Sorotan

P D S I, Partai Demokrasi Skizofrenia Indonesia

Ribut Wijoto

Dalam ruang imajinasi saya, kurun 20 tahun terakhir, di tanah air, eksis sebuah partai bernama Partai Demokrasi Skizofrenia Indonesia (PDSI). Saking eksisnya, partai ini pernah memenangi pemilu, pernah menjadi oposisi, pernah menjadi runner up, pernah menduduki posisi buncit, dan pernah terdegradasi sehingga harus berganti nama.

Mengapa bisa eksis sekaligus jatuh bangun? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab. Tetapi, mari kita telisik lebih dalam tentang karakter dari Partai Demokrasi Skizofrenia Indonesia (PDSI).

Karakter utama dari PDSI adalah ‘skizofrenia’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘skizofrenia’ diartikan penyakit jiwa yang ditandai oleh ketidakacuhan, halusinasi, waham untuk menghukum, dan merasa berkuasa, tetapi daya pikir tidak berkurang.

Istilah skizofrenia sebenarnya berasal dari psikoanalisa Freud. Istilah ini digunakan untuk menyebut penyakit yang ditandai dengan terpecahnya identitas kepribadian, tampak antara lain dalam ketidaksesuaian antara fungsi-fungsi intelektual dan fungsi-fungsi afektif.

Penderita skizofrenia yang belum parah, dalam batasan tertentu, masih dapat berinteraksi dengan masyarakat. Tentu saja, masyarakat mesti sedikit sabar dalam memahami ucapan-ucapan yang seringkali tidak logis, tidak sesuai dengan logika umum masyarakat. Tata bahasa yang digunakan mungkin benar tetapi kategori pengisinya, seringkali, kacau, atau sebaliknya.

Adalah Roman Jakobson (1895-1982), seorang ahli bahasa kelahiran Rusia, menerapkan model bahasa Saussure terhadap pengidap skizofrenia. Hasilnya ada dua model kesalahan bahasa, yaitu pertama, kekurangan dalam substitusi (paradigmatik) akan mengambil jalan menuju ekspresi metonimis, kedua, kekurangan dalam kombinasi (sintagmatik) yang akan menjajarkan kata-kata khusus atau metafora.

Pada kasus pertama, penderita masih menggunakan tata bahasa yang benar hanya saja kategorinya acak. Misalnya, ketika untuk mengidentifikasikan “hitam”, akan dijawab dengan “kematian”. Sedangkan pada kasus kedua, penderita sudah kesulitan dalam membina tata bahasa. Yang dilakukan, penderita menjajarkan beberapa kata yang berbeda-beda untuk tujuan yang sulit dimengerti. Misalnya, untuk menggambarkan orang yang sedang sakit, penderita akan bilang “sapi, kursi dorong, suster, lantai, suntik, aduh!”

Model-model pengucapan penderita skizofrenia diadopsi oleh para pemikir postmodernisme dalam mencari alternatif logika berbahasa. Jacques Lacan (1901-1981), seorang ahli psikoanalisa postmodernisme, mendefinisikan skizofrenia sebagai putusnya rantai penandaan, yaitu rangkaian sintagmatis penanda yang bertautan dan membentuk satu ungkapan atau makna. Seseorang telah menggunakan bahasa di dalam bawah sadarnya.

Nah, karakter dan konsep skizofrenia ini lantas diadopsi oleh sebuah partai di Indonesia. Namanya Partai Demokrasi Skizofrenia Indonesia (PDSI). Dan hebatnya, partai skizofrenia ini eksis lebih dari 20 tahun.

Eksis sekaligus jatuh bangun. Pernah memenangi pemilu, pernah menjadi oposisi, pernah menjadi runner up, pernah menduduki posisi buncit, dan pernah terdegradasi sehingga harus berganti nama.

Mari kita telisik sepak terjang pimpinan maupun kader-kader PDSI.

Suatu ketika, PDSI memilih berada di barisan partai pendukung pemerintah. Padahal selama pemilu, dalam kampanye-kampanye, PDSI selalu mengkritik kebijakan pemerintah beserta partai-partai penguasa. Identitas oposisi melekat dalam diri PDSI. Mereka pun mendapat banyak simpatisan dari kalangan masyarakat yang kritis.

Tetapi setelah pemilu selesai, PDSI merapat ke pemerintahan. Masuk dalam deretan partai pendukung pemerintah. Satu kursi kabinet didapat. Ketua umum PDSI selalu berbicara baik tentang pemerintahan.

Anehnya, suara pengurus dan politisi PDSI kerap berbeda dengan suara ketua umum PDSI. Para pengurus dan politisi PDSI rajin melontarkan kritik kepada kebijakan pemerintah. Kritik yang kadang logis kadang ngawur. Kritik yang rajin dishare ke media sosial dan lantas jadi viral.

Lebih aneh lagi, ketua umum PDSI tidak pernah menegur pengurus dan politisi yang bersuara vokal. Yang suaranya berbeda dengan suara ketua umum PDSI.

Pada suatu ketika yang lain, PDSI memilih berada di luar pemerintahan. PDSI jadi partai oposisi. Tapi anehnya, secara diam-diam, sembunyi-sembunyi, banyak kader PDSI menjalin komunikasi intens dengan partai penguasa. Kader-kader ini juga giat mempengaruhi kader-kader lain, bahkan beberapa pengurus, untuk menggembosi kebijakan ketua umum.

Pernah pula PDSI memenangi pemilu. Menjadi partai penguasa. Kursi presiden diraih oleh kader PDSI. Sukses ini berkat slogan membela dan memperjuangkan kepentingan wong cilik selama masa kampanye.

Dan benar saja. Begitu menduduki kursi pemerintahan, PDSI gencar membuat peraturan dan instruksi dengan kalimat-kalimat ‘membela wong cilik’. Tetapi lain di mulut lain di kaki. Antara ideologi dan praktik ibarat jauh panggang dari api. Langkah-langkah kaki kebijakan pemerintahan PDSI tegap bergerak ke arah kapitalisme. Membela kepentingan pemilik modal.

Kekuasaan PDSI di pemerintahan dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh para kader untuk mengeruk keuntungan finansial. Atas nama wong cilik, mereka berjabat tangan dengan koorporasi. Gemerincing uang mengalir deras ke rekening para kader yang perannya berubah haluan menjadi makelar proyek.

Kepercayaan terhadap PDSI pelan namun pasti lantas terkikis. Pada pemilu berikutnya, PDSI kalah. PDSI banting setir, kembali jadi oposisi. Berlagak sebagai partai paling suci. Kembali getol mengkritik kebijakan pemerintah.

Tapi apa lacur yang terjadi. Di antara gelora kalimat yang sok suci, kader PDSI tiba-tiba tertangkap basah berduaan di hotel bareng perempuan yang bukan istrinya. Kader lainnya tiba-tiba dilaporkan karena menilep dana bantuan umat.

Yang paling aneh, PDSI pernah di luar pemerintahan namun tidak jadi oposisi. Plonga plongo saja. Kader PDSI di parlemen selalu mengambil sikap abstain terhadap kebijakan pemerintah. Tidak setuju dan juga tidak menolak.

Itulah sebagian kecil gambaran kiprah PDSI, Partai Demokrasi Skizofrenia Indonesia. Partai yang memiliki kepribadian ganda. Antara ucapan dan maksud ucapan berseberangan makna. Sebuah partai yang senantiasa mengkhianati ideologinya sendiri.

Untungnya, keberadaan PDSI tidak hidup nyata di Indonesia. Keberadaan PDSI hanya hidup dalam imajinasi saya. Imajinasi yang mungkin muncul akibat saya dulin kirang tebih, piknik kurang jauh. [but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar