Sorotan

Sejarah Dewan Kesenian Surabaya, Ketua DKS Sejak 1971-2019

Ribut Wijoto.

BULAN DESEMBER INI, Pengurus Dewan Kesenian Surabaya (DKS) kepemimpinan Chrisman Hadi bakal berakhir. Keberakhiran ini rupanya mendorong saya untuk melacak ulang biografi tokoh-tokoh yang pernah memimpin DKS.

Setelah berjuang dengan menghubungi tokoh-tokoh lawas bidang kesenian di Surabaya, dengan dikombinasi data browsing di internet, plus kliping pemberitaan media massa; nama-nama Ketua DKS dan masa kerjanya bisa saya susun. Itu pun, mungkin, masih perlu penyempurnaan.

Dewan Kesenian Surabaya (DKS) berdiri tanggal 30 September 1971. Ketua pertama (1971-1972) adalah Karjono JS. Ketika pelukis ini meninggal tahun 1972, posisi ketua DKS dilanjutkan oleh Hazim Amir (1972-1974). Dramawan asal Malang itu lantas digantikan oleh Krishna Mustajab (1974-1976), seorang pelukis. Periode selanjutnya, DKS dipimpin oleh sastrawan Muhammad Ali (1976-1978). Lantas giliran sineas Gatut Kusuma Hadi (1979-1983) yang menakodai.

Format ketua DKS selanjutnya berbentuk presidium alias ketua bersama. Diawali oleh tiga tokoh, yaitu pelukis Amang Rahman Jubair, sutradara teater Basuki Rachmat, dan sastrawan Sam Abede Pareno. Ketiganya memimpin periode tahun 1984 – 1987. Namun Basuki Rachmat meninggal dan Amang Rahman mengundurkan diri, praktis DKS dipimpin sendirian oleh Sam Abede.

Periode 1987 – 1991, Sam Abede Pareno kembali dipilih memegang tampuk pimpinan DKS. Dia bersama-sama dengan dosen ilmu politik Universitas Airlangga (Unair) Hotman M Siahaan dan pelukis M Roeslan. Pada presidium kedua ini lagi-lagi Sam Abede akhirnya lebih banyak berperan mengendalikan DKS karena Hotman dan Roeslan non aktif.

Sam Abede Pareno baru benar-benar mendapatkan partner yang pas ketika duduk bersama dengan dosen Unair Aribowo dan sastrawan Sirikit Syah. Presidium periode 1992 – 1996 ini awet dalam mengonsep dan merealisasikan program DKS dari awal hingga akhir masa bakti.

Tetapi justru format presidium dihentikan. Periode selanjutnya, DKS dipimpin oleh Wiek Herwiyatmo semata. Budayawan sekaligus sastrawan ini memimpin DKS untuk periode 1998 – 2004. DKS selanjutnya kembali pada format presidum melalui tiga pimpinan, yakni pelukis Ivan Haryanto, pelukis Yunus Jubair, dan budayawan Surin Welangon. Ketiganya terpilih untuk masa bakti 2004 – 2008.

Itulah akhir dari format presidium. Sebab setelah itu, DKS memakai format kepemimpinan ketua umum, yakni penyair Sabrot D Malaiboro (periode 2009 – 2014) dan budayawan Chrisman Hadi (2014 – 2019). Apakah kelak format ketua DKS akan kembali ke presidium ataukah tetap ketua umum, seniman-seniman Surabaya sendiri yang bakal menentukan.

Lalu, siapakah mereka, tokoh-tokoh yang telah menjadi Ketua DKS Itu?

Saya memulai dengan Karjono JS. Dia adalah seseorang yang belum pernah mengenyam pendidikan seni namun sebagian besar hidupnya didedikasikan untuk kesenian. Lahir pada masa pendudukan Belanda, yaitu tahun 1919 di Singasari Malang, Karjono JS dibimbing oleh bakat untuk peka terhadap alam sekitar. Dia gemar melukis.

Bidang seni lukis mulai diterjuni secara profesional sejak kisaran tahun 1940-an. Proses kreatif Karjono JS banyak diilhami oleh lukisan adegan kehidupan oleh pelukis asing di Surabaya , di antaranya Adolfs. Sehingga dia tertarik pada lukisan manusia dengan adegan kehidupannya. Melalui realisme, dia kemudian mengembangkan corak ekspresionisme yang lebih pribadi. Di samping potret, model, dan adegan kehidupan; Karjono JS banyak mengambil tema sejarah dan Perjuangan untuk kemerdekaan RI.

Karjono JS juga seorang guru. Dedikasi di bidang kesenian mengantar dia memegang tampuk posisi Kepala Bidang Kesenian pada Jawatan Kebudayaan Surabaya pada tahun 1953‑1964. Karjono JS cukup disegani di kalangan seniman Surabaya.

Ketika seniman bersama Pemerintah Kota Surabaya mendirikan Dewan Kesenian Surabaya tahun 1971, Karjono JS didaulat untuk menjadi ketua. Tanggung jawab itu dijalankan dengan sepenuh hati. Karjono JS berhasil mengordinir sumber daya seniman dari berbagai lintas seni. Dia bangun dasar-dasar keorganisasian DKS. Sayangnya hanya setahun, seniman yang pernah duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR GR) itu wafat tahun 1972.

Sepeninggal Karjono JS, kursi pimpinan DKS dipegang oleh Hazim Amir. Lahir di Yogyakarta 3 Agustus 1937, Hazim Amir berasal dari keluarga yang taat beragama Islam. Selain dramawan yang berbakat, Hazim Amir juga seorang intelektual. Dia lulusan Bahasa Inggris Universitas Airlangga (1961), University Of Michigan (1968), Master Of Arts University Of Hawai (1985).

Sebagai intelektual, Hazim Amir bukan orang yang pelit ilmu. Dia suka berbagi pengetahuan terhadap kawan seiring. Wawasannya luas. Maka, suara Hazim Amir cukup didengarkan ketika awal-awal pembentukan Dewan Kesenian Surabaya tahun 1971. Dia mampu merawat hubungan baik dengan sesama seniman maupun dengan pihak birokrasi. Sehingga roda organisasi DKS berjalan cukup maksimal.

Hazim Amir juga gemar berkomunitas, terutama teater. Tercatat, Hazim Amir aktif membina Teater Kecil (1972-1974) dan terlibat dalam pendirian Teater Mlarat (1980). Selain itu, Hazim Amir adalah seorang penulis yang mumpuni. Dia menulis naskah drama, feature, esai, cerpen, dan puisi.

Periode 1974 – 1976, DKS dipimpin oleh Krishna Mustadjab. Dia lahir (4 Desember 1931 di Mojokerto) dari bapak yang ahli membuat peta dan ibu yang bekerja sebagai pembatik. Krishna kecil akrab dengan pertunjukan seni tradisional, terutama wayang kulit. Keakraban itu kelak berpengaruh besar terhadap karya-karya lukis Krishna Mustadjab. Yaitu, karya lukis yang bercorak abstrak dekoratif. Tak hanya melukis, Krishna Mustadjab juga seorang sastrawan, pematung, dan fotografer.

Krishna Mustadjab adalah tokoh yang gemar mendirikan organisasi kesenian. tercatat, dia pernah mendirikan Sanggar Angin, Kegiatan Kebudayaan Indonesia (KKI), Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera), Dewan Kesenian Surabaya (DKS). Bahkan, dia pernah menjabat Direktur Kebudayaan di Perhimpunan Persahabatan Amerika (PPIA).

Pada masa DKS dipimpin Krishna Mustadjab, situasi kesenian di Surabaya sangat kondusif. Pertunjukan teater kerap digelar, karya lukis sering dipamerkan, acara sastra berulang kali digeber. Surabaya sebagai kota kesenian menjadi lebih dikenal secara nasional. Karya-karya seniman Surabaya beberapa kali meraih juara dalam lomba level nasional. Termasuk pula senimannya diundang ke berbagai kota (bahkan luar negeri) untuk memamerkan karyanya.

Bagitu besar jasa dia sampai-sampai gedung Aksera di Jalan Dukuh Kupang XXVII No 20 diberi nama Gedung Krishna Mustajab. Sampai kini, gedung itu masih sering dipakai untuk pameran lukisan para seniman Surabaya dan Jawa Timur. Juga banyak digunakan untuk diskusi kesenian dan kebudayaan.

Sastrawan Muhammad Ali dipilih menggantikan Krishna Mustajab untuk memimpin DKS periode 1976 – 1978. Dia lahir 23 April 1927, anak tunggal dari keluarga keturunan Arab yang berprofesi sebagai pedagang. Masa sebelum kemerdekaan RI, Muhammad Ali menempuh pendidikan di Gouvernment Hollands Arabische School, Surabaya (1941) dan MULO, Surabaya (1943).

Masa setelah kemerdekaan, Muhammad Ali adalah salah satu ikon sastra Surabaya. Dia menulis cerpen, puisi, kritik sastra, naskah drama, novel, dan catatan kebudayaan. Tidak kurang dari 26 buku yang telah ditulis oleh Muhammad Ali. Buku kumpulan cerpen ‘Lapar’ terbit atas rekomendasi HB Jassin.

“Ia memiliki ketajaman pena, dalam melukiskan manusia yang beragam sifatnya. Selalu diselingi humor yang segar, dan dedikasi terhadap kotanya, Surabaya,” tulis HB Jassin dalam buku Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei.

Muhammad Ali juga sempat duduk di redaksi majalah Mingguan Pahlawan (1947-1949), majalah Mimbar Pemuda (1950-1951), majalah sastra Tjetusan (1952-1953), lalu bertahun-tahun menekui profesi sebagai editor penerbit PT Bina Ilmu, Surabaya. Tak hanya berkutat menulis, dia juga aktif berkeliling Jawa Timur untuk mengikuti dan menggerakkan kegiatan sastra.

Gatut Kusumo Hadi mendapat giliran memegang tampuk pimpinan DKS periode 1979 – 1983. Ketika remaja, Gatut Kusumo bersukarela memanggul senjata mempertahankan Republik Indonesia yang baru beberapa bulan merdeka. Dia bergabung dengan TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar). Gatut Kusumo turut berjibaku dalam pertempuran 10 November di Surabaya. Saat bergerilya di Blitar, dia terlibat baku tembak sengit dengan tentara Belanda.

Usai Konferensi Meja Bundar di tahun 1949, TRIP dibubarkan, Gatut Kusumo masuk tentara. Namun jiwa seni memanggilnya, dia pun mengundurkan diri dan memilih untuk menekuni dunia film. Tak hanya film sebenarnya, Gatut Kusumo pada dasarnya seluruh bidang ilmu. “Pak Gatut itu orangnya kutu buku, diajak ngomong tentang ilmu apa saja beliau bisa tanggap, mulai dari sastra, ilmu alam, politik, sosial, filosofi, semua nyambung,” kata Thea Susetia Kusumo, istrinya.

Kontribusinya dalam bidang film tak perlu diragukan lagi. Film pertamanya dibuat tahun 1966 dengan judul ‘Penyeberangan’ dengan bintang Rima Melati dan Wahab Abdi. Salah satu film garapannya yang fenomenal adalah ‘Soerabaia ’45’. Film ini diputar cukup lama di bioskop-bioskop kota besar Indonesia. Ketika penghargaan Piala Citra FFI 1991 digelar, Soerabaia ’45 masuk dalam beberapa nominasi, tiga di antaranya cukup signifikan, yaitu Skenario Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Film Terbaik. Adapun karya Gatut Kusuma paling populer berupa serial ACI (Aku Cinta Indonesia). Pada serial ACI, dia menulis skenario sekaligus menyutradarinya sekitar 15 episode.

Pergaulan Gatut Kusuma sangat luas. Rumahnya kerap didatangi mahasiswa yang ingin berkonsultasi perihal seni dan ilmu pengetahuan. Kadang mereka datang untuk sekadar ngobrol ringan. Sedangkan di kalangan seniman, keberadaan Gatut Kusuma juga cukup disegani. Ketika awal-awal pembentukan Dewan Kesenian Surabaya, tahun 1971, makalah yang disusun oleh Gatut Kusuma jadi salah satu rujukan penting dalam penentuan dasar-dasar organisasi.

Selepas era Gatut Kusumo, kepemimpinan DKS berubah menjadi presidium, yakni tiga tokoh yang menjabat sebagai ketua bersama. Periode 1984 – 1987 dipimpin oleh Amang Rahman, Basuki Rachmat, Sam Abede Pareno. Periode 1987 – 1991 dinakodai Hotman M Siahaan, M Roeslan, Sam Abede. Dan periode 1992 – 1996 diketuai oleh Aribowo, Sam Abede Pareno, Sirikit Syah.

Basuki Rachmat lahir di Banjarmasin, 24 April 1937. Di usia belasan tahun, yaitu tahun 1953, dia menjadi juara 2 Sayembara Sastra SLP juga memperoleh hadiah Sayembara Novel Bahasa Jawa. Namun begitu, nama Basuki Rachmat lebih dikenal sebagai tokoh teater.

Dia banyak menerjemahkan naskah-naskah drama dari Eropa. Bukan terjemahan langsung tetapi diadaptasi dengan budaya ketimuran, terutama konteks kehidupan masyarakat Jawa. Misalnya naskah ‘Anastasia’ (drama 3 babak karya Marcelle Maurette), ‘Labirin’ (naskah Perancis berjudul ‘La Blanchisserie’ karya David Guerdon), ‘Lingkaran Keadilan’ (naskah Jerman berjudul asli ‘Der Kaukasische Kreidekreis’ dari Bertold Brecht), ‘Darmi-Darmo’ (tulisan Bertold Brecht).

Ketika dia menggarap drama ‘Anastasia’ tahun 1975 (naskah sandiwara 3 babak, karya Marcelle Maurette, diterjemahkan sendiri oleh Basuki Rachmat), untuk Dewan Kesenian Surabaya, banyak kelompok teater yang turut mendukung. Terdiri dari Bengkel Muda Surabaya, Teater Merdeka, Sandradekta, dan Lekture. Para pemainnya juga tokoh-tokoh handal, yaitu Anang Hanani, Nunuk Sugiarto, Bambang Sujiyono, Niki Kosasih, Ny. Mai B Poedjianto, Koeswandono, Marzuki, Vencentius Djauhari, Hare Rumemper, Anna Iksan, serta Soenarto Timoer. Staf produksi tidak kalah keren, yaitu Hazim Amir, Amang Rahman, Rony Tripoli, Bawong SN, Amir Kiah, Fadjar Randah, Budi Sr, serta Tadjuddin Nur.

Amang Rahman Jubair lahir di kawasan Ampel Tebasan, Surabaya, 20 Nopember 1931. Anak keempat dari 13 bersaudara. Dia keturunan bangsa Arab di Hadramaut dari kalangan masyayikh. Amang Rahman biasa diajak menemani bapaknya berkeliling dagang buku sambil dakwah. Pendidikan formal Amang Rahman cukup aneh, dia pernah sekolah di SR dan juga SMP tapi dua-duanya tidak lulus.

Semula, minat seninya lebih ke puisi. Ia suka membaca buku sastra dan mengagumi sastrawan Indonesia, semisal Hamka dan Sutan Takdir Alisyahbana. Saking kagumnya pada tulisan HB Jassin, Amang Rahman sampai menganggap sebagai guru imajiner.

Namun karena turut mendirikan Aksera, tempat kumpulnya para pelukis, Amang Rahman pun turut melukis. Hasil lukisannya sederhana, tidak rumit. Warna-warnanya juga primer. Itu karena keterbatasan teknik, tapi bagi dia itu tidak masalah. Justru menjadi karakter lukisan dia. Orang seperti disuguhi pesona puisi ketika menikmati lukisan Amang Rahman.

Amang Rahman sendiri mengaku punya konsep estetik ‘Jamal, Kamal, Jalal’. Jamal adalah keindahan yang mendalam, selain yang terkait dengan unsur-unsur visual seperti garis, bidang dan warna. Kamal adalah sempurna, atau kesempurnaan tatanan manusia yang terefleksikan melalui karya. Jalal, keagungan dalam kaitan penyerapan subjek terhadap objek yang dilihat. Bersama konsep estetik itu, Amang Rahman diakui sebagai salah satu pelukis nasional yang berwibawa. Dia bahkan telah 7 kali sukses pameran tunggal.

Sam Abede Pareno lahir di Ambon, 2 Agustus 1948. Sejak usia 4 tahun, dia tinggal di Surabaya. Selama masa remaja, dia turut merasakan pergulatan sengit seniman-seniman Manikebu (Manifestasi Kebudayaan) dan Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat). Pengalaman itu membuat Sam Abede tumbuh menjadi sosok humanis. Dia tidak mudah kaget, tidak gampang goyah oleh keadaan, konsisten atas jalan yang telah dipilih.

Karakter itu yang ditunjukkan Sam Abede ketika tiga kali dipercaya memimpin Dewan Kesenian Surabaya. Kepemimpinan bersama berformat presidium. Ketika periode pertama, Sam Abede terpaksa sendirian karena Hotman M Siahaan dan M Roeslan non aktif. Begitu pula pada periode selanjutnya, Sam Abede pada akhirnya sendirian pula karena Basuki Rachmat meninggal dunia dan Amang Rahman mengundurkan diri. Sam Abede dengan sepenuh hati terus menjalankan amanah sebagai Ketua DKS.

Profesor Ilmu Komunikasi Universitas Dr Soetomo Surabaya ini juga termasuk multi talenta. Sehingga Sam Abede dikenal piawai sebagai kritikus sastra, budayawan, sastrawan, jurnalis, dramawan, aktivis sosial politik, sekaligus akademisi. Beragam penghargaan telah dia raih, banyak buku dia terbitkan, berbagai forum menyimak pikiran-pikiran Sam Abede Pareno.

Aribowo memiliki latar belakang tidak terlalu jauh berbeda dengan Sam Abede. Dia akademisi, yakni dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair. Wawasan pria kelahiran Kampung Simo Surabaya (1 Agustus 1958) ini sangat luas. Di muka umum, Aribowo bisa berbicara berjam-jam dengan alur pikiran yang sistematis, imajinatif, dan menyakinkan. Pintar mengharmonisasi perbedaan dan keberagaman SDM.

Di bidang kesenian, Aribowo gemar melukis, menulis cerpen, dan kritikus. Ketika ditunjuk menjadi Ketua DKS, kemampuan manajerial Aribowo terbukti mumpuni. Kemampuan itu ditunjang dengan jaringannya yang luas. Sampai-sampai kemudian dia lantas ditunjuk untuk memimpin Dewan Kesenian Jawa Timur (DK Jatim).

Sirikit Syah, satu-satunya wanita yang pernah menjadi Ketua DKS. Wanita perkasa kelahiran Surabaya (1960) ini cukup visioner dan tak lelah memperjuangkan cita-citanya. Buku dan karya penelitiannya sangat banyak. Dia pernah menjadi wartawan Surabaya Post (1984-1990), RCTI/SCTV (1990-1996), dan The Jakarta Post (1996-2000). Mengajar di Universitas Dr Soetomo dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya (STIKOSA). Pendiri Lembaga Konsumen Media (Media Watch!).

Perjuangannya di bidang kesenian tidak tanggung-tanggung. Setelah dinilai berhasil memegang Komite Sastra, Sirikit ditunjuk menjadi Ketua DKS. Selama puluhan tahun, sebagian hidupnya juga diabdikan untuk Bengkel Muda Surabaya (BMS). Itu pun dia masih lumayan produktif dengan menghasilkan cerpen, novel, naskah drama, puisi, dan terjemahan karya sastra barat.

M Roeslan lahir di Jombang (25 April 1931). Pelukis ini lulusan Jurusan Pemerintahan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, 1954. Pernah pameran tunggal kaligrafi di Lembaga Indonesia Amerika (LIA) Surabaya tahun 1976. Dalam lukisan, Roeslan banyak mengusung masalah kerakyatan dan realsime sosial.

Roeslan mengajar di Aksera, Seni Rupa Karawitan Surabaya, dan Seni Rupa SMA Santa Maria Surabaya. Bukan hanya seni rupa, M Roeslan juga piawai di bidang musik dan tari. Dia pernah menjadi utusan DKS dalam pertemuan musik nasiona ldi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 1075. Bahkan, dia adalah perancang interior pada biro arsitek Permana Surabaya.

Satu lagi dosen Unair yang pernah ditunjuk untuk memimpin DKS, yaitu Hotman M Siahaan. Pria berpandangan kritis ini lahir Lumban Gorat, Balige, Sumatera Utara tanggal 26 November 1951. Prof DR Hotman pernah menjadi Dekan FISIP Unair dan sekarang diangkat menjadi Guru Besar.

Menurutnya, masyarakat Indonesia mengalami kekerasan kultural maupun struktural ketika ideologi millenium menginginkan terwujudnya clean governance dan good government, namun secara substansional dan simultan berbarengan makin menurunnya kemampuan pemerintah memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme. “Bagaimanapun, rakyat masih mengalami kekerasan kultural maupun struktural dalam kehidupan politik,” tutur Hotman.

Wiek Herwiyatmo lahir di Lumajang, 18 Desember 1946. Dia menulis novel, catatan kebudayaan, menerjemahkan karya sastra Barat, dan bermain musik. Wiek Herwiyatmo seorang motivator ulung. Dia bisa membuat orang-orang di sekitarnya tergerak untuk semangat menjalani aktivitas kesenian. Rumahnya sendiri bahkan dijadikan markas dan tempat berlatih Sanggar Lidi.

Ivan Hariyanto lahir di Banyuwangi, 18 November 1955. Selama 1975-1981, Ivan mendapat pendidikan seni lukis di STSRI ASRI (Sekarang ISI). Ivan pertama kali mengikuti pameran berasama pada tahun 1975 di Banyuwangi. Karyanya kemudian telah beberapa kali dipamerkan dalam pameran tunggal, antara lain di ‘I My Mind Main’ di Galeri Surabaya (2006); ” Happines 2007″ di Bali (2007); “Reciprocity 2008” di Gracia Gallery, Surabaya (2008); ‘Visiblecity’ di Emmitan Fine Art Gallery, Surabaya; dan ‘City Without People’ di Syang Art Space, Magelang (2010).

Yunus Jubair lahir di Surabaya, 7 Oktober 1965. Dia melanjutkan jejak ayahnya, Amang Rahman, sebagai pelukis. Lukisannya bernuansa filosofis dengan kemasan gaya surrealis. Beberapa pengamat menemukan idiom-idiom bentuk yang khas Amang dalam karya Yunus. Hanya bedanya, karya Yunus lebih rumit dibanding lukisan ayahnya yang cenderung simpel. Warna-warna yang digunakannya juga bukan warna-warna primer.

Surin Welangon pernah belajar tari. Meski begitu, pria kelahiran Surabaya, 22 April 1975, ini lebih memilih terjun di bidang organisasi kemasyarakatan umum dan olah raga. Dia menjabat Ketua Bidang OKK MPW Pemuda Pancasila, pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), pengurus Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia, PSSI Jatim, dan KONI Jatim. Pendiri Kampung Komonitas Osowilangon ini memiliki hobi koleksi batu akik dan jam antik.

Sabrot D Malioboro lahir 14 Agustus 1945. Dia saat ini dianggap sebagai sesepuh dunia kesenian di Surabaya. Sebab pernah menjadi anggota DPRD Kota Surabaya, Ketua DKS, dan Sekjen DK Jatim. Senior di Bengkel Muda Surabaya, organisasi Pusura (Putera Surabaya), pengurus Yayasan Seni Surabaya (YSS), dan beberapa organisasi kemasyarakatan lainnya.

Puisi-puisinya pemah disertakan dalam Antologi Puisi 25 Penyair Surabaya (penerbit DKS, 1977), Puisi Empat Penyair (Penerbit Majalah Sastra, 1984), Antologi Puisi Bengkel Muda Surabaya (Penerbit BMS, 1984), Kumpulan Puisi dan Geguritan Omongo Opo Wae ( Penerbit Festival Cak Durasim, Th. 2000). Sedangkan buku puisi tunggalnya telah 11 judul. Disamping itu, puisinya mendapat apresiasi positif dari kritikus sastra Suripan Sadi Hutomo.

Chrisman Hadi lahir di Surabaya, 8 Juni 1968. Dia adalah advokad (pengacara) independen yang sering membantu masyarakat untuk memperoleh hak-haknya sesuai undang-undang di Indonesia. Lulusan Fakultas Hukum Unair ini aktif berdiskusi dan turun membantu masyarakat di Kelompok Studi Transisi tahun 1988. Bersama rekan-rekan aktivis, Chrisman Hadi, mendirikan Yayasan Arek pada tahun 1990. Yayasan ini memperjuangkan hak-hak buruh, dan khusus kasus Marsinah, pendamping hukumnya dibantu oleh almarhum Munir Said Thalib.

Sejak kecil, Chrisman Hadi penggila buku. Sembarang buku dibacanya. Kadang termasuk buku-buku yang sewajarnya dibaca oleh kalangan dewasa. Bahkan, Tetralogi Pramoedya Ananta Toer telah dibaca tamat ketika masih Sekolah Dasar (SD). Selain membaca, Chrisman suka membuat catatan dalam bentuk puisi. Itu dilakukan sejak SD hingga dewasa. Walau bukan sastrawan atau seniman, Chrisman tidak pernah jauh dari dunia kesenian.

Banyak seniman yang dia kenal. Bahkan, Chrisman berulang kali memberi pendampingan hukum terhadap seniman yang sedang terbelit masalah. Kedekatan itulah yang membuat banyak seniman mencalonkan dia menjadi Ketua DKS. Hasilnya, dalam Musyawarah DKS berupa voting, Chrisman Hadi ternyata menang telak.

Lantas, siapakah tokoh yang bakal memimpin DKS periode mendatang? Musyawarah Seniman yang bakal menentukan. Chrisman sendiri belum tentu maju kembali. Toh, dia saat ini telah ditunjuk untuk menjadi Sekjen Dewan Kesenian Jawa Timur (DK Jatim). [but]

Catatan:
Tulisan ini adalah penggalan dari buku ‘Sejarah Dewan Kesenian Surabaya, Tahun 1971-2019’ yang bakal terbit bulan depan.

Apa Reaksi Anda?

Komentar