Sorotan

Serasa Naik Kereta Sauna

Saya melirik jam di ponsel. Pukul 16.15 WIB. Sesuai jadwal yang tertulis di tiket, Kereta Api Ranggajati jurusan Cirebon-Jember seharusnya sudah masuk ke Stasiun Gubeng, Surabaya. Namun petugas mengumumkan ada keterlambatan.

Saya jadi ingat lirik lagu Iwan Fals: Kereta Tiba Pukul Berapa.

Sampai stasiun kereta pukul setengah dua
Duduk aku menunggu tanya loket dan penjaga
Kereta tiba pukul berapa?
Biasanya kereta terlambat
Dua jam mungkin biasa

Lagu Iwan Fals itu sebenarnya tak terlalu relevan hari ini. PT Kereta Api Indonesia sudah memperbaiki diri, dan dalam hal urusan pelayanan, perusahaan yang memonopoli jalur transportasi rel ini tak lagi seperti masa Iwan Fals yang kena tilang gara-gara ngebut ke stasiun berbekal rindu kepada sang pacar. Jadwal keberangkatan dan kedatangam relatif tertib. Tak ada cerita telat dua jam.

Namun, Rabu (18/12/2019) sore itu, lagu Iwan Fals kembali terngiang. Selain telat tiba di Gubeng, Ranggajati membawa masalah: tenaga listrik padam.

Begitu kereta berhenti, saya melihat banyak orang yang keluar gerbong. Sebagian dari mereka tidak menuju pintu keluar stasiun, melainkan hanya meriung di sisi gerbong. Ada seorang nenek di atas kursi roda yang dibantu oksigen oleh petugas kesehatan.

“Panas di dalam,” kata Achmad Sudiyono, pembina Yayasan Relawan Cerdas, yang saya temui di sisi gerbong.

Sudiyono berada di Kereta Eksekutif 2 bersama tiga kawannya. Ia dalam perjalanan kembali dari Solo ke Jember setelah menghadiri acara haul Habib ali bin Muhammad Al Habsyi.

Mulanya tak ada masalah. Namun sampai di Madiun mendadak generator pembangkit listrik mati. AC pun ikut-ikutan mati. Sebenarnya, menurut Sudiyono, penumpang berharap aliran daya listrik diperbaiki dulu. Namun ternyata kereta tetap berjalan.

Alhasil penumpang pun protes. “Panas sekali seperti dalam sauna,” kata Zainal Abidin, warga Kelurahan Kebonsari Jember.

Gerah menyengat. Keringat menetes deras. Gerbong kereta tak dilengkapi ventilasi memadai. Zainal seperti kembali terlempar dalam nostalgia saat naik kereta api kelas ekonomi masa Orde Baru yang murah meriah namun gerahnya minta ampun. “Tapi kalau dulu orang kan sudah siap-siap antisipasi bawa kipas dari rumah,” katanya.

Emosi sebagian penumpang mulai naik. Menurut Zainal, penumpang lainnya, ada seorang penumpang yang konon pengurus salah satu klub sepak bola yang marah besar kepada petugas.

Tak kuat menahan hawa panas, penumpang pun membuka pintu bordes agar ada angin yang masuk. Bergantian penumpang mendinginkan diri di bordes. Jendela ventilasi yang terbatas jumlahnya pun dibuka.

Zainal kasihan terhadap penumpang lansia dan anak-anak. “Saya sangat kcewa sebagai konsumen. Mestimya di Stasiun Madiun harus ambil keputusan ganti genset dengan persediaan yang ada,” kata Zainal.

PT KAI berjanji mengembalikan sebagian harga tiket sebagai kompensasi. “Tapi saya beli tiket mahal-mahal kan tujuannya agar perjalanan nyaman,” kata Sudiyono yang mengeluarkan uang lebih dari satu juta rupiah untuk membelikan tiket kawan-kawannya yang lain dalam satu rombongan.

Perbaikan selama kurang lebih setengah jam dilakukan di Stasiun Gubeng dan pada pukul 17.05 listrik kembali menyala. “Semestinya sekelas kereta eksekutif sudah siap mengantisipasi kejadian apapun dan cepat ada solusi ketika ada persoalan,” kata Sudiyono.

Kereta kembali melanjutkan perjalanan ke Jember. Dan keringat sudah tak lagi menetes dari dahi Sudiyono. [wir/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar