Sorotan

Satu Lagi Pendukung Prabowo Ditahan

Ribut Wijoto.

Sejak penetapan Calon Presiden RI pada Pilpres 2019 diketok KPU, tiga tokoh publik –pendukung kuat dari Calon Presiden nomor urut dua, Prabowo Subianto– telah dijebloskan penjara. Ratna Sarumpaet, Habib Bahar bin Smith, Ahmad Dhani.

Pertanyaannya, apakah ketiganya dijebloskan penjara terkait dengan aktivitasnya dalam mendukung Prabowo Subianto?

Bisa jadi ya, bisa jadi tidak. Kadang kala, ada kebenaran lain yang baru akan terungkap puluhan tahun kemudian. Satu hal yang pasti, kebenaran dan kesalahan dalam kehidupan di dunia ditentukan oleh palu sang hakim. Mau tidak mau, suka tidak suka, orang yang diputus bersalah oleh hakim bakal mendapatkan konsekuensi hukum, bisa berupa penahanan bisa pula berupa denda. Termasuk Ahmad Dhani.

Lahir di Surabaya (26 Mei 1972), dari pasangan Eddy Abdul Manaf – Joyce Theresia Pamela Kohler, darah Sunda dan Jerman mengalir di tubuh Ahmad Dhani. Karier musik bersama band Dewa 19 membawa Ahmad Dhani ke puncak popularitas. Tak hanya Dewa 19, Dhani juga sukses membentuk band The Rock, TRIAD, MahaDewa, mengorbitkan banyak sekali penyanyi top.

Kontroversi dan ketenaran melekat erat dalam hidup Dhani. Mulai dari keretakan rumah tangga (bersama Maia Estianti), pernikahan yang sempat disembunyikan dengan Mulan Jameela, pernyataan-pernyataan keras di media massa, dugaan pemukulan terhadap jurnalis. Kontroversi juga melekat pada aktivitas Dhani di bidang politik.

Jika di ranah musik mayoritas publik angkat jempol pada kejeniusan Dhani, tidak demikian di bidang politik. Respon publik seakan terpisah tajam. Sebagian mengidolakan, sebagian lain mencaci maki. Bahkan ketika kemarin, Senin (28 Januari 2019), Dhani ditahan, dukungan dan cacian sama-sama mengalir deras di media sosial.

Kontroversial akibat masuk ke ranah politik juga dialami oleh Habib Bahar bin Smith. Lahir di Manado, 23 Juli 1985, Habib Bahar dikenal sebagai seorang pendakwah yang bersuara keras terhadap pemerintahan Jokowi (Joko Widodo). Pada akhir November 2018, video ceramah Bahar viral di media sosial. Bahar berkata bahwa Jokowi sebagai pengkhianat bangsa, negara, dan rakyat. Bahkan, Habib Bahar menyebut Jokowi sebagai banci dan meminta jemaah untuk membuka celana Jokowi supaya terlihat apa ada darah menstruasi di sana.

Jauh sebelum viral video ceramah tentang Jokowi, Habib Bahar dikenal dalam sepak terjangnya memperjuangkan syariat Islam dengan cara-cara keras. Bulan Ramadan tahun 2012, Habib Bahar memimpin ratusan jemaah Majelis Pembela Rasulullah untuk merazia Cafe De Most Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Habib Bahar juga salah satu tokoh utama penggerak serangkaian Aksi Bela Islam yang menuntut agar Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) diadili terkait pernyataannya yang dianggap menghina Islam.

Pendiri Pondok Pesantren Tajul Alawiyyin, Bogor, ini cukup akrab dengan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab. Begitu kagumnya Habib Bahar pada Habib Rizieq sampai-sampai anak terakhirnya (lahir 4 Februari 2018) diberi nama Muhammad Rizieq Ali.

Tidak kalah tenar dari Ahmad Dhani dan Habib Bahar adalah Ratna Sarumpaet. Semasa pemerintahan Presiden Soeharto, Ratna Sarumpaet dikenal sebagai seniman kritis. Melalui teater Satu Merah Panggung yang memproduksi karya ‘Pembunuhan Marsinah’, seorang aktivis buruh, pada tahun 1993, foto Ratna kerap menghiasi halaman media massa cetak. Sebab, pementasannya dicekal di berbagai tempat.

Mantan anak didik WS Rendra di Bengkel Teater ini, tahun 1998, menjelang Soeharto lengser, sempat mencicipi pengapnya dinding sel penjara selama 70 hari. Penahanan karena Ratna dinilai melakukan tindakan provokasi dan menyebarkan kebencian.

Anak dari pasangan Saladin Sarumpaet, Menteri Pertanian dan Perburuhan dalam kabinet Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan Julia Hutabarat, seorang aktivis hak-hak wanita, ini lantas membentuk Ratna Sarumpaet Crisis Center (RSCC). Sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memperjuangkan orang-orang yang menghadapi problem kelaparan, korupsi, KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), pengungsian, dan lain-lain.

Menjelang Pilpres 2019, Ratna Sarumpaet getol melontarkan kritik atas beragam kebijakan pemerintahan Jokowi. Dia juga aktif menggelar aksi #2019GantiPresiden. Sekaligus, Ratna masuk dalam Tim Pemenangan Prabowo Subianto.

Tiga tokoh hebat –Dhani dalam musik, Bahar dalam dakwah, Ratna dalam teater- nasibnya kini mesti meringkuk di balik jeruji besi.

Memang, ketiganya ditahan atas kasus yang sama sekali tidak berkaitan dengan Jokowi. Ahmad Dhani karena kasus ujaran kebencian berbau SARA (suku, agama, ras, antargolongan), Habib Bahar karena menganiaya anak remaja, Ratna Sarumpaet menyebarkan informasi palsu (hoak).

Namun, bukan tanpa kebetulan, ketiganya sama-sama pendukung Prabowo. Ketiganya sama-sama kerap bersuara kritis terhadap Jokowi. Maka tidak heran, penahanan ketiga tokoh itu sering dikaitkan dengan panasnya suhu Pilpres 2019. Fadli Zon, Wakil Ketua DPR yang juga politisi Partai Gerindra, menyebut penahanan Ahmad Dhani sebagai wujud kegagalan Jokowi menegakkan hukum yang berkeadilan.

Begitulah, ranah politik memang sangat menggoda dan sangat berrisiko. Ranah politik memungkin seseorang untuk secara sah mengatur kehidupan orang lain. mengatur kehidupan berbangsa bernegara. Seorang politisi yang duduk di legislatif berhak mengatur anggaran dan keuangan negara. Politisi yang mampu memenangi pilkada (pemilihan kepala daerah) bakal jadi pemimpin pemerintahan.

Dunia politik menawarkan kursi-kursi yang tidak bisa diduduki oleh musisi, ulama, maupun tokoh teater. Maka, tidak heran, banyak tokoh di beragam bidang itu lantas tergoda untuk mendekat atau bahkan masuk ke ranah politik.

Dan tentu saja, semua tahu, ranah politik bukannya ranah tanpa risiko. Dalam artian tertentu, politik merupakan ajang memperebutkan kekuasaan. Pertarungan menang dan kalah, terpilih atau terpental, pro pemerintah atau oposisi. Politik, sebuah dunia yang kadang menghalalkan segala cara.

Ketika Ahmad Dhani, Habib Bahar, Ratna Sarumpaet memasuki ranah politik, mereka pasti tahu atas risiko yang harus dihadapi. Mata tajam lawan politik senantiasa mengawasi untuk mencari kesalahan atau kelemahan. Dan bila kesalahan itu ditemukan, lawan politik bakal mengumbar seakan telah terjadi bom meledak di pasar. Viral. Walaupun kesalahan itu tidak terkait langsung dengan aktivitas politik.

Pelajaran yang bisa didapatkan, jangan masuk terlalu dalam ke wilayah politik jika tidak ingin menanggung risiko. Sebaliknya, tebalkanlah dinding tembok jika berniat membangun rumah di tanah politik. Ingat, peluru politik kerap kali tidak ditembakkan dari depan rumah. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar