Sorotan

Liga 1 Pekan 16

Risma, Supriadi, dan Akhir Sebuah Drama

Wali Kota Tri Rismaharini datang dengan mengenakan batik coklat dan jilbab hitam, bersama Wakil Wali Kota Whisnu Sakti Buana. Ivo, istri Presiden Persebaya Azrul Ananda, menyambut Risma dengan adu pipi kanan dan kiri, di pintu masuk utama Stadion Gelora Bung Tomo, Sabtu (24/8/2019) sore itu. Azrul Ananda mendampinginya masuk ke ruang ganti tim.

Risma mendapat kesempatan memberikan ‘team talk’: sesuatu yang tak memiliki preseden sepanjang sejarah Persebaya era penggabungan kompetisi Galatama dan Perserikatan. Sependek ingatan saya, Sunarto Sumoprawiro dan Bambang Dwi Hartono tak melakukannya di ruang ganti. Ini momentum, dan sore itu Risma memberikan pidato yang hanya bisa ditandingi oleh pidato Manajer Persebaya Agil H. Ali, jelang final Perserikatan 1987-88 melawan Persija Jakarta di Senayan.

“Tidak ada alasan untuk kalian kalah. Kalian harus menang. Ini adalah pertempuran kita semuanya. Camkan itu. Ini pertempuran. Apapun harus kita lakukan untuk menang. Kita harus menang ini. Buktikan kepada para suporter dan kami semua warga Surabaya, bahwa kalian adalah tim kebanggaan kita semuanya,” Risma berapi-api dan tepuk tangan terdengar.

“Jangan ragu. Jangan ragu. Saat kalian di lapangan, itu adalah lapangan kalian semua. Itu adalah medan pertempuran kalian semuanya yang harus kalian menangkan semuanya. Kalian bisa. Aku yakin itu.”

“Tidak ada takut. Tidak ada takut. Lihat itu semua. Tidak ada takut, dan tidak ada menyerah. Kejar itu bola sampai kalian bisa membobol gawang lawan dengan luar biasa. Buktikan itu kepada kita. Kalian bisa melakukan itu. Tinggal kalian mau atau tidak.”

Risma berjalan dalam lingkaran para pemain dan menatap mereka satu per satu. Kedua tangannya terus bergerak di depan dada. Jarinya menunjuk ke atas. Suaranya lantang. Ia menatap wajah Ruben Sanadi. Rendi Irwan. Supriadi. Menyapukan pandangan kepada semua anggota tim yang mengelilinginya. “Tidak ada kata takut. Buat kami semua bangga terhadap kalian. Kalian tim luar biasa.”

“Saat kalian masuk (lapangan), kalian harus menegakkan kepala. Tidak ada yang menunduk. Kalian mampu. Kalian bisa.”

Lalu selanjutnya adalah sejarah: Persebaya mendominasi pertandingan dan tak membiarkan Persija Jakarta berkuasa sore itu. “Penampilan terbaik Persebaya musim ini,” kata Andhi Mahligai, salah satu Bonek.

Pelatih sementara Bejo Sugiantoro memakai formasi 4-4-2 dan menempatkan Abu Rizal Maulana sebagai bek kanan, Ruben Sanadi pada posisi bek kiri, dan duet bek tengah Mokhamad Syaifuddin dan Andri Muliadi. Barisan gelandang diisi Fandi Eko Utomo, Rendi Irwan, Muhammad Hidayat, dan Oktafianus Fernando. Sementara di depan, untuk pertama kalinya, Elisa Basna diturunkan sejak menit awal berduet dengan Manu Jalilov. Dengan komposisi ini, Bejo melawan keterbatasan karena absennya sejumlah pemain akibat panggilan tim nasional dan akumulasi kartu.

Menghadapi Persija yang turun dengan formasi inti, anak-anak Persebaya bermain disiplin memainkan bola dari kaki ke kaki dan menjaga jarak antar pemain agar tetap rapat. Elisa Basna memiliki kecepatan yang dibutuhkan dalam pola permainan seperti itu. Kehadirannya memudahkan tugas Ruben Sanadi agar tak terlalu sering naik. Sementara Rendi berkali-kali memberikan ancaman dengan berlari menusuk dan muncul tiba-tiba dari belakang.

Menit 21, umpan panjang dari Ruben memungkinkan Elisa berlari kencang menerabas kotak penalti dan mengirimkan bola silang tak terlampau tinggi kepada Rendi. Rohit Chand menabrak dari belakang. Tak ada tiupan peluit wasit. Pertandingan tetap berjalan. Namun serangan rancak anak-anak Persebaya menjadi peringatan bagi Kapten Persija Maman Abdurrahman agar tak meremehkan mereka.

Skema serangan dari kaki ke kaki Persebaya lebih matang dibandingkan pertandingan-pertandingan sebelumnya. Namun barisan depan tak cukup bersih memanfaatkan peluang. Menit 32 menjadi contoh bagus bagaimana skema ‘tiki-taka wanna-be’ dimainkan. Fandi Eko Utomo terus berlari menjadi penghubung serangan: oper bola ke Ruben – back heel oleh Ruben – kembali ke Fandi yang berlari – oper ke Rendi – kembali ke Fandi – oper ke Oktafianus. Tendangan lemah Oktafianus ke gawang Shahar Ginanjar mengakhiri skema itu dengan kegagalan.

Sementara itu, barisan tengah dan belakang Persebaya berhasil mengisolasi Marko Simic. Persija lebih mengandalkan tendangan-tendangan jarak jauh dan serangan balik. Serangan balik juga yang membobol gawang Persebaya pada menit 68. Feby Eka Putra memberikan umpan panjang kepada Simic ke area pertahanan Persebaya yang hanya dijaga Syaifuddin dan Andri Muliadi. Mereka tak cukup kuat menahan gocekan sahabat pemain Liverpool Dejan Lovren itu.

Persebaya di ambang kekalahan pertamanya di kandang sejak kekalahan mereka dari Borneo FC pada 13 Oktober 2018. Risma tidak menyaksikan bagaimana ketegangan melanda. Ia hanya beberapa menit mengunjungi ruang ganti. Namun kata-katanya menemukan jalannya sendiri sore itu: “Jangan menyerah. Sesulit apapun, seberat apapun, kalian tidak boleh menyerah. Lihat saya. Kalian tidak boleh menyerah. Kalian harus kejar terus. Kejar terus. Sampai semua bangga, kalian buat gol yang luar biasa…Tidak ada kata menyerah sekali lagi. Tidak ada kata menyerah.”

Anak-anak Persebaya benar-benar terus berlari mengejar bola. Statoskop Jawa Pos mencatat Persebaya menguasai 59 persen pertandingan dan melepaskan 16 tembakan, lima di antaranya akurat. Lebih baik daripada Persija yang melepaskan 10 tembakan, empat di antaranya tepat sasaran.

Menit 78, Oktafianus Fernando bermanuver mengelabui para pemain Persija, memainkan umpan tiktak dengan Fandi Eko Utomo, dan menerobos kotak penalti sebelum jatuh. Wasit menunjuk titik putih. Perdebatan mengemuka: Oktafianus sengaja ‘menyelam’ atau memang diganjal pemain Persija. Selama tidak ada tayangan VAR (Video Assistant Referee), biarlah itu menjadi perdebatan sebagaimana perdebatan soal perlunya hukuman penalti untuk Rendi yang ditabrak Rohit Chand di daerah terlarang.

Misbakus Solikin, pemain binaan kompetisi internal Persebaya yang masuk dari bangku cadangan, mengambil tanggung jawab sebagai eksekutor. Inilah pemain flamboyan yang dianggap sebagian Bonek tak sesuai dengan gaya permainan cepat, ngeyel, dan keras ala Persebaya. Namun Misbakus menunjukkan kematangan mental: mengambil tendangan penalti dalam posisi tertinggal. Tidak semua pemain mampu melakukannya. Dia berhasil pada menit 80.

Skor bertahan 1-1 hingga akhir pertandingan. Tidak istimewa, karena ini hasil seri ketujuh musim ini. Namun Bonek akan mengenang prtandingan sore itu, berkat Supriadi. Setelah tak lama menyaksikan Persebaya menurunkan pemain berusia belasan tahun hasil binaan kompetisi internal, Moch. Supriadi masuk pada menit 45 menggantikan Elisa Basna. Bonek meneriakkan namanya berkali-kali.

Ini penampilan perdana di tim senior bagi arek Rungkut berusia 17 tahun tersebut, dan Supriadi tidak mengecewakan. Dhion ‘StatsDhion’ Prasetya, Bonek yang juga spesialis statistik Persebaya, mencatat, Sepanjang 45 menit pertandingan, Supriadi mencatatkan enam drible dan dua operan kunci.

Kedatangan Risma dan penampilan Supriadi seharusnya menjadi benang merah bagi babak baru hubungan Persebaya dan Pemerintah Kota Surabaya. Kita tahu ada drama dalam relasi itu yang menyebabkan kompetisi internal yang biasa digelar di Lapangan Persebaya, Jalan Karanggayam, sempat terhambat. Kedatangan Risma semestinya menjadi tetenger bagi akhir sebuah drama bising yang tak perlu, dan kita menantikannya. Demi Persebaya. [wir/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar