Sorotan

Peta Politik Pilkada Kabupaten Kediri

Nanang Masyhari

Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kediri bakal dihelat pada 9 Desember 2020 mendatang. Tiga tahapan yang sempat ditunda akibat bencana non alam covid-19, telah mulai digulirkan kembali.

Pelantikan Panitia Pemungutan Suara (PPS), Pembentukan Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP), serta Penyusunan dan Pemutakhiran Data Pemilih dilaksanakan dengan menggunakan protokol kesehatan.

Langkah itu ditempuh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten untuk mencegah dan meminimalisasir penyebaran covid-19 di lingkungan KPU dan masyarakat Kabupaten Kediri.

Seiring dengan bergulirnya kembali pentahapan di KPU, kandidat bakal calon juga memulai kembali safari politiknya. Waktu efektif selama empat bulan tidak akan disia-siakan untuk merembut simpati 1,3 juta pemilih.

Dari sederetan nama yang sebelumnya pernah muncul ke permukaan, baru dua orang yang mengambil start lebih awal. Mereka, putra Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Hanindhito Himawan Pramono dan Ketua Fatayat NU Kabupaten Kediri, Dewi Maria Ulfa.

Gambar keduanya menghiasi sudut-sudut jalan Kediri. Keduanya juga melakukan agenda turba alias turun ke bawah untuk meraih simpati masyarakat. Berbagai program ditawarkan kepada publik Kediri.

Memperoleh restu PDI Perjuangan, Hanindhito Pramono memilih pasangannya Dewi dari PKB. Koalisi dua partai politik berbasis Nasionalis dan Agama, lebih dari cukup untuk mengantarkan kedua pasangan milenial tersebut daftar ke KPU.

PDI Perjuangan menjadi partai pemenang Pemilu 2019. Di Kabupaten Kediri, partai yang sukses mengantarkan Joko Widodo (Jokowi) menduduki kursi tertinggi di Republik dua pereode itu pemilik kursi terbanyak.

PDI Perjuangan meraup 15 kursi legislatif. Sementara PKB dibawahnya, sembilan kursi. Sehingga totalnya sebanyak 24 kursi di parlemen. Padahal, syarat minimal pencalonan dari jalur partai politik yang ditentukan oleh KPU hanya sebesar 10 kursi.

Pada awal pentahapan, nama Mas Dhito (Hanindhito Pramono) dan Mbak Dewi memang tidaklah diperhitungkan oleh para pelaku politik di Bumi Panji Kediri. Lantaran, keduanya tidak muncul dalam proses penjaringan yang dilakukan oleh partai politik di tingkat Kabupaten Kediri.

Ada empat parpol yang membuka penjaringan. Pertama PDI Perjuangan. Kemudian Partai Golkar, Partai Gerindra dan terakhir Partai NasDem. Belasan nama kandidat yang didominasi oleh produk lokal mencoba peruntungan.

Proses penjaringan yang semula berjalan dinamis, kemudian berubah. Munculnya Mas Dhito menjadi faktor utama. Puncaknya, setelah PDI Perjuangan mengumumkan rekomendasi untuk pria berusia 28 tahun tersebut, pada 17 Juli 2020 lalu.

Dhito seolah menjadi magnet bagi partai lain untuk masuk dalam gerbong koalisi besar. Sedikitnya, ada tiga partai besar yang semula mengadakan penjaringan akhirnya memilih bergabung yaitu, Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai NasDem dan PAN.

Koalisi besar itu merebut sekitar 90 persen suara partai atau sekurangnya 44 kursi DPRD. Sehingga hanya menyisakan enam kursi. (PPP, PKS, dan Partai Demokrat).

Lahirnya poros koalisi pendukung Mas Dhito dan Mbak Dewi tidak terlepas dari nama besar Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Politisi senior PDI Perjuangan yang kini menduduki jabatan penting di Kabinet Presiden Jokowi.

Pria kelahiran, 11 Juni 1963 itu diyakini oleh banyak pihak sebagai ‘motor penggeraknya’. Strategi politik yang dijalankan, seolah membuat dinasti Sutrisno yang telah berkuasa selama 20 tahun di Kabupaten Kediri ‘mati kutu’.

Sutrisno menjadi Bupati Kediri selama dua pereode (2000-2010). Tongkat estafet kemimpinan kemudian jatuh ke tangan istrinya, Haryanti melalui proses demokrasi pemilihan (2010-2020). Sutrisno yang tidak bisa mencalonkan diri, kemudian mendukung pasangan Mujahid dengan Eko Ediono.

Mujahid seorang birokrat. Jabatan terakhir sebelum pensiun dini, sebagai Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Kediri. Selain itu, Mujahid juga pemilik sebuah lembaga pendidikan agama (madrasah).

Sedangkan Eko Ediono adalah praktisi pendidikan. Eko masih kerabat dari Sutrisno. Ia juga menduduki jabatan penting di Tim Pertimbangan Percepatan Pembangunan (TP3) bersama suami Bupati Kediri itu.

Pasangan Mujahid – Eko, sebenarnya memiliki kans paling besar. Meskipun, tak jarang yang meragukan mereka, setelah munculnya ‘aksi borong’ partai dalam koalisi besar PDI Perjuangan.

Bila melihat ke belakang, Mujahid – Eko telah mengikuti proses penjaringan di sejumlah partai politik. PDI Perjuangan paling utama. Partai yang telah membesarkan nama Sutrisno, meskipun akhirnya ditinggalkan karena alasan regenerasi.

Kemudian Partai Gerindra dan Partai Golkar. Proses tersebut memang belum berakhir. Terutama di Partai Gerindra. Belakangan beredar foto penyerahan rekomendasi dari partai berlambang Kepala Burung Garuda itu kepada Mas Dhito, namun pihak DPC Partai Gerindra Kabupaten Kediri mengaku belum menerima bentuk fisiknya.

Disisi lain, pasangan Mujahid – Eko sepertinya tidak pantang menyerah. Buktinya, mereka kembali memasang alat peraga baru. Poster bergambar keduanya dapat dijumpai di daerah-daerah pinggiran Kabupaten Kediri bagian selatan seperti, Kecamatan Kras dan Mojo.

Mujahid – Eko memperbaharui alat peraganya. Apabila sebelumnya terdapat tiga orang dalam satu poster (Mujahid – Eko dan Sutrisno), kini hanya ada foto keduanya. Foto Sutrisno yang berada di antara keduanya, mengisyaratkan seolah memperlihatkan calonnya.

Fenomena Bumbung Kosong

Lahirnya poros koalisi partai besar yang dimotori oleh PDI Perjuangan berpotensi melahirkan calon tunggal dalam Pilkada Kabupaten Kediri Tahun 2020. Itu ditandai dengan kecenderungan partai politik dalam mendukung pasangan Hanindhito Himawan Pramono dengan Dewi Maria Ulfa.

Dengan merebut sekitar 90 persen kursi di parlemen, tentunya pasangan Mas Dhito – Mbak Dewi dimungkinkan hanya akan melawan kotak kosong alias bumbung kosong. Mengingat, dari jalur perseorangan tidak ada calon yang lolos.

Ada tiga pelamar jalur independen tersebut. Pasangan Rahmad Mahmudi – Khalid Suharto, Subani – Burhanuddin dan Joko Riyanto – Edi Purnomo. Hingga akhir masa pendaftaran, tidak ada yang sanggup memenuhi syarat dukungan sebanyak 79.715 tersebar pada 14 kecamatan. Bahkan, mereka akhirnya menyatakan mengundurkan diri.

Bila ‘skema’ bumbung kosong benar terjadi, sulung Sekretaris Kabinet Pramono Anung itu tetap tidak boleh terlena. Mengingat untuk mendapat 50+1 persen suara masyarakat Kabupaten Kediri, bukan persoalan yang gampang.

Butuh program-program strategis untuk mendekati masyarakat. Kemudian dikolaborasikan dengan strategi pemenangan yang tepat. Menggerakan mesin partai politik dan pelibatan seluruh elemen penting.

Yang perlu menjadi catatan khusus bagi pasangan Dhito dan Dewi. Kendati sah secara aturan, tetapi skema calon tunggal melawan bumbung kosong dalam Pilkada Kabupaten Kediri kini mulai menemui riak-riak penolakan.

Sebagian dari kalangan pegiat LSM dan ormas tegas menolak dengan alasan telah menciderai sistem demokrasi. Gelombang penolakan juga datang dari Aliansi Partai Politik Non Parlemen. Bermodal 40 ribu suara Pemilu 2019, mereka bahkan siap untuk melakukan kampanye pemenangan untuk bumbung kosong.

Apabila gerakan tersebut disuarakan secara terus menerus dan massive tentu bakal merepotkan langkah Dhito dan Dewi. Oleh karena itu, dibutuhkan keseriusan dalam memperjuangkan kemajuan dan kemakmuran masyarakat di Kabupaten Kediri yang menjadi kunci utama bagi mereka merebut hati 1,3 juta rakyat.

Agenda turba yang selama ini dijalankan, diharapkan dapat memotret persoalan masyarakat hingga mendasar. Sehingga mereka dapat mencarikan solusi tepat dan memenangkan kontestasi pemilihan, sebagaimana jargonnya ‘Kediri Menang’. [nng/but]

Penjaringan PDI Perjuangan

1. H. Masykuri Ikhsan (Wakil Bupati Kediri).
2. Adi Suwono (pengusaha)
3. Habib (notaris).
4. Saifudin (kader PDIP)
5. Drs. H. Mujahid, MM (Mantan Kepala Bakesbangpol Kabupaten Kediri).
6. Sapta Andaruisworo (Mantan Komisioner KPU kabupaten Kediri).
7. Subani (mantan guru)
8. HM. Ridwan (Pengurus MWC NU Kecamatan Kandat).
9. Marjoko (Kader PDIP)
10. dr. Sukma Sahadewa (profesional)
11. Eko Edyono (TP3 Kabupaten Kediri)
12. Endah Sricahyani Sucipto (FITRA).

Penjaringan Partai Gerindra

1. Subani Surya Atmojo (mantan guru).
2. Insaf Budi Wibowo (pengusaha).
3. dr. Sukma Sahadewa (profesional).
4. HM Ridwan (Pengurus MWC NU Kecamatan Kandat).
5. H. Masykuri Ikhsan (Wakil Bupati Kediri).
6. Mujahid (Mantan Kepala Bakesbangpol Kabupaten Kediri).
7. Rahmat Mahmudi (Presiden GR MKLB).
9. Tjetjep Mohammad Yasien (aktivis).
10. Supadi (Kepala Desa Tarokan).

Penjaringan Partai NasDem

1. H Masykuri Ikhsan (Wakil Bupati Kediri).
2. HM Ridwan (Pengurus MWC NU Kecamatan Kandat).
3. HM Insaf Budi Wibowo (pengusaha).
4. Tjutjuk Sunario (Wakil Ketua DPD Gerindra Jawa Timur)
5. Arif Wijaya (Wiraswasta).
6. Subani (mantan guru)

Penjaringan Partai Golkar

1. HM. Ridwan
2. Dini Setyoningsih (pengusaha).
3. Ir. HM. Insaf Budi Wibowo, SH. (pengusaha).
4. Drs. H. Mujahid, MM- H. Eko Ediyono
5. M.Si, Drs. H. Masykuri, MM (wakil Bupati Kediri).
6. Hj. Yekti Murih Wiyati (pengusaha perempuan).
7. Dr. Sukma Sahadewa (profesional).
8. M. Zaini Fuad, SE.

Bakal Calon Jalur Perseorangan Gagal

1. Rahmat Mahmudi – Khalid Suharto
2. Subani – Burhanuddin.
3. Joko Riyanto – Edi Purnomo.

Kursi DPRD Kabupaten Kediri (50).

1. PDI Perjuangan 15 kursi.
2. PKB 9 kursi.
3. Partai Gerindra 5 kursi
4. Partai Golkar 6 kursi.
5. Partai NasDem 4 kursi.
6. PKS 1 kursi.
7. PPP 2 kursi.
8. PAN 5 kursi.
9. Partai Demokrat 3 kursi.





Apa Reaksi Anda?

Komentar