Sorotan

Sikap Aneh Fadli Zon

Ribut Wijoto.

FADLI ZON beberapa hari lalu bersuara keras terhadap penangkapan mantan Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI) Munarman oleh Densus 88. Sikap Fadli Zon ini tentu tidak mencerminkan suara Partai Gerindra yang saat ini berposisi sebagai salah satu pendukung Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Terbaru, Fadli Zon memertanyakan kebijakan pemerintah yang membuka kembali penerbangan dari Jakarta ke Wuhan, China. Menurutnya, kebijakan itu mengindikasikan bahwa pemerintah tidak konsisten dalam hal penanganan wabah Covid-19.

Bahkan hari ini, Fadli Zon mengkritik Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) bagi pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Katanya, beberapa pertanyaan dalam TWK membuktikan negara sedang mengalami kemunduran dalam berbangsa.

Seperti diketahui, Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto masuk dalam jajaran Kabinet Indonesia Maju. Dia memegang posisi Menteri Pertahanan. Sudah selayaknya, partai yang masuk dalam pemerintahan maka kader-kadernya mendukung kebijakan pemerintah. Bukan justru sebaliknya.

Tetapi langkah Fadli Zon menunjukkan arah politik yang berbeda. Fadli Zon mengkritisi kebijakan pemerintah. Dan tidak kali ini saja. Beberapa kali Fadli Zon melontarkan kritik tajam. Padahal dia bukanlah kader biasa. Fadli Zon adalah salah satu pendiri dan saat ini menduduki posisi Wakil Ketua Umum Partai Gerindra.

Lebih aneh lagi, tidak pernah terdengar di publik, Fadli Zon mendapat teguran dari Partai Gerindra. Prabowo sebagai ketua umum juga adem ayem saja. Begitu pula dengan kader atau politisi Gerindra lain. Seakan kritik keras Fadli Zon kepada kebijakan pemerintah sebagai suatu hal yang wajar.

Mengapa itu bisa terjadi? Mengapa Fadli Zon bertindak seakan-akan oposisi?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, kita perlu melihat basis massa dari Partai Gerindra. Sejak berdiri pada tanggal 6 Februari 2008, partai ini seperti ditakdirkan untuk menjadi oposisi.

Pada periode 2009-2014, Partai Gerindra berada di luar kabinet pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono – Boediono. Ketika itu, Prabowo sempat maju sebagia penantang di Pilpres 2009. Dia menjadi pendamping Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati.

Pada Pilpres 2014, Prabowo kembali maju. Tidak lagi sebagai calon Wakil Presiden tetapi sebagai calon Presiden. Menggandeng Hatta Rajasa, pasangan ini kalah tipis dari Jokowi – Jusuf Kalla. Seperti dugaan banyak orang, Partai Gerindra pun memilih berada di barisan oposisi.

Head to head Jokowi – Prabowo kembali terulang dalam Pilpres 2019. Bedanya, Jokowi berpasangan dengan KH Ma’ruf Amin dan Probowo menggandeng Sandiaga Uno. Lagi-lagi Prabowo kalah tidak terlalu besar.

Kejutan terjadi, tanggal 20 Oktober 2019, Prabowo masuk dalam Kabinet Indonesia Maju dengan menduduki posisi Menteri Pertahanan. Keputusan ini sempat menimbulkan pro kontra di kalangan publik. Sebagian mendukung dengan alasan bahwa bersatunya Jokowi – Prabowo bakal menguatkan posisi Pemerintah dalam menjalankan roda pembangunan. Sebagian lagi menyayangkan karena Prabowo dinilai mengkhianati suara dari pendukungnya.

Antara pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo memang terlihat ada rivalitas cukup keras. Sampai-sampai tercipta dua istilah sinis yang populer, yaitu ‘kecebong’ dan ‘kampret’. Istilah kecebong disematkan untuk menyebut para pendukung Jokowi sedangkan istilah kampret penamaan bagi para pendukung Prabowo. Apapun makna dari kedua istilah itu, nadanya sama-sama sinis.

Rivalitas keras yang mengakar dalam beberapa tahun terakhir. Sehingga apapun yang dilakukan Jokowi disambut sinis oleh pendukung Prabowo. Sebaliknya, apapun tindakan Prabowo kerap dicemooh oleh pendukung Jokowi.

Maka, ketika Prabowo masuk dalam kabinet pemerintahan Jokowi, pendukungnya kaget. Loyalitas dan kesolidan pendukung Prabowo dikhawatirkan pecah.

Dan di tengah kekhawatiran itu, sikap Fadli Zon sangat penting sebagai peredam. Fadli Zon secara konsisten terus bersikap kritis terhadap pemerintahan Jokowi. Sebuah sikap yang segaris dengan sikap para pendukung Prabowo. Fadli Zon seperti berperan sebagai penyambung lidah pendukung Partai Gerindra.

Sikap Fadli Zon seakan merawat basis massa Partai Gerindra. Sikap Fadli Zon penting agar Partai Gerindra tidak ditinggalkan oleh pendukungnya. Sikap Fadli Zon penting pula bagi Partai Gerindra dalam menghadapi Pemilu 2024 nanti.

Jika benar demikian, apakah berarti sikap kritis Fadli Zon merupakan hasil desain politik dari Partai Gerindra?

Bisa jadi ya bisa jadi juga tidak. Sikap seperti Fadli Zon pernah terjadi di tubuh Partai Amanat Nasional (PAN). Ketika PAN sudah terang-terangan mendukung pemerintahan Jokowi, ada satu tokoh yang secara konsisten tetap bersikap oposisi, yaitu Amien Rais. Padahal posisi Amien Rais di PAN sangatlah vital. Amin Rais merupakan pendiri partai dan tokoh senior yang dihormati oleh kader maupun simpatisan PAN.

Tetapi kini perjuangan dan pengabdian Amien Rais di PAN telah berakhir. Dia mendirikan partai baru bernama Partai Ummat. Melihat dari beberapa pernyataan Amien Rais, Partai Ummat tampaknya berposisi sebagai oposisi.

Politik kerap kali menghadirkan kejutan. Politik tidak selalu memakai logika umum. Waktu yang bakal menjawab arah pasti dari sikap politik Fadli Zon. [but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar