Iklan Banner Sukun
Sorotan

Nuril dan Isolasi Mandiri yang Tak Sesederhana Itu Hari Ini

ilustrasi

Saya terkejut ketika kabar itu datang. Mohamad Nuril meninggal dunia di Rumah Sakit Bina Sehat, Kamis (15/7/2021) pukul setengah lima sore. Saya mengenal Nuril seorang pengacara dan sama-sama alumnus Himpunan Mahasiswa Islam. Terakhir dia juga diangkat menjadi salah satu dari anggota tim ahli Bupati Jember Hendy Siswanto.

Nuril sosok yang santun sekali, namun garang di ruang sidang. Ini pernah diakui Devi Aulia Rochim, salah satu komisioner Badan Pengawas Pemilu Kabupaten Jember, Jawa Timur, saat Nuril menjadi kuasa hukum lembaga itu menghadapi gugatan di pengadilan negeri setempat. “Memang pintar dia,” kata Devi.

Terakhir saya ngobrol dengan Nuril via WhatsApp, Minggu (11/7/2021), setelah mendengar kabar dia tengah menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah. Saya menerima foto dia tengah berbaring di ranjang kamar dan memakai alat bantu oksigen.


Nuril mengalami semua ciri-ciri seseorang yang menderita Covid-19. Suhu badan tinggi selama sepekan. Sesak napas. Batuk. Meriang. “Sesak napas dan mual, Cak. Anosmia enggak. Ini pakai (bantuan tabung) oksigen, Cak,” kata Nuril kepada saya.

Saya menyarankannya untuk makan banyak. Jika tak kuat melahap nasi, mungkin bisa makan pisang. Jangan lupa telur rebus dan ikan, kata saya.

“Kalau buat makan mual, Cak. Tapi aku coba telur rebus. Sampeyan isoman juga, Cak?”

“Tidak, aku dirawat di rumah sakit. Aku ada komorbid darah tinggi.” Saya memang pernah dirawat di Rumah Sakit Jember Klinik selama sembilan hari pada awal Januari 2021 karena terkonfirmasi positif Covid-19.

Percakapan kami tak lama. Saya memintanya beristirahat. “Siap, Cak,” sahutnya.

Rabu (14/7/2021), saya berusaha menghubungi Nuril lagi untuk menanyakan kondisinya. Saya berharap dia membaik. Tak ada jawaban. Belakangan saya baru tahu, kalau dia dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya memburuk. Saturasinya 76 persen. Dan makin memburuk lagi.

Lalu kabar lelayu itu mampir ke ponsel saya, Kamis sore itu. Dia akan dimakamkan di Desa Cangkring, Kecamatan Jenggawah.

Kematian Nuril melengkapi sejumlah kabar duka yang muncul di beranda akun Facebook dan WhatsApp. Selain Nuril, hari itu saya mendapat kabar sejumlah wartawan meninggal dunia karena pandemi ini. Republika edisi 3 Mei 2021 dengan mengutip Press Emblem Campaign (PEC) memberitakan, ada 1.208 orang jurnalis yang meninggal dunia karena Covid-19. Sebanyak 254 orang di antaranya adalah wartawan di 18 negara Asia. Jumlah ini tentu saja lebih banyak daripada jumlah jurnalis yang bertugas di medan perang.

“Waspada boleh, panik jangan. Ayo kurangi berita-berita maupun kabar yang horor-horor. Perbanyak share berita yang membangun semangat optimisme,” kata salah seorang teman.

Dia berniat baik dan percaya berita-berita tentang kematian akan membuat panik. Namun Indonesia dalam kondisi saat ini memang sudah saatnya membuat pemerintah menekan tombol merah alarm bahaya.

Hanya dalam waktu tiga hari, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan yang ditunjuk Presiden Joko Widodo untuk memimpin perang melawan pandemi mengubah pernyataannya. Di hadapan pers, Senin (12/7/2021), dia menyakinkan bahwa situasi masih terkendali. “Yang bicara tidak terkendali itu bisa datang ke saya. Nanti saya tunjukkan ke mukanya bahwa kita terkendali.”

Namun, dalam jumpa pers, Kamis (15/7/2021), Luhut mengakui kedahsyatan Covid varian Delta. “Saya mohon kita semua paham, dari varian Delta ini varian yang tidak bisa dikendalikan.”

Varian ini lebih ganas dan menguji mental maupun imunitas penderitanya. Kompas.com edisi 13 Juli 2021 memberitakan, selama dua hari berturut-turut, kasus kematian Covid-19 di Indonesia tertinggi di dunia, menyalip India dan Brasil. Padahal angka uji pelacakan (testing) Indonesia lebih rendah daripada dua negara tersebut. Tahun lalu, pada saat yang sama Indonesia bukan yang tertinggi.

Sebagian kematian terjadi pada pasien bergejala yang semula menjalani isolasi mandiri, karena tidak ada rumah sakit yang bisa menampung. Isolasi mandiri memang menjadi satu-satunya solusi hari ini saat fasilitas layanan kesehatan sudah penuh dengan pasien. Namun cepatnya virus varian Delta ini bekerja dalam tubuh membuat pasien isoman pun kini harus mengetatkan kewaspadaan.

“Semakin banyak yang isoman, ternyata di antaranya tidak tahu apa yang harus diwaspadai. Mungkin yang isoman bukan dalam artian dalam pantauan tenaga kesehatan. Bisa saja isoman karena keputusan dia sendiri, setelah periksa dia isoman sendiri karena takut tetangga tahu,” kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia Kabupaten Jember Alfi Yudisianto.

Padahal pemantauan medis secara berkala ini penting sekali. Bagi sebagian penderita Covid bergejala ringan, isolasi mandiri bisa dijalani tanpa waswas. Bupati Hendy Siswanto saat dinyatakan terkonfirmasi positif Covid oleh dokter masih bisa berolahraga.

“Saya lari keliling alun-alun tiga kali tidak keluar keringat kalau kondisi biasa. Lari sepuluh kali baru berkeringat. Tapi begitu kena Covid, kena panas sedikit saja, keringat sudah segede jagung. Sepuluh menit saja. Badan segar. Habis itu kita makan banyak,” kata Hendy.

Hendy sempat menjalani isolasi mandiri selama 14 hari sebelum terpilih menjadi bupati. Dia mengalami anosmia (kehilangan kemampuan membau dan mengecap rasa) selama empat hari. “Makan harus banyak dan vitamin C wajib. Buah-buahan harus banyak. Tidak boleh lapar,” katanya.

Selain makanan yang terjaga, salah satu kunci pemulihan adalah menjaga pikiran tetap bahagia. Dia selalu menyempatkan diri mengakses media sosial sebagai hiburan. “Santai saja seperti biasa. Kalau tidak buka medsos, makin bingung. Tambah stres,” katanya.

“Saya enjoy nonton televisi, nonton film. Sandingannya makanan. Makan, tidur, makan, tidur,” tambah Hendy. Film yang disaksikan Hendy adalah serial Arrow. “Itu 56 episode,” katanya, tertawa.

Arrow adalah serial televisi yang didasari tokoh pahlawan DC Comics, Green Arrow. Serial ini tayang perdana di Amerika Utara pada 10 Oktober 2012, dan disiarkan internasional pada akhir 2012. Serial ini menyedot 3,68 juta penonton selama musim pertama, serta meraih sejumlah penghargaan dan berbagai nominasi.

Tidak bergejala berat, David Handoko Seto, Ketua Komisi C DPRD Jember, masih bisa berolahraga dan menikmati hidup untuk bisa memulihkan diri. “Saya masih bisa nge-trail (naik sepeda motor trail) ke sawah dan tidak bertemu orang dan senam di rumah. Saya ikuti instruksi dari video Youtube, lalu karaokean di rumah,” katanya.

Sementara dua orang anak David yang semula melakukan isolasi mandiri, beberapa hari kemudian, terpaksa dirawat di rumah sakit. Mereka masing-masing mengalami vertigo dan anosmia.

Tidak semua seberuntung David. Ketua Komisi A DPRD Jember Tabroni menjalani isolasi mandiri dalam keadaan menderita. Ia mengalami demam, mual, pusing, batuk, dan persendian ngilu. Beruntung saturasi oksigennya normal: 97 persen.

Masalah kadar oksigen dalam darah ini yang menjadi ancaman bagi para pejuang isolasi mandiri. Saturasi oksigen Nuril terus anjlok. Bahkan terakhir saya mendengar kabar saturasinya di bawah 50 persen sebelum meninggal. Paman saya meninggal di rumah setelah sempat disuplai udara dari tabung oksigen. Saya tidak tahu berapa saturasinya saat itu, karena paman dan bibi tidak punya alat pengukurnya.

Ibunda seorang kawan semula tak teridentifikasi terkena Covid. Dia dirawat di rumah dan mengaku tak merasakan sesak napas. Lambungnya sakit, terasa mual. Empat hari di rumah tak kunjung membaik, dan setelah di bawah ke rumah sakit diketahui kadar oksigen dalam darahnya rendah sekali, sekitar 50 persen. Hasil tes menunjukkan dia terkonfirmasi positif Covid.

“Semua isolasi mandiri berisiko. Risiko terbesar saat isolasi mandiri adalah happy hipoksia,” kata Alfi.

“Paling sulit dipahami pada Covid adalah happy hipoksia. Dia tidak tahu sedang sesak napas. Dia merasa napasnya pendek-pendek. Itu saja. Padahal itu gejala sesak napas Covid. Pernah ada pengakuan beberapa pasien: saya tidak sesak, tapi kalau berjalan kaki terasa agak ngos-ngosan. Itu salah satu tanda hipoksia, artinya ada hambatan dalam menyerap oksigen,” kata Alfi.

Covid lebih berbahaya bagi penderita komorbid atau penyakit bawaan seperti darah tinggi dan gula darah. Namun, mayoritas masyarakat Indonesia tidak menyadari dan tidak tahu apakah memiliki komorbid penyakit tertentu, karena jarang memeriksakan kesehatan secara rutin ke klinik atau puskesmas.

Alfi mengakui adanya kemungkinan penderita yang melakukan isolasi mandiri tidak tahu apa yang harus diwaspadai, karena memutuskan melakukan isolasi tanpa pantauan tenaga medis. “Tapi isoman yang dipantau teman-teman dokter dan puskesmas kebanyakan tidak ada masalah, karena pertanyaannya kan detail: apakah mengalami sesak saat berjalan atau bagaimana,” katanya.

Pemerintah sudah mengeluarkan aturan tentang telemedicine atau pemantauan kondisi penderita dari jarak jauh. “Tapi masyarakat dan tenaga kesehatan belum semuanya menyentuh itu. Kalau isoman, telemedicine adalah salah satu sarana yang paling memungkinkan (untuk digunakan),” kata Alfi.

Kendati telemedicine belum menyentuh masyarakat keseluruhan, menurut Alfi, saat ini hampir semua puskesmas melakukan telekonsultasi atau konsultasi via aplikasi komunikasi dengan pasien yang melakukan isolasi mandiri. “Mulai ada pandemi memang ada petunjuk teknis pemerintah untuk memantau pasien minimal melalui WhatsApp atau SMS, terutama pasien-pasien yang tidak bergejala,” kata Alfi.

Universitas Jember punya kebijakan soal isolasi mandiri ini. Rektorat menyediakan gedung PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) sebagai tempat isolasi mandiri bagi civitas akademika yang terjangkit Covid-19.

“Bagi warga Unej yang kesulitan melakukan isolasi mandiri di rumah atau rumah kos, kami menyediakan gedung PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar),” kata Ketua Tim Tanggap Darurat Kesiapsiagaan Bencana Covid-19 (TTDKBC) Universitas Jember Ulfa Elfiah.

Dengan ditempatkan dalam satu tempat isolasi, menurut Ulfa, akan mempermudah tim penanganan Covid untuk mendampingi, merawat, dan melakukan evaluasi. Saat ini, total ada 76 warga Unej yang terkonfirmasi positif.

Warga yang memiliki keluhan gangguan kesehatan diharuskan melapor ke tim penanganan Covid kampus. Mereka kemudian diminta melakukan pekerjaan dari rumah. “Kami meminta tim Covid fakultas untuk mengawal teman-teman yang mengalami keluhan sakit atau tidak nyaman untuk memastikan bahwa mereka tidak sedang mengalami gejala Covid,” kata Ulfa.

Isolasi mandiri tak hanya membutuhkan kesigapan institusional dan individu, tapi juga lingkungan sosial. Hari ini kita bersyukur jika ada warga yang membantu warga lain yang melakukan isolasi mandiri. Kepedulian lingkungan dibutuhkan bukan hanya untuk memantau kondisi penderita yang sedang menjalani isolasi, tapi juga memberikan dukungan moral.

Itulah kenapa saya bahagia mendengar salah satu kawan yang tengah menjalani isolasi mandiri mendapat kiriman makanan dan buah-buahan dari tetangga-tetangganya. “Kulkasku sampai penuh,” katanya.

Syukurlah. Di antara semua kabar sedih, akan selalu ada cerita-cerita tentang optimisme dan keyakinan. [wir/kun]

Tulisan ini diperbarui pada Jumat (16/7/2021) pada pukul 17.53 WIB.


Apa Reaksi Anda?

Komentar