Sorotan

Persebaya dan Renaisans Literasi Sepak Bola

Buku bertema tentang Persebaya

Persebaya berulang tahun ke-93, Kamis (18/6/2020). Dan kembali kita diingatkan bagaimana jejak modern klub ini dibangun oleh kultur literasi dari sebuah koran harian.

Persebaya adalah nama besar. Namun Jawa Pos yang berhasil membuat orang memaknainya lebih dari sebuah klub. Koran ini mengisi ruang kosong yang tidak diperhatikan media massa (cetak) lain kala itu: fanatisme.

Kecerdasan visi Dahlan Iskan, bos Jawa Pos saat itu, membuat koran tersebut berhasil melakukan penempatan pasar dan membangun identifikasi segitiga kepentingan: Jawa Pos – Persebaya – publik. Fanatisme adalah bahan bakarnya. Jawa Pos menembus demarkasi sakral yang selama ini menjaga jarak antara ruang redaksi dengan obyek liputan. Jawa Pos melibatkan diri, dan oleh karenanya reportasenya sangat berpihak kepada Persebaya.

Keberpihakan itu sangat kentara, saat Jawa Pos tak berhenti pada posisi sebagai produsen wacana, tapi juga terlibat dalam aktivisme: mengelola sebuah gerakan yang membangun kesadaran. Saat masyarakat Surabaya lebih jatuh cinta kepada Niac Mitra dalam kompetisi Galatama, Jawa Pos menyadarkan orang, bahwa Persebaya lebih punya sejarah panjang untuk diidentifikasikan dengan kota ini.

Jawa Pos memulai kultur ‘awayday’, dukungan ke kandang lawan secara terkoordinasi. Mereka membuka pendaftaran pemberangkatan suporter besar-besaran ke Jakarta, memproduksi pernik-pernik atribut klub (yang dengan cepat ‘ditembak’ di pasaran, dan Dahlan Iskan tak peduli atribut-atribut itu diimitasi dengan cepat oleh pedagang-pedagang kaos jalanan). Dahlan bercerita dalam sebuah artikel di Majalah World Soccer edisi Indonesia, bahwa ia terilhami atribut yang dikenakan suporter Chelsea di Stadion Stamford Bride, London.

Dari Jawa Pos, kita tahu, bagaimana identitas sebuah klub sepak bola dibangun dengan bersenjatakan kata-kata. Fanatisme dihadirkan melalui narasi, bukan saja tentang hasil pertandingan Persebaya di lapangan maupun profil pemain, namun juga cerita tentang bagaimana ikhtiar suporter agar bisa menyaksikan klub itu di stadion. Ada citra heroik dari sebuah cerita tentang seorang warga yang rela menjual barang berharga miliknya agar bisa nonton Persebaya. Pengorbanan adalah ritus primordial tertua dalam sistem kepercayaan masyarakat (biasanya agama), dan kali ini ditunjukkan untuk sebuah klub sepak bola.

Logo ‘kepala orang dengan ikat kain melilit dahi dan mulut berteriak’ menjadi sama besar dan terkenalnya dengan logo klub. Logo ini kemudian diidentikkan dengan suporter Persebaya, dan disebut ‘Ndas Mangap’ atau ‘Wong Mangap’. Kepala yang membuka mulut lebar-lebar: yang menarik garis lurus klub itu dengan simbol sejarah sosok pejuang kemerdekaan pada masa perang kota 10 November 1945.

Jawa Pos memperkenalkan slogan ‘Kami Haus Gol Kamu’ dan ‘Low Profile High Product’ (yang sepintas lebih identik dengan jargon manajemen sebuah perusahaan). Mereka membuat julukan untuk Persebaya: Green Force. Laskar Hijau. Sesuatu yang tak terpikirkan sebelumnya oleh banyak orang untuk membuat sebuah julukan bagi klub sepak bola.

Saat Persebaya dikucilkan publik sepak bola nasional karena mengalah 0-12 kepada Persipura Jayapura di kandang sendiri, Gelora 10 Nopember, dan julukan ‘Sepak Bola Gajah’ disematkan, alih-alih mengingkari, Jawa Pos mengajari cara untuk menertawai diri sendiri. Mereka menjadikan sindiran publik itu sebagai julukan baru klub: Gajah Ijo.

Sumbangsih terbesar Jawa Pos adalah menciptakan istilah Bonek (Bondo Nekat) untuk menyebut nama pendukung Persebaya. Penyebutan itu belakangan berkembang menjadi kosakata kultural di masyarakat: sebuah kata sifat, bukan lagi kata benda.

Antusias Bonek saat memberi dukungan pada Persebaya. (Foto: Wahyu Jimbot/ BJT)

Semua itu terjadi pada era 1990-an, dan saya menyebutnya sebagai proses literasi Persebaya tahap eksistensial, yakni menciptakan fanatisme dan kesadaran identitas melalui tulisan. Tahun 2010, setelah media massa cetak mulai ditenggelamkan media massa dalam jaringan dan media sosial, proses literasi di tubuh suporter Persebaya mulai tumbuh. Saat terjadi dualisme nama klub, mereka berkonsolidasi dan menggunakan media sosial sebagai medium narasi tandingan terhadap narasi yang diciptakan PSSI sebagai pemegang otoritas sepak bola tertinggi.

Sepanjang 2010-2015, muncul generasi penulis-penulis baru di kalangan Bonek. Mereka otodidak dan memiliki keberanian untuk menulis narasi yang berbeda dengan narasi media massa arus utama, soal Persebaya maupun soal diri mereka sendiri. Berbarengan dengan itu, sejumlah akademisi, jurnalis, dan suporter mulai menulis dan menerbitkan buku bertema Persebaya maupun Bonek. Buku-buku itu relatif lebih sering muncul dan lebih mudah ditemui dibandingkan buku-buku bertema klub maupun suporter lain.

Kali ini, proses literasi ini seharusnya memasuki tahap kedua: bukan lagi bicara soal pembentukan fanatisme, namun mulai menggali lebih dalam tentang sosok Persebaya sebagai klub yang memiliki sejarah panjang. Meminjam perumpamaan Daoed Joesoef, ibarat sebuah sungai, Persebaya mengalir semakin menjauhi sumber asalnya namun tak pernah terputus sama sekali. Dengan kata lain, identitas bukan lagi terkait fanatisme, tapi pengetahuan terhadap sejarah dan penulisan narasi masa depan klub sendiri.

Inggris adalah teladan bagus bagaimana literasi sepak bola dibangun. Klub-klub di sana rajin menerbitkan buku-buku resmi (official) tentang sejarah klub dalam rentang periode tertentu. Sebut saja Liverpool dan Manchester United yang menerbitkan buku illustrated history. Di lain pihak, muncul penulis-penulis dari kalangan suporter yang menulis dan menerbitkan buku-buku mengenai klub mereka.

Di kalangan suporter Persebaya, ikhtiar untuk memulai literasi tahap kedua sudah mulai dilakukan Bonek Writer Forum. Forum ini terbentuk pada 6 Desember 2017 dan beranggotakan sejumlah penulis dengan latar belakang beragam, mulai dari jurnalis, dosen, pegawai negeri, mahasiswa, hingga pengusaha. Mereka membangun situs www.sejarahpersebaya.com, menerbitkan buku elektronik Make Persebaya 92eat Again untuk menyambut hari ulang tahun ke-92 Persebaya, menerbitkan buku ‘Tolak Bala Sepak Bola’, dan koran digital untuk merayakan ulang tahun ke-93 klub.

Ikhtiar ini seharusnya mulai disambut manajemen Persebaya. Kelak kita membayangkan, Persebaya Store tak hanya berisi jersey, syal, atau pernik-pernik fesyen berbau klub, namun juga buku-buku ofisial mengenai sejarah maupun profil klub hari ini. Itu jika kita ingin batang sungai tak terputus dari mata airnya. [wir]





Apa Reaksi Anda?

Komentar