Iklan Banner Sukun
Sorotan

Muktamar NU ke-34 (3)

Saat muktamar NU ke-31 di Asrama Haji Donohudan, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jateng pada 2004 lalu, secara praktis terpetakan dua poros yang berkontestasi memperebutkan jabatan rais aam dan ketua umum PBNU.

Kedua poros itu adalah Poros Lirboyo dengan tokoh sentral KH Idris Marzuki, pimpinan Pondok Lirboyo Kediri. Poros Lirboyo mengajukan KH Sahal Mahfud (Pimpinan Pondok Maslakul Huda Kajen, Margoyoso Pati) sebagai kandidat rais aam dan KH Hasyim Muzadi (Pondok Al Hikam Kota Malang) sebagai calon ketua umum PBNU.

Di sisi lain, Poros Langitan, mengacu pada Pondok Langitan yang diasuh KH Abdullah Faqih, berada di Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, Jatim. Poros ini memperjuangkan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mantan ketua umum PBNU 3 periode, sebagai calon rais aam dan KH Masdar Farid Mas’udi sebagai kandidat ketua umum.

Dalam proses pemilihan yang berlangsung one man one vote and one value, pasangan KH Sahal Mahfudh dan KH Hasyim Muzadi unggul dibanding pasangan Gus Dur dan KH Masdar Farid Mas’udi. Bagaimana dengan muktamar NU ke-34 yang berlangsung di Provinsi Lampung pada 23-25 Desember 2021 mendatang?

Ada dua kandidat ketua umum yang tampil: Dr KH Said Aqil Siradj (ketua umum/petahana/Jakarta) dan KH Yahya Cholil Staquf (katib aam/Rembang). Keduanya telah menegaskan kesiapan untuk memperebutkan jabatan di posisi orang pertama lembaga tanfidziyah PBNU.

Untuk posisi calon rais aam, tampaknya nama KH Miftachul Akhyat (Surabaya) sulit digoyahkan. Sekitar setengah bulan menjelang muktamar, mantan ketua Rais Syuriah NU Jatim tersebut belum tersaingi kandidat lainnya.

Secara praktis, kita agak sulit memetakan secara simpel kedua kandidat ketua umum tersebut merepresentasikan poros mana dalam lanskap pondok besar yang pengaruh luas dan kuat di komunitas NU.

Kalau dikatakan Yahya Cholil diposisikan merepresentasikan kekuatan Poros Lirboyo, Ploso, dan Sidogiri, secara faktual, Kiai Said Aqil adalah alumni Pondok Lirboyo sebelum melanjutkan jenjang pendidikan S-2 dan S-3 di sebuah perguruan tinggi di Arab Saudi.

Kiai Yahya Cholil juga lama menempuh pendidikan di Pondok Al Munawwir Krapyak Yogyakarta yang diasuh KH Ali Maksum: seorang kiai NU yang lama nyantri di Pondok Termas, Pacitan dan pengaruhnya kuat di lingkungan NU. Kiai Ali Maksum adalah pembela utama Gus Dur, terutama terkait dengan pandangan dan ide Gus Dur yang dipandang menabrak pandangan mainstream kiai-kiai NU maupun masyarakat secara luas.

Kiai Yahya Cholil saat ini memperoleh dukungan kuat dari NU Jatim, terutama beberapa pengasuh pondok besar dan berpengaruh luas di kalangan warga Nahdliyyin. Seperti Pondok Lirboyo Kediri, Pondok Ploso Kediri, Pondok Sidogiri Pasuruan, Pondok Langitan Tuban, dan lainnya. Dalam konteks ini, jaringan alumni pondok-pondok tersebut tersebar luas di Indonesia dan memegang banyak posisi kunci, strategis di kepengurusan NU, baik di tingkat wilayah (provinsi) maupun cabang (kabupaten/kota).

Dalam dinamika lokal NU, poros dimakna sebagai episentrum pemusatan pengaruh kekuasaan politik dan kultural kiai secara informal, yang kemudian berjejaring kepada pondok pesantren-pondok pesantren lainnya.

Terciptanya poros pesantren biasanya diinisiasi kiai sepuh, baik secara individu maupun kolektif, yang kemudian berkembang menjadi forum konsultasi bagi para kiai lainnya untuk memberikan penilaian maupun dukungan politis terhadap entitas tertentu secara moral dan kultural (Abdurrahman, 2009:31 dalam Wasisto Raharjo Jati, 2012).

Pembelahan dan fragmentasi politik antar-kiai menjelang dan saat muktamar NU, secara faktual, memang tak jarang terjadi. Seperti pada muktamar NU di Boyolali 2004, yang menghadapkan secara vis a vis Poros Lirboyo (KH Sahal Mahfudh-KH Hasyim Muzadi) dengan Poros Langitan (Gus Dur-KH Masdar Farid Mas’udi).

Kemudian di muktamar NU ke-33 di Kabupaten Jombang 2015, terjadi gesekan kuat antara Poros KH Hasyim Muzadi-Gus Solah dengan Poros KH Said Aqil Siradj yang didukung banyak kiai sepuh dari Jatim, seperti kiai dari Pondok Lirboyo Kediri, Pondok Ploso Kediri, Pondok Sidogiri Pasuruan, dan banyak kiai lainnya.

Secara empiris, fragmentasi politik antar-kiai biasanya tak hanya ditentukan satu atau dua kiai saja, tapi bersifat berjejaring dan melibatkan banyak kiai dari pesantren berbeda. Contoh lain adalah di Pilgub Jatim 2018. Saat itu, ada dua poros politik yang terbentuk dan terlibat dalam aksi dukung-mendukung cagub- cawagub. (1) Poros Tebuireng, mengacu pada Pondok Tebuireng Jombang yang dipimpin KH Salahuddin Wahid (Gus Solah). Poros ini mendukung pasangan

Khofifah Indar Parawansa dan Emil E Dardak. Tokoh sentral poros ini di antaranya Gus Solah dan KH Asep Syaifuddin Halim (Kiai Asep), pimpinan Pondok Amanatul Ummah Kabupaten Mojokerto.

Kutub kedua adalah Poros Lirboyo, mengacu pada Pondok Lirboyo di Kota Kediri. Ada banyak kiai NU yang berada di poros ini dan para kiai NU tersebut dikenal memiliki loyalitas tinggi mendukung Gus Ipul di bursa Pilgub Jatim. Mereka bukan sekadar mendukung Gus Ipul di Pilgub Jatim 2018, tapi juga pada Pilgub Jatim 2008 dan 2013. Salah satu tokoh sentral poros ini adalah KH Anwar Manshur dari Pondok Lirboyo dan KH Anwar Iskandar, pimpinan Pondok Al Amin Jamsaren dan Ngasinan, Kota Kediri.

Dalam perspektif teori jaringan politik, power atau kekuasaan itu bukan sesuatu yang dimiliki, namun aspek atau elemen dari interaksi antar-aktor (Knoke, 1994; 1). Kekuasaan adalah hubungan antara satu aktor sosial dan aktor lainnya dalam situasi tertentu. Hubungan antar-aktor itu pasti powernya bersifat asimetris, sehingga semua yang berhubungan dengan power itu pasti terstruktur (Knoke, 1994; 2-3). Teori jaringan politik mendalilkan bahwa semua peran sosial itu ada karena mereka memiliki hubungan dengan peran sosial lainnya yang sering diinteraksikan. Dalam sistem politik juga sama, di mana terdapat peran pembagian kerja yang memiliki relasi power (Knoke, 1994; 7).

Perspektif pendekatan jaringan politik dalam memahami dan membaca dinamika kiai-kiai dan struktur kepengurusan NU di tingkat PBNU, PWNU, dan PCNU dalam kontruksi relasi antar-mereka hakikatnya dibangun atas kesamaan nilai. Tentu nilai yang pertama dan utama adalah spirit perjuangan Islam Aswaja sebagai poin strategis sasaran akhir.

Organisasi NU menegaskan bahwa institusi ini merupakan penganut Aswaja, sebuah paham keagamaan—yang di kalangan NU— bersumber pada: Al Qur‟an, As Sunnah, Al Ijma‟ dan Al Qiyas. Karena hendak mempertahankan dan mengembangkan paham demikian ini pula NU berdiri.

Secara harfiah Aswaja berarti penganut Sunnah Nabi Muhammad SAW dan Jamaah (sahabat-sahabatnya). Secara ringkas berarti segolongan pengikut Sunnah (jejak) Rasulullah SAW yang di dalam melaksanakan ajaran-ajarannya beliau berjalan di atas garis yang dipraktikkan Jamaah (sahabat Nabi).

Dalam pengertian yang lebih rinci—dan ini yang dianut NU, KH Mustofa Bisri, seorang ulama asal Kabupaten Rembang, mengartikan Aswaja sebagai paham yang berpegang teguh kepada tradisi sebagai berikut: (1) Dalam bidang hukum-hukum Islam, menganut salah satu ajaran dari empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi‟i, dan Hambali).

Dalam praktik, para kiai merupakan penganut kuat mazhab Syafi‟i. (2) Dalam soal-soal tauhid, menganut ajaran-ajaran Imam Abu Hasan Al-Asya‟ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi. (3) Dalam bidang tasawuf, menganut dasar-dasar ajaran Imam Abu Qosim Al-Junaidi. Operasionalisasi ajaran Aswaja itulah yang membedakan NU dengan kalangan Islam pembaru. (Kacung Marijan, 1992: 21-22).

Poin lain adalah kesamaan almamater pendidikan pondok pesantren dari masing-masing pengurus NU. “Alumni Pondok Lirboyo banyak tersebar di banyak wilayah di Indonesia. Mereka umumnya memegang posisi strategis di kepengurusan NU, seperti di lembaga Bathsul Masail,” ujar sumber beritajatim.com yang juga alumni Pondok Lirboyo Kediri.

Jejaring sosiologis, teologis, dan kultural antara kai dan santri bersifat tak terputus dan abadi. Dalam konteks demikian, siapa calon ketua umum yang didukung banyak kiai sepuh dari pondok pesantren besar yang telah meluluskan banyak santri dan menjadi aktivis NU struktural di berbagai provinsi, kabupaten, dan kota, maka kandidat tersebut yang berpeluang meraih suara signifikan dari muktamirin.

Pola relasi kiai-santri bersifat abadi. Yang dibangun dengan konstruksi nilai keadaban tinggi: berupa sikap dan perilaku tawadhu’ santri kepada kiai. Kepatuhan dan ketaatan santri kepada kiai yang didasarkan kepada tingginya nilai ilmu (agama dan pengetahuan umum) yang ditransferkan kiai kepada santri selama proses nyantri di pondok. Pola relasi kiai-santri di lingkungan pondok itu terus terbawa dan terjaga dengan konsisten sampai ketika santri tersebut lulus dan berkecimpung di masyarakat. [air/habis]

Oleh: Ainur Rohim (Penanggung Jawab beritajatim.com)


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Monstera Cafe, Tempat Kopi Hits di Puncak Kota Batu

APVI Tanggapi Soal Kenaikan Cukai Rokok Elektrik

Anoa Dataran Rendah Koleksi KBS Mati