Sorotan

Negara Ini Memang Sedang Butuh Demo Mahasiswa

Ribut Wijoto

KAMIS, 8 OKTOBER 2020, sejak pagi hingga sore, demo serentak di berbagai kota Jawa Timur. Surabaya, Malang, Jember, Kediri, Lumajang, Pamekasan, Bojonegoro, dan lain sebagainya. Juga di berbagai kota lain di Indonesia.

Demo Kamis ini, secara kasat mata, berbeda jauh dibanding demo hari sebelumnya. Pada hari Selasa dan Rabu, demo didominasi oleh kaum buruh. Kali ini, mahasiswa yang mendominasi. Meski pemicunya sama. Yaitu, pengesahan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja oleh DPR hari Senin (5 Oktober 2020) dini hari.

Isu sentral yang dikemukakan: UU Cipta Kerja sangat merugikan kaum buruh. Undang-undang yang dinilai lebih berpihak pada pengusaha, pemilik modal. Maka, buruh berdemo untuk memerjuangkan nasibnya. Dan Kamis ini, mahasiswa berdemo untuk memerjuangkan nasib buruh.

Lalu ricuh di mana-mana. Di Jember kaca gedung DPRD pecah akibat lemparan batu. Di Gresik pembakaran ban bekas memicu aksi dorong antara mahasiswa dengan polisi. Batu juga berterbangan di kota Malang, polisi terpaksa menembakkan gas air mata. Mahasiswa merusak beberapa fasilitas umum di Surabaya.

Ya begitulah demo mahasiswa. Rawan ricuh. Berbeda dari demo buruh yang lebih tertib.

Dalam beberapa tahun terakhir, demo buruh memang terlihat rapi. Mereka diorganisir oleh federasi. Kerap kali datang ke lokasi demo dengan menyewa puluhan bus. Jikalau naik kendaraan roda dua, mereka berjajar-jajar. Masih memberi ruang bagi pengendara umum.

Hari Selasa dan Rabu lalu, sisi baik lainnya, demo buruh menampakkan kesadaran mereka atas pentingnya protokol kesehatan. Memakai masker. Berusaha mencegah persebaran Covid-19.

Tetapi lihatlah demo yang didominasi oleh mahasiswa. Banyak sekali yang tidak pakai masker. Banyak sekali teriakan-teriakan, maaf, kadang disertai umpatan kata-kata kotor.

Ya begitulah demo mahasiswa. Rawan ricuh. Berbeda dari demo buruh yang lebih tertib. Padahal secara latar belakang pendidikan, mahasiswa jelas-jelas kaum kampus. Perguruan tinggi. Salah satu institusi pusat pendidikan.

Mengapa demo mahasiswa rawan ricuh dibanding demo buruh? Bisa jadi, latar belakang kehidupan yang membuatnya berbeda.

Rata-rata buruh memiliki tanggungan keluarga. Memiliki pasangan hidup, mungkin juga anak. Jikalau bujang, mereka dalam tahap ‘menjelang nikah’. Tanggungan keluarga ini tentu saja membuat buruh berpikir ulang jika bertindak nekat saat demo. Belum lagi jika sampai berurusan dengan pihak berwajib (polisi), buruh bisa mendapat sanksi keras (mungkin dipecat) oleh perusahaan tempat mereka bekerja.

Latar keseharian hidup mahasiswa berbeda. Mahasiswa rata-rata belum memiliki tanggungan keluarga. Tanggung jawab mereka paling-paling tentang belajar yang rajin agar cepat lulus dengan nilai bagus. Kalaulah mereka nekat saat demo dan berurusan dengan aparat kepolisan, pihak kampus jarang memberikan sanksi. Justru biasanya kampus bakal membela.

Saya masih berstatus mahasiswa ketika marak demo tahun 1998 untuk menggulingkan rezim Soeharto. Saya tahu, banyak mahasiswa merasa gagah ketika ikut demo. Banyak mahasiswa merasa bangga ketika menceritakan keterlibatannya dalam aksi dorong dengan aparat kepolisian. Justru, mereka memandang sinis terhadap mahasiswa lain yang tidak mau ikut demo.

Hingga kini setelah 20 tahun lebih, teman-teman saya yang ketika itu ikut demo dan terlibat kericuhan dengan aparat kepolisan, mereka masih tampak bangga ketika menceritakan pengalamannya.

Selain perkara ricuh, satu hal pelik lain yang kerap bergelibat dalam demo mahasiswa adalah rawan ditunggangi. Aksi demo mahasiswa kerap mendapat tudingan, mereka bergerak atas dasar pesanan pihak-pihak tertentu. Benar atau salah tudingan itu? Entahlah. Tulisan ini tidak terlalu bersemangat untuk membuktikannya.

Tulisan ini lebih suka melihat sisi positif dari demo mahasiswa. Bahwa, negara ini (Indonesia saat sekarang) sedang butuh kontrol. Dan, demo mahasiswa bisa menjadi salah satu media kontrol yang efektif.

DPR sebagai lembaga kontrol resmi negara, saat ini, kurang begitu bisa diharapkan. Soalnya adalah komposisi kekuatan koalisi pendukung Pemerintahan Presiden Joko Widodo yang terlalu dominan. Sebanyak 427 kursi DPR atau 74,3 persen suara mendukung Jokowi. Pengesahan UU Cipta Kerja merupakan salah satu bukti kuatnya koalisi dalam mengalahkan suara oposisi.

Dalam situasi politik saat ini, maka, peran mahasiswa sebagai kekuatan yang mengontrol kinerja pemerintahan menjadi lebih penting. Sebab pemerintahan tanpa kontrol tentu tidaklah baik. Pemerintahan tanpa kekuatan kontrol bakal rawan dengan penyimpangan.

Terakhir, kita semua berharap mahasiswa terus menjaga sikap kritis. Bergerak pada koridor idealisme. Membela kebenaran, memerjuangkan nasib kaum yang kurang beruntung, berani berteriak ‘tidak’ terhadap segala bentuk penyimpangan. [but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar