Sorotan

Persebaya Seperti Manchester United Post-Fergie

Menjelang pertandingan kedua final Piala Presiden, Asisten Pelatih Bejo Sugiantoro mengungkapkan keinginannya agar Persebaya meniru Manchester United. Dalam babak 16 Besar Piala Champions 2019, anak-anak asuhan Ole Gunnar-Solkjaer itu membalik keadaan dari ketertinggalan 0-2 pada pertandingan pertama di Old Trafford menjadi kemenangan 3-1 di Stade de France, kandang Paris St. Germain. United lolos ke babak selanjutnya dengan keunggulan agregat.

Dalam pertandingan pertama final Piala Presiden di Surabaya, Persebaya tertahan 2-2 oleh Arema Malang. Bejo berharap dalam pertandingan kedua di Stadion Kanjuruhan, Malang, Persebaya bisa memetik kemenangan. Harapan sia-sia: Persebaya kalah 0-2.

Pernyataan Bejo agar Persebaya meniru United sempat jadi bahan ledekan sebagian Bonek. Bukan apa-apa, United hari ini berbeda 180 derajat dengan United di bawah rezim manajerial Alex Ferguson. United hari ini adalah United yang medioker, serba nanggung, tidak jelas, dan gampang dikalahkan. United hari ini adalah United yang kembali ke ‘khittah’ sebagai klub semenjana sebagaimana era 1970 dan 1980-an. Jadi bagaimana mungkin Bejo meminta Persebaya meneladani Manchester United?

Namun belakangan refleksi personal saya menemukan Bejo tak salah seratus persen. Kondisi Persebaya saat ini memang memiliki kemiripan dengan Manchester United dalam sejumlah aspek, walau tak serupa betul. Aspek pertama adalah aspek keseimbangan bisnis dan prestasi. Manchester United di bawah rezim kepemilikan Malcolm Glazer bukan sekadar klub sepak bola, melainkan sebuah entitas bisnis kelas raksasa yang mendunia.

Catatan The Deloitte Money Football League menempatkan Manchester United dengan pendapatan ketiga terbesar di dunia, di bawah Real Madrid dan Barcelona. Dengan pendapatan 666 juta euro pada musim 2017-2018, United mengungguli Manchester City (568,4 juta euro), Liverpool (513,7 juta euro), Chelsea (505,7 juta euro), Arsenal (439,2 juta euro), dan Tottenham (428,3 juta euro).

Jumlah penonton United juga terbanyak di tanah Inggris. Rata-rata penonton di Stadion Old Trafford mencapai 74.498 ribu orang per pertandingan. Fans United memaksimalkan kapasitas stadion yang dimiliki. Sponsor berdatangan. Nilai kontrak mereka dengan perusahaan otomotif Chevrolet mencapai 47 juta poundsterling: tertinggi dibandingkan nilai kontrak sponsor dengan klub lainnya.

Namun, berjaya di lapangan bisnis tidak menggaransi kejayaan di lapangan hijau. Musim 2018-2019, United remuk redam. Setan Merah hanya berada di peringkat 6 klasemen akhir Liga Inggris, dengan 66 poin. Mereka tercecer jauh dibandingkan rival utama Liverpool dan ‘tetangga berisik’ Manchester City. Bahkan sejak 2013, mereka nir gelar Liga Inggris dan tak pernah lagi menyentuh Piala Champions sejak 2008.

Fans mulai marah. Sebagian menganggap Glazer tidak berniat membesarkan klub mereka dan hanya berminat mengeruk keuntungan. Hubungan Glazer dengan fans memburuk. Manchester United Supporters Trust mengatakan tak pernah ada dalam sejarah, pemilik klub di negara mana pun yang yang mengambil begitu banyak uang (keuntungan) dari klub sepak bola itu sendiri. Bahkan sebagian fans memilih mendirikan dan mengelola klub sendiri bernama FC United of Manchester yang bertanding sejak kasta terbawah.

Tudingan serupa juga diarahkan sebagian Bonek kepada presiden sekaligus pemilik saham mayoritas Persebaya, Azrul Ananda. Mereka menilai Azrul hanya peduli terhadap pengembangan bisnis klub dengan berlindung di bawah mantera ‘sustainability’ dan kontinuitas bisnis. Azrul menekankan bahwa menghidupkan kekuatan bisnis Persebaya sangat penting agar klub bisa mandiri dan menghidupi diri sendiri.

Azrul benar. Di negara dengan sistem sepak bola yang amburadul dan sarat kecurigaan permainan uang, klub yang sehat dan mandiri tak akan mudah ditembus mafia pengaturan skor. Klub mandiri tak butuh duit haram untuk mendanai operasional. Maka bisnis Persebaya pun berkembang. Jumlah rata-rata penonton di Gelora Bung Tomo adalah yang terbanyak dalam Liga 1 musim 2018. Toko-toko merchandise resmi pun laku keras kendati berharga mahal.

Namun, dalam sepak bola, keberlanjutan bisnis tak akan berlangsung tanpa diiringi prestasi. Setelah terseok-seok pada Liga 1 2018, Persebaya kembali mengawali musim 2019 dengan sangat buruk. Dari tiga pertandingan awal, Persebaya belum pernah meraih kemenangan: dua kali seri dan sekali kalah. Dua hasil seri dicatatkan di kandang sendiri, Gelora Bung Tomo. Sebelum libur lebaran, Bajul Ijo menduduki peringkat 13 dari 18 klub peserta.

Bonek menilai manajemen Persebaya tidak serius menyongsong kompetisi, dengan mengacu pada minimnya jumlah pemain berkualitas bagus yang direkrut. Ujung tombak pengganti David da Silva, Amido Balde, belum segarang yang diharapkan. Dia malah cedera dalam pertandingan kedua melawan Kalteng Putra.

Sedikit demi sedikit, rivalitas antara Bonek dengan manajemen Persebaya semakin membatu. Bedanya, sampai detik ini, Azrul belum menerbitkan selembar surat pun yang berujung kontroversi sebagaimana pada musim sebelumnya. Ini sebuah kemajuan berarti di tengah ketidakpercayaan Bonek terhadap manajemen. Namun Azrul harus segera menjawab keraguan Bonek. Tanpa prestasi, Persebaya akan ditinggalkan penonton. Tanda-tandanya sudah terlihat: partai kandang perdana melawan Kalteng Putra hanya disaksikan 10 ribu orang dari kapasitas 50 ribu penonton.

Pertandingan Persebaya melawan PSIS Semarang memang dihadiri 40 ribu penonton. Namun harus diingat, ini adalah pertandingan klasik atau big match. Tak tertutup kemungkinan, Bonek hanya akan memadati stadion saat Persebaya bertanding dengan klub-klub besar eks perserikatan atau dengan klub yang memiliki fans yang berhubungan baik dengan Bonek, seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, PSM Makassar, atau PSS Sleman. Sisanya? Penonton bisa pergi jika Persebaya tak juga menyuguhkan permainan yang trengginas dan ‘menangan’.

Kesamaan lainnya adalah situasi ketidakpercayaan terhadap pelatih. Setelah kegagalan meraih kemenangan dalam tiga partai awal Liga 1, suara-suara yang mendesak agar Djajang Nurjaman lengser dari kursi kepelatihan mulai terdengar. Posisi Djajang pun tak sepenuhnya aman, setelah Manajer Persebaya Candra Wahyudi menjanjikan evaluasi terhadap tim pelatih.

“Manajemen sangat kecewa dengan hasil seri di dua home ini. Kebobolan dua kali karena kelengahan. Tim ini seharusnya lebih baik dari saat ini. Kami akan evaluasi tim pelatih dan akan membuat keputusan secepatnya demi sesegera mungkin mengembalikan performa Persebaya yang semestinya,” kata Candra.

Djajang sendiri tampak pasrah. “Ini baru tiga pertandingan, tapi saya serahkan keputusannya ke manajemen,” katanya, usai ditahan imbang PSIS 1-1, Kamis (30/5/2019) malam.

Janji evaluasi terbukti: pelatih fisik, Rudy Eka Priambada, dicopot. “Dinamika di tim Persebaya membutuhkan adanya struktur yang lebih stream line untuk adanya komunikasi dan bench management yang lebih baik,” kata Candra, sebagaimana dilansir beritajatim.com, Senin (3/6/2019).

Evaluasi terhadap kinerja Djajang Nurjaman memang berhak dilakukan manajemen, namun tentu saja dengan adil. Persebaya baru menjalani tiga pertandingan. Hasil minor ini sebenarnya tak jauh dari hasil musim 2018. Saat itu, Persebaya di bawah rezim kepelatihan Alfredo Vera hanya memetik empat angka dari satu kemenangan, satu hasil seri, dan satu kekalahan. Kekalahan dialami di kandang sendiri. Namun saat itu, evaluasi terhadap Vera baru dilakukan setelah putaran pertama berakhir.

Dilihat dari aspek persentase kemenangan, Djajang Nurjaman terhitung bagus selama menangani Persebaya selama berstatus sebagai tim Liga 1, yakni 58,62 persen. Di bawah Djajang, Persebaya memetik 17 kemenangan, lima hasil imbang, dan tujuh kekalahan, dengan produktivitas 72 gol dan kebobolan 35 gol. Djajang juga menempatkan Persebaya pada posisi runner-up Piala Presiden 2019, lebih baik daripada yang diraih Vera pada tahun sebelumnya yang baru menembus perempat final.

Sebagian Bonek memang memandang remeh capaian Persebaya di Piala Presiden 2019 dengan dalih itu hanya turnamen pramusim. Namun melihat reaksi Bonek saat ditahan imbang Arema di laga kandang dan kegembiraan meluap saat menang atas Madura United di semifinal, rasanya tak ada yang memandang Piala Presiden sebagai sekadar turnamen pramusim. Substansinya: turnamen tetaplah turnamen dan semua tim berusaha keras untuk menang. Maka selayaknya kemenangan dan kekalahan sama-sama dihargai sewajarnya.

Persebaya tak perlu panik dan tergesa-gesa mengganti Djajang hanya dari penilaian terhadap tiga pertandingan awal. Persebaya belum masuk dalam area pasir isap atau lubang hitam kegagalan sebagaimana yang pernah dialami saat dilatih Vera. Belum. Jika mengacu pada pernyataan Candra, maka persoalan utama justru ada pada komunikasi internal tim. Kondusivitas suasana ruang ganti memegang kunci keberhasilan sebuah tim sepak bola. Ini bukan mengelola tim dalam game Football Manager yang mengabaikan aspek sentuhan komunikasi personal. Sebagus apapun seorang pelatih tanpa didukung kondusivitas ruang ganti dan komunikasi internal yang baik, maka dia tak akan mencapai target.

Jika kemudian Djajang kelak harus diganti sebelum musim kompetisi berakhir, maka Azrul Ananda harus mulai cemas Persebaya tengah menduplikat Manchester United Pasca Fergie. Setelah Alex Ferguson pensiun, tak ada satu pun pelatih yang bisa bertahan lama. Hanya dalam jangka waktu enam tahun, sejak 2013 hingga 2019, United dilatih oleh lima orang manajer. Berarti jika dirata-rata, seorang manajer hanya bertahan 438 hari.

David Moyes yang digadang-gadang sebagai ‘The Chosen One’ justru menjadi ‘The Sack One’ sebelum musim pertamanya berakhir. Dia digantikan manajer sementara Ryan Giggs. Louis van Gaal lalu datang. Namun hanya bertahan 692 hari dengan persentase kemenangan 52,43 persen. Dari 103 pertandingan, dia membawa 54 kemenangan, 24 kali hasil imbang, dan 25 kali kekalahan, dengan rata-rata poin per pertandingan 1,81.

Van Gaal gagal mempersembahkan satu pun trofi pada musim 2014-15 dan hanya menempatkan United di posisi keempat klasemen Liga Inggris, terpaut 17 angka dari Chelsea sebagai pemuncak. Musim berikutnya United terperosok di posisi kalima klasemen Liga Inggris. Van Gaal gagal mengusir galau fans United, dan akhirnya dicopot kendati mempersembahkan satu trofi Piala FA.

Penggantinya, Jose Mourinho, bernasib lebih tragis lagi. Dia bertahan sebagai manajer United selama 900 hari, namun dicopot di tengah musim 2018-19, tepatnya pada 18 Desember 2018, setelah kekalahan 1-3 dari Liverpool di Anfield. Fans mendesak Mourinho mundur dan pemilik klub tidak peduli, bahwa di tangan pelatih asal Portugal itu, Man United berhasil meraih Piala Liga dan Piala Liga Eropa. Catatan persentase kemenangan 58,33 persen diabaikan. Dia akhirnya digantikan Solkjaer.

Sejak Persebaya kembali berkompetisi pada 2017, kursi kepelatihan sama panasnya dengan di Old Trafford. Iwan Setiawan pergi digantikan Alfredo Vera sebelum musim Liga 2 2017 berakhir. Vera berhasil membawa Persebaya naik kasta. Namun di pertengahan kompetisi Liga 1 2018, dia digantikan Bejo Sugiantoro, yang kemudian digantikan Djajang Nurjaman. Praktis dalam rentang 2017-2019, ada empat pelatih yang menangani Persebaya. Ini menunjukkan betapa ruang ganti Persebaya sama rentannya dengan ruang ganti United.

Lima manajer hanya dalam waktu enam musim di United dan empat pelatih dalam waktu dua tahun di Persebaya tentu tidak sehat bagi sebuah klub. Kontinyuitas tim macam apa yang hendak dibangun dari sebuah ruang ganti dengan tongkat komando yang tak stabil. Ini bukan lagi dinamika, melainkan konflik panas, api dalam sekam, yang jika tak dipadamkan akan segera menjalar ke mana-mana.

Dalam situasi seperti ini, saat suasana tim tengah panas, yang dibutuhkan adalah seseorang berkepala dingin yang bisa melihat gambaran persoalan secara utuh dan mengambil keputusan dengan bijak dan rasional. Ini pernah dimiliki United pada era awal Ferguson dan Persebaya pada 2004.

Sejak mengambil alih kursi manajer United di tengah musim 1986-87, prestasi Ferguson jauh dari mengesankan. United berada pada posisi 11 Liga Inggris (1986-87), posisi 2 (1987-88), posisi 11 (1988-89), posisi 13 (1989-90), posisi 6 (1990-91). Fans United sudah tak sabar dan mengibarkan spanduk ucapan selamat jalan kepada Fergie. Editorial fanzine United, Red News, mengecam Ferguson: “Dukungan kami pun mulai menghilang.”

Sejumlah pandit juga menambah tekanan terhadap United. Emlyn Hughes menganugerahkan gelar OBE (Out Before Easter atau Dipecat Sebelum Paskah) kepada Ferguson pada 1990. Namun Ferguson tetap bisa bekerja dengan tenang, karena mendapat dukungan dari ‘Chairman’ United, Martin Edward. Andai saat itu para petinggi United panik dan menuruti tekanan suporter, mungkin tak ada cerita tentang dominasi United selama dua dasawarsa berikutnya.

Tahun 2004, tekanan suporter kepada Persebaya juga besar. Persebaya mengawali musim dengan biasa-biasa saja. Dari empat pertandingan, Bajul Ijo hanya menang sekali dan tiga kali imbang. Pertengahan musim, Bonek mengamuk di Stadion Gelora 10 Nopember setelah Persebaya kalah 0-1 dari Persela Lamongan. Tekanan terhadap pelatih Jacksen Tiago mulai menguat. Namun dia bertahan, dan pada akhir musim, sejarah mencatat Persebaya menjadi juara.

Jadi, kunci terpenting saat ini adalah tetap tenang. Azrul Ananda perlu turun tangan untuk membangun kepercayaan diri di ruang ganti dan memastikan bahwa tidak ada terlalu banyak ‘matahari’ di sana. Suka atau tidak, Djajang masih pelatih Persebaya dan otoritasnya perlu ditegakkan dan diamankan selama masih menjabat.

Sementara bagi Djajang, ada tiga hal yang berpotensi menyelamatkan karirnya. Pertama, merebut trofi Piala Indonesia. Sebuah trofi akan mendongkrak kepercayaan diri tim. Karir Fergie di United terselamatkan, setelah memperoleh trofi pertama, yakni Piala FA pada 1990. Dalam bukunya, Martin Edwards menulis, jika saat itu situasinya berbeda, Ferguson bisa saja dipaksa keluar dari United dan fans tak akan menikmati kejayaan selama puluhan tahun. “Piala FA tak hanya menyelamatkan Alex, tapi juga menyelamatkan tim; memberikan kepercayaan diri dan membangun meomentum sesungguhnya untuk musim berikutnya.”

Kedua, ubah gaya main lebih trengginas. Bonek menyukai permainan yang ngotot, keras, dan cepat. Mereka tipe suporter yang suka menyaksikan Persebaya mengambil risiko bermain ofensif untuk menang dan bukannya bermain flamboyan apalagi bertahan. Maka, bermain trengginas adalah kunci untuk merebut hati Bonek.

Terakhir, memberikan kepercayaan kepada bibit-bibit talenta lokal. Itulah yang dilakukan Ferguson dan saat ini Jurgen Klopp di Liverpool. Sebagaimana halnya fans Liverpool dan United, Bonek menyukai pemain yang berasal dari kalangan mereka: dari binaan kompetisi internal di Lapangan Karanggayam. Itulah mengapa sebagian Bonek menyesalkan kegagalan Persebaya mengembalikan Andik Vermansah. Keputusan manajemen merekrut Supriyadi, arek Rungkut yang menjadi bintang tim nasional yunior, adalah hal tepat. Namun dia harus diberi kepercayaan untuk bermain dan tak hanya mengisi daftar nama skuat.

Kesimpulan dari semua itu, sepak bola adalah urusan prestasi dan meraih poin sebanyak-banyaknya untuk menjadi juara di pengujung musim. Maka semua laba dan daya upaya diperuntukkan mencapai target tersebut. Sesuatu yang dilupakan Man United di era post-Ferguson, dan semestinya tak diteladani Persebaya. [wir/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar