Sorotan

Spirit Chile di Piala Dunia 1962

Foto: Ilustrasi

Indonesia ditetapkan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Piala Dunia U20 pada 2021.

Surabaya menjadi salah satu nominator kota penyelenggara dengan Stadion Gelora Bung Tomo sebagai sentranya.

Pemilihan Surabaya menjadi tuan rumah menghadirkan kontroversi, setelah Gubernur menyebut Gelora Bung Tomo kurang layak. Bau yang menyengat karena letak stadion yang tidak jauh dari lokasi tempat pembuangan dan pengolahan sampah jadi biangnya.

“Engko nek pas FIFA ke sana terus pas anginnya masuk, ini aroma apa?” tuturnya.

Bukannya meminta agar ada perbaikan infrastruktur, Gubernur justru menyodorkan alternatif stadion lain di Jawa Timur. “Pokoke Jawa Timur harus ada yang dijadikan venue,” katanya.

Pernyataan Gubernur ini menyentil ‘gengsi’ kota dan memunculkan nuansa ketidakpercayaan terhadap Pemerintah Kota Surabaya untuk menanganinya. Tak heran jika kemudian Pemkot Surabaya langsung bereaksi.

“Saya menangani Gelora Bung Tomo selama 9 tahun dan Persebaya bertanding ratusan kali tidak pernah bau sampah dan bau busuk. Itu karena supaya tidak menimbulkan bau itu ada metodenya. Ini seharusnya tidak ada persoalan. Jadi jangan mengganggu kaitannya Surabaya menjadi tuan rumah FIFA World Cup U20 2021, kita harus optimis dan kita sudah menyiapkan lapangan latihan,” kata Kabid Sarana dan Prasarana Dispora Surabaya Edi Santoso.

Sementara itu di media sosial, pernyataan Gubernur memantik reaksi protes Bonek, suporter Persebaya Surabaya.

Gubernur menyodorkan sejumlah stadion sebagai opsi. Namun dia menekankan Stadion Kanjuruhan sebagai favorit. “Kalau di Kanjuruhan, relatif itu tersupport. Bukan soal Bonek Mania atau Aremania lho rek,” tambahnya.

Sengaja atau tidak Gubernur menyentuh sisi sensitif rivalitas dua kelompok supoter. Sesuatu yang seharusnya tidak perlu diungkapkan.

Alhasil Gubernur dihujani protes di media sosial. Apalagi sebelumnya ia jarang sekali bicara soal sepak bola sebagai bagian dari kebijakan publik yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Spekulasi bertebaran, terutama terkait politik. Apalagi ini menjelang pemilihan Wali Kota.

Pernyataan Gubernur yang menyentil soal bau sampah diakui atau tidak ‘menyerang’ jantung kebijakan Wali Kota Surabaya yang selama ini dikenal publik karena piawai menata dan menciptakan kebersihan kota.

Namun lupakanlah soal spekulasi politik. Tanpa digiring ke arah politik, pernyataan Gubernur bisa dianggap benar tapi keliru.

Dengan kata lain, Gubernur tak utuh memahami persoalan. Masalah penunjukan sebuah kota sebagai lokasi even sepak bola internasional didasarkan pada pertimbangan teknis terkait sepak bola itu sendiri. Ini tidak ada urusannya dengan gengsi provinsial sebagaimana penyelenggaraan pekan olahraga nasional di Indonesia. Gubernur bisa saja menunjuk stadion alternatif di luar GBT. Pertanyaannya: secara teknis, apakah memang memenuhi syarat?

Jika kemudian tidak memenuhi syarat dan semua opsi itu tidak ada yang sepadan dengan GBT, lantas apa yang bisa dilakukan Pemerintah Provinsi? Jika memang ada kekurangan pada GBT, maka yang perlu dilakukan adalah mendorong Pemerintah Kota Surabaya untuk berbenah.

Bahkan Pemerintah Provinsi bisa membantu, jika ada kewenangan yang mungkin berada di tangan Gubernur untuk memperbaiki infrastruktur di GBT dan sekitarnya.

Ketimbang repot-repot memikirkan opsi venue di luar GBT, Gubernur lebih baik mulai merancang strategi kolaborasi dan sinergi kabupaten-kota di Jatim, untuk memanfaatkan Piala Dunia 2021 di Surabaya menjadi titik ungkit perekonomian dan pariwisata.

Bukankah itu tugas gubernur sebagai pemangku kekuasaan kawasan provinsial? Lupakan keinginan untuk memindah lokasi perhelatan Piala Dunia U20 dari GBT.

Keinginan itu hanya menunjukkan ketidakpahaman Gubernur dan orang-orang di sekitarnya mengenai sejarah sepak bola.

Mungkin Gubernur belum pernah mendengar kisah Chile pada Piala Dunia 1962. Chile, sebuah negara kecil di Amerika Latin, ditunjuk FIFA untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia mengalahkan Argentina dan Jerman Barat.

FIFA akhirnya menunjuk Chile yang didukung 32 negara. Namun dua tahun sebelum penyelenggaraan, tepatnya 22 Mei 1960, gempa bumi berkekuatan 9,5 skala richter yang memicu gelombang tsunami setinggi 25 meter menghancurkan Chile. Dua hari kemudian Gunung Puyuhea meletus.

FIFA sudah bersiap memindah lokasi penyelenggaraan Piala Dunia.  Tak ada yang orang yang cukup waras yang berani memperkirakan Chile bisa membangun semua infrastruktur sepak bola hanya dalam waktu dua tahun di tengah keterpurukan.

Hanya satu orang yang percaya: Carlos Dittborn, Ketua Panitia Piala Dunia. Ia meyakinkan FIFA agar Piala Dunia tetap digelar di Chile. “Karena kami tidak punya apa-apa lagi, kami akan melakukan apapun semampu kami untuk membangun ulang semuanya,” katanya.

Bersama Dittborn, pemerintah Chile menjadikan Piala Dunia momentum kebangkitan. Keberhasilan menyelenggarakan Piala Dunia membangkitkan nasionalisme dan kebanggaan rakyat Chile, dan ini jadi modal penting untuk membangun kembali bersama-sama negeri itu.

Dari Chile, kita belajar: masalah tidak untuk dihindari tapi untuk diselesaikan. Kita memerlukan seorang gubernur yang bersikap seperti Carlos Dittborn yang meyakini, bahwa tidak ada yang mustahil untuk diselesaikan dalam waktu dua tahun ke depan.

Pemerintah Kota Surabaya juga harus menyadari krusialnya masalah ini. Even olahraga internasional selalu berhubungan dengan kota sebagai sentra. Bukan provinsi. Itulah kenapa wali kota yang menjadi tuan rumah perhelatan dunia seperti final piala dunia dan olimpiade selalu mendapat tempat di panggung kehormatan.

Tahun 2012, dalam penutupan Olimpiade London, ada tiga tokoh di atas panggung kehormatan yang melakukan serah terima bendera olimpiade sebagai tanda transisi tuan rumah penyelenggaraan berikutnya: Presiden Komite Olahraga Internasional, Wali Kota London, dan Wali Kota Rio de Janeiro.

Jadi siapapun lwali kota Surabaya pengganti Risma kelak, tentu kita ingin dia bisa membusungkan dada di antara tamu-tamu internasional, karena berhasiĺ menyelenggarakan Piala Dunia. Dan kelak orang akan mengenang Risma sebagai orang yang ikut meletakkan pondasi sukses itu dengan menyelesaikan masalah bau sampah di GBT. [wir]





Apa Reaksi Anda?

Komentar