Sorotan

Peta Politik Pilkada Kota Surabaya 2020 (4)

Ibnu F Wibowo

Jika di Bagian 1 saya mengulas Papan Atas, lalu di Bagian 2 Papan Tengah, dan Bagian 3 soal Cameo kini saatnya saya memberikan ulasan utama. Laga Penentu Bursa Pilwali Surabaya. Semoga ini akan menjawab alasan dibalik banyaknya nama yang saya ulas sebelumnya.

Disclaimer saya kali ini, ulasan yang dibuat merupakan hasil pandangan saya selama meliput pemberitaan seputar Pilwali Surabaya sejak tahun lalu. Semua tulisan dibuat obyektif tanpa ada tendensi apapun maupun kepentingan siapapun (ini terpaksa harus ditegaskan karena banyaknya pesan yang masuk karena tulisan-tulisan sebelumnya.

Laga Penentu
Dengan hampir pastinya hanya ada dua (tiga jika paslon independen Yasin-Gunawan berhasil memenangkan gugatan) poros di Pilwali Surabaya, bisa dipastikan jika Laga Penentu dari Bursa Pilwali Surabaya adalah turunnya rekom PDIP terkait Pilwali Surabaya. Poros pertama adalah Gerbong Koalisi Besar yang sudah mendeklarasikan dukungan kepada mantan Kapolda Jatim Machfud Arifin dan yang kedua adalah poros PDIP.

Pemilik 15 kursi di DPRD Surabaya dan bisa mengajukan paslon sendiri PDIP menjadi faktor kuat untuk memenangkan Pilwali Surabaya. Partai berlogo moncong banteng ini juga sudah berkuasa di Surabaya sejak medio 2000-an. Bahkan, sudah pernah saya tulis di bagian-bagian sebelumnya, ketika PKB dan Partai Demokrat berhasil mengamankan mayoritas kursi di DPRD Surabaya.

Lantas bagaimana mekanisme di PDIP? Beberapa waktu lalu saya sempat melakukan wawancara dengan DPD PDIP Jawa Timur, mereka mengungkapkan jika proses pemberian rekom dilakukan dengan berbasis penjaringan dan data. Maksudnya, para calon yang mendaftar kemudian dilakukan survey terkait popularitas dan elektabilitasnya. Laporan survey itu kemudian disetorkan ke DPP untuk kemudian Ketua Umum PDIP menentukan pilihan akhirnya.

Mungkin seusai membaca ulasan di atas pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana bisa rekom PDIP menjadi Laga Penentu. Jawabannya bisa beragam. Mari kita ulas beberapa di antaranya.

Pertama, bisik-bisik politis yang saya dengar, rekom PDIP bisa menentukan pergerakan mesin partai lain (termasuk mesin partai Gerbong Koalisi Besar). Kok bisa? Saya mendengar, beberapa elite partai politik mengatakan jika bisa saja atau mungkin mesin partai mereka tidak berjalan optimal jika PDIP menurunkan rekom kepada tokoh tertentu (tidak perlu lah saya sebut nama tokohnya siapa). FYI, pergerakan mesin partai dari seluruh penumpang Gerbong Koalisi Besar secara sangat optimal, menurut salah satu pengamat politik (sekali lagi mohon maaf saya lupa siapa), merupakan salah satu syarat utama untuk bisa mengalahkan hegemoni yang ada saat ini.

Kedua, pemilihan Calon Wakil Wali Kota pendamping Machfud Arifin dari Gerbong Koalisi Besar. Alasannya sederhana, jika kubu itu sudah tahu harus bertarung dengan siapa, maka penentuan lawan yang bisa mengalahkan juga akan bisa lebih mudah. Terkait Calon Wakil Wali Kota kubu ini juga sangat menarik. Begitu banyak partai, maka akan jadi PR yang sangat lumayan berat. Informasi yang saya dengar, Machfud Arifin sudah memiliki kriteria khusus bagi calon pendampingnya. Tidak perlu saya sebut apa kriterianya yang jelas dengan kriteria ini maka peluang beberapa nama yang sudah disetor partai-partai kepada sang Jendral sudah praktis hilang.

Lalu bagaimana dengan soliditas para partai di Gerbong Koalisi Besar terkait pemilihan Wakil Wali Kota untuk Machfud Arifin? Nah ini, hampir semua partai membuat pernyataan terbuka jika mereka memasrahkan pilihan kepada sang Calon Wali Kota. Tapi, benarkah demikian? Ya nggak juga, salah satu elite partai (sudah, nggak perlu penasaran yang mana) berbisik kepada saya. Saya tuliskan saja kalimatnya dalam kutipan.

“Kita memang bilang terserah Mas, tapi kalau nggak cocok ya nanti dulu,” kata elite partai itu. Nah kalau begini bagaimana?

Kembali lagi ke PDIP sebagai lakon di Laga Penentu. Kapan rekom dari PDIP ini turun? Jujur saya menulis ulasan ini sembari tersenyum. Pasalnya, sama seperti Anda, saya juga menunggu itu. Kalau berdasarkan pernyataan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto beberapa waktu lalu, rekom PDIP akan diumumkan dalam 3 tahap. Tahap pertama dan kedua sudah dilakukan. Lalu bagaimana dengan tahap terakhir atau tahap ketiga?

Sempat ada rumor beberapa waktu lalu, sebelum tahap kedua diumumkan jika PDIP memberikan rekom Calon Wali Kota PDIP untuk Whisnu Sakti Buana. Tinggal menentukan Calon Wakil Wali Kotanya. Tapi, Surabaya juga tidak diumumkan pada tahap kedua.

Baru-baru ini, benar-benar baru karena saya tahu di hari Kamis (6/8/2020) ini, PDIP mengungkapkan jika akan segera mengumumkan rekom terkait Pilkada Serentak. Kapan? Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto membocorkan jika akan segera mengumumkan rekom tahap ketiga. Apa termasuk Surabaya? Harusnya sih iya, karena kan rekom hanya diumumkan dalam tiga bagian dan Surabaya juga belum diinformasikan ke publik.

Lalu kapan? Kembali mengacu kepada pernyataan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, akan diumumkan dalam waktu dekat dan segera jelang HUT ke 75 Republik Indonesia. Pernyataan ini sangat bisa dimaknai dalam banyak hal. Waspada, laga penentu bisa terjadi dalam hitungan jam. Bahkan juga hari. Mari menungu bersama saja. [ifw/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar