Sorotan

Shankly, Kata-Kata, dan Sepak Bola

Bill Shankly (sabotagetimes.com)

Sejarah sepak bola seringkali tak hanya ditentukan oleh sebuah pertandingan di atas lapangan. Jauh sebelumnya, ada seorang pelatih (atau manajer, dalam tradisi Inggris) yang membangun tim dengan kata-kata. Dan dari seorang Bill Shankly, manajer Liverpool, kita tahu betapa kata-kata adalah kekuatan, pernyataan adalah upaya untuk membangun dominasi dan kuasa.

Sebagian mengatakan, Shankly bukan ahli taktik. Liverpool memiliki seorang Bob Paisley, mantan pemain yang menjadi asistennya: lebih kalem, tak banyak melontarkan pernyataan, namun jelas seorang ‘tactical genius’. Dia hanya sembilan tahun melatih Liverpool (bandingkan dengan Shankly yang melatih selama 15 tahun). Namun capaian trofinya lebih banyak dan lebih megah: tiga gelar Piala Champions Eropa dan enam gelar liga Inggris.

Namun, Shankly tetap dikenang sebagai legenda utama Liverpool, karena membangun pondasi klub dan memotivasi banyak orang. Kata-kata adalah senjatanya, menjelaskan filosofinya, untuk membangun sebuah klub yang selama bertahun-tahun terpuruk, kehilangan gairah, dan kehilangan arah.

Semua diawali dengan bagaimana dia menyederhanakan filosofi sepak bola. “Sepak bola adalah sebuah permainan sederhana berdasarkanm pada menerima dan mengoperkan bola, mengendalikan bola dan membuat Anda siap sedia menerima operan. Ini sangat sederhana,” katanya.

Menurut Shankly, setiap pemain harus bermain untuk tim dan bukan diri sendiri. “Kami melakukannya bersama-sama. Kami punya pemain-pemain spesialis di posisi khusus. Kami tidak menyulitkan mereka sehingga setiap pemain punya tugas sederhana untuk dilakukan.”

Antusiasme alamiah adalah kunci. “Kalian bukan apa-apa tanpa itu,” katanya.

Itulah kenapa Shankly seringkali mengaitkan sepak bola dengan sosialisme. “Sepak bola adalah sebuah wujud sosialisme.” Dia menuntut komitmen kepada para pemainnya: jika kalian jadi yang pertama maka kalian adalah yang pertama. Jika kalian jadi yang kedua, kalian bukan apa-apa.

Salah satu pernyataannya yang paling acap dikutip dan mengundang multi tafsir adalah: ‘football’s not a matter of life and death. It’s much more important than that.’ Sepak bola bukan utusan hidup dan mati. Ini lebih penting daripada itu.’

Setelah Liverpool mengalahkan Everton dalam semifinal Piala FA, Shankly menegaskan, penyakit sekali pun takkan mencegahnya untuk hadir dan memimpin anak-anak asuhnya. “Bahkan jika saya mati, saya akan suruh orang membawa peti mati saya ke lapangan, memberdirikannya, dan membuatkan lubang di permukaannya (agar saya bisa menyaksikan pertandingan itu).”

Everton adalah rival yang senantiasa dipandang sebelah mata oleh Shankly. Menurutnya, hanya ada dua tim terhebat di Merseyside, yakni tim inti Liverpool dan tim cadangan Liverpool. “Saya selalu mencari tahu di koran bagaimana kabar Everton dalam klasemen sementara liga – diawali dari urutan paling bawah, tentu saja.”

Shankly juga punya cara untuk menertawakan penampilan duet klub Manchester, City dan United. “Manchester Unired dan Manchester City ada di dasar klasemen Divisi Satu, dan demi Tuhan mereka melakukannya bergiliran,” katanya.

Shankly meyakini: sukses dalam dunia sepak bola adalah berawal dari alam pikiran. “Kalian harus percaya jika kalian yang terbaik dan baru setelahnya pastikan memang demikian.”

Tentu saja semuanya berawal dari kerja keras. Shankly tidak yakin dengan hanya berlatih dua kali sehari. “Kami berlatih keras secara pantas. Kami berlatih untuk sepak bola, dua menit penyiksaan, setengah menit istirahat, lalu mulai lagi.”

Sepak bola dilangsungkan selama 90 menit. “Tapi saya bisa berlatih selama 180 menit pertandingan, sehingga bola peluit berbunyi pada akhir pertandingan, saya bisa bertanding lagi dari awal.”

Kegilaan pada kerja keras dan kekuatan membuat Shankly tak menoleransi rasa sakit. Saat Tommy Smith, pemain Liverpool, mengeluhkan cedera kakinya, Shankly justru tak menunjukkan belas kasihan. “Koreksi, ini bukan kakimu, Nak. Ini kaki Liverpool.”

Shankly juga menunjukkan hal yang sama kepada seorang pemain lawan yang mengaku cedera gara-gara bertanding dengan Liverpool. “Dengar Nak, kakimu tidak patah. Itu semua hanya dalam pikiranmu.”

Taktiknya sederhana: jangan biarkan gawang kebobolan. “Saya tidak peduli kami tak mencetak gol, yang penting saya tak ingin bola dibiarkan masuk ke gawang kami.” “Lupakan kekuatan kalian, bekerjalah dengan kelemahan kalian.” Shankly meminta para pemainnya untuk senantiasa mengganggu permainan lawan atau mencari keuntungan di atas lapangan untuk menang.

Namun jika anak-anak asuhnya gagal memenuhi ekspektasi, lidah tajam Shankly tak segan-segan menghajarnya. “Persoalan denganmu, Nak, adalah seluruh otakmu ada di kepalamu.”

Menurut Shankly, sistem permainan yang buruk lebih baik ketimbang tak ada sistem sama sekali. Dan dia percaya seburuk apapun sistem permainan, pemainnya punya kemampuan untuk menghancurkan permainan lawan. “Masuk ke lapangan dan jatuhkan sejumlah granat, Nak,” kata Shankly kapada Kevin Keegan, pemain depan Liverpool.

Shankly senantiasa punya keyakinan terhadap dirinya dan para pemainnya, seburuk apapun permainan Liverpool. “Saya memastikan kepada Anda bahwa Liverpool akan menang (menjadi juara) di kandang sebelum musim berakhir.”

Shankly juga tak pernah puas. Setelah Liverpool promosi ke Divisi Pertama Liga Inggris pada 1962, dia mengucapkan janji di hadapan dewan klub yang membagi-bagikan sekotak cerutu kepada para pemain. “Kita promosi, tapi Anda tidak berpikir itu memuaskan bukan? Lain kali kami akan kembali dan akan memenangkan liga besar. Divisi Pertama.”

Jika gagal? Shankly sudah siap dengan kata-kata juga yang menyatakan hasil negatif pada akhir pertandingan tak mengganggunya. “Tim terbaik meraih hasil imbang,” katanya saat Liverpool bermain imbang 1-1.

Saat Liverpool kalah 1-2 dari Swansea Town dalam pertandingan Piala FA, Shankly menyebutnya parodi keadilan terbesar dalam sejarah sepak bola. “Skornya seharusnya 14-2 (untuk kemenangan Liverpool),” dengusnya.

Shankly percaya bahwa dalam sepak bola, keadilan harus ditegakkan di atas lapangan. “Saya manajer terbaik di Britania karena saya tidak pernah licik atau mencurangi orang lain. Saya akan patahkan kaki istri saya jika bertanding melawannya, tapi saya tidak akan pernah mencuranginya… Hidup saya adalah pekerjaan saya, pekerjaaan saya adalah hidup saya.” [wir/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar