Sorotan

Pekan 20 Liga 1

Sepak Bola Ngosek alias Sepak Bola Oktan Tinggi Persebaya

(Doc) Laga Persebaya 24 September 2019 lalu. (Foto: Wahyu Jimbot/BJ)

Para penggemar Persebaya bertepuk tangan dengan apa yang terjadi pada Selasa (24/9/2019) di Stadion Gelora Bung Tomo. Persebaya memang kembali gagal menangguk tiga angka. Mereka hanya berbagi skor 1-1 dengan pemimpin klasemen sementara Bali United. Ini memang hasil imbang ke sembilan selama musim 2019, dan Persebaya berhasil mempertahankan predikat sebagai tim yang tak terkalahkan di kandang sendiri selain Bali United.

Namun gaya bermain Persebaya menghadirkan optimisme. Apa yang selama ini disebut sebagai filosofi sepak bola ngosek dan ngeyel diterjemahkan dalam bingkai pressing football beroktan tinggi selama 90 menit. Para pemain Persebaya tidak memberikan kesempatan kepada para pemain Bali United membangun serangan dari belakang melalui operan dari kaki ke kaki. Pressing dan upaya merebut bola dilakukan semua pemain Persebaya kecuali kiper Miswar Saputra sejak dari lini depan.

Osvaldo Haay dan David da Silva tak hanya trengginas saat menyerang. Mereka bersedia mengorbankan diri turun ke belakang, mengintersep serangan lawan, dan merebut bola lalu memulai serangan. Ini membuat Bali United kesulitan menyerang dari zona tengah lapangan. Para pemain Persebaya berhasil mengisolasi Ilija Spasojevic yang ditempatkan sebagai penyerang tengah Bali United dengan diapit Stefano Lilipaly dan Melvin Platje.

Bali United akhirnya berusaha menerobos dari sayap dan memanfaatkan bola-bola tembakan jarak jauh, termasuk bola mati. Bola mati tendangan bebas pula yang membuat mereka berhasil menyamaan kedudukan pada menit 88 melalui kaki Fadil Sausu.

Sebaliknya pergerakan pemain Persebaya sangat dinamis. Diogo dan Da Silva seperti sudah lama bermain bersama dan memiliki kesepahaman. Da Silva memang ditempatkan sebagai penyerang tengah. Namun dalam praktiknya, dia seringkali berperan seperti playmaker yang memberikan umpan-umpan matang untuk Diogo, seperti yang terjadi pada menit 17.

Da Silva bergerak lebih ke belakang, sementara Diogo yang berada di depan diapit leh wonderkid Persebaya Muhammad Supriyadi dan Osvaldo Haay bergerak bersama masuk kotak penalti Bali United. Bola disontek oleh Da Silva dan dikejar Diogo yang kemudian melesakkannya dengan tendangan voli ke gawang Wawan Hendrawan. Bola mengenai mistar gawang. Bola liar jatuh di kaki Osvaldo yang tak terjaga di depan gawang. Namun bola tendangannya bergulir pelan di sisi gawang Bali.

Peran Da Silva sangat vital di lini depan. Menit 34, ia menggiring bola di sisi kanan pertahanan Bali United dan berhasil melewati Haudi Abdillah. Bola dikirimkan ke Diogo. Bola tendangan Diogo Campos beberapa kali diblok pemain belakang Bali. Namun saat bola jatuh di kaki Osvaldo yang berdiri bebas, maka sebuah gol tendangan voli telak masuk ke gawang Wawan.

Menit 55, Da Silva yang berhasil lepas dari pengawalan Paulo Sergio di sisi kanan pertahanan Bali United mengirimkan umpan silang untuk Diogo. Bola tandukan Diogo berhasil ditepis Wawan.

Namun sepak bola beroktan tinggi membutuhkan tinggi butuh konsistensi. Itulah yang sulit dilakukan Persebaya selama 15 menit terakhir babak kedua. Tekanan demi tekanan dari Bali United terjadi terus-menerus, hingga terjadi pelanggaran yang dilakukan Ruben Sanadi yang berbuah tendangan bebas, dua menit sebelum waktu normal kelar. Fadil Sausu menempatkan bola ke sisi kiri gawang Miswar. Persebaya untuk kali kedua gagal mengalahkan klub yang berada di posisi puncak, setelah sebelumnya di Gelora Bung Tomo hanya bermain imbang 1-1 pula dengan PS Tira yang sempat memimpin klasemen.

“Kami sebetulnya sudah mengantisipasi kelebihan lawan di set-piece. Kami diskusi dengan pemain bahwa di menit-menit akhir dia (pemain Bali United) selalu cetak gol. Malam ini kami dibunuh dengan set-piece lawan,” kata pelatih Bejo Sugiantoro.

Keberanian Bejo Sugiantoro menurunkan Supriadi sejak menit awal pada pertandingan penting melawan pemuncak klasemen adalah sebuah keputusan berani. Supriadi membuktikan diri dengan tak berhenti berlari mengejar bola umpan-umpan daerah dari kawan-kawannya. “Kapan lagi kita percaya kepada tim Persebaya dengan pemain mudanya?” kata Bejo.

Supriadi belum sempurna. Namun Bejo minta agar penampilan pemain asal Kecamatan Rungkut itu tidak disoroti berlebihan. “Saya mohon jangan dihujat. Untuk prospek Persebaya ke depan, produk-produk pemain muda Persebaya harus kita jaga sama-sama,” katanya.

Namun apapun hasilnya, sepak bola beroktan tinggi Persebaya membuat Bonek kembali bersemangat. Kalimat yang tertera dalam sebuah spanduk besar di tribun, ‘Dukungan Kami Tiada Henti Bermainlah dengan Wani’, benar-benar terwujud. Kini tinggal bagaimana sepak bola ngosek beroktan tinggi dimainkan dengan konsisten. [wir/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar