Sorotan

Peta Politik Pilkada Kabupaten Sidoarjo 2020

M Ismail, wartawan beritajatim.com yang bertugas di Sidoarjo

Sidoarjo (beritajatim.com) – Pemilihan kepala daerah (Pilkada) Sidoarjo 2020 digelar pada 9 Desember 2020. Namun sampai kini, bakal calon bupati (bacabup) dan bakal calon wakil bupati (bacawabup) yang ada, belum ada yang resmi mengantongi rekomendasi secara paket (bacabup dan bacawabup) dari partai.

Sepertinya pemimpin partai di tingkat pusat, tidak berani gegabah dalam memberikan rekom secara paket. Mereka menunggu dan bahkan mungkin mengintip pasangan calon lain siapa yang akan dimajukan dari partai rivalnya.

Sampai kini dari sejumlah calon, hanya Bambang Haryo Soekartono yang menyatakan sudah mendapatkan rekomendasi dari DPP Partai Gerindra tempat dirinya berpolitik. Itupun masih sebagai calon bupati, belum ada pasangan wakil yang akan digandengnya.

Pilkada Sidoarjo selama ini tak bisa mengandalkan figur cabup saja, namun cawabup yang ada juga harus mumpuni atau bisa mendulang suara. Kultur Sidoarjo, sebagai kota maju penyangga Kota Metropolis (Surabaya), suara kaum tradisional masih menjadi rebutan. Kaum hujau ini adalah suara warga nahdliyyin dan nahdliyyat (kaum lelaki dan perempuan) dari golongan NU. Suara mereka masih menentukan dan tingkatan partispasi dalam pemilu masih tinggi.

Patokannya, cabup dan cawabup yang maju dalam Pilkada Sidoarjo, harus bisa meraih dan merangkul suara kaum hijau yang mendominasi itu. Kendati demikian, tak mengesampingkan suara abangan dan lainnya, seperti kaum moderat yang juga tidak sedikit jumlahnya.

Baliho Bergambar Calon Bertebaran di Pinggir Jalan
Para calon yang muncul dan bertebaran balihonya di banyak ruas jalan di seluruh Sidoarjo menghadapi Pilkada Sidoarjo 2020 banyak jumlahnya. Mereka berlatar belakang berbeda. Ada yang politisi dan ada yang tidak. Ada calon yang kelahiran dari Sidoarjo, juga ada yang dari luar Sidoarjo. Kesemuanya memiliki misi dan visi ingin lebih memajukan dan memakmurkan Sidoarjo.

Para calon itu, antara lain, H. Achmad Amir Aslichin (anggota DPRD Jatim dari PKB sekarang), H. Ahmad Muhdlor (putra ke-6 KH Agoes Ali Masyhuri), H. Nur Ahmad Saifuddin (Wakil/Plt Bupati Sidoarjo sekarang), H. Kelana Aprilianto (pengusaha/kader terbaik Hanura Jawa Timur), Bambang Haryo Soekartono (mantan anggota DPR RI dari Partai Gerindra) dan H. Bahrul Amig (Kadishub Kab. Sidoarjo aktif).

Namun demikian, kesemuanya belum ada yang resmi mencalonkan diri secara berpasangan, karena mereka belum mengantongi rekomendasi resmi dari partai. Padahal masyarakat juga ingin segera tahu siapa calon yang akan menjadi pemimpinnya selama lima tahun ke depan.

Dalam peta politik, Sidoarjo dikuasai oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Partai berlambang bola dunia ini yang memperoleh 16 kursi di DPRD. Dari jumlah kursi itu, PKB menjadi satu-satunya partai yang bisa memberangkatkan calon tanpa membutuhkam koalisi. Sedangkan partai di luar PKB, jumlah kursinya di bawah 10. Dengan kata lain mereka tidak bisa mengusung calon secara mandiri.

Seperti PDI Perjuangan, memperoleh 9 kursi. Agar bisa mengusung calon dalam Pilkada, partai bergambar banteng bulat ini harus berkoalisi satu kursi dengan partai lain. Sementara Partai Gerindra memperoleh 7 kursi di DPRD Sidoarjo pada pemilu lalu. Artinya masih butuh tiga kursi lagi bisa mengusung kandidat agar bisa ikut kontestasi dalam Pilkada Sidoarjo 2020.

Partai Amanat Nasional (PAN) 5 kursi, Partai Golkar mendapatkan 4 kursi, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 4 kursi, Partai NasDem 2 kursi, Partai Demokrat 2 kursi dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 1 Kursi.

Selama 2 kali Pilkada Sidoarjo sebelumnya, yakni 2010 dan 2015, calon yang diusung PKB selalu memenangkan kontestasi. Begitu juga dalam Pileg 2014 dan 2019. Kursi PKB di DPRD Sidoarjo unggul dibanding partai lainnya. Artinya suara kaum hijau masih sangat menentukan. Partisipasinya dalam pemilu tidak boleh diremehkan.

Kader PKB Bermunculan
Namun sayang, suara PKB yang besar, tidak dibarengi dengan kesolidan antar kader. Dari beberapa kandidat yang meramaikan bursa Pilkada Sidoarjo 2020, tercatat paling banyak adalah kader PKB. Sebut saja H. Achmad Amir Aslichin politisi PKB yang duduk di DPRD Jatim 2019-2024. Kemudian H. Nur Ahmad Saifuddin, dalam struktur menjabat Wakil Ketua DPC PKB, dan H. Ahmad Muhdlor Ali. Hanya saja, dari semua nama, belum ada yang mendapat rekom dari DPP PKB.

Dalam Pilkada Sidoarjo, yang menarik disimak adalah para calon yang PKB yang mengklaim dapat tugas atau mendapatkan amanah dalam pencalonan masing-masing. Jika sampai rekomendasi turun dan tidak sepaham dengan kubu lain, maka perpecahan suara sangat mungkin terjadi.

Wakil Ketua DPC PKB Sidoarjo H. Usman menyatakan tokoh dari PKB yang dinilai pantas menjadi kandidat dalam pilkada mendatang cukup banyak. Forum PAC se-Sidoarjo sudah menyodorkan empat nama ke DPP PKB sebagai bakal calon bupati dan wakil bupati. Ada H. Achmad Amir Aslichin, H. Nur Ahmad Saifuddin, H. Sullamul Hadi Nurmawan, dan Anik Maslachah.

Muslimat dan Fatayat juga sudah punya figur, semisal Hj. Ainun Jariyah, sebagai calon wakil bupati yang juga diusung PKB. Dengan banyaknya kader potensial itu, PKB akan mengusung cabup sekaligus cawabupnya dan bisa menang. “Tidak ada alasan kita berkoalisi, apalagi untuk cawabup. Bu Ainun Jariyah juga siap,” katanya.

H. Achmad Amir Aslichin atau Mas Iin cocok diusung bersama Ainun. Itu menyikapi usul dari Muslimat. Kecocokan itu, menurut Usman, disebabkan karena sebagian besar pengurus DPC PKB ingin memunculkan pasangan calon keduanya dari PKB.

Alasan lainnya, figur lain sudah memilih pasangan sebagai wakil. Misalnya H. Nur Achmad Saifuddin sudah menentukan pilihan dengan Mimik Idayana (politisi Gerindra). Sementara itu, H. Sullamul Hadi Nurmawan (Gus Wawan) belum menyampaikan keputusan.

Sementara sisi lain, ada kabar yang santer adalah rencana duet H. Ahmad Muhdlor Ali dan H. Subandi sebagai satu paket calon bupati dan calon wakil bupati Sidoarjo dari PKB. Bahkan banyak gambar dua sosok tersebut didampingkan dengan foto Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) H. Ahmad Muhaimin Iskandar.

H. Subandi adalah Ketua Komisi A DPRD Sidoarjo dari PKB. Sosoknya dikenal sebagai mantan Kades Pabean, Sedati, yang meraih suara tertinggi pada Pemilu 2019. Subandi juga membenarkan ikhtiarnya untuk maju sebagai calon wakil bupati. Dia terpanggil untuk menata perubahan di Sidoarjo. “Ada banyak yang mendukung agar pengabdian kami bisa lebih luas,” jawabnya kepada wartawan.

Subandi mengakui lebih sreg berpasangan dengan Ahmad Muhdlor Ali alias Gus Muhdlor. “Visi-misi Gus Muhdlor cocok dengan saya. Kita akan saling bekerja sama,” tukasnya.

Beberapa hari terakhir muncul kabar bahwa H. Achmad Muhdlor Ali (Gus Muhdlor) dan H. Subandi mendapatkan surat tugas dari DPP PKB untuk maju di Pilkada Sidaorjo. Menanggapi adanya desas-desus tersebut, Sekretaris DPC PKB Sidoarjo Abdillah Nasih menyangkalnya.

Menurutnya Ketua Fraksi PKB DPRD Sidoarjo itu, sampai saat ini belum ada surat apapun dari DPP PKB. Kalau memang ada surat tugas dari DPP PKB sudah pasti ada tembusan ke DPC PKB Sidoarjo. “Semua surat-surat dari DPP, kalau ada sudah pasti ditujukan dan ditembuskan ke DPC,” tegasnya.

H. Nur Ahmad Saifuddin, Plt Bupati Sidoarjo yang juga bersiap maju dalam Pemilihan Bupati Sidoarjo mengaku optimistis bisa mendapat rekom dari PKB. Dirinya sejak beberapa waktu lalu sudah menegaskan bakal maju lewat PKB. Namun, dia menggandeng pasangan dari partai lain, yakni Mimik Idayana, anggota DPRD Sidoarjo dari Partai Gerindra. “Sebagai kader partai, tentu kami optimistis. Namun kita tidak boleh ambisius,” ujar Cak Nur.

Sisi lain, PDI Perjuangan juga belum mengeluarkan rekomendasi untuk cabup dan cawabup yang akan ditampilkan dalam Pilkada Sidoarjo 2020. DPP PDI Perjuangan sepertinya akan mengeluarkan rekom sesudah partai lain menurunkan rekom.

Dalam Pilkada Sidoarjo 2020, konon PDI Perjuangan ingin memanfaatkan situasi, yakni keretakan perahu di kubu partai sebelah yang saling klaim dapat rekomendasi dari pusat. PDI Perjuangan juga masih melirik, menguping siapa calon sebelah. Setelahnya, rekom dikeluarkan.

Di DPC PDI Perjuangan sendiri, panitia penjaringan cabup cawabup Pilkada Sidoarjo 2020, ada sejumlah nama yang mendaftar. Diantaranya, H. Kelana Aprilianto dan H. Bahrul Amig. Samsul Hadi Sekretaris DPC PDI Perjuangan Sidoarjo menyampaikan, nama yang akan direkom PDI Perjuangan sudah ada di DPP. “Terkait Rekom di Sidoarjo, semua menunggu keputusan DPP,” tandas Syamsul.

Nama M. Bahrul Amig sebagai calon bupati dari PDIP semakin santer disebut sebagai figur yang layak memimpin Sidoarjo mendatang. Dia adalah birokrat yang berpengalaman. Amig yakin rekomendasi dari PDIP segera turun. Diperkirakan awal Agustus ini. Partai koalisinya adalah PPP.

“Lewat PDIP dan PPP. Yakni 9 kursi dari PDIP dan 1 kursi dari PPP, sudah bisa mengambil tiket sebagai kontestan Pilkada Sidoarjo 2020,” kata Amig.

Pria yang bergelar doktor administrasi negara itu tidak mempermasalahkan adanya klaim bahwa PPP merapat ke Bambang Haryo Sukartono. Toh Forum Komunikasi PAC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) se-Kabupaten Sidoarjo menegaskan tekad bulat mendukung Bahrul Amig berkoalisi dengan PDIP.

Bahkan, forum ini mengaku sudah mengirimkan surat pernyataan dukungan tersebut kepada DPC PPP Sidoarjo pada 10 Juli. Surat itu bisa menjadi pertimbangan partai dalam merekomendasikan cabup. “Sosok Bahrul Amig, sudah sangat pantas memimpin Sidoarjo,” sebut Supeno yang juga Ketua PAC PPP Sedati.

Sejauh ini, satu-satunya Bacabup Sidoarjo yang sudah mendapatkan rekomendasi hanya Bambang Haryo Soekartono. Bambang Haryo mendapat rekom dari DPP Partai Gerindra dan ditunjukkan Rabu (22/7/2020) di Jakarta.

Selain Partai Gerindra, Bambang Haryo juga mendapatkan dukungan dari Partai Golkar. “Kami akan dukung Pak Bambang Haryo,” kata Ketua DPD Partai Golkar Sidoarjo Warih Andono.

Bambang Haryo yang bukan penduduk Sidoarjo, informasinya bakal mencari figur dari Sidoarjo yang mumpuni dan bisa mendulang suara. Selain dari suara partai, wakilnya diharapkan bisa menyumbangkan suara banyak dari ketokohan orang yang dipilihnya.

Di internal Partai Gerindra ada yang menyebut, di antara yang dilirik oleh Bambang Haryo adalah M. Zainal Abidin, mantan Ketua KPUD Sidoarjo. Ada juga nama H. Mustain Baladan mantan Kadiknas Kab Sidoarjo. Tak sedikit tokoh-tokoh masyarakat di Sidoarjo yang mendukung untuk bergandengan dengan H. Mustain Baladan tersebut.

“Bambang Haryo bisa meraih suara dari partai, sedangkan Pak Tain bisa menyumbang atau diandalkan dapat suara suara orang-orang hijau atau kalangan NU dan Muslimat,” sebut H. Shoumu, tomas (tokoh masyarakat) dari Kecamatan Waru.

Tak Ada Calon Perseorangan
Sementara itu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sidoarjo mengatakan, pendaftar pasangan calon perseorangan dinyatakan gugur. Sebab, sampai batas waktu Senin malam (27/7/2020), pasangan calon independen Agung Sudiyono dan Sugeng Hariyadi tak kunjung menyerahkan kelengkapan berkas dukungan.

Komisioner KPU Sidoarjo Divisi Teknis Penyelenggaraan Miftakul Rohmah menyatakan, syarat minimal dukungan (sarminduk) bakal pasangan calon (bapaslon) perseorangan adalah 90.843 dukungan. Namun, yang disetor Agung dan Sugeng hanya 70.457 dukungan. “Itu pun tak semua lolos. Total kekurangan 62.993 dukungan,” jelasnya.

Kekurangan sebenarnya boleh diperbaiki hingga 27 Juli. Namun, syaratnya, setoran perbaikan dua kali lipat dari total kekurangan. Yakni, 125.986 dukungan. Mifta mengaku mendapatkan pesan pribadi via WhatsApp dari Agung. Isinya, calon independen itu tidak melanjutkan perbaikan berkas dukungan.

“Bagi kami, tidak ada istilah pengunduran. Tahapan pilkada tetap berjalan. Jika perbaikan dukungan tak diserahkan, ya itu hak si calon,” ucapnya.

Persiapan Pilkada Sidoarjo 2020 akan memasuki tahap pendaftaran pasangan calon bupati dan wakil bupati dari jalur partai politik. Pendaftaran dilakukan pada 4–6 September 2020. [isa/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar