Sorotan

Reccep Tayyip Erdogan (1)

Presiden Turki Reccep Tayyip Erdogan

Turki di ambang perang dengan Yunani. Klaim kedua negara atas wilayah Laut Mediterania Timur  menjadi sumbu sengketanya. Di wilayah laut tersebut ditemukan cadangan energi sangat besar: Cadangan minyak 1,7 miliar barel dan gas 3,5 triliun meter kubik.

Baik Turki maupun Yunani merasa berhak atas  klaim wilayah laut tersebut. Turki di bawah Presiden Reccep Tayyip Erdogan telah mengerahkan kapal penelitian dan kapal perang Oruc Reis ke perairan yang disengketakan pada 10 Agustus dan memperpanjang misi tiga kali.  Kapal penelitian itu dikawal sejumlah kapal perang Angkatan Laut Turki. Realitas ini membuat Yunani berang.

Emmanuel Macron, Presiden Prancis,  pemimpin Eropa yang ikut meradang. Dia tegas-tegas membela Yunani. Dia menyalahkan Turki dan Erdogan atas memanasnya kawasan Laut Mediterania Timur. Macron sangat vokal menentang Erdogan dan Turki.

Erdogan tak tinggal diam menghadapi Prancis dan Macron. Dengan tegas, Erdogan memperingatkan Macron jangan menjadi pengacau dalam konteks ini. “Jangan macam-macam dengan orang-orang Turki,” tegas Erdogan,  Sabtu (12/9/2020) waktu setempat. Erdogan menilai Macron sebagai pemimpin Prancis yang kurang paham sejarah.

Memegang pemerintahan Turki sejak awal tahun 2002, Erdogan dan partai pendukung utamanya: AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan), membawa banyak perubahan di negara ini. Dia mengubah Turki dari the sick man in Europa menjadi negara mendunia yang sehat.

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan seperti Turki terlahir kembali. Di era Erdogan, Turki masuk ke masa ketiga. Turki masa pertama di era Kekhalifahan Ottoman (Utsmaniyah) dan Turki masa kedua di era Musthofa Kemal Attartuk.

Karakter dan keberanian kepemimpinan Erdogan sekarang mengingatkan banyak kalangan pada tokoh-tokoh besar di masa lalu. Erdogan diidentikkan dengan Gamal Abdul Nasser, tokoh militer dan Presiden Mesir  di era akhir 1950-an dan 1960-an yang memperkenalkan ideologi Sosialisme Arab dan menasionalisasi Terusan Suez. Erdogan  juga diidentikkan dengan Sultan Abdul Hamid II, Salahuddin Al Ayyubi, dan Sultan Muhammad Al-Fatih.

Turki di bawah Erdogan dinilai telah mengembalikan negara ini ke dunia Arab, Islam, dan Asia. Negara Turki bersifat khas dalam perspektif teritori. Sebagian wilayahnya masuk Asia dan sebagian lainnya masuk Eropa.

Di bawah rezim Erdogan, Turki berusaha  mengambil nilai-nilai positif era Kemal Attartuk, seperti demokrasi dan jiwa kebangsaan sebagai prinsip kenegaraan dan kebangsaan yang ditunjung rakyat dan pemimpin Turki. Nilai positif era Kekhalifahan Ottoman yang berlangsung ratusan tahun menempatkan Turki sebagai negara terkemuka yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan pengayom dunia Islam, khususnya di kawasan Timur Tengah, Afrika Utara, dan banyak kawasan lain yang kokoh dan konsisten.

“Erdogan datang untuk memulai dan mengisahkan perjalanan Republik Turki yang kedua. Hal ini bukanlah sekadar asumsi, namun merupakan salah satu fakta terpenting di Turki yang banyak diakui banyak pengamat asing. Mereka tak ragu-ragu menyebut masa sekarang ini sebagai permulaan lahirnya Republik Turki Kedua. Erdogan menyajikan sesuatu yang berlawanan dengan Turki Attartuk yang memalingkan diri diri dari dunia Arab. Setelah pendahulunya yang pertama beraliran Islami: Necmetin Erbakan, gagal masuk dalam kekuasaan, maka sampailah kalangan Islami Turki ke pemerintahan dan melakukan shalat di masjid, mereka mempergunakan kain warna merah yang diikatkan di lehernya,” kata Syarif Taghian (2015).

Temuan cadangan minyak 1,7 miliar barel dan gas 3,5 triliun meter kubik oleh Turki di Laut Mediterania Timur tentu tak akan disia-siakan negara ini. Negara Turki selama ini menggantungkan pasokan energi, khususnya minyak dan gas, dari negara lain. Sehingga kedaulatan energi Turki sangat rendah.

Ainur Rohim, penanggung jawab beritajatim.com

Peran politik Turki di kawasan, khususnya di kawasan dunia Arab dan  Islam, bersinggungan dengan Arab Saudi. Kendati memiliki kesejarahan politik, sosial, ekonomi, dan budaya lebih lama dan panjang dibanding Arab Saudi di bawah rezim Ibnu Saud, namun karena Turki tak memiliki sumber daya energi sendiri secara mandiri, otomatis negara ini menggantungkan pasokan kelangsungan kebutuhan energinya dari negara lain.

Erdogan sadar dan paham bahwa masalah ekonomi seringkali dipakai sebagai senjata untuk menekan diplomasi, pertahanan, dan militer negara itu. Belajar dari pengalaman, hal itu pernah dialami Turki di saat ekonomi negerinya tak cukup kuat melawan. Nilai mata uang yang lemah, bunga hutang dan inflasi jadi amunisi untuk menyerang Turki.

“Kita telah melihat bagaimana dalam semalam bunga naik 7.500 persen. Kita melihat periode ketika pendapatan pajak bahkan tidak dapat menutupi pembayaran bunga … bahkan ada saat kita tak bisa membayar pegawai negeri,” katanya dalam sebuah pidato sebagaimana dikutip dari media lokal Hurriyetdailynews, Rabu (9/9/2020) sebagaimana dilaporkan CNBC.

Reformasi ekonomi yang dilakukan Turki mulai 2002, sejak Erdogan menjabat sebagai Perdana Menteri dan AKP sebagai partai utama yang memegang kendali struktur kekuasaan politik formal Turki,  negara ini tak lama kemudian berhasil meraih kembali kemerdekaan ekonomi dan memasuki era baru.

Hutang Turki kepada IMF sebesar USD 23,5 miliar berhasil dilunasi.  Tanpa hutang asing yang besar, Turki mampu berdikari dan mengelola manajemen politik pemerintahan dan ekonomi nasionalnya lebih mandiri dan merdeka dari intervensi negara lain dan lembaga donor internasional (IMF, World Bank, dan lainnya).

Sebagai pemimpin religius di negara sekuler, kepemimpinan Erdogan di panggung politik Turki tentu berlangsung tak mudah. Maklum negara ini  telah lama menerapkan prinsip ideologi sekulerisme politik, memisahkan agama dari urusan negara, sejak tahun 1920-an, dengan tokoh sentral Musthofa Kemal Attartuk. Ideologi Kemalisme—sekulerisme ala Turki—mendapat dukungan kuat dari kaum militer negara ini.

Untuk menyelamatkan dan menjamin eksistensi ideologi Kemalisme, militer Turki beberapa kali melakukan kudeta. Penyebabnya, kepemimpinan sipil politik   pemerintahan dipandang menyimpang dan membahayakan eksistensi ideologi Kemalisme.

Karena itu, di mata kaum sekuler Turki, Erdogan yang menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh idola dan Necmetin Erbakan sebagai guru politiknya, menstigmatisasi Erdogan sebagai figur Islamis Reaksioner.

“Sebagai hasil kesabaran dan keteguhan sikap, karena dia adalah seorang politikus yang memiliki watak tegas serta berbudi luhur, maka Erdogan sukses memimpin Turki menjadi negara yang aman,  terlepas dari sekulerisme, yang telah dikembangkan oleh Kemal Attartuk yang mengubah nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan ke-Islam-an menjadi sekuler. Erdogan menjadikan Turki sebagai negara Islam yang pantas menjadi pusat peradaban dunia yang mendeka,” tegas Syarif Taghian (2015). [air/bersambung]





Apa Reaksi Anda?

Komentar