Sorotan

Pak Aga Pergi Saat Azan Subuh Bergema

Almarhum Aga Surahno Foto semasa hidup

Jumat, 23 Juli 2021. Pak Aga pergi saat azan subuh bergema di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Pukul 04.21 Waktu Indonesia Barat. Ia menyusul istrinya, Novi Wardianti, tepat sepekan sebelumnya. Mereka berdua dimakamkan dengan protokol penanganan Covid-19.

Pak Aga adalah jurnalisme. Semasa hidup, dia menjabat pemimpin redaksi di Radio Prosalina dan direktur di Radio Kiss. Dua radio ini masih dalam satu grup, milik pengusaha Lutfi Abdullah. Saya tak pernah mendengar pria bernama lengkap Agus Suratno itu bekerja rangkap dengan profesi di luar jurnalisme, kecuali dosen. Itu pun dia mengajarkan mata kuliah terkait jurnalisme radio.

Bagi banyak wartawan di Jember, Pak Aga adalah guru. Ada sejumlah wartawan di Jember yang bekerja dan tumbuh sejak masa Orde Baru. Namun hanya Pak Aga yang saat berbicara tentang topik berita tertentu bisa mengaitkannya dengan teori-teori ilmu sosial. Habermas, Gramsci, dan Marx beberapa kali meluncur dari bibirnya yang selalu bersemangat kala bicara soal isu-isu sosial di Jember. Tak heran. Saya melihat buku-buku terselip di rak di ruang kerjanya.

Pak Aga selalu gelisah. Itu terlihat dari auditorial yang disiarkan setiap sore Prosalina. Ini semacam editorial radio. Suaranya bisa mengentak. Sesekali sinis. Tajam, namun konstruktif. Sesungguhnya memiliki wartawan seperti Pak Aga adalah sebuah bonus bagi Pemerintah Kabupaten Jember. Dia tak hanya cakap mengkritik, namun juga mau berbagi jalan keluar.

Suatu saat kami pernah tak sengaja berjumpa di Pendapa Wahyawibawagraha, dan ditemui langsung Bupati Hendy Siswanto. Pak Aga menyampaikan keinginan untuk mewawancarai langsung Hendy di studio. Hendy baru saja dilantik menjadi bupati. Berbekal komputer jinjing, Pak Aga kemudian menjelaskan beberapa konsepnya tentang good governance dan good government di hadapan sang bupati.

Hendy beberapa kali mengangguk dan tersenyum. Dia beberapa kali mengatakan dengan senang hati menerima saran dan kritik. “Kalau saya menyewa konsultan untuk kasih nasihat, harus bayar berapa coba,” katanya.

Pak Aga senantiasa berusaha memantik diskusi publik. Setelah esai saya berjudul ‘Mewaspadai Ekspektasi Tinggi’ ditayangkan beritajatim.com pada 18 Maret 2021, dia langsung mengirimkan artikel tanggapan berjudul ‘Ekspektasi dan Revisi’ yang ditayangkan sehari berikutnya. Artikel ini memantik artikel lanjutan dari Moch. Eksan (politisi Nasional Demokrat) dan Abdul Kadir Karim (seorang aparatur sipil negara).

Pak Aga bersemangat dengan perbenturan ide ini. Dia menelepon saya dan dengan bersemangat menjelaskan bagaimana saling tanggap ide ini positif bagi publik. Terakhir, Pak Aga mengirimkan artikel ke beritajatim.com berjudul ‘Pendekatan Tebaran Jala Penentu Kebijakan dan Wartawan’ dan diunggah pada Sabtu, 26 Juni 2021.

Saya merasa itu wasiat bagi saya dan kawan-kawan wartawan di Jember. Dia menjelaskan sesuatu hal yang mendasar dalam kerja-kerja jurnalisme dan diperbandingkan dengan kerja birokrasi: menyusun semua fakta yang relevan dalam sebuah tulisan berita.

“…ada yang bilang jurnalisme sebuah kartografi. Jurnalisme menyampaikan berita, dengan segenap kaidah dan prinsip jurnalistiknya, agar dengan berita dan informasi itu warga bisa menyikapi dengan peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Jurnalisme menyampaikan informasi yang dengan informasi itu warga bisa menentukan nasib dan masa depannya berdasarkan berita dan infromasi yang dibacanya,” tulisnya.

Arismaya Parahita, salah satu pejabat di Pemkab Jember, menyebut wafatnya Pak Aga adalah sebuah bagi Jember. “Siapa yang akan mengudara dg bahasa lugas, intonasi yang tegas, dan kontekstual itu?” katanya.

Dan demikian seharusnya seorang wartawan dikenang dengan penuh hormat. Saat azan Subuh bergema. [wir/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar