Sorotan

Puisi Gelap dan Metode Prabowo Mengalahkan Jokowi

Ribut Wijoto.

JOKO WIDODO memulai pertarungan memperebutkan kursi RI 1 dengan sangat bagus. Pertama, status sebagai petahana alias presiden saat ini. Sebagai presiden, Jokowi adalah pengendali pemerintahan. Kedua, Jokowi dikenal bersih atau tidak terkait dengan kasus-kasus korupsi. Ketiga, Jokowi seorang pekerja keras. Keempat, Jokowi bertipikal merakyat. Kelima, Jokowi diusung oleh banyak partai. Keenam, elektabilitas Jokowi ketika awal-awal pencalonan sangat tinggi. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kompetitornya, yaitu Prabowo Subianto.

Lantas bagaimana cara Prabowo agar mampu mengalahkan Jokowi?

Melalui cara-cara konvensional tentu saja sulit bagi Prabowo untuk menang. Di tataran pemerintahan, Prabowo belum pernah mengemban tanggung jawab. Sehingga tidak bisa dinilai. Karier militer tidak bisa terlalu diandalkan untuk meyakinkan pemilih. Sebab, meski cemerlang, karier militer Prabowo terhenti di tengah jalan.

Pilihannya bukan mengangkat elektabilitas Prabowo mengungguli elektabilitas Jokowi namun sebaliknya, yakni menurunkan elektabilitas Jokowi sampai pada level elektabilitas Prabowo. Nah, untuk melorot elektabilitas Jokowi, konsep puisi gelap sepertinya patut untuk dipertimbangkan.

Penyair Indra Tjahyadi dalam “Manifesto Puisi Gelap’ pernah menuliskan bahwa dunia sudah semakin banal. Dan tak ada jalan keselamatan bagi manusia di dunia sebab segala nilai kemanusiaan yang pernah dimiliki oleh manusia telah menuai kejatuhannya. Padahal, tugas penyair adalah menyelamatkan dunia.

“Maka, jalan yang paling mungkin dilakukan seorang penyair dalam menunaikan tugasnya menyelamatkan manusia adalah dengan menghancurkan dunia. Menghancurkan dunia bermakna mengembalikan kemurnian,” tulis Indra.

Terkait dengan ajang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, belajar dari konsep puisi gelap yang disorongkan Indra Tjahyadi, kubu Prabowo harus meyakini bahwa pemerintahan saat ini (yang dipimpin oleh Presiden Jokowi) tidaklah sempurna. Pasti ada cacatnya. Toh Jokowi bukanlah tokoh super hero seperti dalam komik. Jokowi seorang manusia biasa.

Pada setiap kebijakan Jokowi, sesukses apapun, pasti melekat kerikil masalah di dalamnya. Semisal kebijakan tentang infrastruktur, jalan tol. Siapapun menyadari, pembangunan jalan tol penting dan sangat bermanfaat. Jarak waktu 5 jam, berkat jalan tol, bisa digerus menjadi 2 jam. Tetapi di balik itu, bukankah pembangunan jalan tol harus membutuhkan pembebasan lahan. Nah, ceruk pembebasan lahan ini tentu tidak selalu mulus. Sering menyisakan masalah.

Begitu pula dengan dampak lingkungan. Salah satunya usaha dagang di pinggir jalan biasa yang mengambil konsumen dari pengendara. Usaha menjadi sepi karena pengendara berpindah lewat ke jalan tol. Dalam parameter tertentu, usaha dagang pinggir jalan biasa tersebut dirugikan oleh keberadaan jalan tol. Pengusaha di pinggir jalan biasa menjadi kehilangan konsumen.

Ceruk-ceruk masalah itulah yang bisa dimasuki untuk menggerus elektabilitas Jokowi. Seperti doktrin puisi gelap, “meledaklah keindahan atau tidak sama sekali”. Kubu Prabowo harus meledakkan ceruk dampak buruk kebijakan Jokowi untuk menutupi atau menghancurkan elektabilitasnya. Untuk menyakinkan masyarakat (para pemilik suara Pilpres) bahwa Jokowi telah salah urus negara.

Opini buruk atas prestasi Jokowi selama menjadi presiden ini penting untuk menghancurkan kemapanan posisi dan perhitungan elektabilitas. Kelebihan-kelebihan dan keuntungan-keuntungan Jokowi dirapuhkan. Dinisbikan. Dianggap tidak ada. Dan penilaian itu disebarkan secara masif berulang-ulang ke masyarakat agar masyarakat percaya sebagai sebuah kebenaran.

Agar elektabilitas Jokowi jatuh dan sejajar dengan elektabiltas Prabowo. Syukur-syukur jatuh hingga di bawah Prabowo.

Ketika elektabilitas Jokowi dan Prabowo sama-sama di bawah alias sama-sama kurang pantas untuk dicoblos maka itu artinya alternatif lain sudah waktunya ditawarkan.

Puisi gelap memberi solusi: “Maka, jalan atau cara yang paling mungkin bagi penyair untuk menunaikan tugasnya menyelamatkan manusia dari kejatuhannya tersebut adalah dengan tidak lagi bersandar pada dunia melainkan kembali pada utopia”.

Utopia. Masyarakat perlu diberi impian indah. Sebuah dunia ideal. Dunia yang tidak seperti dunia saat ini.

Ketika bertemu masyarakat, Prabowo perlu memberikan janji-janji yang manis. Kepada pedagang di pasar, Prabowo perlu menjanjikan kebijakan yang membuat mereka untung besar. Kepada orang-orang yang belanja di pasar, Prabowo perlu menjanjikan kebijakan yang membuat harga-harga lebih murah. Kepada karyawan atau pegawa negeri sipil, Prabowo perlu menjanjikan gaji yang lebih besar. Intinya, Prabowo perlu menjanjikan tatanan yang jauh lebih baik dari tatanan yang ada saat sekarang. Tatanan utopis.

Tidak cukup dengan utopia. Puisi gelap memberi tawaran yang jauh lebih mendalam, jeru. “Menghancurkan dunia bermakna mengembalikan kemurnian. Mengembalikan kemurnian berarti mendekatkan manusia pada Sorga yang dijanjikan”.

Dimensi spiritual dan transendensi. Menghancurkan elektabilitas Jokowi dan menggantinya dengan janji-janji tatanan pemerintahan yang lebih baik tentu belum cukup untuk menyakinkan masyarakat agar memilih Prabowo dalam Pilpres nanti. Dibutuhkan pertimbangan keilahian.

Terkait upaya ini, Prabowo harus meyakinkan kepada masyarakat bahwa dia melangkah untuk memperjuangkan nilai-nilai ketuhanan. Dan terutama, Prabowo butuh testimoni dari ulama atau sosok yang dipercaya oleh umat.

Ketika ulama sudah meminta umat untuk memilih Prabowo dalam Pilpres maka pintu kemenangan telah terbuka lebar. Memilih Prabowo menjadi bernilai transenden. Mendekatkan manusia pada sorga yang dijanjikan.

Begitulah, ranah sastra kerap kali mampu memberi inspirasi bagi ranah-ranah lain. Termasuk ranah politik. Ir Soekarno pun dulu, di masa penjajahan, membangun spirit nasionalisme Indonesia dengan memanfaat kan Kakawin Nagarakretagama karangan Mpu Prapanca, yang nota bene juga karya sastra. Di mana Kakawin Nagarakretagama secara apik mengisahkan kebesaran Majapahit sebagai penguasa Nusantara. [but]

Catatan:
‘Manifesto Puisi Gelap’ tulisan Indra Tjahyadi dimuat di majalah Kidung, edisi 16 tahun 2009, halaman 25.

Apa Reaksi Anda?

Komentar