Sorotan

Prabu Kartolo

Kartolo Seniman Ludruk Surabaya

Kartolo adalah komedian ludruk paling terkenal di Jawa Timur saat ini. Statusnya sudah menjadi legenda hidup. Banyolannya selalu segar, lucu, dan mengocok perut. Dia bisa mengubah suasana getir menjadi bahan lawakan yang bikin ngakak.

Kartolo bercerita bahwa dia menjadi salah seorang penerima bansos selama pandemi. Dia harus ikut antrean panjang untuk mengambil BLT di kantor pos. Tidak ada orang yang mengenalinya karena dia memakai masker. Tapi, ketika sampai di depan konter dia pun membuka masker. Petugas mengenalinya dan banyak pengantre yang juga mengenalinya. Bagi para pengantre, munculnyan Kartolo menjadi hiburan segar pengobat kepenatan.

Kalau kisah ini diceritakan dalam skenario lawakan ludruk, pasti banyak momen lucu yang membikin tertawa. Di tengah situasi yang sumpek karena pagebluk, masih ada saja momen-momen lucu yang bisa menjadi bahan hiburan. Membayangkan cerita Kartolo antre BLT sudah bisa mengundang senyum tersendiri.

Kemampuan menertawakan diri sendiri, kemampuan untuk bisa melihat sisi-sisi lucu dari sebuah penderitaan, kemampuan untuk melakukan kritik sosial dengan canda, adalah kekuatan ludruk yang menjadikannya mengakar sebagai kesenian khas Jawa Timur dan Surabaya.

Kali ini Kartolo tidak sedang bercanda. Ia menawarkan rumah pribadinya untuk dijual. Situasi pagebluk yang belum menentu, membuat Kartolo memutuskan untuk menjual rumah. Selain diwariskan, hasil penjualan rumah juga akan dipakainya untuk memenuhi kebutuhan hidup, karena dia masih menanggung biaya hidup cucu-cucu yang sekarang masih tinggal bersamanya.

Semua maklum, selama pandemi para seniman tradisional menghadapi situasi sulit karena tidak ada tanggapan. Kartolo bersama beberapa temannya banting setir membuat konten di kanal Youtube. Beberapa potongan narasi ciptaannya viral di media sosial. Salah satunya adalah ‘’Angel temen tuturanmu…’’ (sulit sekali kamu dinasihati..)

Kalau cerita jual rumah dijadikan skenario ludruk oleh Kartolo dan kawan-kawan, pasti banyak adegan lucu yang mengundang tawa. Dalam salah satu episode lawakan Kartolo ada cerita mengenai temannya yang menjual sepeda. Ternyata sepeda itu bukan miliknya sendiri tapi sepeda pinjaman. Dialog pun berkembang menjadi lucu, karena pemilik sepeda akhirnya memergoki transaksi itu. Si penjual yang tertangkap basah hanya bisa senyum-senyum. Semua berakhir happy dan tertawa.

Kali ini Kartolo menjual rumahnya, bukan rumah orang lain. Rumah di daerah Kupang Jaya, Surabaya itu sudah ditempatinya sejak 1984. Kartolo yang sekarang berusia 74 tahun menjual rumah 400 meter itu sebagai bagian dari survival, seni bertahan hidup.

Kisah-kisah ludrukan versi Kartolo sudah direkam menjadi sekitar 70-an cerita. Sampai sekarang masih sering beredar dalam berbagai versi. Cerita-cerita Kartolo menggambarkan fenomena kehidupan rakyat yang banyak didera persoalan, tapi semuanya diselesaikan dengan cara yang sederhana.

Orang Surabaya menyebut hal yang sederhana sebagai ‘’ngglethek’’, atau dalam bahasa Jawa Tengah ‘’jebule’’. Ungkapan itu dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang dikira hebat dan besar, tapi ternyata tidak ada apa-apanya. Ada janji-janji muluk yang diberikan seorang pemimpin, tapi ternyata ‘’ngglethek’’ tidak sesuai dengan kenyataan.

Dengan ilmu ‘’ngglethek’’ itu masyarakat bawah bisa menghadapi berbagai kesulitan hidup dengan caranya sendiri. Ilmu ngglethek menjadi local wisdom, kearifan lokal, yang memberi kekuatan kepada rakyat untuk survive, bertahan hidup, menghadapi berbagai macam kesulitan.

Ilmu nggletek itu tercermin dalam cerita-cerita ludrukan Kartolo yang menggambarkan fenomena hidup keseharian masyarakat. Dalam kesederhanaan sikap itu tersimpan kearifan dan kekuatan, yang menjadikan rakyat mampu bertahan hidup di tengah kondisi yang paling ekstrem pun.

Budayawan dan filosof Sindhunata mengupas fenomena Kartolo ini dalam bukunya ‘’Ilmu Ngglethek Prabu Minohek’’ (2004). Berbagai banyolan lucu Kartolo, oleh Sundhunata diberi tafsir filosofis yang detail dan mendalam, tapi kemudian ia menyimpulkannya dengan sangat sederhana sebagai ‘’ilmu ngglethek’’.

Sindhunata—yang asli dari Batu, Jawa Timur—memahami budaya ludruk dengan baik. Ia menulis banyak buku filsafat dengan jernih dan lancar. Sindhunata menulis buku mengenai filsafat Mazhab Frankfurt. Ia menulis novel best seller ‘’Anak Bajang Menggiring Angin’’. Ia juga menulis buku mengenai lukisan Joko Pekik ‘’Tak Enteni Keplokmu: Tanpa Bunga dan Telegram Duka’’. Ia menulis buku ‘’Kambing Hitam’’ dengan mengupas filsafat Rene Girard.

Dhimam Abror Djuraid

Kali ini Romo Sindhu menjadikan Kartolo sebagai objek penelitiannya. Ia mencermati lakon-lakon yang sudah dipentaskan Kartolo dan kawan-kawan. Romo Sindhu juga mengamati kidungan-kidungan jula-juli yang dibawakan Kartolo. Ada benang merah dari semua kisah dan kidungan jula-juli itu.

Dalam filosofi Kartolo, ilmu ngglethek merupakan cermin akhir dari semua perjalanan kehidupan manusia. Dalam berbagai cita-cita dan harapan, manusia sering diperhadapkan dengan kejadian-kejadian yang tidak disangka-sangka, dan seperti terjadi begitu saja.

Basman adalah orang paling kaya di kampung, tapi dia pelit. Kartolo dan kawan-kawan ingin menyadarkan Basman, supaya lebih punya kesadaran sosial dan mau berbagi. Pada suatu malam, Kartolo dan kawan-kawannya mengadakan pesta makan-makan dengan menyembelih ayam dan memasaknya beramai-ramai.

Kartolo kemudian membangunkan Basman dan mengundangnya ikut makan-makan. Basman pun ikut ‘’lekoh’’ menikmati ayam goreng dan sambal. Pesta ayam goreng selesai. Semua senang dan kenyang.

Tapi, Basman kaget ketika keesokan harinya mendapati ayam piaraannya hilang dua ekor. Dia curiga Kartolo yang mencurinya. Basman pun melabrak Kartolo yang masih tidur. Kartolo tertawa-tawa dan mengakui bahwa dia yang mencuri ayam. Basman marah-marah. Tapi Kartolo mengingatkan bahwa Basman ikut memakan ayam curian itu.

Konflik yang panas berakhir dengan ‘’ngglethek’’. Basman tidak jadi marah, malah sadar bahwa sebagai orang kaya di desa dia jarang berbagi selama ini. Ilmu ngglethek Kartolo bisa menyadarkan Basman melalui tawa dan canda.

Episode itu diberi judul ‘’Tumpeng Maut’’ yang menjadi salah satu episode ludruk Kartolo yang paling terkenal. Romo Sindhu mengupas episode itu, mendalami plotnya, dan mendapati unsur ‘’ilmu ngglethek’’ di dalamnya.

Di mata Romo Sindhu, Kartolo adalah maestro ilmu ngglethek. Kartolo menguasai ilmu itu sampai ‘’ngelontok’’ dan memraktikkannya dalam hidup sehari-hari. Karena kepiawaiannya itu Kartolo mendapat gelar ‘’Prabu Minohek’’.

Proses hidup manusia sering diwarnai dengan serba kebetulan, aksidental, dan tidak selalu bisa direncanakan dengan akal sehat. Manusia modern tumbuh menjadi manusia yang individualistis yang sibuk memburu kekayaan sehingga menjadikannya mahluk asosial. Ilmu ngglethek Kartolo mengajarkan bahwa pada akhirnya semua yang dilakukan itu hanya akan berakhir ‘’ngglethek’’. Ajaran terbaik dari Kartolo adalah menyikapi hidup dengan kesederhanaan tanpa kepongahan dan nafsu.

Episode terbaru ‘’Kartolo Dodolan Omah’’ (Kartolo Jual Rumah) bisa menjadi cerita yang sangat lucu. Tapi episode ini tentu sangat ironis. Setelah 60 tahun berkutat dengan kesenian yang dicintainya, Kartolo akhirnya harus menjual rumah satu-satunya. Di usinya yang sudah senja Kartolo masih harus menghadapi perjuangan hidup yang keras, karena masih harus memikirkan masa depan cucu-cucunya.

Kartolo adalah legenda hidup yang menjadi warisan sejarah budaya penting bagi masyarakat Surabaya. Pemerintah Surabaya harus menyelamatkan legasi ini dengan membeli rumah Kartolo dan menjadikannya sebagai ‘’Museum Ludruk Surabaya’’.

Ide itu mungkin tidak terpikirkan oleh Kartolo. Dia melihat segala sesuatu yang rumit dengan kacamata yang sederhana, kacamata ‘’Ngglethek Prabu Minohek’’ (*)


Apa Reaksi Anda?

Komentar