Sorotan

Reaktualisasi Konsep Pendidikan di Tengah Pandemi Covid-19

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat”. (Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003).

Pengertian di atas, pendidikan merupakan hal penting dalam setiap aktivitas kehidupan manusia dengan memberikan kebebasan pada akal untuk berpikir dinamis. Sehingga seiring waktu, konsep, strategi, kurikulum, materi, metode hingga sarana prasarana. Pendidikan mulai mengalami perubahan dalam rumusan dan lainnya.

Bahkan hingga saat ini, belum ada konsep ataupun kesepakatan konkrit terkait rumusan pendidikan. Sehingga pengembangan pendidikan di berbagai daerah maupun negara dunia pun berbeda sesuai dengan falsafah bangsa masing-masing.

Namun demikian, pendidikan Islam menggunakan tiga istilah berbeda sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an; yakni ta’dib, ta’lim dan tarbiyah. Sehingga para pakar pendidikan Islam pun menggunakan ketiga istilah tersebut demi mewujudkan konsep pendidikan Islam yang berorientasi pada terbentuknya “Insan Kamil”.

Penggunaan istilah ta’dib dikutip oleh Syed Muhammad Naquib Al-Attas untuk mendefinisikan tentang pendidikan, istilah tersebut digunakan karena berorientasi terhadap perubahan prilaku ke arah positif. Bahkan ia juga mempertahankan istilah Ta’dib karena di dalamnya mencakup semua aspek, mulai dari pengajaran, pengetahuan hingga pengasuhan.

Hal tersebut juga sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Salam; ادب بني ربي فاحسن تاديبا “Tuhanku telah mendidikku dan dengan demikian menjadikanku yang terbaik”. Sehingga Al-Attas menggunakan istilah pendidikan dengan ta’dib karena adab berkaitan erat dengan ilmu.

Secara lumrah, kata ta’dib diterjemahkan menjadi pelatihan dan pembiasaan. Namun istilah ta’dib memiliki beberapa kata dasar yang berbeda, yakni melatih dan mendisiplinkan diri untuk berperilaku yang baik dan sopan. mengadakan pesta atau jamuan, atau berbuat dan berperilaku sopan, serta arti mendidik, melatih, memperbaiki, mendisiplinkan dan memberi tindakan.

Berdasarkan hal tersebut, penggunaan ta’dib berorientasi terhadap pembentukan suatu perilaku sebagai penyempurna akhlak atau budi pekerti. Dalam artian bahwa ilmu tidak hanya bisa diajarkan kepada murid, kecuali guru tersebut memiliki adab yang tepat terhadap ilmu pengetahuan dan berbagai bidang. Adab sangat ditekankan karena dalam proses pendidikan Islam, adab bertujuan untuk menjamin bahwa ilmu yang diperoleh akan dipergunakan secara baik dalam masyarakat.

Istilah ta’lim (kata dasar علم) digunakan karena memiliki arti mengajar yang bersifat yang bersifat menyampaikan pengertian, pengetahuan dan keterampilan. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. Al-Baqarah [2]: 31; وعلم ءادم الاسماء كلها “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya”.

Selain itu, kata ta’lim juga dapat berarti mengucap atau memberi tanda. Termasuk juga berarti mengerti atau memberi tanda. Sehingga akar kata ta’lim  mengacu pada istilah saat ini dapat disebut pengajaran, yakni suatu usaha untuk mengenal dan memahami sesuatu dengan benar, mmemberikan pengetahuan dengan cara transfer knowledge.

Melalui pengertian tersebut, murid memahami dan mengerti apa yang telah disampaikan guru untuk meningkatkan intelektualitas dan daya berpikir dari yang tidak tahu menjadi tahu. Pengertian lain juga memiliki konotasi khusus yang merujuk kepada ilmu, sehingga disebut sebagai pengajar ilmu atau menjadi orang yang berilmu.

Dalam artian mendorong dan menggerakkan daya jiwa atau akal seseorang untuk belajar menuntut ilmu agar ia memiliki ide, gagasan hingga memahami hakikat sesuatu. Sehingga kata ta’lim dapat diartikan secara khusus dengan memberikan aktivitas pembelajaran.

Sementara istilah tarbiyah terbilang sebagai definisi baru, sebab dalam berbagai leteratur klasik istilah yang dipakai berupa adab, ‘ilm, ta’lim hingga tahdzib. Istilah tarbiyah sendiri bisa berarti bertambah dan tumbuh, bisa juga berarti tumbuh berkembang dan menjadi besar, hingga berarti memperbaiki, menguasai, memimpin, menjaga, dan memelihara.

Penggunaan asal kata tarbiyah juga disebutkan dalam al-Qur’an, di antaranya QS. Al-Isra’ [17]: 24 yang artinya: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mengasihiku waktu kecil”. Hal serupa juga disebutkan dalam QS. As-Syu’ara [26]: 18 yang artinya: “Fir’aun menjawab: ‘bukankah kami telah mengasuhmu di dalam (keluarga) kami waktu kamu masih kecil dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu”.

Makna dasar istilah rab, rabiya dan rabba menurut An-Nahlawi tidak secara alami mengandung unsur esensial pengetahuan, intelegensia dan kebijakan. Namun juga berarti memelihara fitrah anak, menumbuhkan seluruh bakat dan kesiapannya, mengarahkan seluruh fitrah dan bakat menjadi baik dan sempurna, dan bertahap dalam prosesnya.

Sedangkan Baidlowi memberikan makna tarbiyah pada menyampaikan sesuatu sampai menuju titik kesempurnaan yang dilakukan secara sedikit demi sedikit. Al-Ishfahani juga mengartikan tarbiyah sebagai upaya menumbuhkan sesuatu secara bertahap hingga pada batas kesempurnaan.

Secara lengkap istilah tarbiyah disampaikan Abdurrahman yang ditinjau dari aspek bahasan, yakni memelihara dan menjaga fitrah manusia, mengembangkan potensi dan kelengkapan manusia yang beraneka raga, mengarahkan fitrah dan potensi manusia menuju kesempurnaannya, serta melaksanakan secara bertahap sesuai dengan irama perkembangan anak.

Berdasar beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa tarbiyah merupakan proses pendidikan secara bertahap sesuai dengan tingkat perkembangan manusia dalam rangka menjaga dan mengembangkan fitrah yang ada dalam dirinya sampai menuju kepada kesempurnaan, sehingga ia mampu menempatkan fitrah pada tempat yang semestinya sebagai manusia yang memiliki nilai rahmatan lil’alamin.

Mengacu pada hal di atas, dapat digaris bawahi bahwa pendidikan ditinjau dari aspek pembelajaran haruslah melalui tiga tahapan berbeda; yakni transfer pengetahuan, transformasi ilmu dan internalisasi nilai demi mewujudkan jargon ‘ing ngarsa sung tuludha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” seperti yang disampaikan Ki Hajar Dewantara.

Di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini, kemungkinan besar hanya aspek transfer pengetahuan dan transformasi ilmu tanpa melalui aspek internalisasi nilai pasca adanya kebijakan dari pemerintah seputar belajar dan bekerja dari rumah. Sehingga aspek nilai yang semestinya menjadi unsur penting dalam pendidikan cenderung terabaikan.

Kondisi tersebut tentunya harus disadari oleh semua pihak, khususnya para pelaku pendidikan. Baik itu siswa maupun tenaga pendidik agar selalu memperhatikan semua aspek dalam pendidikan. Tidak hanya pada aspek input maupun output semata, tetapi juga pada aspek proses yang menjadi penentu dari keberhasilan pendidikan seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Sisdiknas.

Terlebih dalam pelaksanaan pendidikan di masa pandemi seperti saat ini, masih terdapat berbagai kendala lain yang tidak kalah penting untuk segera dilakukan evaluasi secara menyeluruh. Terlebih kebijakan penerapan pembelajaran via daring alias online tidak sepenuhnya didukung dengan kesiapan Sumber Daya Alam (SDA) maupun Sumber Daya Manusia (SDM).

Hal tersebut dibuktikan dengan minumnya sejumlah fasilitas pendidikan melalui praktik daring, khususnya di wilayah pedesaan yang cenderung masih terbilang kesulitan jaringan internet. Terlebih dengan adanya pelaku pendidikan yang cenderung gaptek terhadap adanya teknologi dan informasi.

Dari itu, dibutuhkan konsep matang dan menyeluruh dalam mengaktualisasikan pendidikan khususnya di tengah pandemi seperti saat ini. Sehingga berbagai program pendidikan dapat berjalan maksimal sesuai dengan yang dicita-citakan bersama.

Mengacu pada uraian di atas, secara prinsip dapat disimpulkan bahwa ta’dib berorientasi pada pendidikan dan pelatihan. Cakupan konsep ta’dib lebih luas dibandingkan ta’lim, karena selaim mengajar, guru juga dituntut untuk menanamkan nilai-nilai dalam aktivitas pembelajaran juga memberikan pelatihan dan pembiasaan, sehingga murid tidak hanya tahu dan paham terhadap ilmu, tetapi juga dapat melaksanakan ilmu yang telah didapat dalam aktivitas kehidupannya.

Sementara Ta’lim hanya berorientasi pada pengajaran, seorang guru hanyalah sebagai “si penyampai” ilmu pengetahuan. Selanjutnya guru tidak lagi mengetahui dan bertanggung jawav terhadap ilmu yang telah diterima murid, sebab ranah yang ditekankan pada konsep ta’lim pada aspek kognitif berupa pemahaman akan sesuatu. Cakupan pada konsep ta’lim sangat sempit karena prosesnya hanya pada saat bertatap muka atau saat melakukan aktivitas pembelajaran.

Sedangkan tarbiyah berorientasi pada pendidikan berkelanjutan, cakupannya lebih luas lagi dari ta’dib. Ta’lim dan ta’dib merupakan bagian proses tarbiyah, proses pembelajarannya secara bertahap sesuai dengan perkembangan untuk memaksimalkan semua potensi yang ada dalam dirinya.

Dengan kata lain, tarbiyah merupakan konsep jangka panjang dan melalui proses bertahap sampai seorang murid dapat berdiri sendiri dengan pemahaman, kemampuan, dan perilakunya yang positif sebagaimana nilai-nilai Islam dan tidak mudah digoyahkan. Sehingga ketiga hal tersebut jika ditempatkan sesuai proses dan orientasinya, maka dapat digambarkan bahwa “konsep ta’lim dan ta’dib merupakan bagian dari konsep tarbiyah sesuai dengan prosesnya masing-masing. Namun tarbiyah cakupannya sangat luas dan orientasinya berkelanjutan dan terus-menerus dalam kehidupan manusia”. Wallahu ‘Alam. [pin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar