Iklan Banner Sukun
Sorotan

Sesumbar dan Tradisi Psywar dalam Sepak Bola

Bill Shankly, pelatih Liverpool 1959-1974. [foto: Independent]

Penjaga gawang PSIL Lumajang Audi Febrianto, menutup pernyataannya dalam jumpa pers usai pertandingan melawan Singhasari Malang di Stadion Notohadinegoro, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (19/11/2021), dengan optimisme.

Audi yakin PSIL bakal mengalahkan Persid Jember dalam pertandingan terakhir Grup J kompetisi Luga 3 Zona Jawa Timur, Senin (22/11/2021). “Tidak usah banyak-banyak, cukup 5-0 bagi PSIL. Jangan sampai kebobolan. Kasihan kiper PSIL. Bukan optimis. Pasti,” katanya.

Dua hari kemudian, tepatnya Senin dini hari, bus tim PSIL yang diparkir di depan Hotel Safari Jember menjadi sasaran aksi vandalisme. Bagian kaca depan dan samping bus dicoret-coret dengan cat semprot warna biru. Ada poster warna putih bertuiskan ‘PSIL Sepele’ di bagian depan bus.

Pelaku belum diketahui. Namun, pelatih PSIL Slamet Sampurno menduga itu bagian dari psywar membalas pernyataan Audi. Ia menyebut sang kiper sebenarnya tak bermaksud sesumbar dan hanya bercanda.

Psywar dalam dunia olahraga, terutama sepak bola, sebenarnya hal yang lazim ditemui. Muhammad Ali, petinju terbesar sepanjang zaman, dikenal sebagai Si Mulut Besar. Dalam sesi jumpa pers sebelum pertandingan, ia selalu melontarkan pernyataan kontroversial yang meremehkan lawan.

Dalam dunia sepak bola, ada Jose Mourinho yang mudah sekali memicu kontroversi dengan deretan kalimat yang bisa bikin hati pemain dan suporter klub lawan terbakar. Bill Shankly, manajer legendaris Liverpool, tak pernah kehabisan kata-kata ‘ajaib’ untuk meledek Everton, klub sekota tim yang dilatihnya. “Kalau saya tidak ada kerjaan, saya melihat klasemen bawah liga Inggris untuk melihat posisi Everton,” katanya.

Psywar dalam bentuk yang kasar seperti aksi vandalisme pernah ditemui jelang pertandingan Kualifikasi Piala Dunia antara Honduras dan El Salvador. Tuan rumah Honduras menang 1-0 menghadapi sebelas pemain lawan yang tak bersemangat. Teror pendukung Honduras yang mendatangi hotel tempat pemain El Salvador menginap dan menyambitkan batu-batu ke jendela serta menciptakan malam yang berisik benar-benar bikin mental ambruk.

Psywar bertujuan mengganggu konsentrasi lawan. Pemain yang terpancing dengan kata-kata sesumbar biasanya akan mudah emosional dan ini mengacukan ketenangan. Itulah tujuannya: mengacaukan ketenangan pemain lawan agar lebih mudah dikalahkan.

Namun psywar juga bisa merugikan tim sendiri. Psywar dengan cara vandalisme berpotensi dibalas dengan aksi serupa dan memicu aksi balas dendam berkepanjangan. Psywar dengan kata-kata memiliki risiko akan membebani mental para pemain sendiri. Mereka bisa tak tampil lepas karena merasa harus bisa menjawab pernyataan sang pelatih untuk menang. Di lain pihak, psywar justru bisa membangkitkan motivasi tim lawan yang disasar.

Jelang pertandingan semifinal Piala Eropa 1981 melawan Bayern Munchen, pelatih Liverpool Bob Paisley tak banyak berkata-kata memberikan motivasi. Ia menempelkan potongan kliping berita koran pernyataan Kapten Munchen Paul Breitner yang meremehkan Liverpool. Pastikan kalian untuk membacanya sebelum keluar dari ruang ganti ke lapangan,” katanya singkat.

Hasilnya, Liverpool lolos ke semifinal Piala Eropa dan kemudian menjadi juara dengan mengalahkan Real Madrid 1-0 di Paris.

Sepak bola Indonesia pernah punya jago psywar bernama M. Barmen dan Agil H. Ali. Keduanya orang-orang di belakang sukses Persebaya Surabaya pada masa perserikatan. Saat ini, pelatih yang doyan psywar adalah Iwan Setiawan yang melatih Persela Lamongan dan sempat menukangi Persebaya Surabaya.

Namun secara umum, psywar dengan adu kata-kata apalagi aksi vandalisme sangat jarang ditemui di Indonesia. Kultur Indonesia yang relijius yang mengedepankan kerendahan hati dan menganggap arogansi sebagai dosa membuat konferensi pers berjalan datar, tanpa ada pernyataan kontroversial. Alhasil, setiap jelang pertandingan klasik yang mempertemukan tim-tim dengan rivalitas kuat tak ada pernyataan yang saling memanasi dari kedua kubu. Justru pernyataan-pernyataan panas dianggap bisa memicu perseteruan antarsuporter yang berseberangan. Memang sepak bola membutuhkan kedewasaan. [wir/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar