,” sambung bupati muda yang akrab disapa Ra Badrut.

Selain itu, Pamekasan juga tercatat sebagai kabupaten di Madura, yang sebagian warganya bergantung pada penghasilan usaha batik tulis. Bahkan para perajin batik tulis tersebar di sebanyak 38 sentra batik dengan total sebanyak 933 usaha, serta sebanyak 6.526 orang yang menggantungkan nasibnya malalui batik.

“Nilai ekonomi usaha kreatif jenis batik ini menyumbang satu hingga dua persen sektor industri, nilainya lebih rendah dari sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang mencapai 35,66 persen di urutan pertama. Posisi kedua ditempati sektor perdagangan besar dan eceran dengan kontribusi 19,61 persen, disusul sektor konstruksi dengan kontribusi sebesar 10,12 persen,” beber politisi muda Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Tidak kalah penting, industri batik di Pamekasan juga berkaitan erat dengan beberapa program kerja yang digagas pasangan Badrut Tamam dan Raja’e. Apalagi industri kreatif di era Industri 4.0 dinilai sangat relevan dengan salah satu program yang digagasnya, seperti program wirausahawan baru dan lainnya.

“Dari itu, Pemkab Pamekasan berupaya mendorong berkembangnya industri batik dengan melakukan pembinaan, peningkatan sumber daya manusia (SDM), dan pengembangan alat bantu berupa teknologi, serta upaya memperluas akses pemasaran melalui kegiatan promosi sistemik,” tegasnya.

Seperti diketahui, upaya pemkab Pamekasan dalam mempromosikan batik dilakukan secara serius. Hal tersebut terlihat dari gagasan pemerintah yang mulai melalukan branding batik terhadap berbagai fasilitas pemerintah, di antaranya seperti branding batik kendaraan dinas, hingga branding batik di sejumlah perkantoran maupun infrastruktur publik. [pin/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar