Sorotan

Puisi dan Perkembangan Pengetahuan Manusia

Ribut Wijoto

Seorang Galilea Galileo menyeru kepada masyarakat pada zamannya bahwa bukan bumi yang dikelilingi matahari tetapi mataharilah yang dikelilingi bumi. Saat itu gereja dan kerajaan sedang akrab menjalin pembentukan pusat pengetahuan, dan pernyataan Galileo berbalik dengan pendapat yang difatwakan gereja. Tentu saja, kepanikan menjalar. Pro dan kontra masyarakat mencuat keras. Demi wibawa gereja, Galileo dihukum tahanan rumah, dan meninggal.

Abad XVI adalah abad Renaisance Eropa. Kematian Galileo membuka kesadaran baru tentang kebenaran nalar manusia. Rene Descartes (1596-1650), seseorang yang lebih paham kondisi kekerasan zaman, mengambil jalan yang lebih melingkar. Cogito ergo cum, “saya berpikir maka saya ada”. Kalimat kunci Descartes yang menahbiskan bahwa manusia ada karena nalar, karena akal budi. Manusia berbeda dengan alam, berbeda dengan binatang, sebab manusia berpikir. Manusia memiliki rasionalitas. Maka dimulailah, kepercayaan terhadap rasio manusia. Modernisme. Babak baru antroposentrisme, “manusia sebagai pusat alam semesta”.

Begitu lembaga agama dan kerajaan mulai bangkrut kewibawaannya, para ilmuwan semakin berani mengungkapkan gagasannya tentang penguasaan manusia terhadap alam. Maine de Biran (1766-1824), filsuf dari Perancis, mengkrisi pemikiran dari Rene Descartes. Aku yang berpikir sebagai ada masih terlalu romantik untuk kemajuan dunia.

Biran mengenalkan aku yang berkehendak dan bertindak: “Lewat penghayatan intern yang menangkap adanya aku, sekaligus diadakan perbedaan dengan segala benda lain, dan sekaligus dibedakan dengan penghayatan-penghayatan inderawi gagasan-gagasan dan citra-citra. Andaikan kita mampu melenyapkan datangnya semua kesan, ide dan citra ini maka subyek tetap akan dapat mengadakan apersepsi dirinya, sebagai suatu tenaga yang menggerakkan, yang mampu menyatakan pengaruhnya dalam menentukan suatu gerak. Dan gerak ini dapat atau tidak dapat menyebabkan suatu perubahan pada obyek yang dikenal lewat gerak pula”.

Antroposentrisme melompat dari pikiran ke dalam kehendak dan tindakan. Manusia mesti berkehendak dan melakukan tindakan perubahan terhadap alam. Segala yang selain manusia tersedia untuk sebesar-besarnya kemakmuran manusia. Kemajuan dunia sudah di ambang mata.

Antroposentrisme ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan. Hasilnya adalah banyak penemuan-penemuan baru “tentang mengolah alam” demi kepentingan “mempermudah hidup manusia”. Ridwan al-Makassary menyebutkan: “Pemikiran pencerahan meyakinkan kita, bahwa “anggur” kebahagiaan universal dapat direguk selama nalar dan kebebasan berjuang bersama, mengikis habis kepalsuan tradisi dan “terungku” (Bugis: penjara) alam dan politik, untuk menghasilkan kemajuan (progress)”.

Ilmu pengetahuan yang semula menjadi otoritas gereja dan kerajaan, kini telah bebas dimiliki masyarakat. Modernisasi dapat dimulai. Manusia-manusia modern yang berilmu pengetahuan dan memiliki kebebasan berhak dan sanggup mengubah alam untuk kesejahteraan dan kemudahan hidup di dunia.

Sampai di sini, penulis teringat pada beberapa puisi dalam kumpulan Arsitektur Hujan (terbitan Bentang, tahun 1995). Pada puisi-puisi itu, hubungan manusia dengan alam terkait erat dengan kemampuan daya pikir dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dengan benda-benda ciptanyaan, puisi dalam antologi Arsitektur Hujan tidak urung, juga ikut mengabarkannya. Lihatlah puisi “Popok-Popok Bayi dan Botol Infus” bait kedua berikut: Istriku berpegang pada botol-botol infus di lengan, tabung oksigen melekat pada jam dinding. Dia susun anaknya dari kicauan burung, bentangan sawah yang turun dari langit Montong Semaye. Kita naik taksi, menjemput dokter, menjemput rumah. Makhluk-makhluk tak kukenal mulai berkeliling di sekitar telpon. AC membuat dingin dari jam-jam besuk di situ. Dan lis-rik mati, membuat malam yang lain lagi.

Benda-benda seperti botol-botol infus, tabung oksigen, taksi, telpon, AC, dan listrik tidak akan ada tanpa ilmu pengetahuan manusia. Berkat benda-benda tersebut kehidupan manusia sudah meninggalkan budaya kegelapan, yaitu ketika manusia masih mengandalkan kepercayaan terhadap metafisika. Misalnya, kisah seorang ibu yang hendak melahirkan. Dahulu kala, melahirkan bayi hanya bisa dilakukan dengan pertolongan dukun, orang yang mengandalkan jampi-jampi tradisional dan mantra-mantra mistik. Seorang dukun lebih dipercaya bukan karena jampi-jampi atau obatnya, tetapi oleh kekuatan mantra mistiknya. Seringkali, dukun memberi air putih kepada segala macam keluhan pasien. Kepercayaan terhadap dukun dapat dikatakan kepercayaan yang membabi buta. Akhirnya banyak kelahiran bayi yang gagal, angka kematian bayi sangat tinggi. Berkat adanya dokter dan obat-obatan angka kematian bayi dapat ditekan. Di Indonesia dokter termasuk pekerjaan yang paling diminati masyarakat. Fakultas Kedokteran Unair buktinya, setiap tahun peminatnya paling tinggi dibandingkan dengan fakultas yang lain, terutama dibandingkan dengan fakultas Sastra. Apakah Indonesia benar-benar telah berjiwa Modern? Penulis tidak tahu pasti.

Dahulu kala, hanya orang-orang sakti yang bisa berhubungan jarak jauh. Konon dua orang sakti yang berbeda wilayah dapat berbincang-bincang melalui telepati -konon juga, hingga kini masih ada orang-orang sakti- tetapi dari seribu penduduk mungkin hanya ada satu orang yang dapat melakukannya. Tetapi, masyarakat tidak perlu kecewa. Berkat penemuan ilmu pengetahuan, manusia mencipta telepon, dan hanya dengan biaya murah, setiap orang dapat menghubungi orang lain yang jaraknya berjauhan. Kini di Indonesia, banyak anak-anak SD yang memanfaatkan telepon genggam untuk menghubungi teman sekolahnya. Apakah mereka bisa melakukannya tanpa modernisme? Saya kurang yakin untuk menjawab, dapat.

Satu abad setelah Rene Descartes mengeluarkan cogito ergo cum, penguasaan rasionalitas manusia di atas segalanya, dunia mengalami perubahan menakjubkan. Penguasaan manusia terhadap alam, penemu-ciptaan benda-benda, ditegaskan oleh revolusi industri Inggris (1750-1850) dan revolusi Perancis (1789). Antroposentrisme semakin menemukan bentuk maksimalnya. Kemerdekaan individu dilegalkan melalui pemerintahan demokrasi. Penciptaan dan distribusi benda diberi wadah melalui kapitalisme.

Selanjutnya perlu diperiksa puisi “Dia Hanya Dada” bait ketiga berikut: Dia hanya dada yang ingin berlari dalam hujan. Belajar memberi parfum pada kenangan. Memanggil kupu-kupu plastik. Memanggil bunga plastik. Menyatakan cinta juga. Penuh ibu dan ayah mati.

Nalar manusia, yaitu logika, telah mampu menunjukkan bahwa manusia adalah pusat alam semesta. Manusia dapat mengubah alam. Manusia dapat mereproduksi alam untuk, hingga, memenuhi kebutuhan kesenangan hidup. Dahulu kala, sebelum ditemukannya plastik, orang-orang perlu keluar rumah untuk dapat menikmati keindahan kupu-kupu dan bunga. Kini di dalam rumah, di kamar pribadi, di almari kaca dapat orang-orang dapat memanggil kupu-kupu plastik, memanggil bunga plastik. Tentang keindahannya, tiruan alam seringkali melebihi keindahan alam. Contoh sederhana, hutan di pedalaman Tulungagung ternyata masih kalah indah dan rapi dibandingkan hutan buatan di TMII Jakarta.

Manusia telah meninggalkan Abad Pertengahan, di mana lembaga religiusitas dan kekuasaan negara memonopoli pengetahuan. Masa silam hanyalah menjadi nostalgi yang sejuk, seperti larik puisi, memberi parfum pada kenangan. Begitulah kenyataan masa silam mati, seperti larik puisi, penuh ibu dan ayah mati. Manusia menikmati hasil kenyataan antroposentrisme, berkuasanya nalar dalam kehidupan manusia. Berkuasanya nalar di dalam sejarah alam.

Pada Abad Pertengahan, kebersamaan dalam masyarakat sangat ditekankan. Cita-cita masyarakat diarahkan kepada gemerlap kehidupan sesudah mati, kehidupan sorga. Sebaliknya bagi yang menolak, kehidupan neraka yang mengerikan telah menunggu. Pengetahuan diserukan kepada khalayak dengan kepastian-kepastian yang anti pertanyaan. Apalagi mempertanyakan. Pengetahuan hanya untuk dijalani. Pusat dari segalanya adalah lembaga agama dan kerajaan.

Puisi “Orang-Orang Jam 7 Pagi” bait kedua, kiranya, menampilkan kenyataan zaman yang berbeda: Selimut masih membayangi sebuah kota, bersama bubur ayam, mentega dalam roti, dan air mendidih di atas kompor. Sepatu mereka mulai berbunyi, menjauh dari teras rumah, bau sabun dan shampo pada rambut basah. Suara ribut di meja makan mulai berubah jadi asap knalpot. Aku adalah 3 KM yang lalu dalam bis penuh sesak, menelusuri koridor-koridor yang me nyimpan betismu, lalu menghilang di balik lift. Aih! Tak ada lagi masyarakat, pada telpon yang kau angkat.

Puisi tersebut mengabarkan kemenangan antroposentrisme dalam meruntuhkan hegemoni lembaga agama dan kekuasaan kerajaan. Menurut Hikmat Budiman, tiga kata kunci manusia modern adalah kemerdekaan individu, keadilan, dan kemajuan.

Kekangan dari struktur kekuasaan (lembaga agama dan kerajaan) menggumpal-pecahkan keinginan orang-orang untuk menikmati kebebasan individu. Cita-cita terpendam yang baru terealisasi setelah Renaisance terjalani. Kenyataan antroposentrisme. Setiap orang bebas menafsirkan dirinya sendiri, seperti larik puisi aku adalah 3 KM yang lalu dalam bis penuh sesak itu. Masyarakat bukan lagi suatu kelompok yang homogen. Masyarakat didefinisikan kembali menjadi kumpulan individu-individu, lebih jauh lagi, telah punah konsep tentang masyarakat. Berkat privatisasi dan ilmu pengetahuan manusia dimanja untuk menjadi dirinya sendiri. Misal, adanya telepon membuat manusia bebas menghubungi orang lain di manapun dan dalam keadaan apapun. Orang yang dihubungi dalam telepon tidak akan pernah tahu keadaan si penelepon. Apakah sedang berpakaian merah, bersepatu merk terkenal, atau sedang telanjang bulat di atas kasur? Ada jarak lebar antara orang-orang. Seperti larik puisi tak ada lagi masyarakat, pada telpon yang kau angkat.

Kematian konsep masyarakat lama, sistem homogenitas tertutup, digantikan dengan konsep demokrasi. Pemerintahan yang kekuasaan tertinggi dipegang masyarakat (kumpulan individu). Pemerintah tidak bisa lagi bertindak sewenang-wenang. Pemerintah hanyalah tangan panjang dari masyarakat, dan karenanya masyarakat sewaktu-waktu dapat mengganti salah satu dari sekian individu yang dianggap mampu. Anak seorang presiden, wali kota, dan jabatan-jabatan lain tidak dapat sekaligus menggantikan kedudukan orang tuanya. Jabatan pun dibatasi hanya pada bidang-bidang tertentu dan dibatasi oleh rentang waktu tertentu. Demokrasi menghormat amat tinggi pada hak-hak individu.

Dulu kala, para bangsawan dan pemuka agama menempati posisi elit. Hak sosial yang didapatkan limpah-ruah, kewajiban yang disandang hanya kecil saja. Khalayak riuh menempati posisi sebaliknya. Kemunculan Renaisance (yang menurut sebagian sejarawan berkat ditemukannya kompas, mesiu, dan mesin cetak) meratakan hirarki martabat individu dalam masyarakat. Tanda dari segalanya adalah keadilan dalam pembagian jatah alat kehidupan. Hak sama dalam menikmati hasil pengetahuan. Mencipta pengetahuan. Menolak pengetahuan. Nalar manusia, kriteria satu-satunya penerimaan alat bantu hidup.

Kondisi antroposentrisme, masing-masing manusia pusat lingkungan, menumbuhkan perlombaan penciptaan pengetahuan. Orang-orang bergairah dalam pamer kecerdasan. Penemuan suatu benda disusul dengan penemuan lebih lanjut. Benda-benda baru bermunculan layaknya hujan bulan September. Alam dirombak menurut selera (kebutuhan) manusia. Tanah-tanah baru dirambah, hutan-hutan dijadikan lahan percobaan. Berkat antroposentrisme. Manusia bebas dan sah membentuk tata alam. Kemajuan peradaban manusia pada mula antroposentrisme adalah pertumbuhan paling tinggi sejak perhitungan Masehi. Hanya kejayaan bangsa Yunani, yang mungkin, bisa menyamai.

Melengkapi klaim, antroposentrisme nalar memberi tanah lapang bagi kemajuan peradaban, puisi “Bis Membawa Mereka Pergi” bait kedua ini menarik untuk dicermati: Kota seperti etalase di huni jam weker yang buas di situ. Me- nangkapi ikan-ikan dari limbah industri. Lalu kami bersorak, kami bisa bekerja apa saja, mengangkat batu, memindahkan hutan dan sungai-sungai, atau mencuri. Tetapi siapakah kami, di antara siaran-siaran TV itu, menyentuh sunyi di tengah pasar. [but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar