Sorotan

Pekan 3 Liga 1 2019

Saat Persebaya Alami Amnesia Kemenangan

Baiklah. Mari kita sebut saja Persebaya tengah mengalami amnesia yang ditakuti semua tim sepak bola di dunia: amnesia kemenangan. Lupa bagaimana cara untuk menang. Total dalam lima pertandingan sejak dua kali final Piala Presiden 2019, tim asuhan Djajang Nurjaman hanya mampu menghasilkan tiga kali hasil imbang dan dua kekalahan. Semua hasil imbang dicetak di Gelora Bung Tomo, sebuah stadion yang seharusnya angker untuk lawan.

Hasil seri terakhir terjadi dalam pertandingan Liga 1 2019 pekan ketiga menghadapi PSIS Semarang, Kamis (30/5/2019) malam. Gol tunggal Osvaldo Haay pada menit 28, dibalas oleh Septian David Maulana pada menit 74. Hasil ini membuat Persebaya baru mengemas dua angka dalam tiga pertandingan dan terpuruk di peringkat 13 dari 18 tim.

Hasil ini lebih buruk daripada musim sebelumnya. Saat itu, di bawah asuhan Alfredo Vera, Persebaya menangguk empat angka dari kemenangan 1-0 atas Perseru, 1-1 dengan Persela Lamongan, dan kalah 1-2 dari Barito Putra.

Persebaya seolah kembali ke titik nol: performa buruk, justru setelah berhasil nenembus final Piala Presiden hanya beberapa pekan sebelum masa sepak mula kompetisi. Mereka belum bisa bangkit setelah sebelumnya dikalahkan Bali United di Gianyar dan ditahan imbang 1-1 oleh Kalteng Putra di kandang sendiri.

Bonek bereaksi keras kendati masih dalam batas wajar. Mayoritas dari 40 ribu penonton menolak menyanyikan lagu Song for Pride usai pertandingan, dan justru memilih menyanyikan lagu berisi hujatan terhadap para pemain Persebaya. Sementara artis dan pelawak Isa Bajaj yang sempat menjadi capo di tribun tampak lemas melihat hasil itu. Di luar stadion, sejumlah Bonek menghadang bus tim Persebaya, sembari melemparkan caci-maki. Tak ada insiden berarti.

Sementara itu, media sosial mulai dihiasai tagar #DjanurOut. “Persebayaku yang membosankan,” cuit akun @yogaarviansyahh. “Fokusnya #djanurout bukan ultah Surabaya lagi,” kicau Dianita Iuschinta.

Tuntutan nyaring terhadap Alfredo Vera agar mundur baru terdengar setelah Liga 1 berjalan 17 pekan atau setengah musim. Tepatnya setelah kekalahan 3-4 dari Persib Bandung di Gelora Bung Tomo. Namun tuntutan agar Djanur mundur justru terlontar setelah liga baru berjalan tiga pertandingan. Seberapa parahkah permainan Persebaya?

Persebaya memang mengecewakan dari aspek permainan. Namun terlalu tak adil jika dikatakan sangat buruk. Jika dilihat secara statistik, Persebaya lebih banyak mendominasi. Website resmi liga-indonesia.id mencatat, dari 11 tembakan Persebaya, tujuh kali tepat sasaran. Sementara PSIS Semarang hanya berhasil mengarahkan tiga tembakan tepat sasaran dari tujuh kali percobaan.

Build-up play melalui operan cepat dari kaki ke kaki sejak dari daerah pertahanan juga berjalan bagus. Ini terlihat dari statistik akurasi operan yang mencapai 86 persen, dibandingkan PSIS yang hanya 74 persen. Indosiar juga mencatat Persebaya menguasai bola hingga 63 persen.

Akurasi operan dan tembakan tepat sasaran ini meningkat jika dibandingkan saat menjamu Kalteng Putra. Kala itu, permainan operan dari kaki ke kaki Persebaya terhitung buruk, dengan akurasi 77 persen dan hanya bisa melepaskan tiga tembakan tepat sasaran dari 11 kali percobaan.

Persoalannya membangun serangan dari kaki ke kaki saja tidak cukup, jika pemain kebingungan menghantamkan bola ke dalam gawang PSIS yang dijaga Jandia Eka Putra. Pola permainan Persebaya mudah dibaca, karena lebih sering mengirimkan umpan-umpan silang dari sayap, terutama dari Ruben Sanadi di sisi kiri. Menit 28, skema itu menghasilkan gol melalui tandukan Osvaldo. Namun setelah itu, PSIS lebih merapatkan pertahanan dalam area kotak penalti untuk menghalau bola-bola udara dari sayap.

Variasi serangan Persebaya juga minim imajinasi. Umpan-umpan terobosan beberapa kali dilakukan dengan menjadikan Manu Jalilov sebagai ‘target man’. Namun PSIS mengajarkan bagaimana ‘pressing football’ yang baik dan benar. PSIS tidak membiarkan anak-anak Persebaya membangun ‘segitiga’ untuk memainkan operan tiktak di zona pertahanan Semarang. Setiap kali ada pemain-pemain seperti Irfan Jaya, Damian Lizio, atau Haay menguasai bola, maka akan diburu dan disergap oleh minimal dua pemain. Alhasil, serangan Persebaya pun kacau saat mendekati penyelesaian akhir.

