Sorotan

Peta Politik Pilkada Kabupaten Tuban 2020

M Muthohar, wartawan beritajatim.com yang bertugas di Tuban

Tuban (beritajatim.com) – Meski tahapan Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) di Tuban terus dilakukan, namun hingga saat ini para kandidat masih menunggu rekomendasi dari partai politik (Parpol) pengusung. Padahal waktu pendaftaran pasangan calon (paslon) semakin dekat.

Padahal sebelum pandemi Covid-19 atau akhir 2019, sederet nama sudah terangan-terangan mendeklarasikan diri sebagai bakal Calon Bupati Tuban untuk Pilkada serentak 9 Desember 2020. Para tokoh yang muncul itu multisektor. Mulai politikus, pengusaha, hingga birokrat. Bahkan mereka sudah ikut dalam penjaringan yang dilakukan oleh sejumlah partai politik, seperti PDIP, Nasdem dan Partai Gerindra.

Singkat cerita, seiring dengan adanya keputusan bahwa pelaksanaan Pilkada mundur karena pandemi Covid-19, nama-nama yang sudah muncul itu kembali tiarap. Kemudian, ketika sudah ada keputusan bahwa Pilkada serentak dilaksanakan 9 Desember 2020, akhirnya baru terlihat jelas siapa nama-nama yang masih gigih maju dalam Pilkada serentak.

Adalah Setiajit, salah satu nama yang masih gigih meneruskan pencalonannya dalam Pilkada Tuban. Setiajit dengan latar belakang pejabat pemerintah ini terus turun ke masyarakat untuk memperkenalkan diri menjadi calon Bupati Tuban dalam Pilkada 2020.

Di tengah-tengah persiapan tersebut, tentunya Setiajit tidak akan bisa maju mendaftar sebagai Calon Bupati ke kantor KPU tanpa adanya rekom dari partai politik. Setiajit yang mengklaim dan yakin bisa maju menggunakan kendaraan PDIP itu belum mendapatkan rekom lantaran belum ada partai untuk berkoalisi dan pasangan wakilnya.

Itu karena pada Pemilu 2019 PDIP hanya mendapatkan 5 kursi di DPRD Tuban. Sehingga setidaknnya butuh satu partai dengan jumlah kursi yang sama untuk berkoalisi, supaya bisa mengusung pasangan calon yang akan ditarungkan dalam Pilkada.

Partai apa yang dilirik PDIP Tuban untuk membangun koalisi? Bisa saja dengan Gerindra, atau partai Demokrat yang sama-sama punya lima kursi. Hany saja, lirikan itu tidak akan berbalas. Karena dua partai tersebut masing-masing sudah mempunyai jago sendiri.

Selain Setiajit, ada juga Eko Wahyudi yang merupakan seorang kontraktor. Kiprah politik Eko mulai muncul saat Pilpres (Pemilihan Presiden) kemarin. Saat itu Eko sebagai Ketua Arus Bawah Jokowi (ABJ) di Kabupaten Tuban.

Namun lagi-lagi, maju sebagai calon bupati membutuhkan tiket dari partai. Sama halnnya dengan calon lainnya, rekom dari partai untuk Eko Wahyudi juga masih abu-abu. Meski diakui selama ini Eko intens komunikasi serta lebih dekat dengan partai Gerindra.

Kemudian kandidat yang ketiga adalah Muhammad Anwar, seorang politikus dan juga pengusaha. Ketua DPC Partai Demokrat Tuban itu gentol menyapa masyarakat. Sebagai perkenalan, Anwar juga menyebar ribuan bahkan puluahan ribu baliho besar yang bergambar dirinya. Alat peraga itu ada di semua wilayah kecamatan di Kabupaten Tuban.

Anehnya, meski sebagai ketua partai yang mendapatkan kursi parlemen, rekom untuk Anwar semakin hari juga semakin pudar. Belum jelas partai Demokrat akan berkoalisi dengan partai mana dalam Pilkada Tuban ini. Padahal waktu terus berjalan, pendaftaran calon semakin dekat. Berdasarkan isu-isu yang berkembang, saat ini Partai Demokrat lebih condong akan berkoalisi dengan Partai Golkar.

Muncul Anak Mantan Bupati Haeny Relawati
Kandidat selanjutnya adalah Aditya Halindra Faridzki atau Lindra, politikus muda yang merupakan putra dari mantan Bupati Tuban Haeny Relawati Rini Widyastuti. Lindra baru-baru ini mendeklarasikan dirinya siap menjadi Bupati Tuban.

Tentunnya, sebagai ketua DPD Partai Golkar Tuban Lindra mengaku sudah mendapatkan rekom dari DPP untuk ikut mengembalikan kejayaan Golkar di Bumi Wali. Namun, untuk saat ini Golkar baru memiliki 9 kursi, sehingga masih butuh minimal satu kursi untuk bisa mengusung Lindra dalam perhelatan lima tahunan itu.

Dengan modal 9 kursi, tentunya Golkar masih harus bekerja ekstra untuk mencari partai koalisi. Dari pengalaman Pilkada 2016, Golkar yang saat itu memiliki 7 kursi terpaksa absen mengusung calon. Itu lantaran gagal berkoalisi dengan partai lain menjelang detik-detik akhir pendaftaran di KPU.

Tapi untuk Pilkada tahun ini, Golkar sepertinya tidak mau mengulang sejarah serupa. Golkar sudah sangat yakin akan mendapatkan partai koalisi yang nantinya dijadikan sebagai Wakil Bupati. Dan gambar-gambar Lindra sebagai Calon Bupati yang berpasangan dengan Calon Wakil Bupati seorang pengusaha beras bernama Riyadi sudah banyak beredar di masyarakat.

Dari gambar Lindra berpasangan dengan Riyadi itu yang kemudian menguatkan bahwa Golkar akan berkoalisi dengan Partai Demokrat. Namun, lagi-lagi belum ada rekomendasi maupun deklarasi resmi untuk mengatakan bahwa dua partai itu telah berkoalisi.

Jika memang koalisi antara Golkar dengan Demokrat benar-benar terjadi, itu artinya bisa saja ada kader partai Demokrat yang sudah siap menjadi Calon Bupati akan tereliminasi dari bursa pencalonan di Pilkada Tuban. Tetapi hal tersebut sangat wajar dan sudah biasa dalam perjalanan politik.

Itulah nama-nama kandidat Calon Bupati Tuban dalam Pilkada Tuban 2020 yang terlihat sangat serius berebut rekom partai. Nama-nama tersebut merupakan para calon dari luar partai penguasa yakni PKB yang sudah dua periode menang dalam Pilkada Tuban.

PKB Bermodal 16 Kursi
Dengan memiliki sebanyak 16 kursi di DPRD Tuban, PKB tentunya tidak punya masalah untuk mengusung calon dalam Pilkada 2020. Secara adiminstrasi, PKB bisa mengusung paslon tanpa harus membangun koalisi dengan parpol lain.

Meski sebagai partai penguasa, ternyata permasalahan pelik justru muncul dari internal PKB itu sendiri. Yakni untuk menentukan siapa yang layak untuk mendapatkan rekom partai sebagai calon Bupati Tuban maupun calon wakil bupatinya.

Dari kalangan internal PKB sendiri sudah muncul sederet nama, mulai dari nama Fredy Ardlian Syah, putra mahkota Bupati Tuban Fathul Huda, Khozanah Hidayati yang saat ini sebagai anggota DPRD Jatim, serta Mirza Ali Mansur, pengusaha. Kemudian nama Noor Nahar Hussein, Wakil Bupati Tuban periode sekarang, Miyadi, yang saat ini menjabat ketua DPRD Tuban dan juga Wiwid.

Dari nama-nama tersebut kabarnya sudah mengerucut ke dua nama untuk mendapatkan rekom partai. Namun, lagi-lagi, dari dua nama yang masih belum dibuka ke publik tersebut masih saling berebut untuk posisi siapa bupati dan siapa calonnya.

Tentunya Calon Bupati yang akan diusung oleh PKB akan bepengaruh seru atau tidaknya dalam pertarungan Pilkada Tuban 2020. Sebagai partai penguasa, PKB tentunya bisa saja baru mengumumkan siapa calonnya mendekati waktu pendaftaran Paslon yang dibuka pada tanggal 4-6 September 2020.

Terakhir, melihat konfigurasi perolehan kursi partai politik hasil pemilu 2019, Pilkada Tuban 2020 ini bisa diramaikan dengan jumlah maksimal 4 pasangan calon (Paslon). Karena untuk Calon Bupati dari jalur Perseorangan juga tidak ada yang mendaftar.

Namun berdasarkan prediksi dan melihat realita yang ada tampaknya hanya akan ada 3 Paslon yang akan meramaikan Pilkada Tuban. Hitung-hitungannnya seperti ini, PKB berangkat sendiri mengusung satu Pasangan Calon (Paslon) bisa saja didukung oleh partai-partai kecil.

Kemudian partai Golkar dan Demokrat kalau benar berkoalisi, mampu mengumpulkan 14 kursi dan sudah bisa mengusung calon. Sedangkan pasangan ketiga bisa saja dari koalisi PDIP dengan Gerindra yang sama-sama memiliki 5 kursi di parlemen.

Tapi juga tidak menuntut kemungkinan erindra berkoalisi dengan partai yang tergabung dalam poros perubahan, yaitu PAN dengan 3 kursi dan Nasdem memiliki 2 kursi serta PPP dengan 2 kursi. Dari jumlah itu sudah bisa mengusung satu calon. Jika koalisi ini terjadi maka PDIP justru yang akan ketinggalan kereta, karena hanya tinggal menyisakan PBB, Hanura dan PKS yang masing-masing 1 kursi.

Atau kemungkinan, Gerindra, PDIP dan partai poros perubahan itu bersatu dengan mengusung satu pasangan calon (Paslon). Kita tunggu saja bagaiman partai politik melakukan manuver untuk merebut tahta menjadi pemenang dalam Pilkada Tuban 2020 ini. [mut/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar