Sorotan

Selamat Jalan, Pak Kresnayana Yahya

Kresnayana Yahya (alm)

Terkejut mendengar kabar wafatnya tokoh Statistik Jawa Timur, Kresnayana Yahya.

Sosok yang humble, humanis dan punya komunikasi yang baik. Juni 1997 pertama kali saya bersua pak Kresnayana Yahya, atau satu bulan setelah bergabung dengan Enciety.

Saat itu saya melihat pak Kresna mencuci piring di dapur. Padahal perusahaan punya petugas kebersihan. Seingat saya, waktu itu ada acara tasyukuran di kantor.

Banyak karyawan yang meminta pak Kresna tidak cuci piring.

“Tidak apa-apa, kerjakan saja tugasmu,” kata Pak Kresna kepada beberapa karyawan. Termasuk saya.

3 Agustus 1999 adalah hari istimewa beliau. Di hari itu perayaan ulang tahun beliau, seingat saya berbarengan dengan sebuah seminar di Novotel bersama pak Imam Utomo, Gubernur Jatim.

Seingat saya paparan seminar itu menunjukkan pertumbuhan ekonomi Jatim. Temanya cukup kereng. “Jatim Merdeka” merujuk pertumbuhan ekonomi Jatim yang di atas pertumbuhan ekonomi nasional dalam beberapa tahun.

Selepas acara seminar atau sebelum perayaan ulang tahun di pool side, saya nggak sengaja papasan dengan pak Kresna. Beliau mencegat dan bertanya, yang di luar dugaan.

“Katanya kamu mau sekolah lagi?” tanya pak Kresna. Saya yang terkaget-kaget tidak bisa menjawab.

“Tahun depan pak, sekarang sudah mulai sekolahnya” jawab saya sekenanya.

Acara ulang tahun dimulai di pool side Novotel. Pak Kresna memotong kue yang dibagikan kepada beberapa orang. Seingat saya ada Beni (mahasiswa statistik ITS asal Blitar), Jeremia (mahasiswa UK Petra, lali jurusan dan angkatane) dan beberapa pegawai lain, termasuk saya.

Dalam sambutannya, pak Kresna memuji sosok Jeremia. Beliau menyebutnya Perancis. Akronim peranakan cina Serui (Papua). Semua yang hadir tertawa.

Sosok humanis bisa dilihat saat Pak Kresna mengajak beberapa karyawan makan malam di sebuah kafe tepi jalan. Seingat saya adalah Citras, yang berada di Jalan Dharmawangsa.

Saya satu mobil dengan beliau, naik Isuzu panther merah bersama beberapa pegawai.

“Kita makan apa?” Tanya beliau.

Banyak yang jawab sambil bergurau

“Arif kamu suka apa?”

“Nasi goring,” jawabku asal.

Pak Kresna tertawa sambil ngomong. “Weteng e wong jowo, nek ga sego ga iso mangan,”
Diputuskan makan di citras sambil santai-santai. Ada mobil dalam rombongan itu.

Pak Kresna terkejut ketika meliat pesanan saya tiba.

“Tiba e awakmu yo iso mangan ngono, mau ditawari jaluk sego goring,” katanya sambil tertawa.

Januari 2020, kantor menggelar pesta tahun baru kecil. Seingat saya ada mas Agung Kowi, Babe Jagat Hariseno, Mas Sigit, mas Sunges dan mas Doddi serta sam Namreh. Semuanya sempat mengucapkan selamat tahun baru kepada beliau melalui telpon.

Dua hari setelah tahun baru saya jatuh sakit. Beliau kemudian menelpon ke kantor agar segera berobat. Beliau menyarankan agar berobat ke klinik gotong royong, di belakang kampus STIESIA. Saat itu saya diantar mas Agung Kowi. Kini klinik tersebut menjadi rujukan saya kala sakit.

Pak Kresn suatu ketika ngobrol tidak sengaja dengan saya persoalan sederhana.

“Arif, jangan sekali-kali kamu menunjukkan warna sempak kepada orang lain,” katanya dengan nada serius. Jarang-jarang mimik beliau serius seperti ini.

Yang dimaksud beliau adalah persoalan gaji. Dia meminta agar tidak dipamerkan kepada orang lain. Apalagi orang yang tidak berkepentingan. Saya tidak tahun momen apa yang menyebabkan bicara seperti.

Alhamdulillah, kata-kata itu juga saya pegang hingga sekarang. Sejak bergabung meninggalkan Enciety, tidak sekalipun saya menceritakan gaji saya kepada orang. Bah lebih gede, bah lebih cilik, ga penting.

Sosok Kresnayana Yahya secara tidak langsung mengajari saya ilmu jurnalistik. Beliau pernah mendirikan majalah ekonomi SIGI yang bekerja sama dengan salah satu tokoh di Jawa Timur 1999-2000.

Suatu ketika pernah meminta tulisan saya. Dia membaca sambil manggut-manggut. Kebetulan saat itu saya berkunjung ke ruah dinas di Perumdos ITS. Tidak banyak komentar. Tulisan itu diletakkan. Sambil melihat saya.

“Be yourself. Jadi apapun itu, jadilah diri sendiri. Termasuk jadi jurnalis,” kata pak Kresna. Tidak dinilai baik atau buruk. Tidak ada komentar lain. Setelah itu saya berpamitan.

Kata-kata be yourself itu pernah saya pegang teguh hingga sekarang. Pernah saya tularkan kepada rekan-rekan di Radar Surabaya dan Jatimnet.

Secara tidak langsung, itulah landasan yang saya terima sebagai pegawai pers.

Pak Kresna pernah mengajarkan saya tentang statistik, psikologi, manajemen, keuangan, dan hubungan antar sesama umat.

Suatu ketika saya mendapat tugas dari kantor mendampingi pak Kresna bersama Asosiasi Pengusaha Kristen di Hotel Tunjungan tahun 1998.

“Arif, jangan dimakan. Itu ada babinya,” beliau mengingatkan.

Beliau kemudian menunjuk sup kepala ikan dan sayuran. “Ini koyoke aman buatmu,” lanjutnya.

Beliau pernah marah-marah kepada salah satu mahasiswanya gara-gara membuka jasa skripsi. Kebetulan amarah itu pada saat saya bertamu ke perumahan dosen.

Saya ingat betul apa yang disampaikan kepada mahasiswanya. Sejak saat itu sang mahasiswa angkatan 92 tidak pernah lagi membuka jasa skripsi. Sampai skarang.

Maturnuwun ilmu yang Anda berikan kepada saya. Ilmu yang bapak beri akan saya tularkan kepada orang lain.

Selamat jalan pak. RIP Pak Kresnayana Yahya.

Surabaya, 5 Maret 2021.

*) Arief Rohman, mantan karyawan Kresnayana Yahya



Apa Reaksi Anda?

Komentar