Sorotan

Seduluran Sak Perlune

Ribut Wijoto

PERNAHKAH KALIAN MENDENGAR SEMBOYAN alias moto berbunyi, ‘seduluran sak lawase’? Semboyan yang mengandaikan tekat persaudaraan seumur hidup, selamanya, sampai akhir hayat.

Boleh berbeda pandangan maupun selisih pendapat namun tetap menjaga kesatuan hati. Seperti sebuah keluarga. Meski bukan benar-benar keluarga, bukan benar-benar saudara, juga mungkin tidak sepenuhnya kenal.

Dalam beberapa tahun terakhir, semboyan ini kerap dipakai untuk pedoman berorganisasi, prinsip komunitas, label grup wasap, pegangan kerukunan lingkungan di tingkat RW (rukun warga). Tertulis di kaos, stiker, di bak truk pengangkut pasir, juga di pos kamling.

Tetapi dalam masa pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak yang bakal digelar 9 Desember 2020, dan sekarang sedang memasuki tahap kampanye, kalian perlu memertimbangkan semboyan lain. Semboyan yang mungkin tidak populer. Mungkin membuat kening berkernyit. Semboyan itu adalah ‘seduluran sak perlune’.

Semboyan ‘seduluran sak perlune’ mengandaikan kebersamaan dan kesepakatan sebatas jika ada perlu, jika ada kepentingan. Apabila keperluan atau kepentingan telah kelar, kebersamaan pun kelar pula. Semboyan ini seperti luas lautan, dia ada batasnya.

Dan begitulah gambaran dunia politik. Seduluran sak perlune. Tidak ada saudara abadi, tidak ada teman abadi. Satu-satunya yang abadi adalah kepentingan.

Kalian tentu ingat kerasnya persaingan antara Joko Widodo dengan Prabowo Subianto dalam pertarungan memerebutkan jabatan Presiden Indonesia. Hampir seluruh komponen bangsa terlibat persaingan. Bukan sebatas adu program, situasi nyata di masyarakat dan jagat online mencatat, semburan black campaign (kampanye hitam) dan hoaks (informasi bohong) muncul hilir mudik sepanjang hari. Opini masyarakat seakan terbelah, merapat ke kubu Jokowi atau sebaliknya ke kubu Prabowo.

Toh begitu pilpres selesai, kalian lihat sendiri, Presiden Jokowi melantik Prabowo untuk menjadi Menteri Pertahanan. Keduanya bersalaman, foto bersama, dan tertawa. Apakah kebersamaan mereka bakal awet hingga Pilpres tahun 2024 mendatang? Tidak ada jaminan.

Kalian tentu kenal dengan Gubernur Jawa Timur saat ini, yaitu Khofifah Indar Parawansa. Dia menjadi gubernur setelah mengikuti 3 kali pilgub. Dua kali terlibat persaingan sengit dengan Soekarwo dan kalah dalam perolehan suara. Tetapi pada pilgub ketiga yang diikutinya, Khofifah justru bergandengan dengan Soekarwo. Hasilnya seperti yang kalian ketahui, Khofifah berhasil menjadi Gubernur Jatim.

Satu hal lagi yang perlu mendapat perhatian dari Pilgub Jatim, kendaraan politik Khofifah selalu berbeda. Pilgub Jatim tahun 2008, partai utama pendukung Khofifah adalah PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Tahun 2013, PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) jadi leader koalisi. Tahun 2018 lalu, partai utama pendukung Khofifah adalah PD (Partai Demokrat).

Seduluran sak perlune. Perubahan partai pengusung menegaskan prinsip bahwa tidak ada kebersamaan abadi di ranah politik. Pada satu periode mereka kerja sama bahu membahu tetapi mereka berlawanan pada periode berbeda.

Semboyan seduluran sak perlune dalam politik ini perlu kalian ingat bila sedang terpesona oleh calon tertentu pada perhelatan pilkada serentak 2020. Maksudnya, saat terpesona atau mendukung salah satu calon, jangan terlalu berlebihan. Jangan sampai cinta mati seperti anak baru gede (ABG).

Mengapa? Khawatirnya kalian nanti kecewa. Sudah terlanjur mendukung sepenuh hati, bahkan rela menebar hoaks demi menjatuhkan calon lawan, eh begitu pilkada selesai, calon yang kalian dukung dan calon yang kalian benci ternyata berangkulan mesra demi kepentingan bersama. Seakan mereka melupakan begitu saja persaingan dalam pilkada. Sedangkan kalian, oleh sebab cinta mati, tidak pernah bisa move on.

Maka, mari kita ikuti perhelatan pilkada serentak dengan sewajarnya. Justru jika memungkinkan, kita ikuti dengan kegembiraan. Sebab sejatinya pilkada adalah pesta rakyat. Pesta untuk menentukan pemimpin terbaik di masa depan. [but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar