Iklan Banner Sukun
Sorotan

Setelah Nona E Memutuskan Kembali ke Rumah Lama

Foto: pexels-photo/suzi hazelwood

Nona E bersyukur telah mengambil keputusan yang benar pada saat yang tepat. Setelah bekerja selama sembilan tahun untuk pemerintah, dia memutuskan ini saatnya pamit, saat Covid-19 baru saja mulai menyebar.

Suaminya meninggal dunia beberapa bulan sebelumnya, dan Nona E hidup terpisah kota dengan dua anaknya yang belum genap berusia lima tahun. Dia ingin membesarkan anak-anaknya, dan bekerja di lokasi yang berbeda kota di tengah pandemi tentu saja bukan opsi bagus. “Saya ingin pulang,” katanya.

Dan dia pulang bukan saja ke kampung halaman. Tapi juga kembali ke rumah lama: jurnalisme. Sebelum bekerja untuk pemerintah, dia pernah menjadi reporter untuk sebuah surat kabar harian lokal. Ini pekerjaan yang dicintainya dengan sangat, dan membuatnya bertemu dengan banyak orang. Juga dengan almarhum suaminya.

Kali ini Nona E bekerja sebagai editor di sebuah media massa dalam jaringan. Dia bekerja dengan kata-kata. Memeriksa semua artikel yang masuk. mengoreksi setiap kekeliruan. Meluruskan logika, dan terkadang mendempul struktur tulisan. Sesekali, dua kali, dia mencereweti kontributor artikel yang tak bisa menulis dengan benar dan mengabaikan akal sehat. Ini kerja-kerja yang membosankan bagi banyak orang.

Semula Nona E mengira menghadapi media massa yang sama sebagaimana dulu dia bekerja menjadi reporter lapangan. Dan hari ini dia terkejut, apa yang disangkanya keliru. Tak ada lagi 5 W dan 1 H sebagaimana dipahaminya dulu, dan yang dangkal tampak menjadi penting.

Maka sikap segera diambil: bahwa hari ini dia tengah terlibat dalam proyek kecil menjaga peradaban dengan merawat bahasa. Dia tahu, sedang menghadapi zaman yang berubah dan jurnalisme yang dipahami tak lagi sama. Setidaknya media massa yang tak lagi sama. Situasi berbeda ini bukan dipantik represi penguasa. Tapi justru oleh keingintahuan orang yang melimpah ruah atas informasi tak terbatas.

Sejak berdiri pada 1896, koran The New York Times meletakkan slogan All the News That’s Fit to Print sebagai panduan dan penegasan, bahwa koran itu hanya mencetak yang penting-penting saja. Apakah yang penting itu? Tentu saja ruang redaksi memiliki independensi untuk menentukan apa yang patut diketahui oleh publik dan tidak. Mana yang layak dibaca dan mana yang hanya remah-remah rengginang.

Dewan redaksi yang terdiri atas pemimpin redaksi, para editor, dan reporter diletakkan pada posisi sebagai orang-orang bijak bestari yang paling tahu tentang apa yang diperlukan publik. Dan dalam satu titik tertentu, mereka membentuk opini publik dengan meletakkan satu isu lebih penting dan berarti bagi masyarakat dibanding isu lainnya. Masalahnya: apa yang dibutuhkan publik tak selamanya berbanding lurus dengan apa yang diinginkan. Media massa seperti The New York Times suka atau tidak menyeragamkan keinginan dengan bersandarkan pada kebutuhan.

Lalu internet datang, dan mendadak kebutuhan dan keinginan publik untuk memperoleh informasi kehilangan pembatas. Tak jelas apakah orang membutuhkan informasi atau dirundung sekadar rasa ingin tahu. Internet menyediakan ruang bagi individu untuk mengidentifikasi informasi yang diinginkan (atau dibutuhkan) tanpa harus merujuk pada All the News That’s Fit to Print.

Maka kita menemui media massa hari ini tak selamanya sakral dengan prinsip-prinsip jurnalisme yang meletakkan reportase sebagai ujung tombak, namun dengan informasi yang saling menduplikasi satu sama lain: mulai dari bagaimana mengatasi insomnia, menjaga kucing tetap sehat, hingga bagaimana membuat kaum hawa menggigit bahu pasangannya karena dilanda orgasme hebat. Informasi yang dibutuhkan dan diinginkan publik tereduksi menjadi informasi yang diinginkan personal.

Pada satu titik, dalam waktu-waktu tertentu, publik memang dihadapkan pada isu yang sama: pandemi, tragedi, atau kemenangan olahragawan kita di Olimpiade. Namun itu semua sebatas momento, momen yang sekali baca dan selesai. Orang menangis saat membaca sekeluarga tertimpa musibah dan kesialan, atau membayangkan berapa banyak orang masuk rumah sakit karena Covid, atau berjingkrak girang saat pasangan ganda putri meraih emas cabang bulutangkis pertama kali.

Lalu sepi.

Orang kembali pada kesibukan mengunduh informasi-informasi yang dibutuhkan (atau sekadar ingin tahu) bagaimana merawat burung berkicau atau menjaga stamina di ranjang tetap prima. Tak ada yang tertarik bagaimana ikhtiar pemerintah melindungi warganya dari musibah dan wabah, atau klub-klub bulutangkis yang kehilangan peminat karena tak punya cukup dana. Media massa masih memberitakan, tapi orang tidak peduli. Jumlah viewer atau pembacanya kalah banyak dibandingkan gosip artis X menikah lagi.

All the News That’s Fit to Print? Bukan. Palugada. Apa yang lu mau, gua ada.

Publik tak boleh disalahkan. Media massa tak bisa dikambinghitamkan, jika kemudian jurnalisme berada dalam kepungan tuntutan berburu viewer sebanyak-banyaknya. Kunjungan pembaca membuat media massa tetap bisa hidup. Media massa tak boleh mati. Demokrasi membutuhkan media massa. Jika perusahaan-perusahaan media runtuh, maka demokrasi mana yang hendak dirawat?

Memang dibutukan keberanian untuk menjadi seperti The Guardian yang tetap bersikukuh dengan berita-berita yang berkualitas, tanpa tergoda untuk menjadi dangkal. Namun di Indonesia, nyali saja tidak cukup. Itulah kenapa media massa-media massa dalam jaringan memilih bekerjasama daripada saling hantam satu dengan yang lain untuk bertahan. Mereka menghadapi problem yang sama, terutama karena para awak media ini berasal dan hidup pada suatu zaman di mana jurnalisme dipahami secara klasik. Old fashion. Old school.

Mungkin itulah kenapa slogan The Washington Post lebih terasa gemanya di sini, dengan konteks tafsir yang mungkin berbeda: Democracy Dies in Darkness.

Demokrasi mati dalam kegelapan. Tapi kita yakin itu tidak hari ini, Nona E. [wir/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar