Sorotan

Paman Trump Vs Eyang Biden

Donald Trump kandidat sekaligus petahana Presiden Amerika dari Partai Republik melawan Joe Biden dari Partai Demokrat saat debat. Foto:/asia.nikkei.com

Drakor pilpres Amerika Serikat menapaki episode baru Sabtu malam (8/11) WIB. Perolehan suara Capres Joe Biden menembus angka keramat 270 suara, dan secara teknis sudah memenangkan pilpres.

Biden memenangkan suara di negara bagian Pennsylvenia yang menjadi penentu utama yang alot berhari-hari. Dengan memenangkan Pennsylvenia Biden meraup 279 suara dewan pemilihan (electoral college) dari total 538 suara.

Trump, sudah bisa diduga, tidak mengakui kemenangan Biden dan enggan memberikan pidato pengakuan (concession speech) yang sudah menjadi tradisi demokrasi Amerika selama dua ratus tahun.

Pada pilpres 2016 Hillary Clinton memberikan pidato pengakuan untuk kemenangan Trump pada 3 November malam setelah Trump melampaui angka keramat 270 suara.

Kali ini Trump tidak mau menyerah. Ia bersumpah akan melawan sampai titik darah penghabisan dan memprovokasi pendukungnya untuk tidak menyerah.

Kerusuhan horizontal bisa pecah setiap saat. Trump punya pendukung kulit putih yang fanatik dan terkenal rasis serta tak segan memakai kekerasan dengan memakai senjata api.

Kelompok White Supremacist ini bentrok melawan aktivis Black Lives Matter (BLM) yang didukung kulit hitam dan berwarna sejak George Floyd tewas dianiaya polisi kulit putih di Miennapolis, Mei.

Trump akan menggugat hasil pilpres ke Supreme Court (Mahkamah Agung) yang sekarang mayoritas hakim agungnya pendukung Trump.  Dari sembilan hakim agung enam pendukung Trump.

Hanya enam minggu menjelang pilpres Trump memaksakan pengangkatan hakim agung pilihannya Amy Coney Barret untuk mengganti Ruth Bader Ginsburg yang meninggal dunia.

Pilpres 2000 antara Al Gore dari Demokrat vs George W. Bush Jr dari Republik juga diputus di Supreme Court untuk kemenangan Bush.

Terlepas dari karakter Trump yang disebut kasar, diskriminatif, dan provokatif, pilpres kali ini membuktikan bahwa Trump masih mempunyai dukungan yang luas.

Dari sekitar 136 juta pemilih hampir separohnya memilih Trump. Selisih kemenangan suara perorangan yang dimiliki Biden tidak akan lebih dari tiga atau empat juta suara.

Inilah bukti bahwa meskipun selama ini lawan politiknya menuduh brengsek dan presiden terburuk tapi Trump tetap dipilih oleh pendukung fanatiknya dari kalangan kulit putih di daerah-daerah pinggiran.

Karakter Trump yang keras kepala, angkuh, arogan, dan kurang sopan santun, serta postur badan yang tinggi besar cocok mewakili karakter khas Amerika yang tercermin pada sosok Paman Sam.

Paman Sam atau Uncle Sam, karakter adalah Samuel Wilson asal New York yang pada abad ke-19 dianggap sebagai tokoh yang mewakili cikal bakal nasionalisme dan patriotisme Amerika.

Perawakan Paman Sam tinggi besar, kulit putih, mata biru, rambut agak gondrong, memakai topi tinggi berlambang strip and banner dan menudingkan telunjuk dengan pongah berkata, “I Want You”.

Gambaran itu pas dengan Trump yang layak disebut Uncle Trump atau Paman Trump, yang paham betul akan psikologi masyarakat kulit putih Amerika yang rindu akan kejayaan supremasi kulit putih.

Trump membawa semboyan MAGA (Make America Great Again) untuk mengembalikan supremasi yang hilang. Trump bersumpah akan membangun tembok sepanjang perbatasan dengan Meksiko untuk menghalangi para emigran hispanik yang menyerobot ke Amerika.

Para imigran itu dianggap mencuri pekerjaan dari pekerja kulit putih karena mau dibayar dengan upah murah. Trump dengan tegas mengatakan akan menghentikan imigrasi termasuk imigran Islam dari Timur Tengah.

Kedatangan imigran dianggap melunturkan identitas Amerika. Sekarang ini para imigran hispanik bisa hidup di Amerika seumur hidupnya tanpa bisa berbahasa Inggris satu kata pun, karena bahasa hispanik sudah menjadi bahasa kedua di Amerika.

Para imigran itu tinggal di gheto dan enclave bersama dengan komunitas mereka tanpa ada akulturasi budaya dengan budaya Amerika. Alih-alih menjadi melting pot budaya multikultural Amerika lebih mirip salad atau gado-gado.

Hal ini membuat risau pemikir sekelas Samuel Huntington yang mempertanyakan identitas keamerikaan yang luntur, “Who Are We? The Challenges to America’s National Identity” (2004).

Kerisauan akan lunturnya identitas kulit putih Amerika ini dengan jeli ditangkap oleh Paman Trump dan merumuskannya dalam MAGA. Dalam demo besar-besaran BLM (Black Lives Matter) setelah tewasnya George Floyd Trump terang-terangan berada pada garis depan penentang BLM.

Dalam perang dagang melawan China Trump gas poll tidak pakai rem, menuduh China merampas dan merampok perusahaan Amerika, dan menuduh China sengaja menyebar pandemi ke seluruh dunia.

Lawan politik menuduh Trump pembohong. Harian The New York Time menggambarkannya sebagai Pinokio. Tapi, Trump tak merasa bohong. Ia berbicara kepada pendukungnya dan mengatakan apa yang ingin didengar oleh pendukungnya, tidak peduli benar atau salah.

Trump membawa era post-truth, pasca-kebenaran. Pada era itu orang ingin mendengarkan apa yang ingin ia dengarkan. Ketika dituduh berbohong Trump menampik dan menyebutnya pernyataannya yang tidak sesuai kenyataan itu sebagai “alternative fact”.

Karena itu Trump mengatakan bahwa pilpres kali ini penuh kecurangan, banyak suara untuk Trump yang sengaja dihilangkan, bahwa pilpres ini adalah konspirasi media, pemodal besar, dan teknologi besar untuk menjegal kemenangannya.

Media-media menganggap tuduhan itu sesat dan tidak berdasar. Trump bergeming tak peduli. Ia tidak sedang bicara fakta atau kebenaran, ia mengatakan apa yang ingin didengar oleh pendukungnya.

Trump menggambarkan diri sebagai pembela rakyat kecil kulit putih di pedesaan, meskipun ia konglomerat filthy rich yang layak masuk daftar American Crazy Rich. Ia mencitrakan diri sebagai manusia religius sebagaimana para pendukung Partai Republik. Kenyataannya Trump adalah Kristen abangan dan masuk ke gereja hanya untuk selfie.

Sebagaimana pendukung fanatik Partai Republik Trump anti-LGBT, menentang aborsi, dan pendukung nilai-nilai keharmonisan keluarga. Praktiknya Trump tiga kali kawin cerai dan tak terhitung berapa kali terlibat kasus pelecehan terhadap perempuan.

Dalam menangani Covid 19 Trump seperti jagoan, tak pernah pakai masker dan tak peduli jaga jarak. Kampanyenya dihadiri puluhan ribu orang yang semuanya loss tidak pakai rewel, tanpa masker dan anti-jaga jarak.

Trump terjangkit Covid 19. Dua hari di rumah sakit ia memaksa keluar dan langsung berkampanye keliling negeri.

Bahwa Amerika menjadi negara tertinggi di dunia dalam jumlah kematian maupun kejangkitan, Trump tidak peduli. Ia berulang kali menegaskan Covid 19 pasti berlalu.

Joseph Robinette Biden Jr alias Joe Biden secara sadar mencitrakan dirinya sebagai antitesa Trump, 180 derajat berbalik dari karakter Trump. Biden santun, cerdas, andap asor, penuh tata krama.

Trump menyebut Biden pemimpin yang lemah, tidak berdaya menghadapi kerusuhan rasial, dan takut menghadapi China. Trump menyebut Biden sebagai Sleepy Joe, Joe Pengantuk.

Tapi pemilih sudah menjatuhkan vonisnya. Biden yang sudah 78 tahun akan menjadi presiden ke-46 Amerika Serikat. Ia presiden tertua dalam sejarah. Ia pantas disebut sebagai Eyang Biden.

Eyang Biden sudah tiga kali mencalonkan diri menjadi presiden pada 1988, 2008, dan 2020, dan baru sekarang beruntung. Biden menjadi wapres di bawah Obama pada 2012-2016.

Karena usianya yang sudah sepuh muncul rumor bahwa yang bakal menjadi real president adalah Kamala Harris, 56 tahun. Harris adalah wanita pertama yang menjadi capres di Amerika. Ia keturunan imigran India dari pihak ibu dan Afrika dari pihak bapak.

Tanda-tanda keuzuran sering tampak pada Biden. Ia sering lupa menyebut nama dan salah mengidentifikasi kota.

Pada suatu kesempatan Biden tidak ingat nama Mitt Romney, mantan capres Partai Republik, dan hanya menyebutnya “capres mormon”.

Dalam sebuah wawancara live di televisi Biden malah tidak ingat nama Trump dan menyebutnya sebagai George, mungkin maksudnya George Bush. Nyonya Jill Biden yang mendampingi sampai mengingatkan dengan bergumam menahan bibir, tapi tak urung tertangkap kamera juga.

Dua hari menjelang pemilihan di atas panggung kampanye Biden merangkul dan memperkenalkan cucu perempuannya dan menyebutnya sebagai “Beau”. Padahal Beau adalah anak pertama Biden yang sudah meninggal beberapa tahun 2015. Dalam sebuah kampanye Biden salah menyebut nama kota.

Dr H Dhimam Abror Djuraid

Trump, 74 tahun, menuduh Biden mengidap dementia sejenis kepikunan. Biden berang dan menantang Trump adu kecerdasan.

Sebagai Demokrat Biden lebih memberi kebebasan kepada agama-agama termasuk Islam. Biden pendukung multikulturalisme dengan kabijakan yang lebih bersahabat terhadap imigrasi.

Sebagaimana ideologi Partai Demokrat yang mendukung kebebasan liberal individual, Biden mendukung LGBT dan pernikahan sesama jenis.

Salah satu tim inti Biden adalah Pete Buttigieg, 38 tahun, mantan walikota South Bend, Indiana, seorang gay yang resmi menikah dengan sesama pria. Buttigieg termasuk the rising star di kalangan Demokrat dan disebut-sebut sebagai calon presiden masa depan.

Vonis sudah dijatuhkan dan rakyat sudah memutuskan. Demokrasi Amerika terbukti banyak kelemahan.

Seperti kata Winston Churchill, demokrasi adalah sistem pemerintahan terburuk, tapi tetap terbaik dibanding sistem lainnya.

Perseteruan Trump vs Biden masih akan terus berlanjut dan pendukung-pendukungnya akan terus saling berdemo dan membully.

Meme netizen Indonesia menggambarkan Biden akhirnya ke Gedung Putih dan Trump ke Gedung Bundar karena kejahatan pajaknya bisa menyeretnya ke penjara.

Banyak yang usil menyamakan pilpres Amerika dengan Indonesia, termasuk kemungkinan Biden akan mengajak Trump bertemu di MRT dan menawarinya menjadi menteri pertahanan.

Mungkin sebentar lagi relawan Biden juga akan berebut jadi komisaris. Aya-aya wae. (*)





Apa Reaksi Anda?

Komentar