Sorotan

Sidoarjo Mencari Raga

Ribut Wijoto

Ada guyonan menarik di Sidoarjo. Kalau serius mau bikin sensus penduduk Sidoarjo, lakukanlah dini hari, saat orang-orang sedang tidur.

Mengapa dini hari? Sebab saat itu penduduk Sidoarjo dalam jumlah yang lengkap. Yakni tidur di rumah masing-masing. Begitu matahari terbit, banyak penduduk Sidoarjo yang bergegas berangkat ke Surabaya. Menjadi orang Surabaya.

Maka, lihatlah jalan sekitar Aloha. Di pagi hari, kendaraan ramai menuju Kota Surabaya. Dan sore hari hingga malam hari, kendaraan tersebut balik lagi menuju Sidoarjo.

Secara sarkas, guyonan itu berlanjut, mereka hanya numpang berak dan tidur di Sidoarjo. Kerja dan aktivitas lebih banyak di Surabaya.

Meski sebatas guyonan, kenyataannya tidak berbeda jauh. Keberadaan Sidoarjo selama ini lebih dikenal sebagai kota penyangga Surabaya. Seakan-akan bukan sebuah wilayah yang mandiri. Sidoarjo seakan ada karena Surabaya ada. Hitam putih warna Sidoarjo seakan ditentukan oleh Surabaya.

Purabaya sebuah terminal bus yang kabarnya tersibuk di Asia Tenggara. Tempatnya di Bungurasih, Waru, wilayah Sidoarjo. Tetapi siapa pengelolanya? Ternyata Terminal Purabaya dikelola oleh Pemkot Surabaya. Sedangkan Pemkab Sidoarjo hanya mendapatkan bagi hasil yang jumlahya tidak terlalu besar.

Jangan ditanya berapa persen kepemilikan saham Pemkab Sidoarjo terhadap Bandar Udara Internasional Juanda? Bandara udara terbesar kedua di Indonesia ini memang terletak di Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo. Tetapi pengelolanya adalah PT Angkasa Pura. Dan, PT Angkasa Pura sama sekali tidak ada hubungan dengan Pemkab Sidoarjo. Bahkan kerap kali, orang lebih suka menyebut Bandara Juanda Surabaya dibandingkan Bandara Juanda Sidoarjo.

Menengok ke masa silam, di Sidoarjo konon ada sebuah kerajaan besar bernama Kahuripan. Sebuah kerajaan yang didirikan Raja Airlangga tahun 1009. Kerajaan ini hampir menguasai seluruh wilayah Jawa Timur. Tetapi siapa bisa memastikan, di wilayah Sidoarjo sebelah mana letak ibu kota Kerajaan Kahuripan? Justru konon, Kahuripan didirikan pertama kali di lereng Gunung Penanggungan, lalu sempat ke Lamongan, sempat ke Sidoarjo, sempat pula ke Kediri. Artinya, Sidoarjo tidak bisa mengklaim sebagai satu-satunya pemilik sah sejarah Kahuripan.

Airlangga lantas membelah Kerajaan Kahuripan menjadi dua bagian. Jenggala dan Panjalu. Jenggala berada di Sidoarjo dan Panjalu berada di Kediri. Konon Jenggala lebih maju secara ekonomi dibanding Panjalu karena memiliki pelabuhan di ujung sungai Porong. Kemajuan ekonomi itu pula yang menyebabkan Jenggala diserang Panjalu dan kemudian terusir dari Sidoarjo. Berpindah-pindah dan pelan-pelan pudar dari catatan sejarah.

Lalu berdiri cikal bakal kerajaan terbesar yang pernah ada di Indonesia, yaitu Kerajaan Majapahit. Konon kerajaan ini pertama kali dibangun di hutan Tarik, di wilayah Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo. Tetapi sebatas nunut berdiri. Kerajaan Majapahit menjadi kuat dan besar ketika pindah ke Trowulan Mojokerto. Sehingga, sejarah Kerajaan Majapahit lebih dimiliki Mojokerto dibandingkan milik Sidoarjo.

Di Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, ada sebuah makam tua. Orang-orang sekitar mengenalnya sebagai makam Dewi Sekardadu. Makam ini kerap didatangi peziarah. Usut punya usut, Dewi Sekardadu adalah ibu kandung dari tokoh besar Islam di Tanah Jawa yang mendirikan kerajaan di Gresik, yaitu Sunan Giri. Keberadaan Dewi Sekardadu tidak lepas dari bayang-bayang kebesaran Sunan Giri.

Mari beranjak ke cerita rakyat Panji. Cerita asli Jawa Timur yang menyebar luas ke manca negara. Begitu termasyurnya sehingga Perpustakaan Universitas Leiden menyimpan 260 naskah cerita Panji dalam 8 bahasa. Memang tokoh utama cerita Panji adalah Raden Inu Kertapati, pangeran dari Kerajaan Jenggala. Tetapi cerita rakyat ini lebih banyak identik dengan sejarah Kerajaan Dhaha, Kediri.

Cerita rakyat lain yang berusia lebih muda, Sarip Tambak Oso. Cerita yang bersumber dari perjuangan seorang pemuda asli Sidoarjo dalam melawan ketidakadilan sosial oleh penjajahan Belanda. Meski berasal dari Sidoarjo, lakon Sarip lebih populer ketika dimainkan oleh kelompok ludruk dari Surabaya.

Di bidang tari tradisional, Sidoarjo memiliki Munali Fatah. Tokoh yang seluruh hidupnya diabdikan untuk pengembangan tari Remo. Sampai-sampai kemudian dikenal tari Remo Gaya Munali Fatah. Tetapi sekali lagi, sosok Munali Fatah bukan mutlak milik Sidoarjo. Itu karena sebagian besar aktivitas kesenian Munali Fatah dilakukan di Surabaya.

Kembali ke bagian awal lagi, Sidoarjo adalah kota penyangga. Sampai kapan status ini terus melekat di Sidoarjo? [but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar