Sorotan

Puasa, Bukan Sekedar Menahan Haus dan Lapar

Puasa bukan hanya menahan haus dan lapar, sebab jika hanya menahan haus dan lapar semata, maka kita hanya akan terjebak pada aspek dimensi fisik belaka. Padahal puasa merupakan salah satu ibadah wajib yang lebih condong pada aspek dimensi kejiwaan atau lebih tepatnya meliputi dimensi fisik dan kejiwaan.

Dalam berbagai penelitian, ibadah puasa merupakan aktivitas yang melibatkan aspek fisik, jiwa dan spiritual secara bersamaan. Dalam bahasa sederhana dapat diartikan sebagai aktivitas yang bersifat lahir dan batin, sehingga puasa sendiri haruslah diawali dengan niat yang bersifat spiritual, menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa, serta memperbanyak “komunikasi” dengan Tuhan.

Dari itu, apa sebenarnya esensi tujuan dari puasa. Sekalipun lada awalnya “dikenalkan” sebagai aktivitas keagamaan semata, sehingga untuk memahami hal itu sudah semestinya harus dijabarkan secara tuntas seputar puasa dari agama yang memerintahkan.

Secara umum dapat ditangkap bahwa puasa sebagai aktivitas untuk menyeimbangkan kembali kondisi fisik seseorang, atau dalam skala lahiriah maupun batiniyah dapat diartikan menuju sehat lahir dan batin. Namun keterlibatan dimensi kejiwaan dalam berpuasa justru dapat memberikan efek lebih mendalam dibandingkan hanya sekedar menerapkan pola hidup sehat atau diet.

Sebab seperti yang kita ketahui bersama, dimensi kejiwaan memiliki peranan sangat penting dalam berpuasa. Sehingga penekanannya bukan hanya sekedar puasa fisik (sebut diet), tetapi lebih pada aspek pengendalian yang bertumpuh pada aspek kejiwaan, dalam hal ini adalah keikhlasan.

Dengan kata lain, aspek kejiwaan memiliki pengaruh besar terhadap fisik dan bahkan pengaruh jiwa sangat dominan dibandingkan fisik. Segala aktivitas fisik yang kita lakukan pada dasarnya justru bersumber dari aspek kejiwaan, baik hal itu dikehendaki sebagai upaya sadar maupun yang berada di luar kesadaran atau alam bawah sadar.

Bahkan dalam tinjauan medis, aspek kejiwaan juga disepakati memiliki pengaruh besar terhadap fisik seseorang. Sehingga hal itu selaras dengan apa yang disabdakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa “berpuasa itu sangat menyehatkan”. Selanjutnya dikembangkan oleh para ahli medis, jika dalam jiwa yang sehat terdapat raga yang sehat pula.

Memang selama ini kita seringkali beranggapan bahwa sehat hanya bersifat fisik semata, sebab persepsi sehat yang selama ini dengar selalu berhubungan dengan aspek jasmani semata. Padahal justru sebaliknya, sehat dalam bentuk fisik harus ditunjang penuh melalui aspek rohani.

Lebih jauh mungkin sangat penting untuk diketahui bahwa badan dan jiwa dari manusia ibarat dua sisi berbeda dalam satu keping mata uang, keduanya ada bersamaan, saling berinteraksi dan sama-sama memberikan pengaruh. Bahkan badan yang sehat memiliki kontribusi untuk memperoleh jiwa yang sehat, demikian juga sebaliknya dan bahkan justru memiliki kontribusi signifikan untuk menjadikan tubuh yang sehat.

Lepas dari semua itu, dimensi jiwa merupakan ‘software’ dari kehidupan seseorang. Sehingga melalui puasa ini, tentunya kita berharap tidak mendapatkan label sekedar mendapat haus dan lapar semata, seperti sabda Nabi Muhammad Shallalllahu ‘Alaihi wa Sallam; “Begitu banyak orang yang berpuasa, hanya mendapatkan haus dan lapar semata”. Wallahu A’lam. [pin]





Apa Reaksi Anda?

Komentar