Sorotan

Pancasila dan Kepongahan Amerika

Kerusuhan Rasial di Amerika, Mobil Polisi Dirusak

Ditengah pandemi ini saya dikejutkan oleh berita kondisi terkini yang ada di negara adidaya Amerika, seakan berturut setelah perlemen dan para elite menyalahkan Trump yang dianggap telah lalai dan abai atas saran-saran para ilmuwan terhdapa Covid-19 hingga “fatwa” Trump untuk mewajibkan membuka rumah ibadah kepada seluruh gubenur negara bagian di Amerika bahkan di pidato terakhirnya sempat mengatakan jika gubenur tidak mau membuka gereja, masjid dan tempat ibadah lain maka dia yang akan membuka sendiri.

Saya sedang tidak bahas tentang jumlah korban covid di Amerika yang sudah kita ketahui semua bahwa secara data memang babak belur, tapi anehnya masih banyak juga sekelompok orang yang menganggap covid 19 hanya rekaan dan konspirasi belaka, bisa jadi dikarenakan Amerika punya Hallywood sebagai gudangnya macam-macam genre film terutama fiksi ilmiah dan juga misteri konspirasi.

Semua mata dunia sekarang seakan tertuju ke negara Amerika, negara yang puluhan tahun dikenal royal memberikan bantuan pelatihan tentang HAM dan kemanusiaan ke berbagai negara, negara yang selalu terdepan dalam issue demokratisasi ditiap perempatan gang bumi ini tiba-tiba terkuak belangnya dengan menganga.

Masalah rasisme di Amerika bukanlah barang baru tetapi memang sudah menjadi bom waktu, kematian seorang perempuan kulit hitam dan selang 2 bulan berikutnya disusul oleh George Floyd hanya puncak gunung es yang sudah menggumpal berabad.

Berdasarkan catatan saya, kekerasan seperti ini sudah terjadi berabad-abad lamanya di Amerika. Sejak dahulu kala, orang kulit hitam hanya dianggap budak dan hak-hak mereka dibatasi oleh orang kulit putih yang merasa yakin, kedudukannya lebih tinggi dari kulit hitam bahkan sekitar abad ke-20, hukuman mati tanpa pengadilan muncul sebagai taktik baru untuk mengendalikan kehidupan orang kulit hitam.

Terpilihnya Barack Obama menjadi presiden ditahun 2009 tidaklah menyelesaikan masalah rasisme di Amerika, justru warga Amerika ras putih puritan menganggap ini adalah sebuah kecolongan terbukti tidak ada penurunan kasus rasisme di Amerika dan bahkan keterpilihan Obama justru sebagai akar meningkatnya permasalahan rasial yang terjadi sepanjang pemerintahannya.

Dibawah kepemimpinan Trump seakan masyarakat Amerika mengalami social shock dengan model dan gaya eksentrik sang presiden, bahkan seorang gubernur berani mengkritik di depan publik seperti yang dilakukan oleh gubernur New York Cuomo dengan menuding Trump membebankan tanggung jawab kepada negara-negara bagian dan lebih menyukai bisnis besar daripada terpukulnya komunitas akibat corona.

Permasalahan rasisme di Amerika memang tidak fair kalau dilekatkan pada kegagalan Trump mengurus negara karena kronis dan menahunnya masalah ini di negeri paman Sam ini. Yang tidak habis pikir adalah bagaimana negara ini bisa menutupi aibnya ini bertahun tahun dengan tampil bak dewa tanpa cela di panggung internasional? Dan anehnya tak sedikit diantara para elit kita yang mendewa-dewakan negeri Paman Sam tersebut bahkan dijadikan rujukan tentang demokrasi dan hak asasi manusia.

Sudah tak terhitung negara mana saja yang menjadi korban kepongahan Amerika dengan dalih demokrasi dan HAM. Irak, Afghanistan, Sudan dll juga di Indonesia yang ujung-ujungnya adalah untuk kepentingan perluasan hegemoni dan ekonominya, di negeri kita tercinta tak bisa dipungkiri bagaimana keterlibatan Amerika terhadap turunnya orde lama, orde baru, lepasnya Timor-Timur hingga permasalahan yang ada di Papua.

Presiden Donald Trump

Issue dan kejadian yang ada di pusaran elite dan masyarakat di Indonesia memang patut dicurigai tidak akan lepas dari keberadaan negeri Paman Sam ini. Bagaimana bisa kontor kedutaan besar negara bisa menggusur bangunan yang bersejarah dan berdampingan dengan kantor Wapres RI.

Dengan mulai menggeliatnya dominasi Cina maka Amerika merasa makin perlu untuk bermesra ria dengan Indonesia, sehngga ada pameo yang mengatakan; jika ada gerakan anti Amerika bisa jadi ada Cina dibelakangnya dan sebaliknya jika ada gerakan anti Cina bisa jadi ada Amerika dibelakangnya dan indoneisa tetap hanya menjadi obyek dari kedua negara tersebut.

Mari kita belajar dari kepongahan Amerika ini untuk menjadikan negara kita tercinta ini sebagai negara yang mampu menjaga kebhinekaan dan keragaman yang saling menghargai. Kedewasaan kita dalam berbangsa sangat diperlukan untuk menjaga semua yang telah kita miliki ini, jangan sampai keinginan berdemokrasi kita tidak diimbangi dalam kedewasaan berdemokrasi yang membuat kita susah untuk kembali lagi bersatu hanya karena beda pilihan serta karena menang dan kalah dalam berkontetasi.

Selama kita mampu mengendalikan diri kita dalam berpolitik dengan tidak melibatkan issue SARA dalam meraih ambisi politk kita maka Insyaallah apa yangg terjadi di Amerika tidak akan terjadi di negeri tercinta ini. Mari kita jadikan Amerika sebagai contoh kegagalan dalam dalam merawat kebinekaan.

Bisa jadi kerusuhan yang terjadi di Amerika ini karena negara adidaya tersebut tidak memiliki PANCASILA yang digagas oleh para pendiri bangsa kita bersama para ulama dan tokoh bangsa yang mampu mengalahkan egonya untuk bangsa indoneisa tercinta .

Selamat hari Pancasila
Selamat haul Bung Karno
Terimakasih para kiyai yang telah mengabdi untuk negeri

HM, Zahrul Azhar as.
Inisiator AYIC ( ASEAN YOUTH INTERFAITH CAMP)





Apa Reaksi Anda?

Komentar