Sorotan

Setiap Orang Membutuhkan Rasa Takut

Oryza Wirawan

Saya percaya, setiap orang membutuhkan rasa takut. Tidak untuk kemudian menjadi pengecut karena mental kisut. Rasa takut adalah sesuatu yang alamiah: bentuk kesadaran bahwa manusia memiliki sekian keterbatasan. Dalam dunia yang penuh kemungkinan, keterbatasan membuat manusia tak gegabah.

Rasa takut memotivasi manusia untuk berani bertindak. Bahkan untuk melawan negara. Melawan aturan. Saat pemerintah menyatakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat pada 3-20 Juli 2021, yang kemudian diperpanjang hingga 25 Juli 2021, kita melihat sebagian masyarakat menolak mematuhinya. Mereka berani melanggar karena rasa takut terhadap kelaparan.

Ketakutan melahirkan keberanian. Paradoks.

Ketakutan juga melahirkan kalkulasi. Sedia payung sebelum hujan adalah kalimat bijak yang muncul dari kekhawatiran, kecemasan. Jika anda mencemaskan sesuatu, maka bersiaplah untuk mengurangi kecemasan atau menepiskan kekhawatiran itu dengan melakukan tindakan antisipasi.

Seorang kawan mengatakan, tak perlu takut berlebihan terhadap Covid. Namun agar nyali tetap terjaga, dia sudah menyiapkan banyak hal di rumah untuk menyongsong kemungkinan berjangkitnya Covid: persediaan obat, tabung berisi oksigen, vitamin, oksimeter, termometer, dan alat kesehatan personal lainnya.

Namun tak semua orang memilih tindakan antisipatif untuk mengompensasi rasa takut. Mereka yang paranoid lebih memilih untuk menghindari kenyataan, bersembunyi di balik poster-poster di media sosial yang berisi seruan untuk tidak mengunggah informasi mengenai Covid-19. Mereka ingin membuat sebuah ruangan terlihat bersih dengan menyapu debu di lantai ke bawah karpet. Tak terlihat, namun ada.

Mereka yang paranoid memilih tidak bersiap, karena bagi mereka, mengingkari kenyataan bahwa Indonesia adalah episentrum pandemi merupakan sebuah solusi. Atau lebih tepatnya: menipu diri sendiri adalah jawabannya. Mereka yang paranoid memilih tidak ke rumah sakit saat badan mulai meriang dan batuk mulai mengganggu, karena takut di-covid-kan. Mereka memilih diam, bersembunyi dan berusaha menyugesti diri bahwa mereka baik-baik saja, sembari berharap sembuh. Sebagian berhasil, sebagian berakhir di pemakaman.

Maka memanfaatkan rasa takut sebenarnya adalah jalan untuk memenangkan peperangan melawan pandemi yang bisa dimanfaatkan pemerintah. Yang perlu dilakukan adalah menempatkan rasa takut itu pada frekuensi yang sama dengan publik, meletakkannya pada nalar yang sejalan.

Publik lebih takut lapar daripada tertular Covid. Motif urusan ekonomi personal membuat PPKM Darurat tak berjalan maksimal untuk membatasi mobilitas masyarakat. Maka memaksa masyarakat untuk berdiam diri di rumah adalah kesia-siaan, terutama karena pemerintah tak cukup punya anggaran untuk melaksanakan apa yang tertulis dalam Undang-Undang Kekarantinaan.

Di sinilah kemudian saya teringat helm. Jika membatasi pergerakan tak bisa, maka pendisplinan mungkin adalah jalan keluar. Tak ada salahnya pemerintah memperlakukan pemakaian masker seperti pemakaian helm di jalan raya. Paksa masyarakat untuk mengenakan masker di ruang publik dengan memberikan denda kepada mereka yang abai. Sama seperti awal pendisplinan penggunaan helm pada 1 November 1971.

Helm jelas tak akan mencegah kecelakaan pada semua orang. Namun pemakaiannya mengurangi benturan terhadap kepala yang berujung kematian saat itu terjadi. Masker tak akan membunuh virus. Namun ia mengurangi penularan dan menahan laju pertambahan penderita jika dikenakan dengan benar sesuai protokol.

Pada akhirnya, setiap orang membutuhkan rasa takut, karena dari sana kedisplinan berawal untuk memenangi perang melawan pandemi. [wir/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar