Sorotan

Pilwali Surabaya 2020 (2)

Bagaimana pola pertarungan politik di Pilwali Surabaya 2020? Apakah tetap head to head seperti pada Pilwali 2015 lalu? PDIP tetap sebagai partai terkuat dengan peluang politik terbesar memenangkan kontestasi politik ini. Nilai dan posisi strategis politik Surabaya dalam perspektif elite strategis PDIP sama dengan DI Yogyakarta, Kota Semarang, dan Kota Solo. Keempat kota besar ini memiliki nilai gengsi politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang tinggi.

Memenangkan kontestasi politik Pilwali Surabaya boleh diibaratkan memenangkan setengah pertarungan di Pilgub Jatim. Walaupun hanya memiliki jumlah 2 juta pemilih lebih sedikit, bandingkan dengan Jatim dengan 30 juta pemilih lebih, Surabaya mempunyai kapasitas anggaran besar dibanding dengan kabupaten/kota lain di Jatim.

Pada 2020, nilai APBD Surabaya mencapai Rp 10 triliun lebih. Kalau tak salah, besaran kapasitas budget Surabaya itu hampir sama dengan Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). Provinsi ini baru saja menghantarkan mantan gubernurnya, Syahrul Yasin Limpo (Partai NasDem) sebagai Menteri Pertanian di Kabinet Indonesia Maju.

Pada Pilwali 2010, yang diikuti 5 cawali hasilnya sebagai berikut: Tri Rismaharini (PDIP) dengan raihan 358.187 suara, Arif Afandi (Partai Demokrat) dengan 327.516 suara, Fandi Utomo (PKS) dengan 129.172 suara, BF Sutadi (PKB) dengan 61.648 suara, dan Fitradjaja Purnama (Independen) dengan 53.110 suara. Hasil Pilwali 2010 digugat ke MK. Lembaga ini memutuskan perlunya dilakukan coblos ulang di wilayah bermasalah yakni lima kecamatan dan dua kelurahan, serta penghitungan ulang untuk seluruh hasil perolehan suara di tiap-tiap kecamatan.

Setelah putusan MK dijalankan di lapangan, diperoleh hasil bahwa pasangan Tri Rismaharini-Bambang DH mendapatkan total suara 367.472 (40,9 persen), Di peringkat kedua pasangan Arif Afandi-Adies Kadir dengan 327.834 suara (36,4 persen). Ketiga, Fandi Utomo-Yulius Bustami dengan 105.736 (11,8 persen). Keempat, Sutadi-Mazlan dengan 52.718 suara (5,9 persen), dan terakhir pasangan Fitrajaya-Naen dengan 45.459 suara (5 persen).

Pilwali 2015 berlangsung dengan pola head to head. Posisi politik Wali Kota Rismaharini sangat kuat secara politik. PDIP sebagai parpol pengusung dan pendukung utamanya percaya diri mengusung secara mandiri pasangan Rismaharini-Whisnu Sakti Buana di ajang pertarungan. Kompetitor politik yang dihadapi adalah Dr Rasiyo (mantan Sekdaprov) dan Lucy Kurniasari dengan Partai Demokrat sebagai pengusung utamanya. Dari 2 juta pemilih lebih, pasangan Risma-Whisnu memperoleh dukungan 893.087 suara (86%) dan Rasiyo-Lucy dengan 141.324 suara (13,66%). Tingkat partisipasi pemilih di Pilwali Surabaya 2015 tak sampai 60%.

Kemenangan mutlak Rismaharini-Whisnu di Pilwali 2015 berdampak sampai sekarang. Keduanya menjadi tokoh politik berpengaruh di Kota Pahlawan ini. Whisnu pengaruhnya cukup kuat di jajaran struktural PDIP Surabaya, kendati beberapa bulan lalu namanya tak di-acc DPP untuk memimpin kembali PDIP Surabaya.

Whisnu naik kelas sebagai salah satu wakil ketua PDIP Jatim. Tapi, jaringan politik di akar rumput di PDIP Surabaya belum sepenuhnya tercerabut. Semboyan yang muncul beberapa tempo terakhir, boleh saja Whisnu tak direstui memimpin kembali PDIP Surabaya, tapi harapan besar kader partai ini di akar rumput adalah DPP memberikan green light politik kepada Whisnu macung di Pilwali Surabaya dengan rekomendasi partai ini.

“Angin sejuk ke Whisnu berhembus kembali setelah badai penentuan ketua DPC PDIP Surabaya mengguncang jalan politik Whisnu,” ujar sebuah sumber kepada beritajatim.com. Dengan kepercayaan tinggi, karena loyalitas politik total kepada PDIP dan kepemimpinan Megawati Soekarnoputri di partai ini, faksi Whisnu Sakti tetap memiliki ekspektasi politik tinggi bakal meraih rekomendasi PDIP di Pilwali Surabaya 2020.

Sayap politik lain PDIP yang berkepentingan dengan Pilwali Surabaya 2020 adalah kubu Rismaharini. Naiknya Rismaharini sebagai salah satu ketua DPP PDIP maknanya jelas sebagai promosi politik. Di sisi lain, realitas politik tersebut juga bisa diartikan sebagai ‘pengandangan’ dan proteksi politik terhadap Rismaharini dari kemungkinan intervensi dan rayuan elite dari partai lain menghadapi agenda Pilgub DKI Jakarta dan agenda politik besar lainnya. Sebagai inner circle PDIP, Rismaharini hubungannya makin tak berjarak secara politik, psikologis, dan fisik dengan Megawati, ketua umum, pemegang hak prerogatif, dan pemegang saham politik PDIP.

Lalu apa persamaan dan perbedaan Rismaharini dengan Whisnu Sakti dalam konteks ini? Persamaannya, keduanya kader PDIP dan sama-sama memangku amanat dan penugasan di eksekutif pemerintahan oleh partai ini. Keduanya dekat secara politik dengan Megawati. Keduanya juga memiliki loyalitas politik tinggi kepada PDIP dan Megawati.

Kemudian yang membedakan adalah Rismaharini membangun kedekatan politik dengan PDIP dan Megawati dengan kapasitas manajerial pemerintahan dan legacy kepemimpinannya yang diacungi jempol banyak kalangan di Tanah Air maupun internasional. Sangat teramat banyak penghargaan atau award berlevel internasional yang diterima Pemkot Surabaya selama kepemimpinan Rismaharini. Penghargaan di tingkat nasional tak bisa dihitung dengan jari.

Di sisi lain, Whisnu Sakti membangun kedekatan dan loyalitas politik tinggi kepada PDIP dan kepemimpinan Megawati, karena garis kesejarahan politik yang panjang dan konsisten. Kapasitas politik Whisnu dalam membangun dan mengelola rumah tangga partai banyak diacungi jempol. Dia bukan sekadar pembicara yang baik, tapi sekaligus pendengar yang bisa menyimak dengan sabar dan telaten jerit aspirasi massa bawah.

Ayahnya Whisnu Sakti, Ir Sutjipto, adalah seorang pejuang, ideolog, role model, dan salah satu peletak dasar visi, misi, doktrin, dan platform PDIP selain Megawati. Konstruksi loyalitas karena garis kesejarahan politik ini tak mungkin dilepaskan dari garis nasab Whisnu Sakti. Dalam konteks ini, nasab Whisnu Sakti bisa menentukan nasib politiknya dalam peta kontestasi politik di internal PDIP untuk memperebutkan secarik kertas surat rekomendasi maju Pilwali Surabaya 2020 dari partai ini.

Belajar sejarah dari banyak fenomena di PDIP, selama ini kepemimpinan Megawati sangat menghargai elite dan tokoh partai ini yang memiliki loyalitas politik tinggi di samping kapasitas politik yang mumpuni. [air/bersambung]

Apa Reaksi Anda?

Komentar