Sorotan

Panduan Menuju Pilwali Surabaya 2020

Ribut Wijoto.

COBLOSAN PILWALI SURABAYA diperkirakan jatuh pada tanggal 14 September 2020. Rekapitulasi hasil penghitungan suara diperkirakan tanggal 23 September 2020. Sebelum itu, tahapan awal adalah perencanaan program dan anggaran yang dijadwalkan 30 September 2019. Artinya, sebulan lagi, tahapan Pilwali (Pemilihan Wali Kota) Surabaya 2020 bakal dimulai.

Bagaimana aturan main Pilwali Surabaya 2020? Apa saja faktor utamanya? Siapa saja tokoh yang paling berpeluang menang?

Pedoman teknis pelaksanaan Pilwali Surabaya 2020, termasuk juga Pilkada Serentak di daerah lain, masih harus menunggu Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU). Sejauh ini, KPU telah melakukan uji publik atas rancangan PKPU. Sehingga tinggal menunggu Kemenkumham (Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia) mengesahkan PKPU.

Sembari menunggu PKPU, pembahasan Pilwali Surabaya 2020 bisa mengacu pada pasal 40 UU 10/2016 tentang Pemilihan Kepala Daerah. Bahwa, partai politik atau gabungan partai politik bisa mengajukan pasangan calon bila memenuhi akumulasi 20 persen suara di DPRD atau 25 persen dari suara sah pada pemilu. Calon independen minimal didukung 6,5 persen dari total daftar pemilih tetap.

Tidak ada putaran kedua. Sesuai aturan, yang terpilih adalah paslon (pasangan calon) yang mendapatkan suara terbanyak.

Berdasarkan aturan itu, Pilwali Surabaya 2020 bisa diikuti lebih dari 4 pasang calon, tergantung dengan calon independen yang lolos. Namun melihat komposisi perolehan kursi di DPRD Kota Surabaya, sangat mungkin, partai dan dan koalisi partai hanya menelorkan 3 paslon.

Hasil Pemilihan Umum 2019 lalu untuk DPRD Kota Surabaya, PDI Perjuangan memenangi dengan 15 kursi (30 persen). PKB, Partai Gerindra, PKS, dan Partai Golkar masing-masing 5 kursi (10 persen). Sementara itu, Partai Demokrat dan PSI masing-masing 4 kursi (8 persen). Kemudian, PAN dan Partai Nasdem masing-masing 3 kursi (6 persen). Satu kursi sisanya direbut PPP (2 persen).

Itu artinya, PDIP menjadi satu-satunya partai yang bisa langsung mengusung pasangan calon. Sedangkan partai-partai lain harus menjalin koalisi.

Merujuk pada hasil empat Pilwali Surabaya sebelumnya, PDIP tidak pernah sekalipun kalah. Dua kali berhasil mengantarkan Bambang DH sebagai Wali Kota Surabaya, dua kali pula sukses mengantarkan Tri Rismaharini menjadi orang nomor 1 di kota Pahlawan ini.

Melihat fakta itu, sangat mungkin, partai-partai lain mempertimbangkan opsi merapat ke PDIP dalam pertarungan Pilwali Surabaya 2020.

Namun secara garis pilihan politik selama ini, baik di tingkat pusat maupun di daerah, Partai Gerindra dan PKS tampaknya paling sulit menjalin koalisi dengan PDIP. Terlebih, kedua partai itu masing-masing memiliki 5 kursi di DPRD Kota Surabaya. Sehingga jika membangun koalisi sendiri, keduanya telah cukup untuk memenuhi persyaratan 20 persen jumlah suara di legislatif.

Sampai di sini, setidaknya telah dimungkinkan ada 2 poros koalisi di Pilwali 2020. Pertama, poros PDIP. Kedua, poros Gerindra – PKS. Melihat kedekatan partai dalam Pilpres 2019, poros PDIP berpeluang mendapat dukungan dari PKB dan PSI. Sedangkan poros Gerindra – PKS punya peluang besar menarik simpati PAN dan PPP.

Posisi PKB dan PPP ini cukup menarik diperhatikan karena keduanya memiliki basis massa yang sama, yaitu Nahdliyin. Kerap kali, dalam berkoalisi, keduanya memilih posisi yang berseberangan, semacam rivalitas.

Adapun partai-partai lain tersisa Golkar, Demokrat, Nasdem. Ketiga partai ini bila dijumlahkan memiliki 12 kursi di DPRD Kota Surabaya. Jumlah yang mencukupi untuk mengusung pasangan calon sendiri. Demi alasan-alasan ideologis maupun pragmatis, mereka bisa membangun poros ketiga. Poros yang memungkin menarik simpati partai-partai lain. Mungkin pula justru sebaliknya, ketiganya memilih bergabung pada poros PDIP atau poros Gerindra – PKS.

Satu hal lain yang patut diperhitungkan dalam membangun poros koalisi adalah tingkat peluang dalam memenangi Pilwali Surabaya. Koalisi sulit terbangun jika peluang menang cukup kecil.

Berkaca pada Pilwali Surabaya 2015 lalu, calon dari PDIP, yaitu Tri Rismaharini, hampir menjadi calon tunggal. Kondisi itu terjadi sebab PDIP terlalu dominan di Surabaya. Dan yang utama, Risma dinilai terlalu sukses memimpin Kota Surabaya. Toh akhirnya pasangan Risma – Whisnu Sakti Buana mendapatkan lawan tanding, yakni Rasiyo – Lucy Kurniasari. Hasilnya seperti yang telah diprediksi banyak pihak, Risma – Whisnu menang telak.

Namun situasi Pilwali 2020 jauh berbeda. Risma tidak bisa lagi diusung sebagai calon sebab telah dua periode mimimpin.

Beberapa nama dikaitkan dengan partai berlogo banteng moncong putih. Di antaranya Wawali Whisnu Sakti Buana, Ketua DPRD Armuji, mantan Calon Gubernur Jatim Puti Guntur Soekarno, Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin, mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Kepala Bappeko Surabaya Eri Cahyadi, Ketua Kadin Surabaya Jamhadi, Diah Katarina (istri Bambang DH), dan sebagainya.

PDIP tentu memiliki mekanisme dalam penjaringan calon untuk diusung dalam Pilwali Surabaya 2020. Mulai dari penjaringan di tingkat PAC (Pimpinan Anak Cabang) maupun tingkat DPC (Dewan Pimpinan Cabang). Tetapi, nama yang direkomendasi tetap bergantung pada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri.

Di luar dinamika internal PDIP, nama-nama lain bermunculkan dalam bursa Pilwali Surabaya. Semisal K.H. Zahrul Azhar As’ad atau Gus Hans (Wakil Ketua DPD Partai Golkar Jatim), M. Sholeh (Advokat), Azrul Ananda (Presiden Klub Persebaya), Bayu Airlangga (Ketua Muda Mudi Demokrat Jatim), Dimas Oky Nugroho (pegiat anak muda dan kewirausahawan sosial), Hendro Gunawan (Sekkota Surabaya), Andy Budiman (politikus PSI), Dimas Anugerah (politikus PSI), Vinsensius Awey (NasDem), Kuncarsono Prasetyo (mantan wartawan), Abraham Sridjaja (Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Angkatan Muda Partai Golkar), Mahfud Arifin (mantan Kapolda Jatim), Fandi Utomo (politisi PKB), Dedy Rachman (akademisi), Sukma Sahadewa (dokter sekaligus politikus Perindo), Didik Prasetiyono (Direktur Surabaya Consulting Group/SCG), Agnes Santoso (Presenter), Siti Nasyiah (aktivis dan penulis buku), Asrilia Kurniati (Ketua Umum Gabungan Organisasi Wanita), Agus Harimurti Yudhoyono (Komandan Kogasma Demokrat), Dwi Astuti (pengurus Muslimat Jatim), dan lain-lain.

Bursa Pilwali Surabaya 2020 diwarnai juga dengan beragam dukungan terhadap tokoh tertentu. Mulai dukungan dari asosiasi profesi, organisasi kemasyarakatan, kiai atau pondok pesantren, dukungan dari pengamat politik, dukungan dari ikatan alumni kampus, wartawan, paranormal, maupun dukungan dari pengusaha.

Satu hal perlu diingat saat ini, paling utama bukanlah modal dukungan-dukungan. Hal paling utama yang harus diperjuangkan oleh tokoh yang ingin maju Pilwali Surabaya 2020 adalah rekomendasi partai. Sebab hanya partai yang memiliki hak untuk mengusung calon.

Artinya, tokoh harus mampu meyakinkan partai politik bahwa dia layak untuk maju dan berpeluang besar memenangi Pilwali Surabaya 2020. Tanpa keyakinan itu, mustahil partai bersedia memberikan rekomendasi.

Terlebih, ajang pilwali bukanlah perhelatan yang mudah dan murah. Partai perlu menguras energi untuk menyusun strategi pemenangan yang tepat. Partai harus mengeluarkan biaya untuk menjalankan mesin politik, biaya untuk kampanye beserta alat peraganya, biaya untuk saksi-saksi.

Tokoh yang menjadi pasangan calon pastinya diminta terlibat dalam prosesi-prosesi tersebut. Terlibat dalam pemikiran maupun pembiayaan.

Begitulah, tahapan Pilwali Surabaya 2020 sebentar lagi dimulai, yakni bulan depan (September). Adapun coblosan kurang setahun lagi. Situasi bursa masih sangat cair. Bisa saja muncul tokoh lain yang selama ini belum terekspos media massa. Yang pasti, Pilwali Surabaya 2020 adalah pesta rakyat. Semua menginginkan suksesi kepemimpinan di Kota Surabaya berlangsung dalam suasana damai dan gembira. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar