Iklan Banner Sukun
Sorotan

Muktamar NU ke-34 (2)

Ainur Rohim (Penanggung Jawab beritajatim.com)

Legacy dan regenerasi. Dua isu penting dalam relasinya muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-34 di Provinsi Lampung.

Legacy (warisan) prestasi kinerja berhubungan dengan posisi Dr KH Said Aqil Siradj (Ketum PBNU sekarang). Sedang regenerasi berkait dengan pencalonan KH Yahya Cholil Staquf, Katib Aam Syuriah PBNU diposisikan sebagai tokoh muda NU yang dinilai punya kapasitas, akseptabel, dan networking untuk memegang jabatan sebagai orang pertama di tanfidziyah PBNU.

Kiai Said–panggilan akrab KH Said Aqil Siradj—telah 10 tahun memimpin NU. Pertama kali terpilih di muktamar NU ke-32 di Kota Makassar, Sulawesi Selatan untuk masa khidmat 2010-2015. Muktamar NU di Kabupaten Jombang pada 2015 mengukuhkan kembali Kiai Said sebagai Ketum PBNU untuk jabatan periode kedua.

Cukup banyak legacy, warisan baik hasil kinerja PBNU di bawah kepemimpinan Kiai Said. Di antaranya banyak berdiri perguruan tinggi (PT) di bawah bendera NU, rumah sakit, balai kesehatan milik NU, SMK milik NU, dan lainnya.

Hingga tahun 2015, tak kurang ada 25 perguruan tinggi NU, sekolah tinggi NU, dan selain tentu sejumlah universitas yang lama di bawah kendali NU, seperti Universitas Islam Malang (Unisma). Kiai Said lahir di Kabupaten Cirebon pada Jumat, 3 Juli 1953, setelah menyelesaikan pendidikan di Pondok Lirboyo Kediri, Jatim melanjutkan pendidikan tinggi di Arab Saudi.

Kiai Said mempunyai latar belakang akademis yang luas dalam ilmu agama Islam. Alumni S-3 University of Umm Al-qura dengan jurusan Aqidah/Firasat Islam ini lulus pada tahun 1994, yang sebelumnya mengambil S-2 di Universitas Umm al-Qura, jurusan Perbandingan Agama lulus 1987, dan S-1 di Universitas King Abdul Aziz, jurusan Ushuluddin dan Dakwah, lulus 1982.

Selain pendidikan tinggi, sektor pendidikan yang berhasil dicapai kepengurusan NU di bawah Kiai Said adalah berdirinya puluhan SMK yang terhubung langsung dengan dunia usaha di bawah handling NU.

Sejak lama banyak lembaga pendidikan, baik tingkat dasar, menengah, dan tinggi, di bawah penguasaan NU. Tapi, sebagian di antaranya milik pribadi tokoh NU, yayasan di bawah NU, kiai NU, pondok pesantren NU, dan lainnya.

“Dari dulu NU sudah memiliki universitas, tapi kebanyakan miliki pesantren, milik yayasan, bahkan perseorangan. Yang (25) ini milik NU, tercatat milik organisasi,” ujar Kiai Said.

Capaian kinerja dan legacy kepemimpinan Kiai Said yang jempolan itu sulit dibantah. Realitas tersebut menjadi ‘amunisi dan logistik’ bagi Kiai Said dan tim pendukungnya dalam meraih dukungan pemegang hak suara pada muktamar NU ke-34 mendatang.

Kiai Said menegaskan dirinya bakal tampil sebagai kandidat Ketum PBNU, karena banyak kiai sepuh yang mendorong dan mendukungnya. Kendati satu wilayah penting bagi NU, yakni Jatim, tegas-tegas memberikan dukungan kepada Kiai Yahya Cholil.

Bagaimana dengan Yahya Cholil Staquf? Kakak kandung Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, ini memiliki darah ke-NU-an sangat kental. Ayahnya, KH Cholil Bisri dan kakeknya, KH Bisri Mustofa, dikenal sebagai tokoh tulen NU.

Kendati lama aktif di jalur politik sebagai praktisi politik di PPP, Kiai Cholil akhirnya berlabuh di PKB, ketika wadah politik kaum Islam Tradisional tersebut dibentuk dan dideklarasikan pascareformasi 1998.

Sebagai tokoh muda NU, Kiai Yahya Cholil kenyang pengalaman di ranah sosial kemasyarakatan, politik pemerintahan nasional, dan relasi internasional. Kiai Yahya Cholil dipandang sebagai trah NU yang bisa meneruskan model kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) jika dipercaya sebagai Ketum PBNU.

Model kepemimpinan yang mampu memberikan penguatan kapasitas dan pencerahan kepada generasi muda NU, tanpa melupakan peran strategis NU di level global, utamanya dalam mengkampanyekan moderasi Islam dan Islam rahmatan lil aalamin.

Baik Gus Dur maupun Yahya Cholil sama-sama merasakan sentuhan pendidikan dan pengajaran yang diberikan pimpinan Pondok Al Munawair Krapyak Yogyakarta, KH Ali Maksum: Seorang kiai NU yang pernah nyantri di Pondok Tremas Kabupaten Pacitan.

Dan termasuk di antara kiai NU yang meminta KH Idham Chalid mengundurkan diri dari jabatannya sebelum muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Kabupaten Situbondo, Jatim. Tiga kiai lainnya adalah KH Masjkur (Jakarta), KH As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), dan KH Machrus Aly (Lirboyo Kediri).

Posisi dan peran Yahya Cholil sebagai salah satu juru bicara Presiden Gus Dur (1999-2001) memberikan catatan tersendiri. Yahya Cholil berkesempatan bersentuhan dan berkomunikasi langsung dengan Gus Dur, memahami model kepemimpinan Gus Dur di ranah NU dan manajemen kenegaraaan, dan banyak aspek lainnya.

Pengalaman politik dan legacy tersebut menempatkan Yahya Cholil sebagai tokoh muda NU yang diproyeksikan mampu duduk di kursi strategis kepemimpinan NU di masa depan. Sebelum mencalonkan diri sebagai Ketum PBNU, Kiai Yahya Cholil dipercaya sebagai Katib Am Syuriah NU.

Muktamar NU ke-34 di Provinsi Lampung mempertemukan dua tokoh NU dengan latar belakang dan kapasitas berbeda. Kiai Said mewakili kalangan tokoh NU senior dan kenyang pengalaman, sedang Kiai Yahya Cholil merupakan representasi generasi muda NU.

Perspektif lainnya adalah isu legacy kinerja berhadapan dengan pentingnya regenerasi kepemimpinan NU. Penguatan peran NU di ranah domestik dalam rangka memantapkan NKRI dari kemungkinan rongrongan terorisme dan paham radikal yang diimport dari luar negeri vis a vis pentingnya nilai strategis NU dalam relasi dan pergaulan global, dan lainnya.

Muktamar NU ke-34 di Lampung menyuguhkan kontestasi visi dan pemikiran kontruktif bersifat strategis bagi ormas Islam ini di masa depan. Sejauh perhelatan muktamar tersebut tak ditarik-tarik dan atau tak dihubung-hubungkan ke ranah politik praktis, terutama terkait sejumlah agenda politik nasional tahun 2024 (Pileg, Pilpres, Pilgub, dan Pilbup/Pilwali), kontestasi pemikiran antara Kiai Said dengan Yahya Cholil merupakan pencerahan bagi penguatan kapasitas kaum Nahdliyyin dan organisasi NU secara komprehensif.

Kontestasi ide dan pemikiran dari para calon ketum PBNU tersebut tak mungkin mengakibatkan pembelahan dan fragmentasi sosial di kalangan warga dan organisasi NU sendiri. Sebab, pada tahun 1994 saat muktamar Cipasung, Tasikmalaya, Jabar berlangsung, NU menghadapi cobaan dan tantangan jauh lebih berat.

Apa itu? Intervensi penguasa Orde Baru yang menghendaki Gus Dur tak terpilih kembali sebagai Ketum PBNU untuk masa jabatan ketiga. Sebelumnya, Gus Dur terpilih sebagai Ketum PBNU di muktamar Situbondo Jatim pada 1984 dan muktamar di Pondok Al Munawair Krapyak Yogyakarta pada 1989. [air/bersambung]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Monstera Cafe, Tempat Kopi Hits di Puncak Kota Batu

APVI Tanggapi Soal Kenaikan Cukai Rokok Elektrik

Anoa Dataran Rendah Koleksi KBS Mati