Sorotan

Pilwali Surabaya 2020 adalah Tantangan Berat bagi PDI Perjuangan

Ribut Wijoto.

PEMILIHAN WALI KOTA (PILWALI) SURABAYA 2020 benar-benar menjadi tantangan berat bagi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan. Tantangan yang datang dari faktor eksternal (luar) maupun faktor internal (dalam). Agar bisa meraih hasil bagus di Pilwali Surabaya 2020, PDI Perjuangan perlu mengurai tantangan itu secara lebih detail dan mendalam.

Semula, PDI Perjuangan tampak percaya diri dalam mengarungi pertarungan di Pilwali Surabaya 2020. Kepercayaan yang masuk akal.

Sejak awal, PDI Perjuangan tidak terlalu gencar dalam menggandeng partai lain. Memang secara aturan, tanpa membangun koalisi pun, PDI Perjuangan sudah mampu mengusung calon sendiri. itu berkat 15 kursi di legislatif. Padahal partai pengusung Calon Wali Kota Surabaya cukup bermodal jumlah 10 kursi

Mesin partai PDI Perjuangan dikenal kokoh dan gemuk di Kota Pahlawan ini. Tercermin dari kelengkapan kepengurusan mulai dari Dewan Pimpinan Cabang (DPC), Pengurus Anak Cabang (PAC), pengurus Ranting, Pengurus Anak Ranting. Bahkan, PDI Perjuangan memiliki tim Regu Penggerak Pemilih (Guraklih).

Merujuk pada hasil empat Pilwali Surabaya sebelumnya, PDIP tidak pernah sekalipun kalah. Dua kali berhasil mengantarkan Bambang DH sebagai Wali Kota Surabaya, dua kali pula sukses mengantarkan Tri Rismaharini menjadi orang nomor 1 di kota Pahlawan ini.

Dalam 10 tahun kepemimpinan Risma, tingkat kepuasan warga Surabaya juga sangat tinggi. Risma berusaha keras mengurai kemacetan lalu lintas, mengatasi banjir, menyuguhkan beragam kemudahan pelayanan publik. Walau belum 100 persen, usaha keras Risma bisa dibilang sangat berhasil.

Ketika rekomendasi kepada Eri Cahyadi – Armuji turun, PDI Perjuangan hanya memiliki satu kawan partai. Yakni, Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Total 19 kursi dari 50 kursi yang tersedia di DPRD Kota Surabaya.

Sebanyak 31 kursi lainnya berhasil direngkuh oleh sang kompetitor, yakni pasangan Machfud Arifin – Mujiaman Sukirno. Kursi hasil koalisi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai NasDem, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Melihat jumlah partai dan jumlah kursi partai pengusung, secara kasat mata, PDI Perjuangan jelas dalam posisi yang tidak menguntungkan. Perbandingan 19 kursi dan 31 kursi bukanlah selisih yang kecil. Koalisi 2 partai melawan koalisi 8 partai.

Jika 8 partai pengusung Machfud Arifin – Mujiaman hanya sebatas membubuhkan stempel rekomendasi lalu ‘tidur-tiduran’, PDI Perjuangan bisa bernafas lega. Tetapi jika 8 partai tersebut serius menggerakkan mesin politiknya, PDI Perjuangan bisa-bisa terkepung dan terjepit.

Kepiawaian Machfud Arifin bersama orang-orang kepercayaannya memang patut diacungi jempol. Kerja yang luar biasa.

Tentu tidak mudah meyakinkan 8 partai untuk bersedia memberikan rekomendasi kepada Machfud Arifin. Apalagi terhadap partai-partai yang berbeda-beda latar belakang dan berbeda-beda visi. Dibutuhkan lobi tingkat tinggi sekaligus menguras keringat dingin. Toh Machfud Arifin berhasil melakukannya. Hingga partai yang tersisa tinggal PSI.

Dan lobi politik Machfud Arifin tidak berhenti di wilayah partai. Machfud Arifin dengan getol dan telaten mendatangi organisasi sosial. Sowan ke berbagai tokoh masyarakat Surabaya. Mendatangi banyak sekali pertemuan. Maka, dukungan terhadap Machfud Arifin di Pilwali Surabaya 2020 kian meluas.

Sementara itu, di tataran internal, PDI Perjuangan beberapa kali disibukkan oleh gejolak.

Ketika DPP PDI Perjuangan menunjuk Adi Sutarwiyono untuk menjadi Ketua DPC, awal bulan Juli 2019 lalu, beberapa PAC sempat bergejolak. Mereka sempat memertanyakan keputusan dari DPP.

DPP PDI Perjuangan juga terlihat sulit untuk memutuskan jatuhnya rekomendasi untuk Pilwali Surabaya 2020. Nama Eri Cahyadi – Armuji diputuskan hanya beberapa hari sebelum pendaftaran ke KPU. Padahal di banyak daerah dalam Pilkada Serentak tahun 2020, rekomendasi dari DPP PDI Perjuangan turun lebih cepat.

Terbaru, di awal November 2020 ini, hanya sekitar sebulan sebelum coblosan, beberapa warga Surabaya yang mengaku simpatisan PDI Perjuangan menolak mendukung pasangan Eri Cahyadi – Armuji. Mereka memilih menyeberang ke pasangan Machfud Arifin – Mujiaman.

Beragam gejolak (atau bisa dibilang dinamika) internal PDI Perjuangan ini tentu saja tidak boleh dianggap sepele. Setelah Jakarta, Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia. Sedangkan di Jakarta, calon dari PDI Perjuangan telah kalah. PDI Perjuangan pasti tidak ingin kekalahan di Jakarta menular ke Surabaya.

Maka, PDI Perjuangan perlu melihat situasi secara lebih detail dan mendalam. Berkaca pada waktu yang tidak sampai sebulan, menjelang coblosan 9 Desember 2020, PDI Perjuangan juga butuh terobosan.

Selama ini, kader dan simpatisan PDI Perjuangan dikenal memiliki loyalitas tinggi pada partai. PDI Perjuangan juga memiliki pemilih tradisional yang cukup besar di Surabaya. Ada baiknya DPP PDI Perjuangan menurunkan tokoh-tokoh seniornya ke Surabaya.

Tokoh-tokoh senior yang dihormati dan disegani oleh kader serta simpatisan. Tujuannya untuk memastikan loyalitas kader dan simpatisan. Termasuk pula mengamankan suara dari pemilih tradisional.

Selebihnya, PDI Perjuangan perlu menerjunkan tokoh-tokoh yang memiliki popularitas tinggi ke Surabaya. Tokoh yang mampu menggerakkan suara non pemilih tradisional untuk diarahkan kepada Eri Cahyadi – Armuji.

Strategi lain patut pula dipertimbangkan. Surabaya adalah kota besar. Jumlah pemilih rasionalnya jauh melebihi jumlah pemilih tradisional. Ketepatan strategi bakal berpengaruh besar pada perolehan suara di Pilwali nanti.

Sekali lagi, Pilwali Surabaya 2020 merupakan tantangan besar bagi PDI Perjuangan. Perlu dibuktikan, apakah PDI Perjuangan berhasil mengatasi tantangan ini? Apakah PDI Perjuangan mendapat kepercayaan dari warga untuk kembali menempatkan calonnya sebagai Wali Kota Surabaya? Kita tunggu saja jawabannya pada tanggal 9 Desember 2020 nanti. [but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar