Iklan Banner Sukun
Sorotan

2 Syarat Koalisi Indonesia Bersatu Menang Pilpres 2024

Ribut Wijoto

Tiga partai yang dikenal berbasis massa nasionalis, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU) telah berkoalisi. Terdiri dari Partai Golongan Karya (Golkar), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Mereka memberi nama ‘Koalisi Indonesia Bersatu’. Koalisi yang diarahkan untuk ajang Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2024.

Ketiganya tentu memiliki harapan besar bakal mendapat sambutan positif dari mayoritas masyarakat. Harapan yang sangat rasional. Maklum, NU dan Muhammadiyah memang dua organisasi masyarakat (ormas) kegamaan terbesar di Indonesia. Di luar jangkauan dua ormas tersebut, koalisi mengakomodasinya melalui wadah nasionalis. Sehingga komplet, lengkap sudah wadahnya.

Tetapi tunggu dulu. Golkar bukan satu-satunya partai berbasis nasionalis. Masih ada Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Demokrat, Partai Nasional Demokrat (NasDem). Partai Keadilan Sejahtera (PKS) juga banyak diisi oleh pengurus yang berlatarbelakang Muhammadiyah. Begitu pula NU menjadi lumbung suara dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Basis massa nasionalis, Muhammadiyah, dan NU tetaplah ceruk yang longgar. Tiga partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Bersatu masih harus bersaing keras dengan partai lain dalam memerebutkan suara dari ceruk yang sama.

Agar memeroleh hasil maksimal dalam Pilpres 2024, Koalisi Indonesia Bersatu harus memerhatikan ceruk lain yang cukup signifikan. Umat Islam Indonesia yang tidak merasa terwakili oleh ormas Muhammadiyah dan NU. Semisal anggota dan simpatisan Front Pembela Islam (FPI).

Dalam satu dekade terakhir, FPI menjelma kekuatan politik yang patut diperhitungkan. Meski telah resmi dibubarkan oleh Pemerintah, gerakan FPI tidaklah surut. Dakwahnya tiada pernah putus. Aksi massa dengan beragam isu terus dilakukan. Mereka sangat agresif pula di media sosial. FPI terus melontarkan kritik atas berbagai kebijakan Pemerintah. Justru seakan-akan merekalah kelompok oposisi yang sebenarnya di negeri ini.

Ceruk lain adalah kaum milenial. Para remaja yang lahir tahun 2000-an. Pilpres 2024 nanti mungkin pengalaman pertama mereka dalam mengikuti pesta akbar demokrasi.

Banyak kaum milenial yang enggan fanatik kepada kelompok tradisional. Enggan disebut nasionalis, Muhammadiyah, maupun NU. Mereka berusaha membangun identitasnya sendiri. Patron mereka bukan tokoh politik, tokoh Muhammadiyah, maupun tokoh NU. Tetapi bisa artis, atlet olahraga, pengusaha, ilmuwan, ataupun selebriti media sosial.

Lepas dari fenomena ceruk-ceruk itu, pembentukan Koalisi Indonesia Bersatu merupakan sebuah langkah bagus. Jika terus solid, koalisi ini sudah memenuhi syarat untuk mengusung calon presiden dan calon wakil presiden di Pilpres 2024. Syarat 20 persen kursi di DPR RI terpenuhi. Yakni gabungan dari Golkar 14,78 persen, PAN 7,65 persen, dan PPP 3,30 persen.

Persoalannya, siapa tokoh yang bakal diusung Koalisi Indonesia Bersatu menjadi calon presiden dan calon wakil presiden?

Elektabilitas alias tingkat keterpilihan Ketua Umum (Ketum) Golkar Airlangga Hartarto, Ketum PAN Zulkifli Hasan (Zulhas), dan Ketum PPP Suharso Monoarfa sangat rendah. Jika memaksakan nama-nama tersebut untuk maju Pilpres, butuh perjuangan sangat keras untuk menaikan elektabilitas. Energi bisa terkuras sia-sia.

Solusi terbaik adalah merekrut tokoh-tokoh yang telah memiliki elektabilitas tinggi tetapi belum memiliki kepastian kendaraan partai politik. Beberapa tokoh bisa dibidik oleh Koalisi Indonesia Bersatu. Semisal Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Khofifah Indar Parawansa, Sandiaga Uno, ataupun Erick Thohir.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memang kader PDI Perjuangan. Meski elektabilitasnya hampir selalu paling tinggi dibanding tokoh-tokoh lain, Ganjar belum tentu bakal diusung oleh partainya. Penentuan calon presiden dari PDI Perjuangan berada pada Ketua Umum Megawati Soekarno Putri. Sedangkan anak kandung Megawati sendiri, Puan Maharani, tampaknya juga berpeluang menjadi calon presiden.

Anies Baswedan memiliki keterkaitan erat dengan Gerindra, partai yang mengusungnya dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Meski begitu, dalam Pilpres 2024, peluang Anies untuk diusung Gerindra sangat kecil. Penyebabnya kader-kader Gerindra telah bulat menginginkan Ketua Umum Prabowo Subianto untuk maju kembali.

Ridwan Kamil memenangi Pilgub Jabar dengan diusung oleh PPP, PKB, NasDem, dan Hanura. Tetapi hingga kini, Ridwan Kamil bukanlah kader partai.

Khofifah Indar Parawansa lebih unik lagi. Sebagai kader PKB, Khofifah berhasil menjadi Gubernur Jawa Timur justru tanpa diusung oleh partainya. Khofifah saat itu diusung oleh Partai Demokrat, Partai Golkar, PAN, PPP, Partai NasDem, dan Partai Hanura. Dalam Pilpres 2024 nanti, untuk mendapatkan rekomendasi PKB, Khofifah harus bersaing dengan Ketua Umum Muhaimin Iskandar.

Sandiaga Uno ataupun Erick Thohir juga tokoh yang memiliki elektabilitas cukup bagus. Keduanya hingga sekarang belum memiliki kepastian kendaraan partai politik untuk maju dalam Pilpres 2024.

Koalisi Indonesia Bersatu bisa menawari tokoh-tokoh tersebut untuk diusung di Pilpres 2024. Strategi ini bisa dibilang mutualisme, saling menguntungkan. Tokoh yang dipilih diuntungkan karena mendapat kepastian kendaraan parpol, sedangkan Koalisi Indonesia Bersatu tidak perlu repot-repot mendongkrak elektabilitas.

Karakter pemilik suara Pilpres turut mendukung strategi tersebut. Pemilik suara Pilpres kerap kali mengabaikan latar belakang partai politik pengusung calon presiden dan calon wakil presiden. Mereka cenderung melihat langsung kepada sosok dan kapasitas individu calon presiden dan wakil presiden.

Begitulah, terbuka peluang Koalisi Indonesia Bersatu untuk memenangi Pilpres 2024. Setidaknya dengan 2 syarat, yakni kerja keras dan pemilihan strategi yang tepat. [but]

 

 

 

 

 

 


Apa Reaksi Anda?

Komentar