Sorotan

Saling Berebut Suara Nahdliyin

Peta Politik Pilkada Kabupaten Gresik 2020

Deni Ali Setiono

Perhelatan pemilihan kepala daerah (Pilkada) Gresik memang masih kurang enam bulan. Tepatnya, Desember 2020. Kendati masih ada pandemi Covid-19, tahapan pesta demokrasi yang digelar serentak itu tetap berlangsung. Ada dua pasangan calon (Paslon) yang bakal running sudah muncul di perbincangan publik.

Kedua paslon itu, antara lain petahana yang saat ini menjabat Wakil Bupati (Wabup) Gresik, Cabup Moh Qosim yang berpasangan dengan Wakil Ketua DPRD Gresik, Cawabup dr Asluchul Alief. Pasangan ini didukung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

Mereka bakal bertarung dengan Ketua DPRD Gresik Cabup H Fandi Akhmad Yani (Gus Yani) yang berpasangan dengan Cawabup Hj. Siti Aminatun Habibah (Ning Min). Pasangan ini didukung enam partai politik (parpol) koalisi. Yakni, Partai Golkar, Demokrat, PPP, PAN, Nasdem, dan PDIP.

Lalu, ke mana arah suara Nahdliyin? Pertanyaan ini sangat menggelitik. Pasalnya, sejak pilkada 2004 dilakukan secara langsung, suara Nahdliyin selalu menjadi perebutan kursi pemerintahan. Baik itu tingkat pusat maupun daerah.

Keberadaan suara Nahdlatul Ulama (NU) ini sering menjadi kunci kemenangan dalam berbagai kontestasi politik di negeri ini. Termasuk Pilkada Gresik. Jika melihat ke belakang, lima tahun lalu, suara Nahdliyin berperan besar menempatkan pasangan Bupati Sambari Halim Radianto dan Wabup Moh.Qosim memimpin Gresik kedua kalinya.

Pada Pilkada Gresik pada 9 Desember tahun 2015 lalu, pasangan Sambari Halim Radianto-Moh.Qosim (SQ) mampu meraup 447.751 suara. Pasangan lainnya Khusnul Huluq-Ahmad Rubaie (Berkah) hanya mendapat 175.449 suara. Pasangan Ahmad Nurhamim-Junaidi (Arjuna) memperoleh 10.629 suara.

Kemenangan itu tak lepas dari pengaruh NU sebagai organisasi massa Islam terbesar yang memiliki kantong massa di Gresik. Tidak hanya itu, organisasi keagamaan itu paling solid mulai dari tingkat desa, hingga kecamatan. Jejak tersebut dimungkinkan berlanjut dalam Pilkada serentak 2020 di Jawa Timur (Jatim). Sebab, NU dan PKB memiliki sejarah yang lekat.

Hal tersebut dilakukan Sambari Halim Radianto. Demi memperoleh suara yang sangat signifikan, Sambari rela melepas ‘baju kuningnya’ (Golkar) menyeberang ke PKB. Strategi tersebut berhasil membawa kemenangan keduanya bersama M.Qosim. Padahal, saat itu pada pemilihan legislatif (Pileg) 2015, Partai Golkar mampu menguasai parlemen dengan memperoleh 12 kursi.

Bagi Sambari, dirinya mendaftar melalui PKB sudah diprediksi. Pasalnya, jika tetap memaksa melalui Partai Golkar, suaranya mungkin tidak maksimal di Pilkada Gresik. Saat itu, PKB yang hanya memperoleh 9 kursi di pileg bakal memanasi mesin politiknya untuk membalas di pilkada. Apalagi, lawan beratnya pasangan Berkah (Bersama Husnul Khuluq-Achmad Rubaie) di belakang layar didukung oleh mantan Bupati Gresik, KH. Robbach Ma’sum serta H.Nadir mantan Ketua DPRD yang notabene pernah menjadi pengurus PCNU dan DPC PKB Gresik.

Dinamika politik tersebut akan terulang di Pilkada Gresik 2020. Dua pasangan calon yakni M.Qosim-Asluchul Alief (QA) dan Gus Yani-Ning Min (NIAT) bakal bertarung habis-habisan merebutkan suara Nadliyin guna mendongkrak suara.

Cukupkah menggandeng suara NU saja? Bagaimana dengan suara diluar NU? Hal inilah yang patut ditunggu di Pilkada Gresik 2020.

Pengamat Politik asal Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof Dr Suparto Wijoyo menuturkan Pilkada Gresik adalah bagian dari pesta Nadhliyin. Sebab, dua pasangan calon yang maju semuanya dari basis unsur NU. Jadi di Pilkada mendatang merupakan demokrasinya orang Nadhliyin.

“Dua pasangan calon yang maju berangkatnya dari NU. M.Qosim orang nadhliyin pasangannya dr Asluchul Alief merupakan Bendara GP Ansor Gresik yang notabene Banom-nya NU. Sama halnya dengan Gus Yani yang merupakan menantu dari pengasuh dari Ponpes Bumi Sholawat Sidoarjo. Sama juga dengan Hj Aminatun Habibah (Ning Min) yang merupakan keluarga dari Ponpes Qomaruddin Bungah, Gresik,” tuturnya saat dihubungi beritajatim.com, Jumat (31/07/2020).

Karena yang berangkat di Pilkada Gresik orang Nadhliyin, kata Suparto Wijoyo, maka untuk menarik simpati masyarakat harus siap beradu gagasan serta konsep yang terbaik. Sebab, Gresik terkenal dengan ikonnya kota santri.

Jangan sampai dicap sebagai kota agamis dan wali tapi masih banyak tempat warung remang-remang yang menjajakan tempat seksualitas. Nah, dari situ diharapkan para calon Cabup dan Cawabup Gresik punya program yang bisa diadu.

“Soal kepastian peluang kedua calon tersebut dalam memenangkan Pilkada Gresik, yang jelas dalam pilkada tersebut, kekuatannya adalah figur dan partai. Siapa yang bisa me-manage otomatis bisa mendulang suara,” ungkapnya.

Para patron Nahdliyin dan pondok pesantren juga menjadi kekuatan suara pada Pilkada Gresik nanti. Meski mereka tak berpolitik praktis, hak politik mereka sama dengan warga lainnya.

Peta inilah yang menjadi seksi di mata parpol di Kabupaten Gresik. Walau Nahdliyin tersebar di berbagai organisasi maupun parpol itu sendiri, peran para kiai dan pondok pesantren tak mungkin diabaikan.

Berkaca pada Pileg 2019. PKB Gresik kembali menjadi kontestan pemenangnya dengan meraup 13 suara. Disusul Partai Gerindra memperoleh 8 suara. Partai Golkar 8 suara, PDIP 6 suara, Nasdem 5 suara, Demokrat suara, PPP 3 suara, dan PAN 3 suara.

Dari parameter itu, kantong Nadhliyin tetap menjadi rebutan. Sementara di tubuh PKB Gresik diprediksi terpecah. Sebab, ada dua orang kandidat dari unsur partai yang maju. Kendati memperebutkan suara Nahdliyin, tak semudah membalikan tangan. Dibutuhkan kemahiran menaklukkan hati para patron dan pondok pesantren oleh para calon yang diusung parpol.

Kontelasi politik itulah yang membuat parpol yang mengusung calonnya maju di Pilkada Gresik 2020 gencar mendekatkan diri dengan NU dalam berbagai kegiatan. Tak hanya di tubuh NU, kegiatan di ponpes juga bakal didekati secara politis. Hal ini karena para pengasuh ponpes memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap para pemilih.

Dengan kata lain, suara Nahdliyin memang ditentukan nantinya pada sosok calon yang diusung dan kemampuan mesin parpol dalam merangkul hati para kiai dan pondok pesantren. Sedangkan warga NU yang tersebar di berbagai parpol lainnya pun tentunya akan menyamakan pilihannya dengan berkoalisi pada nantinya. [dny/but]

Jumlah Kursi DPRD Gresik Periode 2019-2024:

1. Partai Kebangkitan Bangsa: 13
2. Partai Gerindra: 8 kursi
3. Partai Golkar: 8 kursi
4. PDIP: 6 kursi
5. Nasdem: 5 kursi
6. Partai Demokrat: 4 kursi
7. PPP: 3 kursi
8. PAN: 3 kursi





Apa Reaksi Anda?

Komentar