Tak ada operan-operan ‘cut-back’ mendatar ke area penalti PSIS. Para pemain PSIS melakukan taktik simpel: memadati area kotak penalti begitu pemain Persebaya menyerang. Alhasil aksi individu Irfan Jaya, Jalilov, maupun Lizio menjadi sia-sia.

Djajang Nurjaman memilih tidak menurunkan Muhammad Hidayat sebagai gelandang bertahan, dan justru menurunkan Fandi Eko Utomo yang lebih bernaluri menyerang untuk membantu Misbakus Solikin yang flamboyan. Dengan kata lain, para pemain Persebaya diinstruksikan menyerang habis-habisan.

PSIS memang semula tidak meladeni pertarungan di lini tengah. Anak-anak asuhan Jafri Sastra ini memilih untuk mengirimkan bola langsung ke area pertahanan Persebaya, dan mengandalkan Hari Nur Yulianto, Septian David Maulana, dan Silvio Escobar untuk beradu cepat dengan para pemain bertahan lawan. Namun PSIS belum mampu memanfaatkan sisi sayap mereka pada babak pertama dan lebih cenderung memainkan umpan terobosan di zona tengah lapangan.

Babak pertama, lini tengah dimenangkan Persebaya. Namun dominasi di lini tengah tak berujung pada efektivitas serangan. Damian Lizio berpatroli dari kiri ke kanan dengan gocekannya yang aduhai. Namun jaraknya dengan para pemain Persebaya lainnya terlalu jauh, dan tak ada kawannya yang melakukan pergerakan jarak dekat untuk meminta bola. Alhasil, stamina Lizio terkuras. Apalagi dia harus jatuh bangun dikepung pemain-pemain PSIS yang mulai membaca celah permainan Persebaya.

Serangan Persebaya juga mandul, karena para pemain seringkali terjebak offside. Mereka tercatat tujuh kali terjebak perangkap offside. Ini jumlah terbanyak dibandingkan dua pertandingan sebelumnya. Jika dilihat, beberapa kali mereka terperangkap offside bukan karena jebakan pemain PSIS, namun karena ketidakjelian membaca posisi pemain lawan atau bersabar menanti momentum untuk mengirimkan operan.

Serangan PSIS Semarang dari sisi sayap makin hidup, setelah Jafri Sastra mengganti Septinus Alua dengan Shohei Matsunaga pada menit 41. Matsunaga beroperasi di sayap kiri berhadapan dengan Novan Setya. Beberapa kali ia berhasil mengirimkan bola silang ciamik, seperti pada menit 50. Escobar menanduknya. Kiper Persebaya Abdul Rohim terbang namun tak berdaya. Beruntung bola masih menghantam mistar gawang.

Matsunaga pula yang menjadi otak gol balasan PSIS. Dia melihat ada lubang kosong di daerah antara kiper dan pemain bertahan yang terlampu jauh. Maka dikirimkanlah bola daerah dari sayap kanan Persebaya untuk Septian yang berlari cepat. Tak ada yang mengantisipasi. Rohim mencoba maju untuk menyambar bola. Namun Septian lebih cepat.

Berbeda dengan babak pertama, para pemain PSIS Semarang semakin berani mengalirkan bola dari tengah dan tak langsung ke depan setelah peran Misbakus Solikin dan Fandi Eko Utomo semakin redup. Kedua pemain itu, terutama Solikin, terlihat kepayahan menghadapi permainan cepat pemain-pemain PSIS. Solikin membuat blunder setelah pada menit 53 melakukan tekel tanpa bola terhadap Septian David dalam kotak penalti. Beruntung sekali wasit Moch. Adung tidak memberikan hadiah penalti untuk PSIS.

Adung tak hanya sekali melakukan kesalahan krusial. Menit 90+1, Elisa Basna menghantam dada Fredyan Wahyu Sugiyantoro yang sudah terjatuh dengan kaki. Teorinya: kartu merah. Praktiknya: kartu kuning.

Lemahnya lini tengah Persebaya tidak segera diantisipasi oleh Djajang Nurjaman. Dia tidak segera mengganti Solikin dan Fandi yang sudah kepayahan dengan pemain yang bertipe defensif dan ofensif. Keberanian pemain-pemain PSIS mengalirkan bola lewat tengah, dan bukan lagi direct ball, menunjukkan bagaimana Persebaya membutuhkan seorang gelandang bertahan untuk membantu para bek tengah. Kendornya lini tengah dan teledornya lini belakang terlihat dari gol Septian.

Pergantian pemain justru baru dilakukan pada menit 75, setelah Novan cedera dan kelelahan dan digantikan Abu Rizal Maulana. Muhammad Hidayat baru masuk pada menit 78 menggantikan Solikin dan Basna baru masuk pada menit 84 menggantikan Fandi. Terlambat.

Dengan suara serak, Djajang meminta maaf kepada Bonek. “Ini pasti sangat mengecewakan dari sebuah pertandingan yang sepenuhnya kami kuasai dan dari lawan yang tidak memiliki peluang,” katanya.

Permintaan maaf tidak cukup. Djajang Nurjaman memiliki pekerjaan rumah besar setelah libur lebaran: membenahi kreativitas serangan dan suplai lini tengah. Jumat, 14 Juni 2019, Persebaya kembali akan menjadi tuan rumah menjamu Barito Putra. Musim lalu, anak-anak asuhan Jacksen F Tiago berhasil mempecundangi Persebaya 1-2 di Gelora Bung Tomo. Hanya kemenangan yang menggaransi kepuasan Bonek. [wir/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar