Sorotan

Liga 1 Pekan 15

Selebrasi Osvaldo dan Haru di Sebuah Kedai Kopi

Di sebuah kedai kopi, Tulus Budi mendadak jatuh haru. Menit 44, Ruben Sanadi yang dioperi Manu Jalilov segera mengirimkan bola via umpan silang ke kotak penalti Perseru Badak Lampung.

Osvaldo Haay melompat dan menanduk bola. Kiper Daryanto tak bisa berbuat banyak. Bola meluncur deras ke sudut kanan gawangnya: 3-1 untuk Persebaya.

Namun selebrasi Osvaldolah yang bakal dikenang melebihi gol yang dicetaknya. Gol dan selebrasi yang membuat Tulus mengucapkan alhamdulillah dan diam-diam menahan sesuatu agar tak tumpah di pelupuk matanya.

Malam itu Tulus Budi datang ke Warung Kopi Pitulikur dengan memakai jersey Persebaya bertuliskan Fandry Imbiri, pemain Persebaya asal Papua yang musim ini memperkuat Madura United. Bersama sejumlah Bonek dan seorang mahasiswa Papua, ia menyaksikan Persebaya menendang Perseru Badak Lampung 3-1 di Stadion Sumpah Pemuda, Selasa (20/8/2019).

Ini kemenangan kelima musim 2019 yang membuat Persebaya menduduki peringkat 7 klasemen Liga 1 setelah 15 pertandingan. Sebuah kemenangan tentu berarti. Namun bagaimana proses gol itu terjadi dan cara Osvaldo merayakannya membuat kita semua paham: ini bukan pertandingan biasa.

Beberapa hari sebelum pertandingan digelar, sebuah insiden yang diwarnai rasisme terhadap mahasiswa Papua terjadi di Surabaya. Insiden di Surabaya itu meletupkan gelombang unjuk rasa besar-besaran di Papua.

Selebrasi Osvaldo yang mendatangi bangku cadangan Persebaya untuk mengambil kertas bertuliskan ‘Say no Racism’ dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke arah penonton sembari menepuk logo klub di dada kiri adalah sebuah manifesto. Ini sebuah perlawanan terhadap rasisme. Perlawanan yang didukung Bonek dan seluruh anggota klub. Sebelum pertandingan, para pemain berfoto tim dengan memegang kertas yang sama.

“Perbedaan itu indah kawan, perbedaan itu untuk menyatukan. Say no to racism,” kata Osvaldo di Instagramnya.

“Aku respek atas selebrasi Osvaldo. Aku merasa terharu atas selebrasinya yang menggambarkan semua umat manusia itu sama. Tidak ada yang lebih tinggi kecuali amal perbuatannya di mata Tuhan,” kata Husin, salah satu Bonek, yang malam itu menemani Tulus.

Rasisme memang tidak dikenal dalam kultur Persebaya. Sejarah mereka dibentuk oleh keberagaman etnisitas. Orang-orang Arab yang tergabung dalam klub sepak bola Assyabaab adalah salah satu klub lokal Surabaya yang menegakkan panji-panji Persebaya pada masa lampau.

Sementara itu, nama-nama Tionghoa seperti San Liong menjadi andalan Persebaya pada era 1950-an. Suryanaga juga dikenang sebagai salah satu klub lokal Surabaya berkultur Tionghoa yang menyumbangkan banyak pemain untuk Persebaya.

Anak-anak Papua pernah tergabung dalam satu klub bernama Villaroyal dan ikut dalam kompetisi internal Persebaya. Papua dan Maluku adalah duo Indonesia Timur yang mencatatkan nama-nama legenda klub seperi Aser Mofu yang memperkuat Persebaya selama 10 tahun dan Jacob Sihasale.

“Tanpa perlu kami berkampanye, Persebaya sudah membuktikan diri sebagai tim yang terbuka, sama seperti karakter masyarakat Surabaya sebagai masyarakat pesisir,” kata Tulus Budi, salah satu dedengkot Bonek Jogja ini.

Kawan Tulus asal Papua yang malam itu nonton bareng suka Persebaya. “Banyak anak Papua yang suka Persebaya dan Persipura. Apalagi selama tiga musim ini banyak pemain Papua berseragam Persebaya,” katanya. Saking banyaknya, musim lalu media massa menyebut Persebaya tak ubahnya Persipura Cabang Surabaya.

Namun malam itu memang seolah ditakdirkan menjadi saat bersinarnya pemain Persebaya asal Indonesia Timur. Ruben menunjukkan jati diri sebagai sosok pejuang. Menit 23 ia melakukan tekel dua kali beruntun dan berhasil memulihkan penguasaan bola.

Osvaldo Haay dan Jalilov menjadi mata rantai serangan Persebaya. Osvaldo Haay tak hanya mencetak gol, namun pergerakannya sebagai pemain ‘false nine’ mengacaukan konsentrasi pemain-pemain Perseru. Mereka kebingungan karena juga harus mengantisipasi kecepatan Irfan Jaya di sayap kanan dan Manu Jalilov di kiri. Belum lagi Rendi Saputra yang merangsek dari tengah dengan kelincahannya.

Gol kedua Persebaya yang dicetak Irfan Jaya pada menit 18 tak lepas dari aksi Rendi. Ia merangsek ke dalam kotak penalti setelah mendapatkan umpan datar dari sepak pojok Fandi Eko Utomo di sisi kanan pertahanan lawan.

Rendi berhasil memenangi duel melawan Aulia Hidayat, dan mengirimkan bola datar untuk Irfan. Irfan menempatkan bola dengan tendangan lob yang gagal diantisipasi Daryono.

Sementara itu, Jalilov dan Ruben Sanadi menjadi bagian dalam skema gol pertama Persebaya pada menit 11. Gol itu berasal dari counter-attack yang diawali tekel sukses Ruben. Bola dialirkan ke Jalilov yang menyerbu dari sisi kanan pertahanan Perseru. Sebuah umpan silang berhasil ditepis Daryanto, namun jatuh di kaki Irfan. Gol tak terelakkan setelahnya.

Perseru bertahan terlalu dalam. Mereka memilih menunggu pemain Persebaya menyerang dan membiarkan lawan menguasai bola. Perseru lebih banyak menyerang dengan mengandalkan umpan-umpan panjang.

Sisi kanan pertahanan Persebaya yang dikawal Abu Rizal Maulana menjadi titik lemah yang berkali-kali diterobos lawan. Gol balasan Perseru pada menit 27 juga berasal dari sisi kanan. Marquinhos memberikan umpan silang yang berhasil ditanduk Zainal Haq.

Tak ada tambahan gol. Namun malam itu kemenangan ini tak hanya kembali menghadirkan optimisme. Ia juga menghadirkan keyakinan bahwa sepak bola selalu punya caranya sendiri untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan. Melalui gol dan perayaan. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar