Sorotan

Pesta Setelah Kekalahan

Bagaimana membangun keyakinan dari sebuah kekalahan? Mungkin dengan sebuah pesta natal yang nyaris batal karena semua orang murung dan muram.

Minggu, 20 Desember 2015. Sebiji gol Nathan Ake dan dua gol Odion Ighalo tak mampu dibalas oleh Liverpool di Stadion Vicarage Road. Pasukan Jurgen Klopp kalah 0-3 dan terlempar ke peringkat 9 Liga Promer Inggris.

Tak ada yang cukup bernyali mengadakan pesta di Hotel Formby Hall, sampai kemudian Jurgen Klopp meraih mikrofon dan membuat maklumat yang tak boleh dibantah. “Kita semua kecewa. Tapi Pertandingan sudah berakhir sekarang. Sekarang, ini prioritas kita. Saya tidak peduli kalian minum atau tidak, tapi tak boleh ada yang meninggalkan tempat ini sebelum jam satu dini hari. Apapun yang kita lakukan bersama, akan kita lakukan sebaik yang kita bisa – dan malam ini itu artinya kita berpesta.”

Saat datang ke Anfield menggantikan Brendan Rodgers pada medio Oktober 2015, Klopp menyebut dirinya hanya orang normal biasa. Tak ada yang spesial. Namun orang banyak berharap. Catatan kepelatihannya tak panjang: hanya pernah melatih Mainz 05 dan Borussia Dortmund. Dia juga bukan Pep Guardiola yang bergelimang gelar di Barcelona dan Bayern Munchen sebelum akhirnya melatih Manchester City.

Catatan Klopp saat jadi pemain juga tak istimewa. “Saya punya bakat untuk bermain di divisi kelima dan isi kepala Bundesliga. Hasilnya adalah sebuah karir bermain di kompetisi divisi kedua,” katanya suatu kali.

Namun di tengah catatan karirnya sebagai pelatih (2001-2008 di Mainz dan 2008-2015 di Dortmund), Klopp adalah jaminan mutu bagi sebuah revolusi sepak bola. Ia spesialis membangkitkan klub yang terpuruk. Dia bawa Mainz untuk pertama kalinya naik kasta ke Bundesliga dan membawa kembali gelar ke Dortmund setelah menjalani tahun-tahun kesunyian.

Kini bersama Liverpool, Klopp memberikan deretan trofi: Piala Champions, Piala Super Eropa, Piala Dunia Antarklub, dan gelar Liga Inggris untuk pertama kali sejak 1990. Bahkan legenda Liverpool Steven Gerrard menginginkan agar manajemen klub membangun patung Klopp di depan Stadion Anfield, sebagaimana mereka membangun patung sang legenda Bill Shankly.

“Saat Jurgen mengambil alih kursi kepelatihan, Liverpool bukan tim terbaik di Inggris, nyaris pun tidak. Mereka bahkan tidak berada di empat besar,” kata Gerrard.

Klopp mungkin orang biasa saja. Normal. Tapi dari kenormalannya, dia sebenarnya berusaha jujur kepada semua orang: orang boleh punya harapan, namun keberhasilan dan kegagalan adalah mata uang yang tak boleh salah satu dibuang.

Hidup adalah kurva pembelajaran, dan semuanya butuh proses. Itulah kenapa ia gusar ketika saat pertama kali datang ke Anfield, ada wartawan yang bertanya apakah ia membawa Liverpool juara dalam waktu singkat.

Hal terpenting bagi Klopp adalah bagaimana Liverpool bisa tampil lebih baik, jika pemain benar-benar berkonsentrasi dan memperbaiki beberapa kesalahan. Mereka belajar dari kegagalan musim 2018-19: hanya sekali kalah dan terpaut satu angka dari pemuncak klasemen Manchester City. Kegagalan itu tak harusnya membuat terluka. Ini hanya masalah bagaimana menerima kenyataan.

Klopp tak ingin pemain memandang terlalu jauh. Prinsipnya: hadapi saja apa yang ada di depan mata. Yang lain urusan belakangan. Pikirkan pertandingan satu demi satu sampai musim berakhir. “Anggap ini pertandingan terpenting karena satu-satunya pertandingan dalam hidup kita,” katanya.

Hidup tak sederhana. Apalagi untuk para pemain sebuah klub dengan masa lalu gemilang seperti Liverpool. Sejarah adalah problem besar bagi setiap generasi berikutnya. Masa lalu menjadi patokan dan beban. Ini yang membuat pemain Liverpool tak pernah bermain dengan kegembiraan dari musim ke musim sebelum Klopp datang. Mereka tak pernah menjadi diri sendiri.

Klopp meminta pemain melupakan masa lalu. Pada dasarnya setiap orang harus menciptakan sejarahnya sendiri. “Gunakan kemampuan kalian. Kini kami punya pemain yang akan dibicarakan oleh anak-anak pada masa mendatang,” katanya.

Mental direparasi, perekrutan pemain diperbaiki. Klopp menginginkan sesuatu yang lebih dari setiap pemain baru. Ada kesepakatan tak tertulis agar pemain bekerja lebih keras dan berkembang dari waktu ke waktu. “Jika pemain tidak bahagia dengan hal ini, dia boleh menemui dan mengatakannya kepada saya. Jika saya tidak senang dengan hal-hal yang sudah kami setujui, saya akan mendatangi dan mengatakan kepadanya.”

Klopp menginginkan Liverpool memiliki identitas jelas. Begitu jelasnya, sehingga orang bisa langsung mengenalinya sekalipun Liverpool bermain dengan mengenakan seragam acak di lapangan. Identitas juga berarti keberagaman warna dalam tim, tanpa pemisahan berdasarkan warna kulit, agama, dan kultur. “Kita dalam satu kelompok, itu mimpi saya tentang dunia dan Eropa. Dalam sebuah tim sepak bola, tak ada yang peduli kalian dari mana, tapi penting untuk tahu soal itu, karena dengan itu kita memperlakukan satu sama lain,” katanya.

Identitas sepakbola ala Liverpool membutuhkan pemahaman pemain satu sama lain. “Kami ingin berfungsi sebagai sebuah kelompok dan itu berarti Anda harus menghormati orang lain, dan itu akan jadi contoh bagus bagaimana berwarnanya dunia. Kalian menggunakan budaya yang berbeda-beda, kekuatan yang berbeda-beda, semua pengetahuan yang berbeda-beda untuk membentuk tim terbaik,” kata Klopp.

Kesuksesan tak boleh mengubah itu semua. Klopp mempercayai para pemainnya. Ia hanya menginginkan kedisiplinan. Ia menetapkan sederet aturan yang tak boleh dilanggar, pagar yang tak boleh ditabrak. Itulah bagaimana ‘Liverpool Way’ dibangun, sama seperti yang dilakukan Shankly, Paisley, Fagan, dan Dalglish, bertahun-tahun lampau. [wir/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar