Sorotan

Pertandingan Tunda Pekan 4 Liga 1

Sinyal Awas dari Tribun Penonton Gelora Bung Tomo

Pertandingan tunda pekan keempat antara Persebaya melawan Barito Putra, di Gelora Bung Tomo, Selasa (9/7/2019), mengabarkan sinyal awas di atas lapangan dan dari tribun penonton. Dari tribun, jumlah penonton yang hanya 9.127 orang menjadi catatan paling sedikit selama Liga 1 2018 dan 2019.

Sedikitnya jumlah penonton ini sebenarnya sudah terbaca jauh-jauh hari. Saat pertandingan kandang perdana melawan PS Kalteng Putra, hanya 10.247 penonton yang hadir. Saat pertandingan melawan Persela Lamongan hanya 10.027 penonton yang datang. Begitu juga saat pertandingan perempat final Piala Indonesia melawan Madura United: 11.200 penonton membuat GBT terlihat lengang.

Minimnya jumlah penonton tak lepas dari faktor jadwal yang tak menguntungkan. Semua pertandingan kandang Persebaya digelar pada hari kerja. Bahan pertandingan melawan Barito dan Persela digelar pada sore hari, saat pulang kerja.

Persebaya terselamatkan oleh pertandingan klasik big match, melawan PSIS Semarang yang dihadiri 40 ribu penonton dan Persib Bandung yang dihadiri 50 ribu orang penonton. Total jenderal jumlah penonton di GBT dalam lima pertandingan Liga 1 hanya 119.401 orang atau rata-rata hanya 23.880 orang. Tak sampai separuh kapasitas stadion.

Jika ini berkelanjutan, maka akan menjadi kabar buruk bagi bisnis sepak bola. Tiket masih menjadi andalan utama bagi Persebaya untuk memompakan oksigen bagi keberlangsungan klub. Presiden Persebaya Azrul Ananda pernah mengatakan, setidaknya butuh minimal 20 ribu penonton setiap pertandingan agar Bajul Ijo bisa tetap sehat secara bisnis.

Seharusnya dengan hanya beranggotakan 18 klub, Liga 1 bisa diputar rutin setiap akhir pekan. Ini akan menguntungan klub. Namun ketidakmampuan PSSI memutar kompetisi rutin tepat waktu berkonsekuensi pada jadwal pertandingan setiap pekan. Sebagian klub seperti Persebaya akhirnya kebagian jadwal pertandingan tidak pada saat libur akhir pekan.

Sepinya tribun berdampak pada dukungan untuk klub. Bukan rahasia lagi jika Gelora Bung Tomo adalah salah satu stadion paling berisik di Indonesia dan ini sedikit banyak mempengaruhi performa tim lawan. Tanpa gangguan ingar-bingar penonton, pemain lawan serasa bermain di kandang sendiri. Ini diakui pelatih Barito Putra Yunan Helmi. “Kami memang sedikit diuntungkan,” katanya.

Djajang Nurjaman sebenarnya hendak menempatkan Amido Balde sebagai ujung tombak tunggal sebagaimana skema saat melawan Persib Bandung. Namun mendadak saat detik-detik akhir, nama pemain asal Guinea Bissau itu harus dicoret dari daftar susunan pemain. Ia pusing saat melakukan pemanasan. “Dia menyatakan tak sanggup bermain,” kata Djajang.

Perubahan pada detik terakhir ini tak menguntungkan Persebaya. Tiga lini depan pun akhirnya diisi Irfan Jaya, Osvaldo Haay, dan Manu Jalilov. Sementara itu Misbakus Solikin berduet dengan Muhammad Hidayat di tengah. Dipasangnya Solikin sekali lagi di tengah sebenarnya tak bikin Bonek tenang. Beberapa kali Solikin gagal menunjukkan performa meyakinkan. Kali ini tugasnya tak mudah. Dia akan bertempur melawan Evan Dimas Darmono, mantan pemain Persebaya yang kali ini menjadi mesin lini tengah lawan. Mereka sama-sama bernomor punggung enam.

Bagi Persebaya, Barito adalah hantu. Musim 2018, dua kali Persebaya dipecundangi (1-2 di Surabaya dan 2-3 di Banjarmasin). Namun kali ini Barito tak dilatih Jacksen Tiago. Posisi mereka di klasemen juga tengah tak aman (peringkat 15 tanpa sekali pun mengemas kemenangan). Di atas kertas, Persebaya seharusnya bisa menang mudah. Apalagi sebelumnya, mereka berhasil menggulung Persib Bandung 4-0. Namun apa yang di atas kertas tak selamanya mudah dilaksanakan.

Berbeda dengan saat melawan Persib, para pemain Persebaya justru bermain serba nanggung pada babak pertama. Barito justru bermain ofensif. Transisi mereka bagus dan sering membuat situasi empat lawan empat di daerah pertahanan Persebaya. Mereka benar-benar memaksimalkan peran Evan dan berkali-kali berani menyerang lewat lini tengah daripada sayap. Trio Lucas Silva, Evan Dimas, dan Paulo Sitanggang membuat Muhammad Hidayat jatuh bangun dan terpaksa bermain lebih ke belakang untuk melindungi benteng pertahanan. Sementara itu Misbakus tak bermain maksimal.

Praktis Barito lebih banyak mendikte permainan. Pergerakan Evan yang mobil berhasil mengungguli Misbakus. Evan beruntung tidak mendapat teror ‘boo’ dari Bonek, sebagaimana diperoleh Andik Vermansah. Menit 62, ia bahan sempat melepaskan tembakan dari luar kotak penalti yang mengancam gawang Miswar.

Tak hanya berhasil menguasai bola lebih banyak (52 persen), para pemain Barito juga melepaskan tembakan akurat lebih banyak (sembilan berbanding enam). Lini belakang Persebaya yang dikomandoi Otavio Dutra dan Mokhamad Syaifuddin terlalu longgar membiarkan Rafael Silva memainkan bola dan melepaskan tembakan. Menit 37, Rizki Pora dengan leluasa melepaskan tembakan jarak jauh tanpa kawalan dan membuat Miswa Saputra jatuh bangun.

Serangan Persebaya juga dengan mudah dibaca oleh Barito. Persebaya lebih banyak mengandalkan umpan-umpang lambung yang dengan mudah diantisipasi Barito dengan menumpuk pemain di kotak penalti. Sementara Irfan Jaya bermain kurang tenang dalam memberikan ancaman. Berdasarkan data Statoskop-Jawa Pos, Barito berhasil melakukan intersep serangan Persebaya sebanyak 35 kali dan Persebaya hanya 18 kali. Bek kiri Barito Roni Beroperay berhasil menjalankan tugas dengan baik mengawal Irfan. Beberapa kali Irfan tak mendapatkan ruang tembak yang nyaman. Sementara itu, Manu Jalilov bermain di bawah performa terbaik. Beberapa kali peluang yang seharusnya berbuah gol seperti pada menit 38.

Sisi kanan Persebaya yang dikawal Novan menjadi awal dua gol Barito. Menit 70, Rizki Pora masih bisa memiliki ruang untuk mengambil ancang-ancang dan mengirimkan bola lambung ke kotak penalti Bajul Ijo. Bola sempat dihalau dengan tandukan oleh Syaifuddin. Namun bola jatuh di kaki Rafel yang langsung ditempatkan di sudut kanan gawang Miswar.

Lini belakang Persebaya benar-benar kehilangan konsentrasi. Menit 71, seorang bek seperti Roni Beroperay berhasil menerobos kotak penalti dan memainkan bola tiktak dengan Rafael. Miswar menghadang seperti seorang yang tengah menanti eksekusi mati. Satu tembakan keras sudah cukup menggetarkan gawang Persebaya. Namun Roni bukan seorang penyerang. Dia melepaskan tembakan melambung jauh ke atas gawang. Miswar boleh bernapas lega.

Persebaya beruntung memiliki Damian Lizio. Bak penyihir dengan bola di kaki, pemain asal Bolivia itu melakukan pergerakan bebas di mana-mana seperti tak pernah kehabisan bensin. Dalam posisi tertinggal, dia terus bergerak. Menit 79, Damian mencetak gol balasan melalui skema serangan sederhana. Muhammad Hidayat memberikan umpan terobosan datar kepada Ruben Sanadi yang berlari kencang dan menyodorkan bola kepada Damian yang datang dari arah belakang.

Menit 87, Ruben dan Damian kembali menjadi otak gol kedua Persebaya. Aksi individu Damian berhasil digagalkan oleh Andri Ibo. Namun bola jatuh di kaki Ruben yang berlari melesat di sisi kiri dan melepaskan bola lambung untuk ditanduk oleh Jalilov sembari terbang dan menjatuhkan diri.

Seharusnya Persebaya tinggal mengamankan tiga angka. Namun Gol kedua Barito lagi-lagi dicetak Rafael pada menit 90 dengan memanfaatkan kendornya lini belakang Persebaya. Ferdiansyah, pemain depan Barito yang masuk pada menit 68 menggantikan Sitanggang, mengirimkan bola silang ke Rafael yang menanduknya dengan bebas tanpa kawalan. Rafael langsung berhadapan dengan Miswar. Gol. 2-2.

Hasil imbang ini serasa kalah. Posisi Persebaya memang masih bertahan di peringkat keempat. Namun seharusnya kemenangan melawan Barito lebih melonggarkan tekanan sebelum pertandingan tandang melawan PSS Sleman, Sabtu (13/7/2019). Hasil melawan Barito kembali menunjukkan bahwa GBT tak selamanya bersahabat bagi Persebaya, terutama jika sedang senyap. [wir/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar