Iklan Banner Sukun
Sorotan

NU dan Lanskap Politik Post Orde Baru (3)

Ainur Rohim, Penanggung Jawab beritajatim.com dan Ketua PWI Jatim

Satu nama yang disebut-sebut berpeluang tampil memperebutkan posisi ketua umum PBNU 5 tahun mendatang adalah KH Yahya Cholil Staquf, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan saat ini menjabat sebagai Katib Aam Syuriah PBNU.

Gus Yahya, panggilan akrab KH Yahya Cholil Staquf, adalah anak KH Cholil Bisri dan keponakan KH Mustofa Bisri (Gus Mus). Pendidikan pondok pesantren pernah dijalani Gus Yahya. Tentunya di tingkat awal di Pondok Raudhlatut Tholibien yang diasuh ayah sendiri Kiai Cholil dan pamannya, Gus Mus.

Selain itu, Gus Yahya pernah nyantri di Pondok Krapyak Yogyakarta yang diasuh KH Ali Maksum, tepatnya di Madrasah Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Setelah itu, Gus Yahya melanjutkan pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada.

Nama Gus Yahya melejit ketika ditunjuk sebagai salah satu juru bicara (Jubir) Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) 1999-2001. Sebagai tokoh muda NU yang sangat dihormati, Gus Yahya berasal dari nasab yang kental dengan darah NU.

Selain ayahnya, Kiai Cholil, dikenal sebagai tokoh dan politikus tangguh dari NU. Kiai Cholil di lapangan politik terkenal keberaniannya dalam mengkritisi rezim Orde Baru, program Kuningisasi di Jateng saat dipimpin Gubernur Suwardi, dan berbagai ketimpangan ekonomi dan politik yang terjadi selama negara ini di bawah rezim Orde Baru.

Kiai Cholil sebagai anak sulung KH Bisri Mustofa pernah nyantri di Pondok Lirboyo Kediri dan Pondok Krapyak Yogyakarta. Keduanya merupakan lembaga pendidikan santri Islam Tradisional dengan reputasi kuat dan jaringan alumni tersebar sangat luas di Tanah Air.

Sewaktu menempuh pendidikan dasar, Kiai Cholil bersekolah di Sekolah Rakyat (1954) dan Madrasah Ibtidaiyah (1954). Kemudian dilanjutkan ke SMP Taman Siswa (1956) bersamaan dengan sekolah di Perguruan Islam (1956).

Kiai Cholil kemudian melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur (1957), Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak Yogyakarta (1960), Madrasah Aliyah Darul Ulum Mekkah (1962), dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pendidikan di pondok pesantren tak pernah dipaksakan KH Bisri Mustofa kepada anak-anaknya. Ketika Kiai Cholil diminta KH Machrus Ali dari Lirboyo dan KH Ali Maksum Krapyak untuk nyantri di pesantrennya, ia diminta memilih sendiri. Ia kemudian memilih nyantri di kedua pondok tersebut.

Di jagat politik, ayah Gus Yahya, Kiai Cholil terkenal sebagai politikus yang gigih membela kepentingan NU di PPP. Misalnya, menjelang muktamar PPP 1994, faksi NU membentuk Kelompok Rembang, merujuk nama tempat Kiai Cholil Bisri menjadi motor pentingnya.

Kelompok ini semula bermaksud mengajukan tokoh NU untuk bersaing dengan Buya Ismail Metareum dari unsur Muslimin Indonesia (MI). Bersama Matori Abdul Djalil, Imam Churmen, dan lain-lain, mereka mengkoordinasi faksi NU di PPP. Tapi, ketika pertarungan itu belum terlaksana, Kelompok Rembang bubar karena sebelum muktamar PPP sudah terjadi perpecahan dengan keluarnya kelompok Hamzah Haz dari Kelompok Rembang.

Kakek Gus Yahya dari garis ayah, yakni KH Bisri Mustofa, yang populer sebagai tokoh dan kiai NU yang luas pengaruhnya di Jateng, Jatim, dan daerah lainnya. Kiai Bisri Mustofa memiliki karakter ke-NU-an yang kuat dan konsisten, sehingga sangat dihormati kiai dan warga NU secara luas. KH Bisri Mustofa juga seorang penulis produktif dan pengarang tafsir terkenal, al-Ibriz, dalam bahasa Jawa.

Gus Yahya juga sempat duduk di lembaga Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada 2018, untuk menggantikan tokoh NU yang wafat pada 2017, KH Hasyim Muzadi. Jabatan itu hanya ia emban hingga 2019.

Membuka garis kenasaban secara utuh, mendalam dan latar pendidikan pondok pesantren bagi seorang tokoh NU yang berpeluang mengorbit ke ranah lebih tinggi di struktur organisasi NU, menjadi faktor penting dalam relasinya dengan kepemimpinan NU.

Misalnya, Gus Dur memiliki garis nasab sangat kuat dari ibu dan bapak. Gus Dur adalah cucu KH Hasyim Asy’ari (dari garis nasab ayah) dan KH Bisri Syansuri (garis nasab ibu). Pendidikan pondok pesantren Gus Dur juga lengkap. Dia pernah nyantri di Pondok Tambakberas Jombang, Pondok API Tegalrejo Magelang, dan Pondok Krapyak Yogyakarta. Hal demikian dengan Gus Yahya dan banyak tokoh NU lainnya.

Saat menyusun tesis di program magister (S-2) Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga Surabaya, penulis mendeskripsikan bahwa konsep kiai sebagai elite NU adalah hal penting yang mesti dipahami dalam konteks ini. Kiai adalah komponen penting dalam organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam NU. Kiai menjadi sokoguru bagi NU dengan berbagai label dan kapasitas yang melekat di dalamnya, baik dalam perspektif teologis, sosial, kultural, dan politik.

Kiai merupakan elite penting dan strategis dalam keluarga besar NU, baik dalam perspektif jam’iyyah (kelembagaan organisasi) maupun jamaah (keumatan). Sedang massa NU yang popular dengan sebutan warga Nahdliyyin merupakan komunitas keagamaan (Islam) yang menjadikan kiai sebagai patron dan rujukan utamanya, baik dalam lapangan keagamaan, sosial, kultural, dan politik.

KH Achmad Siddiq (2005), Rais Aam PBNU hasil Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Situbondo menyebut, kalau ada organisasi yang memilih kekuatan sentralnya pada kaum buruh dan tani, pada kaum intelektual, pada para pejabat/karyawan, dan atau pada macam- macam lagi, maka NU menentukan dengan mantap bahwa tiang utamanya, sokoguru dan kekuatan sentralnya adalah para kiai.

Pemilihan para kiai sebagai tiang utama NU didasarkan pada dua pertimbangan utama: Pertama, sebagai organisasi keagamaan harus memilih dan menentukan kekuatan sentralnya pada tokoh-tokoh yang paling kuat dan paling dapat dipertanggungjawabkan jiwa, mental, ilmu, amal dan akhlak keagamaannya, yakni para ulama.

Kedua, seorang ulama yang paling kecil lingkaran pengaruhnya pun selalu mempunyai kewibawaan dan pengaruh atas santri/muridnya dan para (bekas) santri/murid yang sudah pulang kampung dengan posisi dan potensinya masing- masing.

Bahkan para ulama juga memiliki jalur kewibawaan langsung dengan masyarakat sekelilingnya, yang dapat menembus batas-batas kelompok organisasi, batas-batas kedaerahan sampai jauh ke pelosok-pelosok Tanah Air, malah bisa lebih luas daripada itu (Siddiq, 2005; 17-18).

Organisasi NU menegaskan bahwa ia merupakan penganut Aswaja, sebuah paham keagamaan—yang di kalangan NU— bersumber pada: Alquran, As Sunnah, Al Ijma’ dan Al Qiyas. Karena hendak mempertahankan dan mengembangkan paham demikian ini pula NU berdiri. Secara harfiah Aswaja berarti penganut Sunnah Nabi Muhammad SAW dan Jamaah (sahabat-sahabatnya).

Secara ringkas berarti segolongan pengikut Sunnah (jejak) Rasulullah SAW yang di dalam melaksanakan ajaran-ajarannya beliau berjalan di atas garis yang dipraktikkan Jamaah (sahabat Nabi). Dalam pengertian yang lebih rinci, dan ini yang dianut NU, KH Bisri Mustofa, seorang ulama asal Kabupaten Rembang yang juga paman Gus Yahya, mengartikan Aswaja sebagai paham yang berpegang teguh kepada tradisi sebagai berikut: (1) Dalam bidang hukum-hukum Islam, menganut salah satu ajaran dari empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi‟i, dan Hambali). Dalam praktik, para kiai merupakan penganut kuat mazhab Syafi’i.

Kemudian, (2) Dalam soal-soal tauhid, menganut ajaran-ajaran Imam Abu Hasan Al-Asya‟ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi. (3) Dalam bidang tasawuf, menganut dasar-dasar ajaran Imam Abu Qosim Al-Junaidi. Operasionalisasi ajaran Aswaja itulah yang membedakan NU dengan kalangan Islam pembaru. (Marijan, 1992: 21-22).

Posisi dan keberadaan kiai tak mungkin dilepaskan dari pesantren (Pondok Pesantren). Pesantren adalah lembaga penting yang terkait dengan kekiaian seseorang. Begitu lekatnya NU dengan orang-orang pesantren dan umat Islam pedesaan, sampai-sampai dikatakan NU merupakan organisasinya pesantren dan umat Islam pedesaan.

Ketika masih berpolitik, Kenneth E Ward malah menyebutnya sebagai pesantren in politics. Keeratan NU dengan pesantren seiring dengan tujuannya yang hendak melestarikan ajaran Aswaja. Perkembangan pesantren cukup unik, antara satu pesantren dengan pesantren lainnya biasanya memiliki pertalian geneologis. Berdirinya suatu pesantren, tidak jarang, memiliki kaitan dengan pesantren besar sebelumnya, yang biasanya merupakan tempat belajar kiai pendirinya. (Marijan, 1992: 38 dan 40).

Latar pendidikan pondok pesantren memiliki pengaruh kuat pada besar-kecilnya peluang tokoh dan elite NU yang terpilih di muktamar nanti. Sekadar contoh, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj adalah alumni Pondok Lirboyo Kediri sebelum menempuh pendidikan di Arab Saudi. Demikian pula dengan KH Hasyim Muzadi yang lama nyantri di Pondok Modern Gontor Ponorogo, Pondok Al Anwar Sarang Rembang, dan pondok lainnya.

Dalam konteks ini, pengaruh almamater pondok calon bisa berpengaruh dan menentukan besar-kecilnya peluang. Sebab, jaringan alumni pondok besar, seperti Pondok Lirboyo Kediri, Pondok Al Falah Ploso Kediri, Pondok Tebuireng Jombang, Pondok Langitan Tuban, Pondok Buntet Cirebon, Pondok Sidogiri Pasuruan, Pondok Zainul Hasan Genggong Probolinggo, dan pondok lainnya cukup banyak yang menduduki pos-pos struktural kepengurusan NU di tingkat kabupaten/kota dan provinsi di seluruh Indonesia.

Dr KH Fahrur Rozi (2019), pimpinan Pondok An Nur Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, mengatakan, saat ini banyak mantan pengurus GP Ansor di tingkat kabupaten/kota dan provinsi ketika Gus Ipul menjabat sebagai ketua umum GP Ansor, menjadi pengurus NU di tingkat kabupaten/kota dan provinsi. “Gambarannya seperti itu,” tukas Gus Fahrur.

Dalam perspektif kewilayahan, masing-masing pondok pesantren besar memiliki pengaruh sosiologis, teologis, kultural, dan politik masing-masing. Gus Fahrur mengatakan, di wilayah Mataraman, pengaruh besar Pondok Lirboyo dan Pondok Al Falah Ploso Kediri sangat besar, karena kedua pondok ini akar basis santrinya sebagian besar di kawasan Mataraman.

Secara garis besar, Gus Fahrur berpendapat bahwa pondok pesantren berpengaruh di Jatim bisa dikelompokkan dalam 4 kawasan. (1) Jatim bagian Barat di bawah pengaruh kuat Pondok Lirboyo dan Al Falah Ploso Kediri. (2) Jatim bagian Timur di bawah pengaruh kuat Pondok Sidogiri Pasuruan dan Pondok KH Zainul Hasan Genggong Probolinggo. (3) Jatim bagian Utara pengaruh Pondok Langitan Widang Tuban. (4) Jatim bagian Tengah dipengaruhi 4 pondok besar di Kabupaten Jombang: Pondok Tebuireng, Pondok Bahrul Ulum Tambakberas, Pondok Mambaul Ma’arif Denanyar, dan Pondok Darul Ulum Rejoso.

Rata-rata pemangku pondok level sedang dan kecil adalah santrinya pondok besar. Gus Fahrur mencontohkan, dia sendiri alumni Pondok Lirboyo yang kini memangku Pondok An Nur Bululawang, Kabupaten Malang.

Begitu pun dengan KH Hasan Mutawakkil Alallah (mantan Ketua PWNU Jatim) yang mengasuh Pondok Zainul Hasan Genggong Pajarakan, Kabupaten Probolinggo adalah santri Pondok Lirboyo. KH Anwar Iskandar yang kini mengasuh Pondok Al Amiin Ngasinan, Kota Kediri adalah alumni Pondok Lirboyo. Bahkan, KH Maimoen Zubair, pendiri Pondok Al Anwar Sarang, Kabupaten Rembang adalah alumnus Pondok Lirboyo Kediri dan berguru langsung kepada pendiri Pondok Lirboyo, KH Abdul Karim.

“Dulu pesantren yang terbesar adalah Bangkalan, Syaichona Cholil. Syaichona Cholil menurunkan murid Tebuireng (Jombang), Sukorejo (Situbondo), Genggong (Probolinggo), Lirboyo (Kediri), dan lainnya. Tapi Ra Cholil itu murid dari Sidogiri, pesantren yang usianya lebih dari 300 tahun di Kabupaten Pasuruan. Dulu santri ngaji setelah Kiai Cholil itu dibagi, kalau mau ngaji Nahwu di Pondok Lirboyo, ngaji Hadits di Pondok Tebuireng, ngaji Akidah di Pondok Genggong, dan belajar Al Qur’an ke Pondok Krapyak Yogyakarta,” katanya.

Dalam konteks sekarang, Pondok Lirboyo Kediri diposisikan sebagai patron dan rujukan. Hal itu juga dibenarkan Gus Abdullah Kautsar (2019), anak KH Nurul Huda Jazuli, pengasuh Pondok Al Falah Ploso Kediri.

Dia membenarkan kuatnya otoritas Pondok Lirboyo di mata pemangku pondok pesantren lainnya di Jatim dan Indonesia. Hari ini pemegang (otoritas) itu Pondok Lirboyo, kendati tidak dinyatakan secara tertulis dan tak terucapkan. Tapi pendapat yang paling kuat itu tidak bisa dipungkiri adalah Pondok Lirboyo dan Pondok Ploso. Pimpinan Pondok Ploso selalu mengatakan apa kata Lirboyo.

Sekarang ini, kata Gus Kautsar, mana ada pondok yang tak ada alumni Lirboyonya. Sebut saja KH Said Aqil Siradj alumni Lirboyo, Gus Mus alumni Lirboyo, Kiai Ma’ruf Amin juga alumni Lirboyo, karena Lirboyo itu pondok paling tua.

Setidaknya ada tiga elemen yang membuat jaringan antar-kiai NU ini kuat dan solid dalam perspektif sosiologis, historis, kultural, dan politis.

Ketiga elemen itu adalah: (1) Adanya kesamaan guru atau kiai dan alumni pondok pesantren di antara para kiai. (2) Karena jalinan pernikahan, sehingga antara kiai satu dengan kiai lainnya sebenarnya terikat hubungan kekerabatan secara langsung maupun tak langsung. (3) Para kiai itu sudah lama mengenal dan memahami personal tokoh tertentu yang akan tampil di satu hajatan organisasi di skala regional maupun nasional. [air/habis]


Apa Reaksi Anda?

Komentar