Iklan Banner Sukun
Sorotan

Mungkin Saya yang Salah

Ribut Wijoto

Selama ini saya termasuk orang yang, meski banyak di dalam hati tanpa koar-koar, mendukung kebijakan Pemerintah RI terkait penanganan kasus Covid-19. Saya ikut vaksin 1 dan 2 sejak awal tahun kemarin, rajin cuci tangan, dan selalu memakai masker di ruang publik.

Saya berada dalam gerbong orang-orang yang menyadari bahwa Covid-19 sangat berbahaya. Pada puncak-puncaknya kasus Covid, bulan Juli-Agustus 2021, beberapa tetangga saya meninggal. Masjid di kampung tempat tinggal saya hampir tiap hari menyiarkan informasi kematian. Sungguh ketika itu, maut serasa demikian dekat.

Sejak dulu hingga saat sekarang, ketika mendapati komentar sinis tentang penanganan Covid-19, meski dalam hati, saya selalu tidak sependapat. Kadang saya berpikir, orang-orang yang sinis atas penanganan Covid adalah barisan oposisi. Mereka-mereka yang memilih sikap berseberangan dengan Pemerintah. Sehingga apapun kebijakan Pemerintah senantiasa dikritisi. Dianggap tidak benar.

Begitu pula ketika ramai-ramai video seorang wanita asal Jember didatangi banyak aparat karena menolak vaksin, hari Jumat (21 Januari 2022). Dia adalah Fitriana warga Dusun Sungai Tengah Desa Manggisan Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember.

Fitriana seorang diri menghadapi belasan aparat. Semua laki-laki.

Adu argumen. Saling menyalahkan. Motor digulingkan dan sempat ricuh. Dua belah pihak saling merekam pakai kamera handphone.

Aparat terus berusaha meyakinkan Fitriana agar mau divaksin Covid. Fitriana bersikukuh tidak mau. Mungkin kesal, aparat menempuh cara lain. Sasarannya kelengkapan surat sepeda motor milik keluarga Fitriana. Bukannya berhasil, permasalahan justru kian runyam. Juga melebar.

Dalam hati, saya tentu saja berpihak pada aparat. Saya membayangkan betapa berat perjuangan aparat untuk mengatasi persebaran kasus Covid-19. Betapa berat perjuangan aparat untuk menyakinkan warga bahwa vaksin penting untuk kekebalan tubuh menghadapi serangan Covid-19.

Aparat rela mendatangi rumah per rumah warga agar bersedia divaksin. Termasuk rumah Fitriana. Sudah rela datang, aparat mendapat sambutan yang tidak sesuai harapan.

Situasi yang pelik. Jauh dibandingkan dengan situasi Indonesia di awal tahun 2020. Ketika itu, banyak orang berebut agar bisa segera divaksin. Ribuan orang rela antre berpanasan di tempat umum untuk segera mendapat suntikan vaksin. Bahkan ada yang rela membayar alias vaksin mandiri.

Ini di Jember, aparat sudah bersedia datang ke rumah, eh si pemilik rumah tidak bersedia divaksin. Justru ricuh yang terjadi.

Saya menyimak video ricuhnya yang diunggah di Youtube. Silang percakapan adu argumennya.

Saya lalu penasaran dengan komentar-komentar di bawah video. Sungguh, saya terperanjat. Hampir tidak ada komentar yang sesuai dengan pandangan saya.

Hampir seluruh komentar menghujat aparat. Hampir seluruh komentar bersimpati pada Fitriana. Menganggap Fitriana sebagai tauladan. Cerdas & pemberani. Berani melawan aparat.

Saya menyimak komentar-komentar itu. Sedikit demi sedikit saya pun terpengaruh. Saya mulai berpikir, mungkin selama ini saya salah. Mungkin ada yang perlu direvisi dari pikiran saya. Otak saya perlu diedit. Perlu install ulang. Agar lebih jernih menilai fakta.

Satu netizen berkomentar: Ini sudah kriminal, mendobrak pintu tanpa izin yang punya rumah,
Pasal 167 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”). “Barang siapa memaksa masuk ke dalam rumah, ruangan atau pekarangan tertutup yang dipakai orang lain dengan melawan hukum atau berada di situ dengan melawan hukum, dan atas permintaan yang berhak atau suruhannya tidak pergi dengan segera, diancam dengan pidana penjara sembilan bulan.

Netizen lain berkomentar: Salut sama wanita pemberani tersebut yg ngakunya hanya lulusan SD. Namun membuat keok dan tidak tau malu para petugas racun vaksin termasuk TNI dan polisinya yg hanya manut dan nurut maunya atasan padahal racun vaksin sendiri sampai detik ini masih timbul perdebatan baik medis maupun politik, sehingga mengorbankan banyak rakyat kecil. Dan lagian mereka benar kata si wanita masuk tanpa permisi kayak maling atau rampok..faktanya gitu.

Ditimpali oleh netizen lain: Mana nih yg ngerti hukum. Ayoo. Bantu ibu ini. Jgn sampe hukum tumpul ke atas tajam ke bawah……mau jd apa negara kalo begini…..

Masih banyak komentar lain yang lebih pedas. Hampir semua menyalahkan cara aparat menghadapi warga. Tidak sedikit yang menyatakan ketidaksetujuan pada program vaksinasi. Intinya menyalahkan Pemerintah. Menganggap negeri ini salah urus.

Semua komentar itu, sekali lagi, membuat saya berpikir ulang. Mungkin selama ini saya yang salah. Mungkin komentar-komentar itu memang menggambarkan suara mayoritas rakyat Indonesia. [but]

 

 

 

 


Apa Reaksi Anda?

Komentar